
Sudah 4 hari, Ansel berada di Bali. Ia sangat senang mendengar kabar kalau Harrys akan datang menemuinya. Namun, pagi ini Davina harus kembali ke Jakarta sendirian.
"Pak Ansel yakin tidak apa-apa kalau saya kembali ke Jakarta lebih dulu?" tanya Davina sedikit mencemaskan keberadaan Bellvania yang tahu malu terus mendekati bosnya.
"Kau tidak usah khawatir. Nanti malam, Harrys juga akan datang" ungkap Ansel.
Di depan pintu koridor utama, Ansel mengantar Davina untuk menaiki taksi yang akan mengantarnya ke bandara.
Malam hari tiba.
Seperti malam-malam sebelumnya. Ansel menyantap makan malam bersama dengan kliennya. Perbedaan malam itu tak ada Davina, sekretarisnya yang menemaninya untuk menghalangi niat Bellvania mendekatinya. Selain itu, malam itu juga tuan Ronald ditemani oleh istrinya.
"Bagaimana kalau malam ini kita lanjut ke sky club?" ucap tuan Daniel sambil melirik ke arah Bellvania yang malam itu mengenakan balutan yang tak kalah seksi dari malam sebelumnya.
Ansel tersenyum menarik salah satu garis bibirnya. Ia juga seorang pria dewasa yang tahu arti dari tatapan tuan Daniel.
"Sepertinya itu ide bagus" timpal tuan Hendrik mendukung ucapan tuan Daniel.
"Tapi maaf, saya tidak bisa ikut. Saya harus..." belum selesai dengan kalimatnya, tuan Ronald memotongnya. "Ayolah tuan Ansel, sudah empat hari kita bekerja. Hari ini kita bersenang-senang" tutur tuan Ronald.
"Maaf..." Ansel terhenyak menghentikan kalimatnya saat Bellvania dengan manja bergelayut di lengannya. "Hanya malam ini Ans" ucapnya sudah menyatukan pipinya pada pundak Ansel.
"Sekali lagi maaf, saya tidak bisa!" tegas Ansel sambil menarik lengannya jauh dari tubuh Bellvania.
"Apa ada yang anda takutkan, tuan Ansel?" tanya Daniel yang kemudian ia mengangkat kedua bahunya bersamaan dengan kedua alisnya.
"Ayolah tuan Ansel" desak tuan Hendrik, akhirnya Ansel pun mengiyakan.
Tiba di Sky Club.
Ansel terus saja melihat jam tangannya. Selama perjalanan tadi, ia sudah memberitahu Harrys akan keberadaannya.
"Sepertinya anda punya kisah indah tuan dengan nona Bellvania?" tiba-tiba Daniel melontarkan pertanyaan pribadi pada Ansel.
Sejenak Ansel melihat ke arah Daniel yang sedang menikmati minumannya. Pria itu tampak seusia dengan dirinya. Selain itu, sepertinya pria itu adalah pria single yang terkesan liar. Ansel agak tak suka dengan topik pembicaraan yang dilontarkan tuan Daniel. Wajahnya berubah dingin.
"Maaf, saya tak bermaksud ikut campur dalam hal pribadi anda." ucap Daniel lagi menyadari raut muka tuan Ansel.
"Apa anda tertarik?" tanya Ansel balik dengan tatapan menyelidik.
Daniel tersenyum nakal, matanya pun terlihat nakal saat melihat beberapa wanita melewati mereka dengan pakaian seksinya.
"Saya hanya bergairah tuan" ucap Daniel terdengar devil. Ansel tersenyum sambil bergeleng. Ternyata pria dihadapan lebih nakal dari pada Harrys.
Drttt drtttt... Ansel merasakan ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari istrinya.
"Sayang bisa video call gak? sepertinya Killian merindukanmu. Dia mendadak demam sayang"
Ansel menghela napasnya. Matanya bolak balik melihat situasi di mana ia kini berada.
"Ada masalah tuan Ansel?" tanya tuan Daniel membaca wajah Ansel seperti sedang bingung.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin mencari tempat yang aman untuk menghubungi istri saya" jelas Ansel.
"Oh" Daniel meneguk minumannya, kemudian dia memberi ide pada Ansel mengarahkan matanya menunjukan sebuah tempat.
