Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Bahagia



Tiga bulan kemudian sejak kepergian ibunya. Kini kandungan Chalissa telah berusia delapan bulan. Banyak yang sudah dilaluinya dengan bahagia bersama suami, adiknya serta orang-orang di sekelilingnya.


"Malam tuan Ansel" sapa pak Doni setelah Ansel turun dari mobilnya.


"Malam pak" balas Ansel, sejenak Hanny a menatap pak Doni untuk membalas sapaan pak Doni, setelah itu ia melanjutkan langkahnya memasuki rumahnya.


"Malam tuan" sapa bi Suti yang melihat kedatangan tuannya itu.


"Terima kasih bi. Biar saya saja yang membawanya" ucap Ansel menolak bantuan bi Suti yang hendak mengambil tas kerja milik tuannya.


"Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Suti menawarkan diri untuk melakukan sesuatu yang diinginkan majikannya.


"Tidak perlu bi. O iya bi seharian apakah nyonyamu pergi keluar?" tanya Ansel yang seharian ini memang tidak tahu kegiatan istrinya. Lantasan terlalu banyak pekerjaan dan meeting yang ia buru. Selain itu, Minggu depan Ansel sudah memutuskan akan bekerja dari rumah mengingat bulan depan istrinya akan melahirkan. Mungkin karena pengalaman pertama membuat Ansel harus menjadi suami siap siaga di sisi Chalissa.


"Nyonya baru pulang sekitar pukul 19.00 tuan. Sepertinya nyonya baru saja berbelanja" ungkap bi Suti.


Ansel terdiam, ia berdecih ketika didengarnya kalau istrinya baru saja berbelanja. Memang Chalissa selama ini tidak pernah menghabiskan uang untuk berfoya-foya. Namun semenjak kehamilannya 6 bulan, wanita itu sering sekali berbelanja kebutuhan bayi mereka.


Kenapa dia jadi hobi berbelanja ya? ~pikir Ansel, ia berbicara dalam hatinya.


Ansel melangkahkan kakinya menaiki anak tangga untuk memasukin kamarnya.


"Kak Ansel baru pulang?" tanya Rissa yang sedang berada di dapur mini sedang menyeduh sebuah kopi.


"Iya dek. Kakakmu mana?" tanya Ansel memastikan keberadaan Chalissa


"Di kamar baby kak" jawab Clarissa


CLECKKK


Ansel membuka pintu, nampaklah tubuh istrinya yang sedang sibuk merapikan perlengkapan bayi mereka.


"Apa kau belanja lagi sayang?" tanya Ansel berdiri memiringkan tubuhnya bersandar di sisi dinding dekat pintu.


Chalissa tersenyum ke arah suaminya setelah ia melihat kehadiran suaminya.


"Sayang ini bagus gak?" tanya Chalissa memamerkan pakaian kecil hasil belanjaannya.


"Kau sepertinya sudah terlalu banyak sayang membeli pakaian untuk bayi kita" tutur Ansel.


Ucapan Ansel seketika membuat wajah Chalissa menjadi cemberut. Ia merasa kalau suaminya hendak melarangnya menghabiskan uangnya.


"Kau marah Ans?" tanyanya sedikit kesal dengan wajah cemberut.


"Aku tidak marah kau berbelanja. Hany saja kamu terlalu banyak membeli pakaian bayi sayang. Di dalam lemarinya saja sudah penuh, lalu kau membeli ini lagi"


"Baiklah kalau kau tidak suka, aku akan stop berbelanja" ketus Chalissa membuat Ansel mengkerutkan keningnya setelah mendengar kata-kata istrinya yang terdengar malah justru marah.


Ansel menghampiri istriny dan memberikan pelukan sambil menciumi puncak kepalanya. "Baikalah sayang, aku minta maaf. Aku tidak marah, coba kau dengarkan aku dulu" ucap Ansel mencoba berbicara dengan lembut agar istriny tak salah paham.


Ansel memegang kedua bahu istrinya. "Aku tahu kau begitu bahagia menunggu kelahiran anak kita. Hanya saja pakaian yang kau beli ini sudah terlalu banyak sayang. Tapi ya sudahlah sayang, kalau ini membuatmu happy" ucapnya.


Ansel diam menatapi wajah istrinya yang terlihat masih cemberut. "Kemana senyum?" tanya Ansel menuntut senyuman dari istrinya.


"Hei, tersenyumlah. Apa wajahmu akan seperti itu setelah suamimu pulang bekerja?" tanya Ansel masih menuntut istrinya agar tersenyum.


"Bagaimana aku bisa tersenyum?! Kau sudah membuatku kesal" ucap Chalissa dengan bibirnya yang mengerucut.


Ansel yang gemas langsung mencubit pipi istrinya hingga Chalissa memukul bahu suaminya karena merasakan sakit di pipinya. Ansel terkekeh dan memeluk kembali istrinya.


* * * * * * * * * *


Di kamar Hanny


Hanny terlihat sibuk, ia sedang merevisi skripsinya. Setelah beberapa bulan lalu ia sudah menyelesaikan tugas magangnya, ia jadi sangat jarang bertemu dengan Harrys.


Dia mulai merasa lelah, ia sejenak menyenderkan tubuhnya di kursinya sambil menarik udara karena pikirannya akan skripsi telah membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas.


Tatapan matanya beralih pada ponsel yang ia letakkan di samping laptopnya. "Sama sekali dia tidak pernah menghubungiku lagi" guman Hanny setelah mengecek isi ponselnya.


"Ternyata setelah aku membantunya untuk dekat dengan wanita itu, dia langsung melupakanku. Haaa sangat menjengkelkan" kesalnya terus menatapi ponselnya seolah ia menjadikan ponselnya sebagai teman bicaranya.


