
Nampak di dalam sudah menunggu ada Pak Richard, Bu Myra, dan Monique. Wajah mereka terlihat datar dan tatapan mereka penuh selidik menatapi Lissa membuat Lissa semakin cemas. Tapi Ansel tidak sedikitpun merenggangkan tangannya menggandeng tangan Chalissa.
"Sayang jangan takut" ucap Ansel
Ansel mengajak Lissa untuk duduk. Sebelum duduk, Ansel memperkenalkan Chalissa kepada keluarganya.
Beberapa menit tak ada satu orangpun yang mengeluarkan suara, mereka diam pada posisi mereka masing-masing. Sampai akhirnya Chalissa memberanikan diri untuk membuka mulut.
"Ma.. Maafkan aku" suaranya terdengar gugup
Ansel menoleh kepada Chalissa, lalu mengusap pundak Lissa.
"Mah, Pah kenapa kalian diam? Bukankah kalian ingin bertemu dengan Chalissa??" Ansel merasa tidak enak pada Chalissa dengan sikap keluarganya.
"Apa kau benar-benar sedang hamil?!!" Bu Myra bertanya penuh dengan penekananan, itu terlihat dari sorot matanya.
"Mah" suara Monique mengingatkan mamanya untuk menjaga diri.
"Kau mengenal Ansel di mana?" akhirnya Monique pun bersuara.
"Aaa..." Lissa menoleh kepada Ansel, dia bingung harus menjawab pertanyaan Monique.
"Keluargamu ada di mana?" Monique meralat pertanyaannya
"Ke... Keluarga saya... ti... tinggal di kampung kak" ekspresi Lissa terlihat tegang.
"Mah, pah. Ansel berharap kalian akan menerima kehadiran Chalissa. Ansel minta maaf kalau sudah mengecewakan kalian" tutur Ansel yang membaca ketidaksukaan orang tuanya terhadap Chalissa.
"Lebih baik kita makan malam dulu" ajak Monique
Malam itu benar-benar menjadi makan malam terbisu. Hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Chalissa begitu tegang sehingga tangannya sulit sekali untuk menyentuh sendok. Beberapa kali sendok dari tangan melesat jatuh. Hal itu semakin membuat kedua orang tua Ansel menyepelekan Chalissa. Namun, Ansel tetap setia menenangkannya.
Selesai makan malam, Pak Richard mulai bersuara.
"Apa pekerjaanmu?" tanpa menoleh kepada Chalissa.
Ansel memegang tangan Chalissa, meremas tangannya dengan lembut.
"Sa.. saya tidak bekerja pak" ucap Chalissa dengan menunduk. Ia benar-benar takut sekali.
"Lalu??!" pak Richard mengerutkan keningnya.
"Tentu saja dia tidak bekerja! Bukankah ada Ansel yang bisa mencukupi semua kebutuhannya!!!" ketus Bu Myra
"Pah, Mah jangan menyalahkan Chalissa. Dia tidak bekerja bukan karena kesalahannya. Saat ini dia sedang hamil, dan dia adalah tanggung jawab Ansel" terang Ansel mencoba melindungi Chalissa. Chalissa hanya tertunduk. dia merasa mulai tidak nyaman di ruangan itu.
"Katakan apa tujuanmu?!!" tanpa basa basi bu Myra melemparkan pertanyaan sengit kepada Chalissa.
"Tujuan apa...mah" Chalissa sulit melanjutkan kata-katanya dengan menyebut mah. Sebelum masuk ke rumah itu, Ansel sudah mengatakan pada Chalissa untuj memanggil orang tuanya dengan sebutan papah dan mamah.
"Jangan panggil saya mah, karena kau belum menikah dengan anakku" gertak Bu Myra
"Mah" Ansel menatap mamahnya dengan penuh kesal.
"Panggil saya nyonya" kata-kata Bu Myra semakin membuat Ansel sedikit kecewa pada sikap mamahnya.
"Ba-baik nyonya" sambil tertunduk.
"Apa kau sedang ada masalah? Atau keluargamu sedang menghadapi masalah besar??!" setiap pertanyaan Bu Myra selalu menekan Chalissa.
"Maksud nyonya?" Lissa memandang Bu Myra dengan tidak mengerti.
"Yang kau cari uangkan? Apa itu salah?!!"
"Mah" teriak Ansel
"Ansel" sambung pak Richard
Air mata Lissa mulai terbendung, ia menundukkan kepalanya. Napasnya mulai tak beraturan. Di atas pangkuannya, ia mulai meremas kedua tangannya untuk menghilangkan rasa takutnya.
"Jangan pernah kamu meneriaki mamahmu seperti itu!! Apalagi di depan wanita yang ingin kau jadikan istri!!!" pak Richard berkata-kata dengan kegeraman.
"Ansel cuma minta kepada mamah dan papah untuk bisa menerima Chalissa"
"Kau pikir semudah itu?!!" Bu Myra menatap Ansel dengan mata yang berkaca-kaca, hal itu membuat Ansel menjadi tak berdaya. Ia tahu bahwa perbuatannya itu telah menyakiti wanita yang paling ia cintai.
"Maaf kan Ansel mah" Ansel menghampiri mamahnya. Ia menjongkokkan tubuhnya dan memegang tangan mamahnya. Bak seorang anak kecil yang ingin mengemis permintaan maaf kepada ibunya karena telah menyakiti ibunya.
"Jangan menyalahkan Chalissa. Dia hanya korban di sini. Ansel akan merasa sakit kalau mamah dan papah memperlakukan Chalissa seperti ini" Ansel masih memelas kepada mamahnya.
