
Riko memperhatikan kinara yang sejak tadi diam, tak biasa nya gadis itu tampak murung.
"beb... kamu sakit?"
tutur Roki menyentil hidung Kinara yang mancung.
"enggak, lagi enggak mood aja bang, makan bakso super pedas enak seperti nya?"
ujar Kinara bersandar pada bahu saudara sepupu nya itu.
meski tidak punya kakak laki laki, tapi ia punya Riko dan Wildan yang selalu ada untuk nya, meski akhir akhir ini Wildan sibuk namun kinara bisa memaklumi hal itu.
"kenapa rasanya begitu kesal melihat Arief dengan perempuan itu?"
ujar Kinara dalam hati, saat ini ia tengah berada di gedung bioskop, nonton film Drakor kesukaan nya bersama Riko namun mata dan pikiran nya tak singkron.
pikiran nya tertuju pada pria itu, bukan hanya Arief yang cemburu melihat Kinara dan Riko tapi Kinara juga tidak suka melihat mereka berdua.
"kamu lagi mikirin apa? jangan suka ngehalu Sama artis Korea...!"
ucap Riko Terkekeh mengacak kerudung Kinara yang berwarna hitam.
"berantakan tahu bang..?!"
ucap Kinara menepuk pundak Riko.
"maka nya jangan ngelamun terus....!"
ucap riko terkekeh.
setelah selesai nonton Riko mengajak Kinara makan bakso seperti keinginan nya tadi.
namun langkah nya terhenti saat melihat Wildan bersama seorang perempuan cantik berhijab warna biru muda.
mereka tengah makan bersama di sebuah restoran makanan Jepang.
"itu bukan nya Wildan?"
ucap Riko hendak menghampiri namun di tahan oleh Kinara.
"Jangan bang... biarin!"
ucap kinara menarik tangan Riko masuk ke dalam restoran Bakso Budjangan.
"kenapa...?"
ucap Riko sambil duduk.
"enggak apa-apa, takut ganggu aja Bang, kasihan om Wildan, enggak laku Deket dekat aku terus..!"
ucap kinara Terkekeh sambil berpikir, apa Mungkin karena itu juga Wildan sedikit berubah pada nya.
tapi Kinara tak ingin berpikir aneh aneh pada Om nya itu,, tidak ada yang salah jika Wildan ingin mencari kebahagiaan nya sendiri.
"oh gitu....!"
ucap Riko malah terkekeh, siapa pun yang melihat Kinara bersama Wildan pasti akan menyangka mereka pacaran karena keduanya memang begitu dekat.
setelah itu mereka pulang setelah selesai makan bakso bersama.
***
pagi menjelang....
"Jangan pulang malam lagi ya..."
ucap Sinta saat mereka sedang sarapan.
"emang kenapa Oma?"
"tidak apa-apa, itu perintah ayah mu Ki...!"
"oh....!"
ucap kinara singkat, jika sudah mendengar kata ayah Kinara tak akan berani berkomentar apapun.
"ya udah...Kinara paling pulang sore!"
ucap kinara kemudian pamit mencium tangan Sinta di ikuti kedua adiknya.
"kak, Weekend ini bunda sama ayah pulang ya!"
ucap Fahmi naik ke atas motor bersama Fahri.
"ya, kalian enggak boleh kemana mana ya!"
"ya enggak lah... emang kakak, pacaran Mulu"
ucap Fahmi Terkekeh kemudian melajukan motornya.
Kinara membuang nafas kemudian melajukan motornya, mengingat hari ini adalah hari terakhir ia mendatangi apartemen Arief.
tak lama kemudian ia sampai di depan gerbang kampus dan berpapasan dengan Wildan yang juga masuk.
"kamu ada kuliah pagi juga?"
ucap Wildan saat mereka berhenti di Parkiran.
"ya,bang....Kinara duluan ya!"
ucap kinara kemudian beranjak dari motor dan berlalu pergi.
Wildan memperhatikan punggung Kinara yang menjauh, gadis yang kemarin bersama nya adalah anak dari kolega bisnis Rama.
selama ini Rama selalu memperhatikan mereka berdua,Rama khawatir karena keduanya begitu dekat. hingga Rama berpikir untuk menjodohkan Wildan dengan Anisa, Awalnya Wildan tidak mau tapi berkat Marisa, Wildan mau menerima perjodohan yang tak di ketahui oleh Yasmin atau pun Kinara.
Rama takut jika kedua anak muda itu tak bisa mengontrol perasaan, apa lagi saat Melihat Wildan yang menatap Poto Kinara di ponselnya.
"kenapa?"
ucap ayu saat Kinara duduk di kursi.
"tidak apa-apa...!"
ucap kinara kemudian merogoh ponsel nya yang berdering.
"halo...!"
ucap kinara langsung mengangkat telpon dari Arief.
"dimana?"
"di kampus?"
"pulang jam berapa?"
"emang kenapa?"
"aku jemput....!"
ucap Arief membuat Kinara tertegun.
