
POV Keenan
###
Keenan Ivander, pria berusia 28 tahun. Usianya berpaut 6 tahun dengan Chalissa. Karena sebuah peristiwa membuatnya pergi dari rumahnya dan berjanji akan kembali setelah ia menggapai mimpinya.
Sedikit demi sedikit, ia merintis usahanya di bidang otomotif dan kini ia telah memiliki sebuah bengkel motor dan mobil serta menjual aksesoris dan sparepart kendaraan.
Usaha yang lima tahun ia rintis membuahkan hasil. Ia bertekad untuk pulang ke kampung untuk menemui keluarganya.
"Keenan" panggil Bu Hera saat pagi hari seperti biasa akan pergi ke pasar.
Keenan yang baru sampai pukul 03.00 pagi tak enak jikan harus mengganggu tidur keluarganya. Ia memutuskan untuk menunggu sampai pagi di dalam mobilnya. Hingga pukul 06.00 ia sudah duduk di bangku kayu yang berada di teras rumahnya.
Ia tersenyum saat melihat bibi Hera yang sudah banyak berubah, ia terlihat semakin tua.
"Bibi, apa kabar" Keenan menyalami tangan bibinya.
Bu Hera tertegun menatapi pria yang hampir 6 tahun tidak pernah dilihatnya itu.
"Kau... kau banyak berubah nak" air mata bibi Hera memecah membasahi pipinya. Terharu melihat keberadaan pria yang sepertinya sudah sukses.
"Ini mobilmu?" tanya Bu Hera memastikan apakah benar pria yang dulu kecil yang sering bermain di rumahnya kini telah sukses. Keenan mengangguk.
"Bi, ibu, ayah dan adik-adik mana ya? Aku ketuk berkali-kali tapi sepertinya rumah sepi" tanya Keenan merasakan kalau rumahnya seperti tak berpenghuni.
Bu Hera mengajak Keenan masuk ke dalam rumahnya. Di dalam Keenan bertemu dengan pak Rusdi. Karena semenjak Hanny melanjutkan kuliah di Jakarta dan Arthur anak bungsunya pun melanjutkan kuliah di Jogjakarta jadi Bu Hera dan pak Rusdi hanya tinggal berdua.
Pak Rusdi terpaku saat melihat Keenan pertama kali. Tubuhnya seolah terbius, ada rasa marah dan rindu yang tertanam dihatinya. Ia rindu karena Keenan merupakan anak kecil yang sering bermain dengannya sebelum ada Arthur, Keenan sangat dekat dengan pak Rusdi. Dan rasa marah karena keputusan pria itu pergi tanpa kabar bahkan tak pernah kembali.
Pak Rusdi dan Bu Hera saling bersidekap, tampak kebingungan terpancar di wajah mereka. Mereka bingung harus menceritakan semua peristiwa yang terjadi. Dengan berlahan mereka secara bergantian mulai menceritakan dari ayahnya yang pergi ke Jakarta untuk mencarinya namun takdir tidak membawa ayahnya kembali pulang. Ayahnya mengalami kecelakaan. Chalissa yang juga pergi ke Jakarta namun sepengetahuan pak Rusdi dan Bu Hera, Chalissa lebih beruntung karena bertemu dengan kekasihnya yang kini telah menjadi suaminya. Hingga cerita yang kembali menyedihkan yaitu kepergian ibunya untuk selamanya.
Penyesalan tinggal penyesalan. Keenan hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia mengepalkan tangannya, merasa menjadi orang yang bersalah dalam keluarganya. Ia merasa semua terjadi berawal dari kebodohan dan keegoisannya.
Pak Rusdi dan Bu Hera memberikan alamat rumah Chalissa saat ini. Ia pun memberikan nomor telepon Chalissa dan Hanny.
Hanya dua hari Keenan menginap di rumahnya. Ia selalu menangis di dalam rumahnya mengenang masa kecil hingga pertumbuhannya dewasa.
###
Sesampai di Jakarta, Keenan pergi ke alamat Chalissa yang diberikan oleh bibi Hera. Ia bahagia dan juga sedih saat melihat rumah adiknya itu yang sangat besar. Melihat keberadaan rumah adiknya membuat Keenan mengurungkan dirinya untuk bertemu. Ia merasa tak punya muka untuk berhadapan dengan adik-adiknya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengamati mereka dari jauh, mengamati Chalissa dan Clarissa.