"Hmmmm, gara-gara wanita ini kau tega meneriaki mamah, Ans!" air mata Bu Myra menetes.
"Mah" Monique mengelus bahu mamahnya.
"Belum menikah saja kau sudah berani meneriaki mamah di depannya. Apa setelah menikah kau akan berani tidak menganggap mamah?!!" kata-kata Bu Myra penuh dengan kemarahan.
"Ansel tidak bermaksud seperti itu mah" ungkap Ansel
"Kenapa kau diam?!!"
"Maafkan saya. Saya.... saya benar-benar tidak mau apa-apa nyonya" Chalissa mulai menangis, namun tangis belum terdengar dan tak ada yang melihat. Karena Chalissa masih menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu pergi!! Pergi dari kehidupan anakku!!! mendengar ucapan mamahnya Ansel beranjak berdiri. Kali ini ia amat kecewa dengan sikap mamanya.
"Kenapa jadi begini mah??!" tanya Monique merasa mamanya sudah keterlaluan.
"Mamah tidak rela anak mamah menikah dengannya, Monique" ungkap Bu Myra.
Chalissa menjadi beku, rasanya semua tubuhnya yang tegang telah mengeras hingga membuatnya sulit untuk bergerak. Jujur saja ia ingin sekali beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan rumah mewah itu.
"Chalissa" Ansel menghampiri wanita itu yang masih tertunduk, sepertinya Ansel bisa membaca perasaan sakit pada wanita itu.
Chalissa tidak menghiraukan Ansel. sedikitpun ia tidak menolehkan tatapannya pada Ansel.
Melihat sikap Ansel yang terlihat peduli pada Chalissa membuat Bu Myra tersenyum getir. Ia merasa sedih anaknya berani meneriaki dirinya, sedangkan kepada wanita itu anaknya terlihat peduli.
"Kau lihat kan sikapnya" ucap Bu Myra dengan lirih.
"Mah, Ansel hanya merasa kasihan kepada Chalissa karena mamah terus memojokkannya" ucap Monique
"Lalu kau menyalahkan mamah?!"
"Tidak mah" posisi Monique serba salah. Di sisi lain tidak mungkin dia tidak ada di pihak mamahnya, tapi di sisi lain ia tidak mau menyinggung perasaan adik kesayangannya itu.
"Kau harus mengerti keadaan ini Chalissa. Tidak mudah bagi kami menerima kehadiranmu! Apalagi kami hanya menginginkan putra kami menikah dengan wanita yang ia cintai. Dan itu bukan dirimu!!" pernyataan pak Richard
Ansel hanya diam, dia hanya ingin fokus pada Chalissa.
"Seharusnya wanita yang dinikahi Ansel bukan dirimu! Hmmmm, tapi apa boleh buat nasi sudah jadi bubur. Sekarang kau sedang mengandung generasi dari keluargaku. Meskipun kenyataan yang sulit!!" pak Richard terdiam sejenak lagi
"Papah tidak akan menghalangi rencanamu, Ans. Karena sebagai laki-laki kau memang harus bertanggung jawab!!. Tapi kau tidak bisa memaksa!!!, perasaan orang tuamu untuk menerimanya!!!" penyataan yang penuh dengan penekanan.
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut suaminya, membuat Bu Myra terdiam. Ia tidak berkutik.
"Ans, lebih baik kita akhiri dulu malam ini" ucap Monique yang ingin segera menyudahi pertemuan mereka.
Ansel paham maksud dari kakaknya itu.
"Baiklah. Aku akan membawa Chalissa pulang" ucapnya yang masih merasa kecewa.
Ansel mencoba membantu Chalissa berdiri. Saat memegang tangan Chalissa, ia merasakan tubuhnya Chalissa sangat dingin.
"Ayo bangunlah" bujuk Ansel
Sebelum bangkit dari duduknya, Chalissa mencoba untuk memberanikan diri berpamitan.
"Te-terima, kasih... untuk... malam ini. Ma-maafkan saya. Sa-saya pamit... pulang" bibirnya kaku hingga sulit untuk berkata-kata. Lalu ia mengikuti gerakan Ansel yang menuntunnya untuk keluar dari rumah itu.
"Ansel minta maaf Mah, Pah. Ansel akan antar Chalissa pulang dulu"
Setelah pamit, Ansel pun pergi membawa Chalissa pulang.
Selama di perjalanan Chalissa selalu diam. Bahkan tatapannya terus menoleh ke arah kaca di sebelah sampingnya. Ia tidak mau Ansel melihatnya menangis. Tapi Ansel tahu saat itu pasti Chalissa sangat tertekan.
Sampai di rumah Chalissa langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya.
"Tuan, nona kenapa?" tanya bi Nani khawatir
"Tidak apa-apa bi. Mungkin dia lelah saja" ucap Ansel
"Bi, tolong buatkan saya kopi. Malam ini saya akan menginap" ujar Ansel, lalu ia masuk ke dalam kamarnya.
"Baik tuan" ucap bi Nani, lalu segera menuju dapur untuk membuatkan kopi.
.
.
.
.
.
Hai readerssssku, author sangat butuh sekali dukunganmu supaya author bersemangat untuk menulis.
Plis jangan lupa like, follos, vote, dan koment ya.
Jangan lupa di Favorite juga novel karya author ini.
Ikuti terus cerita DON'T HATE ME, BABY!
Happy Reading 😍