"Apa anda mencari tuan Ansel, nona cantik?" tanya tuan Daniel pada Bellvania yang datang menghampirinya.
"Di mana dia?" tanya Bellvania dengan ekspresi tak ramah.
Daniel tersenyum getir membuang tatapannya dan kembali menikmati segelas alkohol hingga habis.
"Anda sangat miris nona! Jangan jadi pelakor suami orang" ucap Daniel mendekati wajah Bellvania.
Bellvania dengan kasar mendorong tubuh tubuh Daniel. Daniel terkekeh dengan dengan dorongan wanita yang kini membuatnya semakin membuncah.
"Jangan bersikap erotis nona, anda bisa membuat saya terbakar" Daniel semakin gila dengan tatapan beringas.
Tak sedikit pun Bellvania merasa takut dengan sikap Daniel. Justru wanita itu terkesan menantangnya dengan memajukan tubuhnya mendekati Daniel.
"Maaf saya tidak tertarik dengan anda" bisik Bellvania.
Tak lama Bellvania melihat dari jauh sosok Ansel yang mendekati mereka. Bellvania tersenyum sumringah, lalu ia mengacungkan tangannya ke salah satu bartender, yang disusul dengan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah yang terangkat bersamaan.
Tak lama dua gelas minuman beralkohol tersedia di atas meja. Tanpa ragu, wanita itu mengeluarkan sebutir pil dan menuangkannya pada salah satu gelas yang tersedia. Daniel tersenyum sinis melihat kegilaan wanita di depannya. Sedangkan Bellvania tanpa takut pun menoleh pada Daniel dan tersenyum dengan penuh arti.
"Aku hanya ingin mengambil kesempatan ini" bisik Bellvania.
"Dasar wanita gila" pikir Daniel.
Ansel merasa risih ada Bellvania di sana.
"Maaf tuan Daniel, lama meninggalkanmu" ucap Ansel.
"Tenang saja tuan" balas Daniel menatap Ansel dengan tatapan aneh.
Tak lama Hendrik datang. "Tuan Ronald baru saja pulang, sepertinya istrinya kurang enak badan. Jadi tuan Ronald minta maaf tak bisa menemani kita di sini lama" ucap Hendrik menyampaikan pesan tuan Ronald.
"Bagaimana kalau kita bersulang" ajak Bellvania.
"Maa..."
Daniel langsung memotong, "Ayolah tuan Ansel, silahkan nikmati" ucap Daniel menyerahkan segelas alkohol pada Ansel.
"Segelas tidak akan membuat kita mabuk" goda Hendrik sambil tertawa.
Berlahan-lahan Ansel menghabiskan minumannya.
Daniel tersenyum getir, tatapan terus ke arah gelasnya seraya menikmati alkohol yang berkali-kali telah ia teguk.
Daniel dan Bellvania saling bertatapan. Bellvania merasa puas karena Daniel dapat diajak kerja sama, terlihat pria itu tak menghalangi niat buruknya. Sedangkan Daniel tersenyum menggoda dengan tatapan menggilai wanita di hadapan matanya itu.
Tak lama, Ansel merasa tak enak badan. Kepalanya pusing. Mungkin karena ia sudah meminum alkohol, di mana Hendrik juga menambah minumannya lagi. Padahal bukan pertama kalinya ia minum alkohol.
"Anda kenapa tuan Ansel?" tanya Hendrik melihat perubahan wajah Ansel.
* * * * *
Pagi hari
Bellvania membuka matanya berlahan. Pelan-pelan ia tersenyum saat melihat samar sosok pria yang berdiri di samping kasurnya.
"Ansel" ucapnya dalam hati.
"Morning baby"
"Kau!!!" Bellvania tersentak saat sosok yang dilihat telah jelas adalah sosok Daniel.
Daniel tersenyum nakal, mengangkat kedua alisnya bersamaan.
"Kenapa kau ada di sini?!!" bentak Bellvania.
"Tenang baby. Aku di sini, karena kau yang minta" terang Daniel.
"Maksudmu?!!" bentak Bellvania lagi.
Daniel merangkak ke kasur mendekati Bellvania.
