
Tiba di klinik terdekat, Ansel dengan cepat membaringkan Lissa ke atas tempat tidur pasien. Ia menyuruh Bi Nani menunggu di luar saja.
Ansel menemani Lissa yang sedang diperiksa oleh dokter. Selesai memeriksa keadaan Lissa.
"Maaf, apakah anda suami pasien?" tanya dokter
"Bukan dok. Saya kakaknya"
Dokter nampak mencerna ucapan Ansel. Mungkin dokter agak tidak percaya dengan perhatian Ansel sebagai seorang kakak.
"Ada apa dok? dia baik-baik saja kan?" Ansel gugup
"Bolehkah anda menyampaikan gejala adik anda?"
"AHHH.. beberapa hari lalu dia bilang tidak enak badan. Kata bibi, dia nampak lesu, makannya berkurang, dan dia juga sering memuntahkan makanannya. Bahkan belum juga makan dia sudah mual. Begitu dok" tutur Ansel berusaha mengingat gejala yang sedang dialami Lissa.
"Maaf pak, dari tensi darah dan detak jantung semuanya normal. Kemungkinan adik anda sedang hamil"
"HaHHH!!!"
DEG... DEG... DEG...
"Ma-maksud dokter apa??! Apa dokter sedang bercanda?!!" Ansel seperti tersambar petir.
"Benar pak. Saat ini adik anda sedang mengandung, perkiraan usianya sudah memasuki minggu keempat" ucap dokter
Ansel sangat syok, wajahnya pucat dan kaku tidak dapat bergerak.
"Jika anda tidak keberatan, kita bisa melakukan USG" ucap dokter
"Apakah anda keberatan?" Ansel menggelengkan kepalanya, jujur saya ia pun tidak punya pilihan. Ia ingin sekali benar-benar memastikan.
Dokter terlihat mempersiapkan perlengkapan USG. Ia melumuri gel pada perut Lissa kemudian ia mulai memutar probe yang sudah menyentuh perut Lissa.
"Lihatlah Pak, ini adalah janin" tunjuk dokter yang tidak memindah probe.
Setelah selesai melakukan USG, tidak lama Lissa tersadar dari pingsannya.
"Aku kenapa?" tanya Lissa
Ansel memberi kode kepada dokter untuk tidak memberitahu Lissa.
"Kau tidak apa-apa. Ayo turun kita akan pulang" ajak Ansel membantu Lissa turun dari tempat tidur.
Dalam perjalanan pulang Ansel terus terdiam. Dia masih syok mendengar diagnosa dokter yang mengatakan kalau Lissa sedang hamil.
Chalissa hamil?? Apakah itu benar? Apa itu anakku? Hahhhhh... Lalu bagaimana selanjutnya?!! Apa aku harus menikahi dia???
Hahhh... Ansel menghembuskan napas dengan kasar
Lissa yang duduk di sebelah Ansel merasa bingung melihat sikap Ansel. Begitu juga dengan bi Nani. Bahkan saat bi Nani bertanya tentang sakitnya Lissa. Ansel enggan untuk menjawabnya.
Tiba di rumah Ansel segera menyuruh Lissa masuk ke kamarnya. Sedangkan Ansel masuk ke kamarnya.
"Apa ini? Sekarang apa aku harus bahagia?? Apa yang kulakukan?!! Sungguh pusing semua ini. Bagaimana selanjutnya?!! Arghhhh, sialan!!!!" Kesal Ansel menjambak-jambak rambutnya.
Dua jam Ansel bergelut dengan pikirannya. Namun, ia merasa buntu. Ia tak dapat berpikir jernih.
Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Ansel. Ia melirik pesan yang masuk dan membuka pesan itu,
"Ans, terima kasih untuk kirim buket bunganya. Ini cantik sekali Ans. Aku tahu, kamu gak sungguh-sungguh marah padaku kan Ans. Kamu akan memaafkanku kan?"
Hari ini adalah ulang tahun Bellvania.
Ansel mematikan layar ponselnya.
"Bi, sedang apa dia?" tanya Ansel hendak masuk ke dalam kamar Lissa.
"Nona Chalissa baru saja selesai minum obat tuan" jawab bi Nani.
"Bibi boleh beristirahat sekarang. Aku akan menemaninya di dalam" tutur Ansel
"Baik tuan" berjalan meninggalkan Ansel.
ceklekkk
Ansel masuk ke dalam kamar Lissa. Ia melihat Lissa sedang duduk di sisi kasurnya. Lalu Ansel berjalan mendekati Chalissa.
"Apa kau sudah merasa baik?" tanya Ansel
Lissa menganggukan kepalanya.
Ansel begitu sulit mengungkapkan hasil diagnosa dokter. Otak bekerja keras untuk menyusun kalimat agar Lissa tidak syok.
