
Kinara membuka matanya merasakan tangan seseorang tengah mengelus kepala nya yang masih berbalut mukena berwarna putih itu.
kinara tertegun melihat Arief yang tengah tersenyum menatap dirinya yang perlahan beranjak dari duduknya.
"Bang....... kamu?"
ucap Kinara menegakkan tubuhnya meraba tubuh Arief yang sedikit hangat.
"Alhamdulillah, kamu bangun bang?"
ujar Kinara lalu pecah tangisnya memeluk Arief.
tuhan mengabulkan doa nya, lalu Yuni terbangun.
"Ki...... subhanallah.. Arief?"
ucap Yuni menghampiri mereka berdua.
"kamu sudah sadar nak?"
ucap Yuni senyum dengan mata berkaca-kaca.
"jangan menangis....!"
ucap Arief terbata karena ia merasa kaku setelah beberapa waktu tertidur.
"maafkan Kiki bang...!"
ucap kinara mencium tangan suaminya itu.
bergegas Yuni memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Arief.
"bagaimana dokter?"
tanya Yuni saat dokter selesai memeriksa keadaan Arief.
"Alhamdulillah, keadaan nya sudah stabil. namun pak Arief masih memerlukan perawatan sampai keadaan nya membaik.."
"baik dok, lakukan yang terbaik...!"
ucap Yuni dan di angguki oleh dokter.
Yasmin dan Kahfi masuk ke dalam ruangan tersebut, keduanya langsung datang ke rumah sakit saat kinara memberi tahu bahwa Arief sudah sadar.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar!"
ucap Yasmin berdiri di samping Kinara.
"ya, Arief belum bisa bicara terlalu banyak..kami sangat bersyukur kamu sudah sadar!"
ucap Yuni dan di angguki oleh Arief.
"maafkan Kiki ya bang?"
"kamu enggak salah!"
ucap Arief lirih namun terdengar oleh kinara.
Arief terdiam menatap wajah cantik istri nya yang sembab, dapat di pastikan perempuan itu sering menangis.
"jangan menangis lagi, maaf kan Abang ya!"
"Abang enggak salah, tapi Kiki yang salah!"
ucap Kinara menyeka air matanya.
"sudah jangan bahas siapa yang salah lagi, jadi kan apa yang terjadi sebagai pelajaran berharga...!" ucap Yasmin mengusap punggung Kinara.
seminggu berlalu, media juga sudah memberitakan tentang kesembuhan Arief, sesuai izin dari Arief, Yuni yang kembali memberi kan keterangan pada awak media.
"ini baju nya bang...!" ucap kinara memberikan pakaian untuk Arief, hari ini mereka berencana untuk Pulang ke rumah kondisi Arief Juga semakin membaik.
"terimakasih de...!"
ucap Arief memperhatikan Kinara yang lebih pendiam tak cerai seperti dulu, sesuai instruksi dari Kahfi untuk tidak lagi membahas masalah yang telah berlalu.
mereka berencana untuk pulang ke rumah Yuni, terlihat Rita sudah datang untuk menjemput mereka.
"gimana keadaan kamu rief?"
"baik Tante....!" ucap Arief senyum.
"aku sudah merapikan semua barang barang kita!"
"ya biar kan saja pak Harto yang membawa nya ke mobil Ki...!"
"ya Mi...!"
ucap Kinara singkat.
tak lama Yasmin datang untuk ikut mengantar Arief pulang ke rumah, terlihat beberapa wartawan Sudah menunggu di depan.
"kamu harus terbiasa dengan keadaan ini Ki..."
ucap Yasmin mengusap punggung Kinara.
"ya Bun....!"
ucap kinara senyum di depan media.
"bagaimana kondisi Chef Arief saat ini...?"
ucap salah satu wartawan yang mendekat.
"Alhamdulillah saya sudah sembuh....!"
ucap Arief senyum kecil.
"apakah setelah ini chef Arief akan melanjutkan acara yang sempat tertunda!"
"saya belum tahu, nanti saya akan kabari!" ucap Arief lalu masuk ke dalam mobil bersama dengan yang lain nya.
kinara masih tetap diam di samping Arief tak ada percakapan Apapun, Kinara sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membatasi langkah suami nya itu.
tak lama mereka sampai di rumah, terlihat Revan dan Alea sudah menunggu.
Kinara tidak tahu apa yang membuat keduanya sampai saat ini menunda pernikahan mereka, sementara dulu mereka mengatakan Akan segera menikah.
"hai rief,,gue tunggu di rumah" ucap revan membantu Arief turun dari mobil.
tak pernah ada percakapan antara Kinara dengan Alea, saat di rumah sakit juga Alea lebih banyak berbicara dengan Yuni.
ucap Alea senyum.
sementara Kinara diam sambil memainkan ponselnya, ia tengah berbalas pesan dengan Wildan karena Anisa sudah melahirkan bayi laki-laki.