"Haaa... menyebalkan sekali! kenapa aku harus terus bertepuk sebelah tangan!!" kini ia merutuk pada dirinya sendiri.


"Tidak Hanny, kau tidak boleh jatuh pada masalah yang sama. Untuk apa kau memikirkan orang yang tidak memikirkanmu?! Lebih baik kau fokus pad skripsimu!" ucapnya memberikan semangat pada diriny sendiri.


* * * * * * * *


"Selamat pagi pak Doni" suara semangat yang keluar dari bibir Hanny.


Pagi ini dia sengaja datang ke rumah Chalissa karena hari ini dia tidak ada jam kuliah. Dia pun merasa badmood selalu berada di kamar kos kecilnya.


"Hanny" panggil Chalissa setelah melihat kemunculan batang hidung sahabatnya di lantai dua.


"Kau datang sepagi ini?" heran Chalissa tak percaya.


"Aku bete di kosku seharian. Lagi pula aku gak ada jam kuliah hari ini Lissa, jadi aku kuputuskan ke rumahmu. Apa kau keberatan?" tanya Hanny, wajahnya berubah memelas.


Chalissa berdecih disuguhkan ekspresi wajah memelas sahabanya itu. "Dasar, aktingmu itu kurang bagus. Tentu saja aku tidak keberatan. Aku heran saja, sepagi ini kau tumben sudah datang" balas Chalissa.


Hanny tertawa tersipu pada sahabatnya.


"Kau akan mengerjakan apa Lis?" tanya Hanny melihat sahabatnya sedang sibuk.


"Aku hanya menyiapkan sarapan. Kemarilah, siapa tahu kamu bisa membantuku" ajak Chalissa yang hendak membuat sandwich, lalu Hanny ikut memasuki dapur mini yang terlihat memang selalu bersih dan rapi.


"Apa kau sendiri yang mengerjakan ini Lissa?" tanya Hanny


"Tidak juga. Bi Suti dan bi Nani yang memasak sedangkan aku hanya bagian merapikan saja, hehehe" canda Chalissa


"Hai Rissa" sapa Hanny saat Rissa sudah duduk di area makan.


"Loh ada kak Hanny" Clarissa pun sama terheran dengan kedatangan Hanny yang masih pagi.


Hanny tak menjawab ucapan Clarissa, dia hanya tertawa menanggapinya.


Tak lama Ansel pun muncul untuk menikmati sarapan.


Mereka menikmati sarapan mereka di meja makan bersama.


_ _ _ _ _ _ _ _


Ansel telah berangkat ke kantor sedangkan Clarissa berangkat ke sekolahnya. Sejak Clarissa tinggal bersama mereka dan Chalissa pun kandungan sudah semakin besar, akhirnya Ansel mencarikan supir pribadi untuk siap mengantar Chalissa dan Clarissa.


Kini Chalissa dan Hanny sudah berada di lantai 3. Setiap pagi, Chalissa selalu menikmati hangatnya pancaran matahari.


"Aku benar-benar tidak sabar menunggu keponakanku ini akan lahir" Hanny mengelus-elus perut Chalissa.


"O iya Lissa, apa kau yakin akan melahirkan secara normal?" tanya Hanny, sebenarnya ada perasaan ngilu yang ia rasakan membayangkan ucapan orang yang mengatakan hal mengerikan akan melahirkan secara normal. Chalissa tersenyum menganggukan kepalanya, ia tahu kalau sahabatnya pasti sedang merinding ngeri.


Hanny memeluk gemas pada sahabatnya, "Haaaa... kamu memang sahabatku yang tangguh" puji Hanny.


Lalu Hanny melepaskan pelukannya, wajahnya berubah cemberut seperti anak kecil. "Kamu kenapa?" tanya Chalissa, "Kamu wanita yang tangguh dan baik hati, jadi kamu tidak salah mendapatkan pak Ansel yang baik hati dan ganteng juga" ungkap Hanny, Chalissa yang mendengarnya merasa bahwa sahabatnya itu tidak seberuntung dirinya.


"Hei, sebenarnya siapa sih orang yang sedang kamu idolakan itu?" penasaran Chalissa, karena ia hanya mendengar curhatan sahabatnya itu tanpa diberitahu siapa pria beruntung yang mampu menyentuh hati sahabatnya itu.


"Sudahlah Lissa. Aku memang selalu tak beruntung masalah hati" pasrahnya enggan membahas masalah pria yang adalah Harrys.


Chalissa mengelus punggung Hanny. "Kenapa?" Chalissa berusaha menenangkan sahabatnya.


"Mungkin karena belum waktunya saja kali ya. Dia sepertinya hanya menganggap sebagai teman, tidak lebih" ungkap Hanny.


"Aku yakin, kau akan mendapatkan orang tepat kelak Hanny. Semangatlah, tidak usah lagi memikirkan pria yang tak beruntung itu karena sudah menyia-nyiakan sahabatku yang cantik dan sangat baik ini" puji Chalissa membuat Hanny tertawa.


"Sepertinya kamu sudah belajar merayu ya dari pak Ansel?" ucap Hanny sambil tertawa terbahak.


*


*


*


*


*


Happy Reading 😍


Maaf ya gaes, kalau baru bisa UP....


Jangan lupa tinggalkan jejak untuk author ya klik LIKE, kasih KOMENTR di kolom di bawah, daaaaaaan... kalau kalian punya koin atau pun point plisss gaes jangan lupa dan ragu kasih VOTE buat author ya...


Love you and matur nuwun gaesss 🙏😘