Chef Iloveyou

Chef Iloveyou
bertemu di langit.



"halo... assalamualaikum... bang"


ucap Kinara dengan jantung yang berdetak kencang.kinara sempat tak percaya Arief menghubungi nya setelah beberapa waktu tak ada kabar.


"walaikumsalam, Alhamdulillah kamu masih ingat suara aku, kinara...."


ucap Arief membuat kinara tertegun mendengar Arief menyebutkan nama nya, seingat nya Kinara tak pernah memberi tahu Arief soal nama dia yang sesungguhnya.


"Ki .....!"


ucap Arief saat tak ada jawaban dari gadis itu.


"ya....." ucap kinara mencoba untuk tenang.


"gimana kabar kamu, Ki....?"


"baik bang, m.... maaf ya Kiki enggak tahu kalau Tasya sudah berpulang, Kiki turut berdukacita..!"


ujar kinara mengingat masa itu, dimana waktu terlewati begitu saja.


"oh, ya terima kasih Ki...!"


Hening beberapa saat tak ada yang bicara namun tetap terhubung, keduanya sama sama merasa bingung hendak bicara apa meski dalam benak kedua nya banyak hal yang ingin di ungkapkan Namun keduanya menahan karena keadaan yang membuat keduanya sama-sama canggung.


"Ki.....!" ujar Arief memulai kembali obrolan.


"HM......!"


"gitu doang...?"


"lantas....?"


"sekarang kamu dimana?"


"memang kenapa Bang?"


"Abang mau tahu....!"


ucap Arief merasakan aura dingin dari gadis itu.


"untuk apa Abang tahu....!"


ucap kinara membuka benteng pertahanan nya, ia tak ingin terbuai lagi.setelah kejadian lalu yang membuat nya kecewa, meski bukan di sengaja tapi tetap saja hati tak bisa mengingkari kekecewaan yang ia rasakan, apa lagi sang Ayah sudah kembali pada rencana awal, ia tak ingin memberikan harapan palsu pada Arief, bukan karena tak lagi menginginkan pria itu tapi keadaan semakin jauh dari pengharapan.


"Ki.... Apa kamu marah sama Abang?"


"marah .....? kenapa Abang bertanya seperti itu?"


"Ki, kenapa kamu dingin seperti itu....?"


"harus nya Kiki gimana Bang....?"


ucap Kiki menelan Saliva nya, menahan diri untuk tetap pada penjagaan nya.


"Ki....... apa kamu sudah melupakan Abang?"


"apa pantas Abang bertanya seperti itu?"


"maksud nya?"


"Abang enggak ngerti atau gimana sih?"


"Ki.......!"


"udah Bang, Kiki enggak mau banyak berharap apa apa lagi,, karena kenyataannya sejak awal kita enggak bisa bersama, orang tua Abang juga udah jodoh kan Abang kan, begitu juga dengan Kiki.... jadi sebaiknya kita kembali menata hati kita masing-masing.....!"


"ya, Abang tahu..... bukan karena sekarang Abang duda kan Ki, kamu menjauhi Abang..!"


Kinara terdiam mendengar kata duda yang Arief lontarkan, kenapa Arief berbicara tentang status.


"bukan..... tapi ayah Udah jodohkan Kiki Sama anak teman ayah, dan kali ini Kiki enggak bisa nolak lagi Bang, karena kesempatan yang lalu sudah terlewatkan...!"


"Ki, bagaimana jika tuhan memberikan jalan untuk kita bersama, apa kamu masih mau hidup sama Abang...!"


HM....


Kinara terdiam mendengar penuturan Arief yang langsung membuat nya terpaku.


"HM......!"


"kenapa diam Ki,,?"


"kamu mikirin status Abang ya!"


"enggak bukan itu ....!"


"lalu apa? Atau kamu sudah punya pengganti Abang?"


"HM.....?"


"Abang tahu Ki, semua yang terjadi sudah membuat kamu kecewa, tapi kamu tahu kan Abang tidak bermaksud seperti itu!


kamu Tahu kan bagaimana Abang sama kamu itu enggak seperti Abang dengan perempuan lain nya.....!"


kenapa disaat Sang Ayah sudah menentukan pilihan ia tiba-tiba datang membuat bimbang.


"ya tapi kemana saja kemarin kenapa di saat ayah sudah menentukan pilihan Abang baru muncul.....!"


"Abang.......!"


"Udah ya bang, kalau Abang bicarakan semua sekarang, itu sudah terlambat....!"