"Apa kau bisa berjanji tidak akan membenciku??" tanya Ansel
Ansel mengatur posisinya. Ia berdiri di hadapan Lissa, kemudian menjongkokkan tubuhnya berhadapan dengan Lissa.
"Chalissa, apa kau masih masih marah padaki? apa kau membenciku??" tanya Ansel dengan tatapan Tan bisa dimengerti oleh Lissa. Ia berusaha menangkap sesuatu di wajah Ansel, tapi itu sulit untuk dirinya.
"Aku sakit apa Ans? Apa aku sakit keras??" ekspresinya penuh dengan tanda tanya.
H.E.N.I.N.G
" Ans, katakan sesuatu!!" bentak Lissa
Ansel merogoki kantong celanany, kemudian ia mengeluarkan amplop. Lissa membaca amplop nama klinik di mana ia diperiksa. Ansel menyerahkan amplop ke dalam tangan Lissa.
Lissa merasa was-was, dengan pelan ia mengeluarkan isi amplop yang terdapat kertas HVS berwarna putih yang adalah surat keterangan. Saat akan membuka kertas tersebut Lissa melihat sebuah foto terselip di dalam kertas tersebut. Tangannya mengambil foto tersebut dan melihatnya. sontak wajahnya langsung berubah, terlihat pucat dan membeku.
"Ans, kau sedang membodohiku?" suaranya terdengar lirik ada getaran dalam setiap kalimatnya. Ansel tak bergeming, tatapannya yang intens tak merespon pertanyaan Lissa.
"Untuk apa kau menunjukkan foto USG ini padaku?" kesal Lissa.
Lalu Lissa melihat foto USG itu, terlihat buliran air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Sepertinya ia sudah paham maksud dari foto USG itu, tapi ia tidak percaya.
"Chalissa" panggil Ans dengan suara pelan
Lissa menatapi Ansel, matanya begitu marah. Air mata yang sudah ditahannya kini menetes di pipi cantiknya.
Kemudian tangannya bergerak dengan cepat membaca isi surat keterangan hasil pemeriksaannya. Hatinya hancur ketika ada tertulis kata "Positif" dalam surat yang mengatasnamakan CHALISSA DEANDRA.
Tangisannya menjadi pecah
"Ini gak mungkin!!! Aku gak mungkin hamil..." tangis Lissa
"Chalissa maafkan aku"
"Aku gak boleh hamil Ans. Aku belum menikah. Aku tidak mau seperti ini Ansel" memukuli Ansel
"Aku... aku harus melakukan sesuatu" Lissa mendorong Ansel dari hadapannya. Ia berdiri dan berjalan mondar mandir.
"Iya... iya aku harus melakukan ini! Ibu tidak boleh tahu kalau aku sedang hamil. Aku gak boleh hamil" Lissa terus berjalan mondar mandir.
Ansel merasa takut apa yang ada dipikiran Lissa. Ansel melihat Lissa seperti orang depresi. Ia berdiri dan berusaha menebak pikiran Lissa.
Tiba-tiba Lissa membuka semua lemarinya, ia seperti sedang mencari-cari sesuatu. Ia mengacak-acak isi lemarinya hingga banyak pakaiannya berserakan di lantai. Tidak berhasil menemukan sesuatu dalam lemarinya, lalu ia berpindah pada laci-laci yang berada di sisi kanan dan kiri tempat tidurnya. Sama seperti isi lemari, isi laci pun berserakan di lantai. Lalu matanya tertuju pada sebuah benda yang ada di meja riasnya. Lissa segera mengambil gelas yang berisi air putih lalu mengambil benda kecil yang berada di meja riasnya. Ia mengeluarkan obatnya, menumpahkan banyak obat di tangannya. Ansel kaget segera mencegah tindakan Lissa.
PRAKKKK...
Ansel melempar gelas dari tangan Lissa.
"A... Aku harus mengambil air lagi" hati Lissa gusar
Ansel memegang bahu Lissa dengan kasar. "Chalissa!!" teriaknya
"Apa yang kau lakukan?? HAH!!!" sentak Ansel
Suara dari kamar Lissa terdengar sampai ke telinga bi Nani. Tapi bi Nani tidak berani untuk masuk ke kamar Lissa. Dia hanya terpaku di depan kamar Lissa, memantau apa yang akan terjadi.
Sentakan Ansel membuat Lissa terkejut, ia berontak melepaskan tangan Ansel dari bahunya.
"Ini kehancuranku yang kedua, apa kau mengerti??! Hahh!!!" Lissa berteriak.
"Aku tidak mau anak ini!! Aku ingin dia mati!!!"
Ansel menatap Lissa dengan tajam. Air mata Lissa mengalir sangat deras. Ansel membawa Lissa dalam dekapannya. Ia memeluk Lissa dan membelai rambutnya.
.
.
.
Aku berharap kalian akan mulai suka dengan ceritanya ya reader.
.
.
Happy Reading 😍