
pagi .....
"halo....Al....?"
ucap kinara menelpon Alwi yang juga masih di rumah, Alwi adalah partner kerja nya di Perusahaan, bisa di katakan tangan kanannya.
Alwi merupakan anak pertama dari Haris yang sudah menikah, Alwi dan sang istri bela pindah ke Rusia saat Haris meminta nya untuk bekerja di perusahaan tempat ia bekerja.
sudah beberapa hari ini Alwi membantu kinara di perusahaan, dan pagi tadi Kahfi meminta kinara dan si kembar untuk pulang ke Indonesia.
"ada apa Ki?
aku masih di rumah...!"
"Al... tolong meeting hari ini kita tunda, aku harus pulang ke Indonesia karena ayah mengatakan jika kondisi Oma semakin menurun...!"
Al terdiam mendengar hal itu, Sinta merupakan anggota keluarga nya. ia pun sedih mendengar kabar itu.
"lalu bagaimana ki?"
"aku akan pulang sekarang bersama si kembar ..!"
"ya sudah, biar perusahaan sementara waktu aku yang urus!
pergilah. sampai kan salam ku pada Oma mu!"
"ya ...!"
ucap kinara kemudian mengakhiri percakapan nya.
setelah itu Kinara bergegas membereskan sebagian barang barang nya ke dalam koper kecil nya.
"kak......!"
panggil Fahmi dari luar.
"sebentar......!"
"Fahmi tunggu di depan ya...!"
"ya ....!"
Fahmi dan Fahri pun absen dari kampus untuk beberapa hari karena Kahfi pun meminta kedua anak muda itu untuk pulang bersama kinara.
***
Kahfi tertegun menatap tubuh yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, perempuan kuat yang selalu menemani hari hari nya kini tak sadarkan diri setelah dokter mengatakan jika terjadi infeksi pada paru-paru nya, Kahfi tak menyangka jika sang mami memiliki riwayat penyakit paru-paru. yang ia tahu selama ini Sinta baik baik saja, tak pernah mengeluh Apapun.
"kamu yang sabar ya bang..."
ucap Yasmin menyentuh bahu suami nya itu.
Kahfi Menoleh lalu menelungkup kan wajah nya pada bahu Yasmin, terlihat rasa kekhawatiran pada sang mami.
teringat percakapan kemarin saat Sinta masih sadar kan diri..
"Mi ..apa mami sudah tahu kalau mami sakit"
"tahu Yas.....?"
"kenapa mami tidak pernah cerita...?"
"Mami pikir penyakit ringan saja...!
Mami sudah tua Yas ....!"
"ya, Yasmin tahu... tapi Yasmin mau mami sehat...!"
ucap Yasmin menggenggam tangan mertua rasa ibu sendiri itu.
"kamu tahu kan usia mami berapa...?"
"ya, maka nya Yasmin selalu melarang mami melakukan banyak aktivitas...!"
"ya , tapi bosan kalau diam terus...!"
"ya, tapi mami harus banyak istirahat...!"
"mami senang, di usia mami yang sudah tua ini,, mami tak pernah merasa kesepian.
apa lagi ada Kiki dan si kembar yang selalu meramaikan rumah....mami kangen mereka!
mami mau ketemu mereka Yas...!"
ucap Sinta kala itu,
Yasmin langsung memberi tahu keinginan Sinta pada Kahfi, dan saat itu pula Kahfi langsung menelpon Kinara untuk pulang membawa serta si kembar.
**
"Afi...."
ucap Hani masuk ke dalam ruang perawatan bersama Riko dan Mayang.
"kak...."
ucap Kahfi beranjak dari bahu sang istri.
"udah telpon Kiki sama si kembar...?"
"udah, mungkin mereka sedang di pesawat!"
"ya, kamu harus kuat! mami selalu bilang sama kita untuk tabah menghadapi ujian hidup.."
"ya, Afi ingat... tapi kalau seperti ini Afi ingat Papih...!"
"ya, kakak paham....kita juga sudah berusaha.
Riko juga sudah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Mami...!"
Kahfi hanya mengangguk menatap Hani, meski perempuan namun ia sosok Kakak yang kuat dan mandiri.
ia tak pernah mengeluh kan Apa pun.
seperti hal nya keadaan ini, ia menanggapi dengan besar hati karena yang namanya umur ada akhirnya, meski hati nya berharap Sinta bisa kembali sembuh dan sehat seperti dulu lagi.
Riko menatap wajah Sinta yang pucat pasi, tekanan darah nya semakin menurun.
teringat percakapan terakhir saat ia memeriksa keadaan sang Oma.
lupakan perempuan itu Riko, tatap lah masa depan! sampai kapan kamu seperti ini, Oma selalu memikirkan kamu nak!"