Hingga saat ia membuntuti Chalissa dan mertuanya saat akan pergi ke rumah sakit membawa keponakannya itu imunisasi. Tanpa sepengetahuan Ansel. Saat di rumah sakit Keenan mengajaknya mengobrol.
"Sedang mengantri ya?" tanya Keenan.
"Iya" jawab Ansel sambil menggendong Killian. Kebetulan Chalissa sedang berada di toilet.
"Berapa usianya?" mata Keenan terlihat berkaca, hal itu membuat Ansel sedikit gusar. Pikirnya apakah pria di depannya juga sedang menantikan seorang anak.
"Satu bulan" jawab Ansel ramah.
Keenan tersenyum menatapi wajah bayi yang ada dalam gendongan Ansel. Ingin sekali rasanya ia menggendong bayi mungil itu. Ia mengulum senyumnya, seperti seseorang yang sangat dekat dengannya. Ansel merasakan sosok pria di depannya memperlakukan putranya dengan kasih sayang. Ansel ikut tersenyum saat putranya tersenyum menatapi Keenan.
"Sayang" suara Chalissa.
Dengan cepat Keenan melambaikan tangannya pada Killian terlihat ia pergi membelakangi Chalissa. Ansel menatapi Keenan hingga nampak jauh.
"Siapa sayang?"
"Bukan siapa-siapa" Lalu Ansel menyerahkan Killian kepada Chalissa.
Chalissa duduk di samping mama mertuanya dan terlihat bahwa hubungan Chalissa dan mama mertuanya sangat harmonis. Keenan tersenyum dari jauh melihat kebersamaan mama mertuanya seolah mengajak bayi mungil itu bermain.
Saat Ia sedang menunggu Chalissa keluar dari ruangan di mana Killian imunisasi, ia tersentak hampir Chalissa melihatnya. Dengan cepat ia masuk ke dalam lift yang saat itu terbuka, lift tersebut naik ke lantai selanjutnya. Lalu Keenan keluar. Pikirnya Chalissa pasti sudah pergi, jadi Keenan memutuskan untuk masuk lagi ke dalam lift yang akan turun. Namun ia kembali terkejut saat lift terbuka nampak Chalissa berdiri menghadap ke lift. Tatapan mereka bertemu. Keenan panik dan dengan cepat ia berusaha menghindar hingga Chalissa tak lagi mengikutinya.
"Maafkan kakak dek" tangis Keenan yang bersembunyi di balik pilar.
###
Keenan frustasi dengan perasaannya sendiri. Ia bingung bagaimana caranya mengatur pertemuannya dengan adik-adiknya. Ia merasa yakin bahwa adiknya bisa saja tak menginginkan pertemuan dengannya.
Tut... tut... tut...
Suara ponselnya berdering. Nomor yang tak dikenal membuat alisnya berkerut.
Ia ragu untuk mengangkat, namun bisa saja itu adalah kliennya.
"Hallo" sapa Keenan kepada seseorang yang belum terdengar suaranya.
Tak ada sahutan membuat Keenan heran. Ia lihat layarnya ponselnya mencoba mengingat nomor yang tak memiliki nama di ponselnya. Kemudian ia loudspeaker ponselnya.
"Hallo" sapanya lagi
"Apa... apa ini kak Keenan?" tanya seseorang yang sepertinya berjenis kelamin perempuan.
Darah Keenan berdesir. Ia seperti tak asing dengan suara itu. Namun ia tahu persis itu bukan suara Chalissa. Pikirnya apakah itu adik kecilnya Clarissa, karena saat ia pergi Clarissa masih sangat kecil.
"Iya" sahut Keenan.
Suara itu lagi, membuat Keenan akhirnya yakin, "Hanny" tebaknya.
"Iya kak, Ini... ini aku Hanny"
Keenan lega saat tahu itu benar Hanny, anak bibi Hera dannpaman Rusdi. Wanita yang sudah dianggapnya adik apalagi ia seusia dengan Chalissa.
Cukup lama mereka saling bertanya kabar di balik telepon. Hingga Hanny memberanikan diri untuk bertemu. Keenan mengiyakan ajakan Hanny.
