
Tak ada percakapan apapun saat perjalanan menuju rumah sakit, keduanya sibuk dengan pemikiran masing masing.
Arief juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Alina berada di kampus, dan siang itu juga Alina menghampiri nya.
"kenapa kamu ada di sini?"
tanya Arief saat Alina menghampiri nya.
"bagaimana bisa aku jauh dari seseorang yang sudah terlanjur menawan hati ku...!"
ucap Alina membuat Arief tertegun.
"aku tahu aku salah rief, tapi semakin aku menepis bayang mu aku semakin tersiksa...!"
Arief Terkekeh geli mendengar penuturan perempuan yang belum lama di kenal nya itu.
"jangan bercanda Alina, aku sudah menikah.
dan aku sangat mencintai istri ku....!"
ucap Arief membuat Alina terkekeh.
"aku tidak keberatan menjadi yang kedua...!"
"Alina, sangat di sayangkan aku minta maaf karena aku tidak berniat mendua, maaf Alina aku banyak urusan, istri ku sudah menunggu!"
ucap Arief meninggalkan Alina , namun Alina malah mengikuti langkah Arief.
mobil berhenti di halaman parkir rumah sakit.
Arief Menoleh pada kinara yang sejak tadi diam.
Arief meraih tubuh kinara lalu mencium kepala nya, kinara sendiri bingung harus bagaimana ia hanya diam membiarkan Arief memeluk nya.
"apa dia mengikuti kamu Bang?"
Arief mengangguk.
"apa dia menginginkan kamu?"
"seperti nya tapi Abang sudah tegasnya kalau Abang hanya mencintai istri Abang seorang.."
ucap Arief membuat kinara tersenyum.
"Apapun masalah yang datang, itu hanya akan menguatkan cinta kita!"
ucap Arief senyum memeluk istrinya itu.
Arief Menoleh pada ponsel nya yang berdering terlihat Yuni melakukan panggilan telepon.
"kamu dimana Rief?"
"di parkiran rumah sakit Sama Kiki, ini udah mau turun....!"
"Cepat ya, papih terus nanyain kamu!"
"ya, mi....!"
ucap Arief mengajak kinara untuk keluar dari mobil, menuntun tangan istrinya melangkah.
"kita rahasiakan dulu permasalahan tentang Asiva, Abang khawatir dengan kondisi papih..!"
ucap Arief menoleh pada kinara.
"ya Bang.....!"
ucap kinara mengangguk.
"mi.....!"
ucap Arief masuk ke ruangan bersama kinara, Arief tertegun melihat kondisi Wisnu yang justru melemah.
"pih...ini Arief..!"
ucap Arief berbisik di telinga Wisnu, Arief tersenyum saat Wisnu membuka matanya.
"Rief.... maafkan papih..!"
ucap Wisnu lirih.
"papih enggak pernah salah, justru Arief yang banyak salah.. maaf kan Arief pih....!"
ucap Arief memeluk tubuh Wisnu yang sedikit kurus, perasaan nya tidak enak.
Kinara membeku melihat hal itu, mendekati Yuni yang berada di seberang Arief.
sontak Yuni langsung memeluk menantu nya itu.
"papih tidak kuat rief!"
"jangan berkata seperti itu pih, Arief butuh papih...!"
ucap Arief dengan nafas tersengal.
mata Kinara berkaca-kaca melihat Arief yang menitikkan air mata nya memeluk sang papih yang semakin lemah.
"papih titip mami dan Siva adik mu!"
ucap Wisnu menggenggam tangan Yuni yang berada di samping, pecah lah tangis Yuni yang sejak tadi tertahan.
pesan yang di lontarkan Wisnu begitu menohok hati Arief, apa lagi dengan keadaan Siva yang saat ini tengah hamil tanpa seorang pria yang mau bertanggung jawab.
"pih.... harus kuat, harus bertahan..!"
ucap Yuni semakin dekat namun Wisnu malah menggeleng kan kepalanya.
"bang....!"
ucap kinara mengangguk.
Arief mengangguk lalu menuntun Wisnu membaca syahadat.
Wisnu menghembuskan nafas terakhir nya setelah Arief menuntun nya membaca syahadat, "pih......!"
ucap Yuni memeluk tubuh Wisnu yang seketika tak bernyawa lagi.
**
Kahfi bergegas datang ke rumah sakit saat kinara menelpon dan memberi tahu tentang kepergian Wisnu.