"Aku sudah membuatmu puas, baby. Apa kau lupa, semalam kau juga sudah sangat liar membuat kegilaanku hampir tak bisa menyamaimu" ucap Ansel pelan dengan nada menggoda.
"Sial!!" teriak Bellvania melempar bantal pada Daniel. Bellvania semakin membuncah saat sadar dirinya dalam keadaan tak berbalut sehelai benang pun.
"Jangan-jangan kau...?!" marah Bellvania.
"Apa yang kau pikirkan benar baby. Semalam kau meminum obat perangsangmu sendiri" ucap Daniel tergelak.
Malam itu, saat Bellvania mengajak mereka bersulang. Daniel dengan cepat mengambil alih posisi minuman yang disediakan oleh Bellvania. Dan dengan bodohnya, Bellvania mempercayai tatapan Daniel saat menyerahkan minuman kepada Ansel. Ia pikir, Daniel tak akan mengacaukan niatnya.
***
"Untung saja semalam kau segera datang" tutur Ansel bernapas lega.
Harrys tersenyum puas jika mengingat kejadian saat Bellvania mencoba akan mendekati bosnya.
"Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Ansel penasaran.
"Sudah lupakan sajalah" ucap Harrys lalu berjalan membuka pintu kamar hotel. Karena malam itu, bosnya dalam keadaan kurang enak badan. Maka Harrys memutuskan untuk tidur di kamar Ansel. Ia takut sesuatu terjadi pada bosnya.
Mereka menyapa tuan Ronald, tuan Hendrik, dan tuan Daniel.
"Saya minta maaf tuan tuan Harrys tak menyapa kedatangan anda semalam." ucap tuan Ronald.
"Tak ada masalah tuan" jawab Harrys.
Tak lama sekretaris nona Bellvania muncul. "Maaf, tuan. Hari ini, nona Bellvania tidak bisa bergabung."
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Hendrik bingung.
"Tidak ada apa-apa tuan. Nona hanya kurang baik pagi ini." terangnya.
Mereka pun melanjutkan breakfast mereka. Sebelum mereka akan meninjau sebuah lokasi hotel baru yang menjadi projek kerja sama mereka.
Siang hari.
"Anda harus berterima kasih padaku tuan Ansel" tutur Daniel yang duduk disebelahnya.
"Untuk?" tanya Ansel heran.
"Aku sudah menolongmu dari cengkeraman wanita gila semalam" jelas Daniel pelan.
"Hah. Siapa yang kau maksud? apa...?" pikiran Ansel mengarah pada Bellvania.
"Siapa lagi wanita gila yang terus mengincarmu, dari beberapa hari yang lalu?" tanya balik Daniel.
"Apa yang dia lakukan?" selidik Ansel.
"Dia hampir menjebakmu untuk tidur dengannya. Dengan sebutir obat pil perangsang." terang Daniel. Mata Ansel mendelik tak percaya.
"Apa ada hubungannya dengan ketidakhadiran Bellvania pagi tadi?"
Daniel tertawa dan menganggukkan kepalanya. Ia menceritakan kepada Ansel dengan transparan, bagaimana ia menolongnya dan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Bellvania.
Ansel dibuatnya tercengang.
"Kalau begitu, terima kasih. Terima kasih sudah menyelamatkanku" ucap Ansel ramah.
"You'r welcome bro" ucap Daniel sok akrab.
Di dalam kamar hotel. Ansel menceritakan kembali apa yang tadi menjadi perbincangannya dengan tuan Daniel. Ternyata apa yang ditakutkan oleh Harrys, hampir saja terjadi. Harrys yakin kalau Bellvania adalah sosok wanita nekat. Apapun bisa dilakukannya untuk mendapatkan keinginannya.
Dari perbincangan mereka. Ansel memutuskan bahwa malam ini ia akan kembali ke Jakarta. lagi pun pekerjaannya sudah selesai. Besok, Harrys akan menggantikannya untuk acara peresmian hotel baru milik tuan Ronald.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
Terima kasih readers, kalian sudah mau membaca novel karyaku. Semoga kalian suka dengan alur ceritanya. Jika ada yang kurang menurut kalian, boleh berkomentar ya readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian juga ya 🙏