
pagi itu Arief mengajak Kinara untuk berolahraga bersama, berlari kecil mengelilingi kompleks perumahan itu.
Arief memperlambat lari nya melihat Kinara berlari terengah.
"kamu Capek yang?"
Kinara mengangguk sambil merunduk.ia memang sudah lama tak berolahraga.
"kita istirahat dulu...!"
ucap Arief meraih tangan Kinara untuk duduk di kursi taman. terlihat beberapa orang tengah duduk santai di taman kompleks itu.
"mau beli sarapan di sini?"
"enggak bang, Kiki enggak laper!"
ucap kinara membuat Arief tertegun, entah kenapa selera makan Kinara semakin berkurang.
"masa sih kamu enggak laper de...!"
Kinara mengangguk.
"ya, tapi harus tetap makan karena kamu belum makan apa apa dari tadi..!"
"ya, nanti di rumah aja bang!"
"kamu kenapa sih jadi enggak selera makan, lihat kamu kurusan de....!"
ucap Arief memperhatikan Kinara.
"masa sih.....!"
ucap Kinara terkekeh.
"ya sudah, kita pulang. nanti Abang masakin buat kamu di rumah!"
kinara mengangguk sambil beranjak dari duduknya berpegang pada tangan suaminya.
tak lama mereka sampai di rumah Kahfi, terlihat keduanya tengah sarapan bersama.
"assalamualaikum, ayah....!"
ucap kinara senyum menghampiri.
"walaikumsalam.. kamu habis lari...!"
tanya Kahfi dan di angguki oleh kinara dan Arief yang duduk di samping nya.
"ayo sarapan dulu Ki, bikinin Arief kopi atau teh!"
ujar Yasmin.
"mau Apa bang?"
tanya Kinara sambil beranjak.
"kopi, teh... Atau susu...!"
"yang terakhir saja.....!"
Kinara diam sambil berpikir Kata yang terakhir yang Arief maksud.
"ya sudah....!"
ucap Kinara melangkah menuju dapur di ikuti Arief di belakang.
"ngapain....?"
ucap kinara menoleh ke belakang, sementara Yasmin dan kahfi tersenyum memperhatikan mereka berdua.
"kan tadi udah bilang mau masakin kamu sarapan..!"
"oh, enggak usah lah bang, bentar lagi berangkat ke kampus?!"
ucap kinara membuat Arief Menoleh pada jam tangan yang melingkar di tangan nya.
"masih lama, sempat kok....!"
"boleh kan Bun....!"
tanya Arief pada Yasmin yang berada di kursi makan.
"ya boleh...!"
ucap Yasmin lalu beranjak dari duduknya untuk mengantar Kahfi berangkat kerja.
"biarkan mereka berdua di dapur, anak itu kan malas kalau ke dapur, siapa tahu kalau sama Arief dia mau belajar masak...!"
ujar kahfi terkekeh.
"ih kata siapa, sekarang anak nya itu udah enggak anti dapur, udah bisa masak...!"
"masak Air....."
ucap kahfi terkekeh lagi teringat Yasmin yang pertama menikah dengan nya.
"kamu bang, sama anak sendiri kayak gitu..."
ucap Yasmin menepuk pundak Kahfi yang kembali Terkekeh.
*
"masak apa Bang....?"
ucap kinara memperhatikan Arief mencuci beras untuk membuat lontong.
"soto Betawi enak seperti nya....!"
"pedas apa lagi....!"
kinara Terkekeh saat Arief menoleh padanya sambil melotot padanya.
Kinara tertawa kecil...
"ketawa lagi, mau sakit lagi Perutnya?"
ucap Arief memeluk Kinara dari belakang.
"bang, Jangan seperti ini...Ada bunda nanti!"
ucap Kinara terkekeh karena Arief menggelitik pinggang nya.
"bang....!"
ucap Kiki menahan tangan di pinggang nya, tersenyum saling menatap.
"kamu tahu di saat seperti ini Abang bersyukur karena ada kamu yang selalu bisa membuat Abang tertawa, maka dari itu kamu harus selalu sehat ya....!"
kinara mengangguk lalu memeluk tubuh Arief erat.
setelah selesai memasak, keduanya sarapan bersama dan memutuskan untuk pulang.
"Kiki pulang ya Bun....!"
"ya, kalau kamu sakit atau perlu sesuatu kamu harus kasih tahu bunda ya!"
ucap Yasmin memeluk kinara.
"ya, Bun...!"
ucap kinara mencium pipi sang bunda.
"bunda titip Kiki ya, rief...jujur saja bunda selalu kepikiran sama Kiki..!"
