
sebulan berlalu..
Kinara berjalan di halaman parkir rumah sakit, ia terkejut saat beberapa wartawan menghampiri nya.
"maaf mba, apa benar mba istri nya chef Arief? kami ingin tahu bagaimana kondisi Chef Arief saat ini."
"maaf saya buru buru...?"
ucap kinara berjalan cepat memasuki rumah sakit namun di ikuti oleh beberapa wartawan tersebut hingga Kinara berlari kecil menghindari mereka.
kinara merasa lega saat melihat beberapa satpam tak mengizinkan mereka masuk ke dalam rumah sakit.
kinara berjalan di koridor rumah sakit dengan lemas, kepalanya sedikit pusing.
kenapa hidup nya malah tak tenang seakan ada saja beberapa wartawan Yang mengikuti nya, mencari informasi tentang keadaan Arief.
"kinara....!"
ucap Yuni saat kinara masuk ke dalam ruang perawatan.
"kamu kenapa, kok mukanya pucat gitu?"
"enggak apa-apa mi...?"
ucap kinara duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah Arief yang sedikit tirus.
sebulan setelah Kejadian itu kini keadaan pria itu semakin baik setelah Minggu lalu melakukan operasi karena ada gumpalan darah di dalam otak bekas benturan keras yang mengenai kepala nya.
Karena Arief belum sadarkan diri jadi kinara lah yang mengambil andil di perusahaan, rasa pusing dan mual seakan menjadi hal yang biasa.
"gimana, ada masalah di perusahaan?"
tanya Yuni.
"enggak ada mi, ada pak Carles yang bantu Kiki... maafin Kiki ya mi...!"
ucap kinara mengangguk.
"tidak apa-apa Ki, mami ngerti perasaan kamu.
Arief memang tak bisa meninggalkan dunia chef, kamu tahu bahkan dulu ia membantah papih nya sendiri karena hal itu...dan sekarang karena hal itu ia di kenal masyarakat luas.. kamu sabar ya Ki, Arief sebenarnya sangat menyayangi kamu..."
"ya, Kiki paham mi...!"
ucap kinara duduk di hadapan Arief yang masih terlelap dengan tenang.
"kamu tahu bang, kemana mana aku di kejar wartawan...!"
ucap kinara sambil menyeka air matanya.
"bangun bang....aku butuh kamu disini, aku janji aku akan lebih sabar lagi...!"
ucap kinara menunduk Terisak.
Yuni iba melihat kinara yang Terisak.
"aku rindu kamu bang, aku lebih memilih kamu yang sibuk dengan aktivitas kamu, dari pada kamu seperti ini. setidaknya aku masih mendengar kamu memanggil ku sayang..."
ucap kinara tergugu.
Yasmin dan Kahfi yang masuk ke ruang perawatan tersebut terpaku melihat Kinara menangis tergugu, begitu juga dengan Yuni yang mematung melihat Kinara, setelah Beberapa waktu Kinara tak pernah lagi menangis, namun sore itu kinara berbicara sambil menangis.
"aku rindu kamu bang, aku mau kamu bangun...!"
ucap kinara menelungkup kan wajah nya di tangan Arief.
Yasmin langsung menghampiri mengusap punggung Kinara.
"sayang... kamu sabar ya!"
ucap Yasmin sedih melihat keduanya.
"jadi aku sebentar saja bang....!"
ucap kinara Menoleh lalu memeluk pinggang Yasmin, Yasmin menelan Saliva dengan air mata yang tak tertahankan.
"kamu sabar ya sayang....!"
ucap Yuni menghampiri.
sementara Kahfi duduk dengan menatap ketiga perempuan yang terisak.
"Ki....!
sudah, kita doakan Arief ya agar cepat sadar!"
ucap Kahfi dan di angguki oleh kinara yang masih memeluk Yasmin.
Kahfi menggenggam tangan kinara berjalan menuju masjid yang tak jauh dari rumah sakit itu bersama Yasmin, Yuni tetap di ruangan menuggu Arief.
"kita sholat dulu ya!"
ucap Yasmin dan di angguki Kinara, sementara Kahfi bergabung dengan para jamaah.
kinara terpaku mengingat masa bersama Arief, terbayang Arief yang selalu menggoda nya sementara kini karena menyelamatkan nyawa nya pria itu kini tak sadarkan diri.
