
Siang itu kinara dan Arief pergi keluar, sesuai rencana Arief mengajak kinara berjalan di sekitar sungai Thames, terlihat beberapa orang berlalu lalang di tempat itu.
"mau naik itu tidak?"
ucap Arief menunjuk sebuah bangunan bundar yang menjadi bangunan tertinggi di dunia, dari tempat mereka berdiri terlihat bangunan berbentuk bulat yang menjadi objek wisata di negara itu.
"mau tapi takut .... London eye tinggi banget bang."
ucap kinara menoleh pada Arief yang tengah menatap nya.
"ya tapi dari atas kita bisa melihat keindahan kota London, seperti hal nya kehidupan ada saat nya kita turun ke bawah dan ada saat nya naik ke atas..."
ucap Arief termenung mengingat semua kejadian yang terjadi dalam hidup nya, mungkin saat ini kehidupan nya tengah berada di bawah, tuhan meminta nya untuk sabar dan tabah menghadapi setiap permasalahan yang menimpa keluarga nya.
"bang....!" ucap kinara memegang tangan Arief.
"Ayo kita naik....!"
ucap Arief tersenyum menarik tangan kinara untuk berlari kecil menuju wahana itu.
Awalnya kinara ragu untuk naik benda bulat besar tersebut, namun saat melihat mereka para wisatawan yang juga berantusias untuk masuk, Kinara pun berantusias ikut masuk.
"bagaimana.....!"
ucap Arief merengkuh tubuh kinara saat benda bulat itu mulai berputar.
"menakjubkan...... bagus banget bang!"
Ucap kinara menunjuk ke luar terlihat pemandangan kota London.
"saat pulang nanti ingatlah hal yang membuat kita tertawa di sini.... lupakan hal yang membuat mu takut?"
ucap Arief tersenyum menggenggam tangan Kinara, ia ingin menciptakan kenangan manis di negara itu meski di bumbui sedikit rasa pahit karena insiden kemarin yang membuat istri nya takut.... namun Arief cukup puas melihat Kinara banyak tertawa.
setelah puas berjalan jalan, keduanya memutuskan untuk pulang karena mereka juga akan kembali ke Indonesia.
"de....!"
"HM....!"
ucap kinara merebahkan tubuhnya di ranjang.
"maaf ya liburan nya sebentar.....!"
"enggak apa-apa, kita kan emang enggak Niat mau liburan yang......"
ucap Kinara menyentuh pipi suami nya.
"kita pulang ya...biar Abang yang bereskan barang barang kita, kamu istirahat saja!"
ucap Arief membuat kinara tertegun.
"enggak apa-apa Kiki juga udah beres kan sebagian tadi malam...!"
ucap kinara menahan tangan Arief.
"oh gitu, kenapa enggak istirahat semalam...!
Abang kan suruh kamu istirahat...!"
"enggak bisa tidur mikirin kamu bang...!"
ucap kinara dengan wajah memerah.
"kenapa....?
jangan khawatir Abang baik baik saja...
ujian yang tuhan berikan untuk membentuk Abang agar menjadi sosok yang kuat dan banyak bersyukur, Abang kadang juga berpikir Mungkin semua yang terjadi adalah hukuman, karena Abang dulu jauh dari sang maha pencipta, padahal papih selalu mengingat kan ..!"
"tidak apa-apa..itu dulu sekarang kan tidak lagi.....!"
ucap kinara memeluk Arief dari belakang.
"ya, dan itu sejak Abang kenal sama kamu de.."
ucap Arief menoleh ke belakang mencium kening kinara.
"apa perut kamu masih keram?"
kinara menggeleng.
"pinggang nya masih sakit?"
"enggak bang, Kiki baik baik saja karena ada Abang di sini....!"
ucap kinara semakin mengeratkan pelukannya.
kita tidak akan pernah menemukan seseorang yang sempurna namun kita cukup mencari ia yang mengerti kekurangan yang kita miliki, melengkapi kekurangan masing masing dengan lapang, menguatkan satu sama lain.
**
Reno mengepalkan tangannya saat mendengar penuturan dosen bahwa ia di drop out dari Kampus karena permasalahan dengan Siva, ia tidak menyangka bahwa Arief melaporkan hal itu ke kampus.