###
Siang ini, pukul 16.00. Keenan sudah memiliki janji dengan Hanny untuk bertemu. Keenan mengajaknya bertemu di sebuah cafe yang tak jauh dari hunian Hanny.
"Hanny" teriak Keenan melambaikan tangan saat melihat Hannybmasuk ke dalam cafe.
Hanny terdiam sejenak. Sungguh ia kaget melihat perubahan penampilan Keenan. Keenan sudah menjadi pria dewasa dan nampak dari penampilannya yang rapi dan terawat bahwa pria yang dipanggilnya kakak itu seperti bukan seorang pengangguran.
"Han" panggil Keenan lagi, panggilan itu seolah menjadi kekuatan Hanny untuk melangkahkan kakinya menghampiri Keenan.
Hanny memang sangat dekat dengan keluarga Chalissa, bahkan Keenan merupakan sosok pria yang sudah menjadi kakaknya juga. Kakak yang melindungi Chalissa dan melindunginya juga saat berada di sekolah. Apalagi saat ada pria-pria yang mencoba mendekati mereka, Keenan tak sungkan menjadi perisai bagi mereka.
Hanny kini sudah berdiri berhadapan sangat dekat dengan Keenan. Tanpa ia sadari, air matanya menetes. Ia tak dapat menahan perasaannya ingin memeluk kakak yang sudah lama tak dilihatnya.
Keenan membawa Hanny duduk. Ia memanggil waiter dan menyuruh Hanny untuk memesan makanannya.
Hanny masih terpegun, sulit rasanya ia membedakan mimpi dengan realita. Kini pria yang sangat dirindukan Chalissa telah berada di hadapannya. Ingin rasanya ia segera menghubungi Chalissa dan melakukan panggilan video.
"Kau kenapa masih diam?" Keenan menghujam tatapannya dan mengulum senyumnya.
"Ehmmm... kakak apa kabar?" wajahnya sangat datar, bingung harus bagaimana.
"Baik Han, kamu?"
Hanny menangis, air matanya sungguh sulit untuk dibendung.
Akhirnya mereka saling bercerita. Keenan menceritakan tentang kepergianya hingga komitmennya yang akan kembali setelah impiannya untuk sukses tercapai. Ada kebanggan yang terbesit dari tatapan Hanny.
Waktu yang cukup lama, hampir 6 tahun mereka tak bertemu. Keenan merasa kikuk saat melihat senyum Hanny yang menurutnya sudah jauh berbeda. Hanny terlihat cantik, dan ia sudah bisa berpoles. Tidak seperti Hanny yang dulu, polos dan tomboy.
Tak terasa langit sudah gelap. Mereka sangat lama berbincang-bincang. Mereka mengakhiri pertemuan mereka. Dan Keenan menawarkan diri untuk mengantar Hanny.
"Hanny" Keenan spontan menahan tangan Hanny saat ia akan keluar dari mobil Keenan.
"Iya kak"
"Ehmm.. jangan kasih tahu Chalissa ya tentang pertemuan kita" ucap Keenan.
Hanny memutar bola matanya.
"Aku memang ingin bertemu dengan mereka, tapi...."
"Tapi kenapa kak?" tanya Hanny tak sabar karena Keenan lama tak melanjutkan kalimatnya.
"Aku merasa bersalah Hanny"
"Kan kita sudah bahas ini kak. Kak Keenan harus percaya denganku. Mereka sangat merindukan kakak, apalagi Chalissa"
"Apa kamu yakin mereka tidak membenciku?" keraguan Keenan lebih besar dari pada keyakinannya.
"Kalau pun mereka benci sama kakak. Ya kak Keenan harus tetap menghadapinya" tutur Hanny.
"Aku pasti akan membantu kakak" lanjut Hanny, ia menepuk bahu Keenan sebagai bentuk dukungan.
"Baiklah" Keenan merasa lega.
"Tenang saja, aku akan mengatur bagaimana kakak bisa bertemu Chalissa dan Clarissa"
Keenan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Hanny turun.
"Hati-hati ya kak" ucap Hanny melambaikan tangannya.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
Jangan lupa Vote dan like nya ya ;) author tunggu.