"ya, Bun...tenang saja, Arief akan menjaga nya!"
ucap Arief lalu mencium tangan Yasmin, setelah itu keduanya pamit pulang.
setengah jam kemudian mereka sampai di rumah, terlihat rumah tampak sepi.
"assalamualaikum...!"
ucap Arief sambil menuntun tangan Kinara masuk ke dalam rumah.
"walaikumsalam....!"
ucap Siva yang masuk dari arah belakang.
"Mami kemana...?"
"pergi sama Tante Rita...!"
ucap Siva lalu melangkah ke kamar.
"Siva........!"
ucap kinara membuat Siva menoleh ke arah mereka.
"kamu enggak apa-apa?"
Siva menggeleng kan kepalanya, saat ini rasa mual tengah ia rasakan, Mungkin akan menjadi hal yang membahagiakan jika hamil bukan dalam keadaan seperti dirinya, menikah dan ada suami yang menemani nya, memijat tengkuk nya saat ia muntah, tapi ironisnya ia sendiri tanpa seseorang yang ia harapkan.
"sama kak Kiki yu, kita ke taman belakang..!"
ajak Kinara mengerti rasa sepi yang Siva rasakan.
"Siva mual kak, mau tidur aja...!"
ucap Siva.
"ya sudah, kamu istirahat saja!
bagaimana kalau siang kita pergi keluar bersama, kakak juga bosan di rumah terus!"
ucap kinara menghampiri Siva.
"ya, kak..!"
ucap siva lalu meninggalkan mereka berdua.
"enggak apa-apa kan Kiki pergi ke mall sama Siva..!"
tanya kinara pada Arief yang memperhatikan punggung Siva menjauh di balik pintu.
"ya, enggak apa-apa. main saja kalau kamu bosan... maaf ya, Abang enggak bisa temenin kamu!"
"ya, enggak apa-apa bang...!"
ucap kinara lalu keduanya masuk ke dalam kamar.
"Kiki ke kamar mandi dulu ya!"
ucap kinara masuk ke dalam kamar mandi, Arief merogoh ponsel nya yang berdering, terlihat Revan melakukan panggilan telepon.
"halo... Van."
ucap Arief melangkah ke arah balkon.
"rief Lo serius mau jual restoran Lo yang di luar kota...!"
"oh soal itu, ya gue udah hubungi Beberapa teman chef gue yang mau bayarin restoran gue yang di Bandung sama Palembang...!"
"terus yang di Jakarta juga Lo mau jual..?"
"belum tahu, kalau enggak cukup ya kemungkinan besar seperti itu....!"
"Lo serius, restoran ini pertama Lo merintis usaha, apa Lo enggak sayang rief...?"
"gue sayang, tapi gue harus pertahankan perusahaan.. terpaksa gue jual untuk menutupi kerugian perusahaan. gue harus bangkit kan lagi perusahaan papih..."
"emang Carles enggak Bisa bantu Lo?"
ucap Revan yang juga sahabat Carles.
"bisa, tapi enggak bisa semua. Lo enggak tahu mungkin perusahaan akan bangkrut kalau dia enggak bantu gue, tapi kerugian perusahaan cukup besar dan kalau gue enggak ambil jalan itu semua aset akan di sita bank, termasuk rumah yang saat ini mami gue tempati, terkecuali aset pribadi gue Van...!"
"astaga... rief!"
" Udah ya, nanti kita bicarakan lagi di restoran, nanti pulang dari kantor gue mampir. gue enggak mau Kiki tahu soal ini....!"
ucap Arief yang tak menyadari jika istri nya sejak tadi berada di belakang nya, mendengar kan ia bicara di telepon.
"kenapa Abang enggak mau Kiki tahu soal ini?"
tanya Kinara membuat Arief terperangah sambil membalikkan tubuhnya menghadap kinara.
"sayang...!"
"kenapa Abang enggak cerita soal ini sama Kiki?"
ucap Kinara berbalik badan namun tertahan oleh Arief yang langsung memeluk nya dari belakang.
"bukan Abang enggak mau cerita, tapi Abang enggak mau kamu kepikiran...!"
"apa lagi yang Abang sembunyikan dari Kiki?"
"Enggak ada, cuma itu!" ucap Arief yang tak ingin Kinara tahu soal Wiranto juga.
"nanti Kiki akan ke kantor....!"
"enggak..... jangan sayang!"
ucap Arief memegang bahu Kinara.
"dengarkan Abang dulu, maksud Abang jangan sekarang.nanti saja kalau kondisi kamu sudah benar benar sehat dan kondisi keuangan perusahaan sudah membaik baru kamu boleh ke kantor, kamu juga bisa ajak Siva.
tapi untuk saat ini biarkan Abang yang berjuang untuk keluarga....!"
ucap Arief membuat Kinara tertegun.
bersambung...
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