
Kinara memperhatikan Arief yang tengah berganti pakaian untuk pergi ke rumah Sakit seperti rencana mereka tadi pagi.
"Kenapa sih manyun gitu?"ucap Arief membungkuk menatap wajah kinara lebih dekat.
"enggak mau ke rumah Sakit, Kiki tuh enggak apa-apa bang!"
ucap kinara menatap Netra Arief.
Arief berjongkok di hadapan Kinara, menyelipkan kan rambut nya ke belakang telinga.
"Ki, kamu tahu, ayah kamu itu mempercayakan kamu sama Abang, kalau kamu kenapa kenapa Abang pasti yang akan di salah kan...!"
ucap Arief mengecup bibir Kinara.
"ya, tapi Kiki baik baik saja....."
ucap kinara mengalungkan tangannya pada leher Arief.
"bagaimana dengan bang Riko Sama Siva?"
ucap kinara mengalihkan pembicaraan.
Arief tertegun mengingat percakapan Siva dan kinara tadi pagi.
"berikan Siva waktu untuk berpikir, kondisi nya juga belum stabil.... tidak perlu terburu-buru"
ucap Arief merengkuh tubuh istrinya.
"ya sudah, Abang ke kampus kalau kamu tetap tidak mau ke rumah sakit?"
ucap Arief lalu mengambil tasnya.
"di kantor sudah ada Carles yang akan membantu Abang, jadi kamu tidak perlu ke kantor lagi, fokus pada kesehatan kamu saja, de...!"
ucap Arief membuat Kinara termangu.
"jadi enggak butuh Kiki..!"
"bukan seperti itu sayang...!"
ucap Arief mendekap pinggang kinara.
"kamu cukup di rumah menunggu Abang pulang..!"
ucap Arief lalu mencium kening kinara.
"Abang berangkat ya!"
kinara mengangguk.
"hati hati ya Bang...!"
"ya sayang...!"
ucap Arief kemudian pergi.
Kinara Menoleh pada ponsel nya berdering terlihat Tante Hani melakukan panggilan telepon.
"halo Tante?"
"halo....Ki, apa kamu yang mempengaruhi Riko untuk nikahi adik nya Arief?"
"enggak,, itu kemauan bang Riko sendiri, Kiki malah enggak tahu soal itu kalau bukan bunda yang cerita.."
"dengar ya Ki, Tante enggak setuju Riko menikah dengan adik nya Arief, Apa lagi sudah hamil... kamu bayangkan Tante bisa Malu kalau teman-teman Tante tahu soal itu..!"
kinara tertegun mendengar penuturan Hani yang tiba-tiba menuduh nya.
Hani langsung menutup telponnya, Kinara menghela nafas menatap benda pipih tersebut tak menyala lagi, gegas ia menghubungi Arief.
**
Arief baru saja sampai di kampus dan mendengar ponselnya berdering, terlihat Kinara melakukan panggilan telepon.
"halo sayang, ada apa!?"
ucap Arief bersandar pada mobil, terlihat beberapa mahasiswa perempuan menengok ke arah nya.
"Kiki mau ke rumah bunda, boleh?"
"sama siapa? kenapa enggak tadi aja sama Abang!"
"ya, tadi belum kepikiran kesitu bang, Kiki nanti naik taksi aja...!"
"ada apa Ki?"
"HM, enggak ada apa apa...Kiki cuma kangen sama Bunda!"
"oh, ya sudah.kamu hati hati ya!
nanti pulang nya Abang jemput!"
"ya bang..!"
ucap kinara lalu menutup telfonnya.
Arief terdiam menatap ponselnya, Kinara seperti menyembunyikan sesuatu tapi Arief belum tahu apa, hanya ia khawatir dengan kesehatan istri nya itu.
Arief menghela nafas lalu melangkah menuju kelas dengan beberapa pasang mata perempuan yang memperhatikan nya.
*
"Mi, Kiki mau ke rumah bunda dulu..."
ucap Kinara menghampiri Yuni yang tengah bersama Siva, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"sama siapa Ki..?"
tanya Yuni sedikit menegakkan tubuhnya.
"naik taksi, Kiki udah kasih tahu bang Arief kok!"
"oh gitu, ya udah kamu hati hati ya...!"
ucap Yuni dan di angguki oleh kinara yang sedikit melirik wajah siva yang sedikit sembab.
Kinara melangkah keluar rumah untuk mencari taksi, dan saat ia keluar dari gerbang rumah kebetulan taksi lewat.