"ya Allah, aku memohon kepada Mu.
berikan aku kesempatan untuk berbakti pada suami ku, sembuh kan dia ya Allah... bangun kan dia dari tidur panjangnya....aku merindukan nya..."
"sayang...!"
ucap Yasmin menyadarkan tubuh kinara pada nya.
"menangis lah kalau kamu masih ingin menangis, terkadang kita perlu menangis untuk kembali Meraih kekuatan...bunda paham sekali dengan apa yang kamu rasakan."
"bun, rasanya sesak karena penyesalan...!
kalau aja Kiki enggak pergi keluar mungkin keadaan nya tidak akan seperti ini" ucap kinara menitikkan air mata nya.
"ya, bunda mengerti. kita doakan agar Arief cepat pulih kembali...!
kamu harus yakin bahwa Arief akan sembuh..!"
ucap Yasmin memeluk putri nya itu.
"sayang, Bunda seringkali lihat kamu mual dan pusing, apa kamu telat mens?"
tanya Yasmin berpikir mungkin saja putri nya itu tengah Hamil.
"enggak, Kiki kemarin mens tapi sedikit bun. Kiki juga tidak tahu...!"
ucap kinara membuat Yasmin tertegun.
"ya sudah, kamu harus sabar dan tetap memperhatikan kesehatan kamu ya sayang!"
kinara mengangguk.
seperti malam malam yang telah berlalu, ia tidur di ruangan perawatan itu bersama Yuni.
"kamu istirahat Ki, ini sudah malam...!"
ucap Yuni melihat jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"ya, mi...!"
ucap kinara beranjak namun menghampiri Arief dan duduk di kursi.
"Bang, aku Rindu kamu, masakan Kamu!"
ucap kinara sambil merapikan selimut tebal Arief.
"aku janji enggak akan marah lagi kalau kamu pulang malam, tapi kamu harus bangun bang, banyak orang orang yang merindukan kamu Hadir di acara televisi."
ucap kinara menggenggam tangan Arief.
"maaf ya bang, Kiki terpaksa ke kantor lagi karena mereka butuh aku. setelah kamu sadar dan kembali ke kantor, aku akan diam di rumah seperti keinginan kamu!"
ucap kinara menyeka air matanya.
"aku tidak suka seperti ini, aku tidak suka bicara sendiri. aku rindu kamu bang!"
ucap kinara menutup mata nya berharap bisa membendung air mata yang meluncur bebas.
kinara memperhatikan Arief yang mengeluarkan air mata nya, meski dalam kondisi seperti itu namun Arief bisa mendengar penuturan Kinara.
"Ki....!"
ucap Yuni menyentuh bahu kinara.
"kamu istirahat ya, sudah malam..!"
"ya,mi....!"
ucap kinara beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ranjang yang biasa ia gunakan untuk tidur.
kinara membuka mata nya, rasa mual menghentak ke ulu hati nya membuat nya seketika membuka matanya.
waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi.
Kinara beranjak dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi memuntahkan cairan bening yang membuat tenggorokan nya perih.
tubuh nya merosot di pintu, kepalanya terasa pusing, tubuh nya juga begitu lemas.
kinara menguatkan tubuhnya untuk bangkit dan tak menghiraukan rasa mual yang menguasai diri nya.
bergegas mengambil wudhu.
kinara melaksanakan shalat tahajud dua rakaat sendiri, ia tak membangun kan Yuni yang terlelap.
Kinara memejamkan matanya mengingat semua kejadian yang lalu.
"hanya satu pintaku ya Robb, sang maha perencana terbaik.... bangun kan ia dalam keadaan baik-baik saja!"
ucap kinara lalu beranjak duduk di samping Arief sambil berpegangan pada ranjang, tubuhnya semakin lemas dan ingin sekali muntah namun kinara menahan nya.
"maaf bang kalau Kiki nangis lagi...!"
ucap kinara menangis tanpa suara dan itu sangatlah menyakitkan.
"Kiki butuh kamu Bang, jangan seperti ini sama Kiki Bang...!"
ucap kinara lalu memejamkan matanya menggenggam tangan Arief.
bersambung....
terimakasih yang sudah mampir Jangan lupa like dan komentar ya 😍😍😍😍