"ya, Nanti aku pikir kan soal itu...!"
"Ki....?"
ujar Arief membuat Kinara Menoleh.
"ya bang....!"
"aku mau ke kamar...!"
Kinara mengangguk.
"aku istirahat dulu ya van, Alea..!"
"ya nanti kita bisa bicara kan itu nanti!" ucap Alea senyum.
kinara mendorong kursi roda ke dalam kamar, lalu membantu Arief naik ke ranjang.
"bang, kamu butuh sesuatu?"
tanya kinara.
"aku butuh kamu....!"
ucap Arief membuat kinara tertegun.
selama di rumah sakit Arief sibuk karena beberapa teman nya datang menjenguk hingga kedua tak bisa bicara dari hati ke hati.
"maaf ya bang, Kiki ke kamar mandi dulu!"
ucap Kinara masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran air hingga tak terdengar saat ia mual dan muntah.
"sepertinya aku harus minum obat magh ku lagi, dari Kemarin kenapa masih saja mual!" gumam kinara dalam hati lalu keluar dari kamar mandi.
"kamu sakit de?"
tanya Arief melihat wajah Kinara tampak pucat.
"enggak apa-apa bang, kiki hanya sedikit pusing, tapi tidak apa-apa minum obat juga sembuh!" ucap kinara naik ke ranjang sesuai instruksi dari Arief yang menyuruh nya mendekat.
Arief memperhatikan wajah Kinara yang memang pucat pasi.
"kamu beneran enggak apa-apa?"
"ya, Kiki baik baik saja bang!"
ucap Kinara senyum memeluk tubuh Arief.
"maafkan Kiki ya bang, Kiki enggak akan seperti itu lagi. terimakasih karena sudah menyelamatkan Kiki....!"
ucap kinara yang bersandar pada dada bidang milik Arief.
"kamu tidak salah, Abang yang salah karena terlalu sibuk dan mengabaikan kamu!"
"tidak apa-apa, Kiki Lebih memilih Abang sibuk dari pada seperti kemarin, kiki enggak sanggup lihat Abang seperti itu?"
"Abang melakukan itu karena Abang sayang sama kamu, Kamu tanggung jawab Abang. maaf karena sudah mengabaikan perasaan kamu!" ucap Arief memeluk erat istri nya, lalu terlelap bersama.
seminggu berlalu...
Arief sudah kembali dengan aktivitas nya hanya ia mengurangi jadwal acara di beberapa stasiun TV karena ia juga harus menjaga kondisi nya pasca kecelakaan itu, Kinara sendiri membantu Arief mengurus perusahaan.
siang itu Arief kembali dari kampus dan langsung ke kantor.
langkah nya terhenti saat mendengar Kinara tengah tertawa kecil bersama Carles, sementara yang ia tahu Kinara lebih banyak diam jika di rumah.
Arief membuka pintu seketika membuat keduanya langsung terdiam.
"hai, rief. Lo udah siap gabung sama kita lagi?"
ucap Carles menepuk pundak sahabat nya itu namun justru Arief menatap wajah kinara lekat.
"kita pulang...!"
ucap Arief pada kinara yang mematung.
kinara mengangguk lalu mengikuti langkah Arief. Carles mengangguk mengiyakan.
tak ada percakapan apapun karena kinara sejak tadi memainkan laptop nya.
"Abang enggak akan larang kamu ke kantor lagi de, Abang harus nya Tahu kalau kamu jenuh jika Terus di rumah sementara Abang selalu sibuk, tapi nanti setelah kontak berakhir Abang tidak akan memperpanjang kontrak tersebut..."
ucap Arief saat itu namun semua terasa serba salah karena ia tidak suka melihat kedekatan Kinara dan Carles meski sebatas rekan kerja.
"kalian sudah pulang!"
"ya mi...!"
ucap kinara mencium tangan mertua nya itu di ikuti Arief yang tampak diam.
"ya sudah kita masuk ya mi....?"
ucap kinara Berjalan bersama Arief.
"Kiki ke kamar mandi dulu...!"
ucap Kinara masuk ke dalam kamar mandi mengambil obat magh nya.
kepala nya terasa pusing namun tidak ia rasa.
"bang, kamu mau makan?"
ucap kinara terlihat Arief menatap wajah nya.
"bang.........!"
"kenapa setiap masuk ke dalam kamar mandi kamu selalu menyalakan keran air hingga terdengar keluar?
sebenarnya kamu Kenapa de?"
tanya Arief yang pernah mendapati Kinara tengah mual dan muntah pada malam hari.
bersambung...
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