"Ki....."
ucap kahfi menghampiri mereka yang masih berada di ruangan, kerabat yang lain tengah mengurus kepulangan Wisnu kerumah.
"ayah......"
"Bu Yuni, saya turut berdukacita... semoga pak Wisnu tenang..."
"ya, Terima kasih pak kahfi...."
ucap Yuni mengangguk, ia pun tak bisa berbuat apa-apa jika menyangkut takdir, Tuhan yang maha memiliki.
"Ayah sudah memberi tahu Bunda, bunda langsung kerumah Arief..."
ucap kahfi dan di angguki oleh kinara.
Siva tertegun saat Arief memberi tahu jika sang papih meninggal dunia, lalu bagaimana dengan dirinya yang saat ini tengah berbadan dua.
cepat siva menelpon Reno untuk kembali membicarakan masalah kehamilan nya.
"ada apa lagi Siva....?"
"ren, papih ku meninggal?"
"lalu aku harus bagaimana?"
"aku mohon kita menikah ren....!"
"tidak, aku sudah bilang untuk menggugurkan kandungan mu, tapi kamu tidak mau!
sekarang tanggung sendiri karena aku tidak bisa menikahi mu....!"
ucap Reno kemudian menutup telponnya, membuat Siva kembali terisak, ia tidak setega itu menggugurkan kandungan nya.
ia sudah berbuat dosa dan tak ingin menjadi pembunuh darah daging nya sendiri.
Siva menguatkan hati nya untuk bangun meski tubuhnya lemas karena beberapa kerabat sudah datang.
"Siva..... kamu sakit?"
ucap Tante Rita masuk ke dalam kamar Siva.
"ya Tante, Siva sakit?"
"apa Arief sudah menelepon mu?"
Siva mengangguk lalu memeluk rita yang juga terisak.
"kamu sabar ya, ayo turun ke bawah sebentar lagi papih mu sampai di rumah..!"
ucap rita dan di angguki oleh siva.
"bang, kamu temani mami!"
ucap kinara saat mereka sampai di rumah, Kahfi terus menemani sampai jenazah Wisnu sampai di rumah.
"ya, sayang..!"
ucap Arief mengusap pucuk kepala kinara.
"papih.....!"
ucap siva Terisak saat jenazah Wisnu di angkat ke dalam rumah, Yasmin menghampiri Yuni yang juga menangis.
"sabar ya kak.....!"
ucap Yasmin merengkuh tubuh Yuni yang Terisak, dan tersentak saat melihat siva langsung tak sadarkan diri.
"siva....!"
ucap Arief mengangkat tubuh adik nya itu.
bergegas kinara mengikuti dari belakang memasuki kamar, ia tahu kondisi Siva memang sedang tidak stabil.
Arief menunduk menatap wajah siva yang tampak pucat, masalah datang bertubi-tubi hingga membuat nya sesak, masalah perusahaan yang belum mereda, adiknya yang tiba-tiba hamil, dan kini sang papih yang pergi meninggalkan keluarga nya.
"bang....!
menangis lah kalau kamu mau menangis!"
ucap kinara menyentuh pundak Arief yang tersengal, Arief langsung menoleh dan menangis di pelukan sang istri, bersyukur karena di saat seperti ini ada Kinara yang Terus membangun kekuatan.
Kinara juga terisak memeluk Arief yang tergugu, segala sesuatu memang perlu di luapkan karena akan terasa sakit jika kita terus menahan nya.
"kamu harus kuat ya bang... hukum alam memang seperti ini, Jika bukan kita yang meninggal kan ya kita yang di tinggalkan..biar Kiki temani Siva di sini!"
ucap kinara dan di angguki oleh Arief, Kinara memangku wajah Arief, menghapus air matanya.mengecup bibir suaminya singkat.
"terimakasih de, Abang bersyukur ada kamu di sini!"
ucap Arief kembali memeluk istrinya, mencari kekuatan pada kekasih nya itu.
"ya udah, Abang temani mami ya, dia juga butuh kamu Bang!"
"ya Abang tahu itu....!"
ucap Arief kembali menengok Siva yang terlelap, setelah ini ia akan mencari pria yang sudah tidur dengan adiknya itu.
"Abang keluar ya, titip siva ya sayang...!"
kinara mengangguk.
bersambung...
terimakasih yang sudah mampir ke novel author yang masih acak acakan ini, namun dukungan dari para reader membuat author semangat untuk belajar dan terus berkarya.
terimakasih 😍😍😍😍