Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Teman Baru



SESSION 1


_ _ _ _ _ _ _ _


"Dek, kamu kenapa? kok mukamu ditekuk begitu? ada masalah?!!" Lissa menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan meja makan. Saat itu, ia sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam.


Lissa nampak bertanya-tanya penasaran kepada adik perempuan satu-satunya itu.


Hari itu, Lissa sedang mendapat hari libur dari pekerjaannya sebagai kasir di sebuah toko sembako kecil, bisa disebut swalayan. Hanya pekerjaan itulah yang menjadi harapannya untuk bisa membiayai ibunya yang sering sakit dan adiknya yang masih sekolah dibangku pendidikan SMP.


Setiap bulan, dia akan menerima gaji sebesar satu juta lima ratus rupiah. Dan bila jujur penghasilan sebesar itu sebenarnya tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Itu sebabnya, Lissa ingin sekali mencari pekerjaan lain.


Semenjak ayahnya meninggal dunia, dan kesehatan ibunya tidak stabil Lissa lah yang berjuang mengganti ayahnya untuk menafkahi keluarganya.


Clarissa Indira, dipanggil Rissa, adik dari Chalissa Deandra atau Lissa.


"Kakk?" tatapan Rissa penuh dengan permohonan. Rissa tahu bagaimana perjuangan kakaknya, ia sangat enggan untuk menceritakan permasalahan yang dihadapinya.


Apa sebenarnya yang sedang menumpuk dikepala Rissa? Apakah dia melakukan sebuah kesalahan? atau apakah dia sedang menginginkan sesuatu??! yahh, Rissa sering sekali mengikuti arah pergaulan teman-temannya.


Dua bulan yang lalu, ia baru saja mendapatkan sebuah handphone android dari kakaknya dengan alasan, bahwa setiap ada tugas dia sangat membutuhkan gadget. Namun sebenarnya Lissa bersedia membelikan handphone tersebut dengan alasan supaya ia lebih mudah untuk menghubungi adiknya ketika Lissa sedang bekerja.


"Ada apa dek? ayo katakan jangan menekuk mukamu seperti itu!"


"Minggu depan aku ujian kak" wajahnya memelas


"Iya kakak tahu. Trus??!" Lissa melanjutkan aktivitasnya


"Ba- hmm... Bagaimana dengan biaya sekolahku kak??!" terdengar suara Rissa yang segan namun memberi penekanan kepada kakaknya.


"Kakak sudah memikirkan itu dek" suara Lissa terdengar melemas


"Apakah kakak sudah punya uang??"


Lissa tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya. Dia terlihat sedang memikirkan sebuah jawaban yang tepat untuk adiknya itu.


Apa yang harus dijawab oleh Lissa? Benar saja wanita berusia 22 tahun itu tidak memiliki uang untuk membayar biaya sekolah adiknya. Namun, ia juga merasa bingung jika adiknya nanti tidak bisa mengikuti ujian.


"Kakk, aku tahu kau pasti..."


"Kakak akan mencari jalan keluarnya" memotong ucapan adiknya. Lissa sudah berjanji pada ayahnya bahwa ia akan menyekolahkan adiknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dia tidak akan melepaskan tanggung jawab itu, meskipun keadaan realita tidak memungkinkan bagi Lissa untuk membiayai sekolah adiknya itu. Apalagi keadaan ibunya yang selalu sakit-sakitan. Hal itu tidak lantas membuat semangatnya sirna.


"Sudah perbaiki wajahmu. Tersenyumlah sayang" Lissa terlihat berusaha menyunggingkan pipi adiknya itu dengan kedua tangannya.


Kemudian kembali membenahi setiap perlengkapan makan di atas meja. Setelah selesai menghidangkan menu makan malam. Ia duduk menghampiri adiknya yang sedari tadi telah duduk di kursi meja makan mereka.


"Riss, besok kakak akan ke sekolah untuk menyelesaikan masalah ini" Lissa memegang kedua bahu adinya, seolah ingin memberi keyakinan supaya adiknya tidak perlu kuwatir. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut adiknya, bibirnya tetap mematung hanya kepalanya memberi respon mengangguk menunjukkan bahwa ia akan mengikuti alur kakaknya.