"Kenapa mesti jemput segala...?"
desis kinara dalam hati.
"aku bawa motor, nanti aku ke Tempat Kamu aja!"
ucap kinara kemudian menutup telponnya karena dosen sudah datang.
seperti nya ia memang sudah jatuh cinta pada gadis polos itu, hingga pagi menjelang Arief masih saja memikirkan Kinara.
ia ingin sekali bertemu dengan perempuan itu, lalu ia pun memutuskan untuk menghubungi Kinara.
Arief menatap ponselnya yang mati, Kinara mematikan ponselnya sepihak.mungkin apa yang dirasakan kinara kemarin juga seperti itu.
Jam pelajaran usai Kinara langsung pergi ke halaman parkir bersama ayu yang juga membawa motor sendiri.
"Ki...."
ucap Wildan menghampiri keponakan nya itu.
"kenapa Bang?"
ucap kinara yang sudah berada di atas motor nya.
"kamu mau kemana?"
tanya Wildan membuat Kinara tertegun.
"ada urusan sebentar !"
ucap kinara sedikit ragu melihat Wildan menatap wajah nya.
"aku udah transfer uang nya,, kamu cepat selesai kan urusan kamu ya!"
ucap Wildan dan di angguki oleh Kinara.
"ya udah Kinara pergi ya Om?"
ucap kinara lirih kemudian menyalakan motor nya.
"aku duluan yu...!"
ucap kinara dan di angguki oleh ayu yang berdiri di samping Wildan.
Wildan memperhatikan Kinara yang pergi menjauh, hatinya memang terpaut pada gadis itu namun rasa yang hadir adalah salah karena Kinara adalah keponakan nya sendiri, maka dari itu Wildan menerima perjodohan dengan Anisa.
Mungkin dengan itu ia bisa melupakan Kinara.
"kamu kenapa Wil....?"
tanya ayu merasa ada yang berbeda dengan Wildan.
"tidak apa-apa yu, ayo balik...!"
ucap Wildan kemudian naik ke atas motor.
benar apa kata sang ayah..
"jangan membiarkan rasa yang salah itu bersemaiam di hati karena kalian memiliki pertalian darah... ayah tak ingin kamu salah jalan, jadi cobalah menjaga jarak dengan Kiki.."
ucap Rama yang paham dengan perasaan Wildan.
seperti apapun Wildan menutupi nya hal itu tak luput dari perhatian Rama, mereka memang salah karena membiarkan mereka terlalu dekat.
beberapa waktu kemudian Kinara sampai di apartemen milik Arief, benar kah ini akan menjadi hari terakhir nya menginjak kan kaki di gedung ini.
kenapa hati nya justru menolak hal itu, kinara membuang nafas saat sampai di depan pintu apartemen Arief.
"assalamualaikum.....!"
ucap kinara mengetuk pintu.
"masuk......!"
ucap Arief tanpa membalas salam.
Kinara mendengus sambil membuka pintu, terlihat Arief tengah membelakangi nya.
"HM.....!"
ucap kinara duduk di sofa.
"enak ya datang langsung duduk aja!"
ucap Arief membalikkan tubuhnya menghadap kinara yang tertegun melihat nya.
Arief tampak Tampan dengan kemeja berwarna putih dan celemek yang di pakai nya.
"aku mau bicara....!"
ucap kinara memalingkan wajahnya.
"aku juga mau bicara dengan mu...."
ucap Arief menghampiri kinara dan duduk di samping gadis itu.
Kinara sedikit terperanjat karena Arief tepat berada di hadapan nya.
"aku ....!"
ucap kinara memundurkan tubuhnya sedikit.
"apa?"
ucap Arief menatap wajah Kinara yang tampak merah, bibir nya ranum menggoda.
'ah sial...'
ucap Arief dalam hati.
"aku bawa uang untuk melunasi hutang ku..."
ucap kinara mengambil sebuah amplop putih yang berisi Uang lalu menyodorkan nya pada Arief.
"setelah ini aku berhenti menjadi pembantu mu....!"
ucap kinara membalikkan tubuhnya menyamping.
"oh, bagus kalau begitu tapi bagaimana kalau aku mau, kamu datang kesini bukan sebagai pembantu...!"
ucap Arief yang sudah mantap ingin mengungkapkan perasaan nya meski ia tahu Kinara tak sendiri tapi ia bertekad untuk merebut hati gadis itu.
"maksud anda? Chef Arief?"
ucap kinara ragu menatap wajah tampan pria itu.
"sebenarnya aku ragu karena aku tahu kamu tidak sendiri....!"
"maksud nya?"
"aku tidak bisa jika tidak bertemu dengan mu, aku tahu rasa ini salah tapi aku.....!"
"aku apa?"
ucap kinara penasaran dengan penuturan Arief selanjutnya, apa yang Arief maksud rasa yang salah.???
keduanya berhadapan saling menatap,kinara mengeratkan tangan nya pada sofa dan bersandar.
"aku suka sama kamu.....!"
ucap Arief membuat Kinara membulat kan matanya.
bersambung.