"ki......!"


ucap Arief, ia ingin sekali memberi tahu kinara bahwa pria yang di jodohkan dengan nya adalah ia sendiri namun seperti kesepakatan nya dengan Wisnu untuk merahasiakan hal itu sampai ia selesai kan kuliah.


"maaf ya bang...Kiki masih ada pekerjaan....!"


ucap kinara kemudian mengakhiri percakapan dan langsung mematikan ponselnya.


bersandar pada kursi sambil memijat keningnya sendiri.


***


Arief tertegun menatap ponselnya yang mati, kinara Langsung mematikan ponselnya, Arief Mengerti bahwa gadis itu kecewa.


"aku tahu kamu kecewa, tapi aku janji akan menjelaskan semuanya nanti..."


ujar Arief sendiri kemudian melangkah menuju dapur, namun ia tidak bisa memasak dalam keadaan hati nya seperti itu.


kemudian ia duduk di pantry dan mengambil sebuah kertas, tangannya seakan mengerti apa yang berada dalam benak nya hingga terlukis gambar wajah gadis yang ia rindukan.


"di sini sepi, aku sendiri.. dulu sebelum aku mengenal mu, aku juga sendiri bahkan hal itu selalu ku nikmati.. namun kehadiran mu membuat ku tak ingin sendiri, aku ingin berlari mengejar mu meski aku tak tahu dimana kamu berada tapi aku yakin cinta yang akan mempertemukan kita....."


ujar Arief sendiri dalam hati sambil menatap kaca jendela yang hampir gelap, senja menjadi akhir ku berepilog tentang mu.


Arief melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri,dan melaksanakan shalat Maghrib. teringat gadis itu yang tak pernah meninggalkan solat lima waktu, Arief tahu kemana-mana kinara selalu membawa mukenanya.


teringat seseorang yang baru beberapa hari ia kenal, pria itu juga berasal dari Indonesia.


Rahman pria religi yang kemarin sering ngobrol dengan nya, kebetulan ia satu jurusan.


keduanya bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing, Arief cukup salut pada Rahman yang bukan hanya pintar dalam pelajaran namun ia pintar dalam urusan agama.


"kamu tidak usah khawatir tentang jodoh rief, semua sudah Allah atur.


kalau kamu berharap bisa bersama gadis itu, Minta saja pada Allah yang mengatur segalanya.


sebutkan nama nya di setiap doa yang kamu panjatkan padanya..."


ucap Rahman saat Arief menceritakan tentang kisah cinta nya dengan kinara.


"lalu bagaimana kalau aku dan dia tak bisa bersama...."


"mungkin kalian tidak berjodoh, kamu harus yakin rief bahwa Allah sudah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk kita.


kalau kamu dan gadis itu tidak berjodoh,


sekuat apapun kalian berusaha atau bertahan kalau Allah tidak menghendaki, semua akan sia sia..maka persiapkan hati kamu bahwa apa apa yang terjadi di dunia ini sudah tertulis dalam lauhful Mahfudz.."


Arief termenung mengingat percakapan mereka saat di perpustakaan, Rahman banyak memberikan nya nasihat kehidupan.


sejak berteman dengan Rahman kehidupan nya menjadi lebih baik, Arief lebih banyak belajar ilmu agama dari Rahman.


Arief yang dulu tak pernah memperhatikan lima waktu kini berangsur mendekati sang khalik.


Arief mengambil wudhu lalu menunaikan shalat magrib sendiri,


"ku sebut namamu dalam setiap doa yang aku langit kan pada Nya..."


***


sore itu kinara sampai di rumah bersama kedua adiknya, bergegas ia ke kamar mandi saat mendengar adzan Maghrib berkumandang dari ponsel nya..


"de, kita solat magrib berjamaah...."


"ya kak...."


ucap Fahmi di ikuti Fahri.


Fahmi yang menjadi imam shalat mereka, Kinara bersyukur di saat seperti ini ia tidak sendiri, ada kedua saudara nya menemani.setidaknya ia tidak merasa sepi.


bukan hanya Arief yang menyebut nama Kinara dalam doa nya, tapi Kinara juga menyelipkan nama pria itu di dalam doa nya, ia juga meminta kesembuhan untuk Sinta, bukan hanya pria itu yang membuat nya gelisah namun kesehatan Sinta juga yang membuat nya tak tenang.


keduanya memang terpisah namun doa keduanya bertemu di langit...


bersambung.....


terima kasih yang udah mampir 😍😍😍


mendekati hari H makin sibuk ya para reader, semoga sehat selalu...


ada yang sudah mudik? atau sampai di kampung halaman......🤭🤭🤭🤭😍👍👍👍