Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Menikahlah Denganku



**


Apa dia tidak sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab? Apa sekarang dia tidak akan pernah datang lagi? Atau, mungkin dia sedang berusaha untuk menyingkirkan dirinya?!!! Rasanya pikiran Lissa mulai menerka-nerka.


Bibi telah selesai memasak, dan Lissa juga sudah selesai membantu bibi menghidangkan makanan di meja makan.


Kini bi Nani sedang sibuk merapikan dapur setelah ia memasak. Lissa mengamati bi Nani, usianya sekitar 40 tahun. Mungkin bi Nani seusia dengan ibunya di kampung. Lissa begitu merindukan ibunya.


"Kau sudah bangun" ucap Ansel tiba-tiba muncul dari belakang Lissa.


Ia mengambil gelas kosong dan menuangkan air dari dalam pitcher kaca. Kemudian meneguk air itu hingga habis. Sepertinya ia nampak haus sekali.


Lissa terkesiap melihat Ansel yang sudah berdiri di hadapannya, ia mengenakan kaos putih polos lengan pendek yang pas ditubuhnya. Kaosnya dengan jelas menunjukkan bentuk tubuh Ansel yang ideal dan proporsi sesuai dengan tingginya 178 cm. Lengannya pun terlihat menunjukkan otot-otot kekarnya. Lissa segera mengalihkan pandangannya menghindari Ansel.


"Loh tuan kapan datang?" tanya bi Nani yang merasa memang tidak tahu kapan tuannya itu datang.


"Tengah malam bi" sambil menarik kursi dan duduk.


"Kau sudah sarapan? hmmm?" tanya Ansel menatap Lissa.


Lissa menghindari tatapan Ansel, dan Ansel menyadari itu. Ansel merasa kalau Lissa masih marah padanya.


Lalu ia mengambil piring dan menyiapkan makanan ke piring Lissa. Lissa pikir Ansel sedang mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Maka Lissa diam saja.


"Ini makanlah" menyuguhkan makanan dalam piring di depan Chalissa.


"I.. ini buat aku?" herannya


"Aku tidak mau kau sakit" ucap Ansel langsung duduk setelah memberikan makanan pada Lissa.


"Kau tidak perlu seperti ini. Tidak usah peduli padaku" pinta Lissa tidak melihat ke arah Ansel.


"Anggap saja ini bukan untukmu. Tapi untuk bayi dalam perutmu, anakku" perkataan Ansel membuat Lissa sontak merasa canggung.


Melihat kedua majikannya di meja makan, bi Nani berinisiatif ingin meninggalkan mereka berdua.


"Permisi tuan. Saya mau belanja dulu ke pasar" tutur bi Nani.


"Bi, saya ikut ya" pinta Chalissa


"Tidak usah non. Karena bibi akan lumayan lama, bibi juga ingin ke rumah tuan Ansel untuk bertemu kakak bibi yang bekerja di sana" jelas bi Nani.


"Kau di sini saja. Pergilah bi" ucap Ansel


"Permisi tuan, non Chalissa" pamit bi Nani


Setelah bi Nani pergi, suasana di rumah hening. Mereka berdua hanya makan tanpa bersuara. Sesekali Ansel melihat Chalissa yang terus menundukkan wajahnya.


Selesai makan Lissa berdiri dari duduknya.


"Kau mau ke mana?" tanya Ansel, lalu ia melihat Lissa mengambil bekas perabotan makan mereka.


"Mencuci ini semua" jawabnya tanpa menatap Ansel.


"Biarkan saja, nanti bibi akan membereskannya"


"Aku bosan di rumah. Lagi pula ini bukan pekerjaan berat" Lissa berlalu dari meja makan.


Ansel membiarkan Lissa melakukan apa yang ingin dia lakukan, ia melihat Lissa yang sedang sibuk mencuci piring. Tatapannya sama sekali tidak beralih.


"Kau sudah biasa mengerjakan pekerjaan dapur?"


"Iya"


"Apa kau bisa memasak?"


"Bisa. Di kampung, pekerjaan memasak adalah tanggung jawabku" ujar Lissa mengeringkan perabotan makan yang sudah ia cuci.


"Chalissa" panggil Ansel


"Apa kau masih marah?" tanya Ansel penasaran melihat Chalissa yang terus mendiaminya bahkan terkesan menghindarinya. Lissa tidak memberi jawaban atas pertanyaan Ansel.


Selesai mencuci piring ia bermaksud ingin masuk ke dalam kamarnya. Tapi saat ia melewati Ansel, Ansel segera menarik tangannya. Chalissa segera melepaskan tangan Ansel menggunakan tangannya dan hendak berlalu dengan cepat. Tapi sekali lagi gerakan Ansel lebih cepat darinya. Ansel merengkuh tubuhnya, ia memeluk Chalissa dari belakang.


"Jangan seperti ini Chalissa. Aku tahu aku salah, tapi tolong maafkan aku. Aku tidak ingin membuatmu sakit lagi, jadi kumohon menikahlah denganku. Aku akan menjaga dan melindungimu serta bayiku" ungkap Ansel


Chalissa melepaskan tangan Ansel berlahan. Ia membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Ansel.