"perumahan anggrek elit ya pak...!"
ucap kinara masuk ke dalam mobil taksi tersebut.
"ya, Mba....!"
ucap supir taksi tersebut melajukan mobilnya.
namun di pertengahan jalan mobil tiba tiba berhenti.
"kenapa pak?"
ucap kinara bertanya.
"saya juga tidak tahu...!"
ucap supir tersebut keluar dari mobil mengecek mesin mobil lalu tak lama menghampiri kinara.
"maaf mba, mobil nya mogok!
cari taksi yang lain saja!"
"ya sudah tidak apa-apa pak..."
ucap kinara Keluar dari mobil lalu memberikan uang pada supir taksi itu.
"terimakasih Mba.."
ucap supir sedikit membungkuk.
kinara mengangguk sambil tersenyum.
kinara berjalan menyusuri trotoar jalan sambil melihat lihat taksi lewat, langkah nya terhenti saat sebuah mobil berhenti di samping nya.
"Ki...." ucap wildan keluar dari mobil.
"Om....?"
"kamu ngapain di sini?"
tanya Wildan heran.
"oh, itu...aku mau ke rumah bunda,tapi taksi yang aku naiki Mogok...!"
"oh gitu, ya sudah aku antar Ki..!"
ucap Wildan membuka kan pintu mobil untuk Kinara.
"terimakasih om....?"
ucap Arief senyum, memperhatikan Wildan yang tampak berbeda setelah menikah.
badan nya sedikit berisi tak kurus seperti dulu, mungkin itu karena Anisa yang pandai mengurus nya.
"Ki, gimana keadaan kamu sekarang?"
"HM..."
ucap kinara Menoleh.
"sehat dong kalau udah nikah...!"
"apa hubungannya Om?"
ucap kinara membuat Wildan Terkekeh.
"aku tunggu kabar baik ya ki..."
ujar Wildan senyum.
"kabar baik apa?"
"ah masa enggak ngerti?!"
ucap Wildan menoleh sekilas.
"oh....!"
udah Kinara mengangguk.
"ya, nanti Kiki kasih tahu, gimana kabar Oma Sama grand pa!"
"baik, mereka sehat...!"
"syukur lah ...!"
tak lama mereka sampai di rumah Yasmin, Kinara langsung keluar dari mobil bersama Wildan.
"om mampir?"
tanya kinara yang berpikir bahwa Wildan Akan langsung pulang.
"ya, memang enggak boleh?"
"bukan....masa enggak boleh!"
ucap kinara lalu masuk ke dalam rumah.
"assalamualaikum Bun....!"
ucap kinara senyum memeluk Yasmin.
"walaikumsalam....kamu sama Wildan?"
"ya, Bun...!"
ucap kinara senyum melihat Wildan langsung duduk.
"Arief ke kampus?"
"ya,Bun....!"
ucap kinara senyum tertahan saat melihat Hani masuk ke rumah itu.
"kebetulan ada di sini...!"
ucap Hani duduk di hadapan mereka, Wildan yang tidak mengetahui apa-apa merasa Heran.
"ada apa Mba?"
"ini loh Yas, kamu Tolong dong kasih tahu Kinara, aku enggak setuju kalau Riko nikahin Siva adik ipar nya...!"
"kenapa Kinara?"
"ya, itu kan adik ipar nya....!"
Kinara terdiam, begitu juga Wildan.
"kenapa Tante menuduh Kiki yang mempengaruhi bang Riko untuk menikah dengan Siva, Kiki enggak tahu apa apa.
bahkan mereka bertemu sebelum Keadaan seperti ini...!"
ucap kinara berbicara pelan pada Hani.
"ya, pokok nya Tante enggak mau menerima Siva...!"
ucap Hani dan terdengar langsung oleh Arief yang baru sampai di rumah itu.
"Bang....!"
ucap kinara saat melihat Arief masuk ke dalam rumah tersebut.
sementara yasmin dan Wildan diam terpaku.
"tidak apa-apa de...!"
ucap Arief dengan lapang.
"saya paham Tante Hani tidak bisa menerima Adik saya, tapi saya sendiri bingung dengan dokter Riko yang tetap pada keinginan nya..."
ucap Arief dengan tenang.
"ya, silahkan saja. tapi saya tidak bisa menerima Siva sebagai menantu saya meskipun ia menikah dengan Riko."
ucap Hani lalu pergi meninggalkan mereka yang mematung.
bersambung.....