"ya, Riko tahu...!
ya nanti Riko akan cari pengganti dia, Oma.
tapi Oma harus sembuh!"
Sinta senyum sambil mengangguk, namun beberapa waktu kemudian kondisi nya justru semakin menurun membuat semua orang khawatir dengan kondisi itu.
"ko, kamu kenapa?"
"enggak, Riko sedih aja mi, karena Oma ingin lihat Riko menikah...!"
"ya, Oma benar!
cobalah untuk membuka hati kamu untuk orang lain!"
ucap Hani mengelus bahu putra nya itu.
Hani mengerti apa yang dirasakan oleh Riko, luka itu membuat nya jera untuk kembali membuka hati nya, namun hidup Terus berjalan. tak mungkin terus terpaku pada masa lalu yang jelas sudah tertinggal jauh.
beberapa waktu kemudian...
Kahfi duduk di sofa bersama Yasmin yang terus mendampingi, terlihat Mayang tengah mengelap tubuh Sinta bersama Hani sang kakak.
terdengar ponselnya berdering, terlihat kinara melakukan panggilan telepon.
"halo, assalamualaikum ayah!"
"halo, walaikumsalam....Ki, kamu dimana Sayang!"
"udah di bandara yah!"
ucap kinara, langkah nya terhenti menatap seseorang yang tengah berjalan sendiri menarik koper nya lalu kedua pandangan mereka bertemu,
"Halo... Ki!"
ucap Kahfi namun Kinara diam membisu menatap seseorang yang juga menghentikan langkahnya.
pagi itu Arief memutuskan untuk pulang beberapa hari karena ada sedikit masalah di restoran, untung lah Wisnu memahami hal itu dan mengizinkan nya untuk pulang sebentar, namun siapa sangka jika semesta mempertemukan nya dengan seseorang yang begitu ia rindukan.
"Ki.....!"
ucap Arief mendekat, sementara kinara terpaku di tempatnya.
Fahmi dan Fahri yang mengerti keadaan itu sedikit menjauh dari tempat itu.
"kamu....!"
ucap kinara lirih, jantung nya berdetak kencang saat Arief tersenyum semakin dekat.
namun Fahmi bergegas menghampiri kedua nya.
"kak....."
"HM.....!"
ucap kinara Menoleh pada Fahmi.
"ayah bilang kita harus segera ke rumah sakit...!"
"siapa yang sakit Ki?"
"Oma ....!"
"ya udah, bareng sama aku!
udah ada Rendi di depan!"
"tapi.....!"
ucap kinara terhenti saat Arief langsung menarik tangan nya.
jantung nya berdetak semakin kencang saat melihat tangan itu menggenggam tangan nya erat, memori dulu kembali memutar di benak nya.
"Hai ....!"
ucap rendi terhenti melihat Arief bersama kinara.
"Ren, kita langsung ke rumah sakit!"
ucap Arief membuka pintu mobil lalu menyuruh si kembar untuk masuk lebih dulu.
"ayo masuk ki.....!"
ucap Arief membuat Kinara tertegun, Arief merasakan tangan kinara yang begitu dingin.
Gadis itu tampak pucat dengan tubuh yang terasa kaku.namun Arief berusaha untuk bersikap tenang meski hal itu membuat Kinara terpaku.
"Kamu enggak apa-apa kan?"
kinara mengangguk lalu masuk kedalam mobil, keduanya duduk bersama sementara Rendi di depan menyetir, ingin bertanya kenapa mereka bisa bersama namun urung karena melihat keadaan mereka yang justru terlihat kaku dan canggung.
beberapa waktu kemudian mereka sampai di rumah Sakit, tak ada percakapan apapun di antara keduanya karena ada Rendi dan si kembar. ingin rasanya mengatakan jika ia sangat merindukan gadis itu, namun untuk saat ini biarkan semua itu terpendam dalam hati.
"bang......!
terima kasih.....!"
ucap kinara saat hendak turun,,
"boleh Abang ikut masuk?"
ucap Arief membuat Kinara membeku,
apa nanti pendapat sang ayah jika ia pulang bersama Arief, bukan kah Kahfi sudah menegaskan tentang perjodohan itu lalu bagaimana jika hati nya menginginkan pria yang saat ini tengah menatap nya.
bersambung...
terima kasih yang udah mampir...
di penghujung Ramadhan, Alhamdulillah ya Allah kasih umur yang panjang, dan nikmat sehat...
jangan lupa like jempolnya dan komentar 😍😍😍😍