"Semua hanya demi anak ini kan?" tanya Lissa, matanya berkaca-kaca


"Apa kau mencintaiku?"


Ansel diam tidak dapat menjawab pertanyaan Lissa.


"Chalissa, maafkan aku"


"Sudahlah Ansel. Terima kasih kalau sudah baik padaku dan keluargaku. Aku tidak bisa menikah denganmu" air matanya jatuh menetes


"Apa karena aku tidak mencintaimu?... Apa kita tidak bisa melakukannya untuk janin di rahimmu?" tutur Ansel


"Aku takut Ansel"


"Takut kenapa?" memotong ucapan Lissa


"Mana mungkin aku meninggalkanmu Chalissa. Kau adalah mama dari anakku ini" meyakinkan Chalissa


"Kita akan melewati ini bersama. Hiduplah bersamaku"


"Apa kau yakin Ansel? Aku hanya perempuan biasa" ucap Lissa


"Keluargaku sudah tahu semuanya. Besok aku akan mengajakmu ke rumahku. Kamu mau kan?"


Chalissa menggelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan ibuku? keluargaku?" tanya Chalissa ragu


"Aku akan menemui keluargamu. Kita akan pergi bersama" ujar Ansel.


* * * * *


Di kantor, ruangan Ansel.


"Davina apakah sepekan saya ada jadwal meeting?" tanya Ansel kepada sekretarisnya


"Ada pak. Tapi ini di Singapure perkiraan selama tiga hari" jawab Davina


"Apa?"


"Iya pak. Ini adalah schedule 1 bulan yang lalu. Bukankah dua minggu yang lalu saya sudah melaporkan ini juga kepada bapak?" ujar Davina


"Apa itu bisa di wakilkan Davina. Karena sepekan saya bermaksud untuk cuti"


"Maaf pak tidak bisa. Karena dua minggu yang lalu klien kita sudah meminta kepastian lagi kepada kita. Dan ini bukan klien biasa pak. Lagi pula mereka juga yang minta supaya pak Ansel sendiri yang akan mempresentasikan produk kita kepada mereka" jelasnya


"Ok, baiklah. Kau boleh keluar" perintah Ansel, kemudian Davina meninggalkan ruangan bosnya.


Ansel memikirkan menyusun kata-kata untuk Chalissa. Ia sudah berjanji akan pergi menjenguk keluarga Chalissa di kampung.


Tok... tok... tokk


Ansel melihat ke arah pintu. Ternyata Hanny yang muncul.


"Maaf pak, saya ingin mengantar berkas ini. Nona Davina meminta saya mengantar ini kepada bapa"


"Masuklah" kemudian Ansel mengecek berkasnya.


"Ini"


"Baik pak. Saya permisi keluar pak" pamit Hanny


Saat akan membuka pintu. "Hanny, tunggu" panggil Ansel.


Hanny menoleh ke arah bosnya itu. "I.. iya pak?" terlihat gugup


"Kemarilah sebentar" lalu Hanny kembali mendekati Ansel, "Duduklah" Ansel mempersilahkan Hanny untuk duduk. Hanny pun duduk.


"Ma-maaf, ada apa pak?" Hanny terlihat cemas setiap duduk di kursi ruangan bosnya itu.


"Apa kau sudah bertemu dengan sahabatmu?" tanya Ansel


"Maksud bapa sahabat saya siapa?" Hanny terlihat plin plan, Ansel menatapnya dengan intens membuat Hanny semakin grogi.


"Maaf pak, saya gak paham maksud bapa" ucapnya takut salah.


"Chalissa. Apa benar dia sahabatmu?" ucapannya Ansel membuat Hanny kaget, bagaimana bisa bosnya mengingat nama Chalissa. Apa sepenting itukah mengingat nama Chalissa. Heran Hanny.


"Iya benar pak, dia adalah sahabat saya. Tapi kenapa bapak masih ingat?!"


"Apa kau ingin bertemu dengannya?" ucapan Ansel semakin membuat Hanny bingung seribu keliling.


"Tentu saja pak. Saya sudah lama tidak bertemu dengan dia. Tapi kami selalu intens berkomunikasi. Beberapa kali kami ingin bertemu tapi selalu gagal. Kenapa bapa bertanya tentang Chalissa?? A.. Apa bapak mengenal Chalissa??!" Hanny tidak sabar menunggu jawaban dari bosnya.


"Apa kau mau berjanji akan merahasiakan ini kepada orang lain?" Hanny menganggukan kepalannya.


"Pulang kerja ikutlah denganku. Aku akan mengajakmu bertemu dengan Chalissa"


"Ba-baik Pak" Hanny masih tidak mengerti semua pembicaraan mereka.


Ia keluar saat Ansel menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Aneh, kenapa pak Ansel tahu keberadaan Chalissa ya?!!! Ini benar atau bohong ya?? Tapi sepertinya pak Ansel tidak main-main. Hahh sudahlah nanti aku ikut saja. Siapa tahu aku memang bertemu dengannya, hehehe" wajahnya bercampur aduk antara senang, heran, dan masih bingung.


.


.


.


.


.


Happy reading 😍


Jangan lupa ya gaes dukungannya untuk author 🙏