Setelah kakaknya berlalu...


"Aku tahu kakk. Kau selalu tersenyum untukku dan ibu. Hanya kau yang bisa kami andalkan" air mata Rissa jatuh menetes


Usia Rissa memang masih sangat muda, usianya masih 14 tahun. Jauh dari usia Lissa. Adik kecilnya itu memang terbilang manja dan kadang kurang peka. Diusianya masih sangat belia sudah pasti kehidupannya masih bersenang-senang dengan teman seumurannya. Lissa tidak pernah memaksakan pemikirannya pada adiknya itu, namun Lissa pun pelan-pelan berusaha untuk terus memberi pengertian kepada Rissa. Dari sikapnya yang manja sebenarnya tersimpan sifat melankolis di dalamnya. Dia mudah menangis saat ditegur oleh siapapun. Bahkan, jika kakak perempuannya itu diam Rissa akan berpikir bahwa kakaknya sedang marah padanya. Tapi dari semua itu, Rissa adalah gadis penyayang.


****


Seusai makan malam.


Di kamarnya Lissa berbaring, ia sedang memikirkan jalan keluar. Entah bagaimana caranya, supaya adiknya itu bisa mengikuti ujian. Terbesit dipikirannya apakah dia harus menerima tawaran dari seorang lelaki yang pernah memintanya untuk bersedia menjadi istrinya. Tepatnya istri pura-pura.


Yah, seorang lelaki kaya yang sudah memiliki istri. Namun, sepasang suami istri itu tidak bisa dikarunia seorang anak. Istrinya pernah menderita fibroid yang akhirnya membuat istrinya harus melakukan operasi histerektomi total atau disebut operasi pengangkatan rahim dan leher rahim. Hal itu menjadi penyebab ia tidak dapat memberikan keturunan bagi suaminya.


Sepasang suami istri itu meminta Lissa untuk memberikan rahimnya sebagai sarana untuk melahirkan seorang keturunan bagi mereka. Dengan imbalan, mereka akan membantu biaya ibunya yang beberapa kali ini sering mengalami serangan iskemik.


Serangan seperti stroke yang, walaupun sembuh dalam beberapa menit hingga jam, masih membutuhkan penanganan medis. Serangan iskemik sesaat menjadi tanda peringatan indikasi penyakit stroke di masa mendatang. Hal itu, selalu menjadi polemik bagi dirinya sendiri.


Sepasang suami istri itu pun akan memberi imbalan dengan menanggung biaya Clarissa hingga menyelesaikan pendidikan sampai SMA nya selesai.


Malam itu, saat merenungkan tawaran itu. Lissa merasa tawaran seolah menjadi tawaran yang menggiurkan baginya. Hal bodoh apa yang sedang ia pikirkan???!! pikiran itu terbesit dalam pikirannya. Arghhhh... tidak mungkin Lissa melakukan hal itu!! Itu akan menyakitkan ibunya. Lagi pula apa ia bisa menyerahkan bayinya kelak.


terrrr... terrrr (suara getar handphone)


"Ha- hallo..." dengan pelan Lissa menghubungkan jaringan handphone pada sebuah nomor yang tidak dia kenal.


"Ini Lissa ya??!" suara seorang wanita


"Iy, iya.. maaf ini siapa ya?!" meskipun suaranya ragu, namun ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Cindy, Liss. Masih ingat aku??! dua hari lalu kita ketemu di sebuah taman" jelas wanita yang menyebutkan dirinya Cindy itu.


Chalissa mencoba mencari memori dua hari yang lalu. Tiba-tiba raut wajahnya menunjukkan ingatannya pada sosok wanita bertubuh seksi dan montok yaitu Cindy. Yah, seorang teman yang baru dia kenal. Sebenarnya bukan teman yang sama sekali belum pernah ia lihat.


Cindy adalah teman satu sekolah Lissa di SMK atau sekolah kejuruan yang setara dengan SMA. Lissa mengambil jurusan tata busana atau design fashion, sedangkan Cindy mengambil jurusan sekretaris. Sebenarnya mereka sering bertemu dulu semasa sekolah, hanya saja mereka tidak saling mengenal apalagi bertegur sapa.


* * *


Reader please VOTE, LIKE, and FOLLOW yah.