"kenapa ren....?"
ucap nindi menghampiri Reno dengan nafas tersengal, bagaimana ia mengatakan hal itu pada orang tua nya.
"gue di Do...!"
ucap Reno menatap nindi dengan tatapan nanar.
"gue tahu siapa yang membuat gue dan Siva mabuk...."
ucap Reno menatap tajam nindi.
"aku, aku enggak tahu....!"
"semua ini gara-gara lo!"
ucap Reno mendekati nindi lalu mencekik leher Nindi dengan tatapan tajam.
ucap nindi menahan air matanya.
"ren.... jangan gila, nindi bisa mati...!"
ucap Rio menarik tangan Reno dari leher Nindi.
"kalau bukan karena dia gue enggak akan seperti sekarang ini....!"
"Lo jangan cuma nyalahin nindi, elo juga salah karena Lo campak kan Siva begitu Saja"
ucap Rio kemudian pergi meninggalkan Reno sendiri menarik tangan Nindi untuk menjauh dari Reno.
semua mahasiswa di kampus itu berbisik membicarakan tentang Reno yang dikeluarkan dari kampus akibat perilaku buruk nya, bukan hal yang sulit untuk Carles mengeluarkan Reno dari kampus, karena universitas itu milik keluarga nya, Siva masuk ke universitas tersebut juga bantuan dari Carles.
Carles adalah sahabat Arief saat SMA, hanya keduanya terpisah saat memasuki perguruan tinggi, Carles yang sudah menganggap Arief seperti saudara sendiri tak pernah segan untuk membantu sahabat nya itu.
**
Siva menoleh pada ponsel nya berdering, terlihat Reno melakukan panggilan telepon.
dengan jantung berdetak kencang Siva menggeser tombol hijau pada layar.
"ren...."
"Siva, puas sekarang kamu!"
"maksud kamu?"
ucap Siva sambil menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang.
"karena kakak kamu yang so jagoan itu aku di do dari kampus, puas kamu sudah menghancurkan cita cita ku...
aku benci sama kamu Siva...."
ucap Reno membuat Siva kembali tergugu.
"Reno kenapa kamu tidak berpikir bahwa semua terjadi karena kesalahan kamu sendiri.... kenapa kamu menyalahkan aku?"
ucap Siva berbicara sambil berteriak hingga Yuni yang berada di depan terkaget.
"satu hal yang harus kamu tahu, aku enggak akan pernah kembali Sama kamu...!"
"terserah aku juga enggak butuh pria seperti kamu!"
ucap Siva lalu melempar kan ponsel nya hingga pecah.
"Siva....!"
ucap Yuni dan Rita mencoba menenangkan namun tidak Bisa, Siva menangis meraung.
Riko berlari saat mendengar tangis dari dalam ruangan Siva.
"ada apa Siva?"
ucap Riko dan perawat mencoba menenangkan Siva namun Siva malah mencabut infus nya lalu berlari keluar kamar dengan darah di tangan nya yang mengucur.
"Siva....!"
ucap Riko mengejar Siva yang berlari keluar dengan beberapa orang yang membantu termasuk Kahfi dan Yasmin yang baru saja sampai di rumah Sakit, Yasmin baru saja berbicara di telepon dengan Kinara yang mengatakan bahwa saat ini mereka sudah berada dalam pesawat.
"astaga Siva....!"
ucap Yuni tergugu Tak kuat mengejar siva yang berlari keluar.
Riko mengejar Siva yang berlari ke arah jembatan penyeberangan, pikiran nya sudah gelap rasa sakit yang Reno ciptakan bertubi tubi sudah tak tertahankan lagi.
"Siva...!"
ucap Riko dengan nafas tersengal menatap wajah siva yang sembab.
Siva melihat ke bawah, terlihat kendaraan berlalu lalang.
"Siva, jangan gelap mata...!"
ucap Riko Berjalan perlahan mendekati Siva yang justru naik ke pagar jembatan.
terlihat beberapa orang memperhatikan mereka tampak cemas melihat Siva yang tengah mencoba loncat dari jembatan.
keinginan itu muncul karena putus asa akibat rasa sakit yang kian menghimpit.
"Siva... jangan sia sia kan hidup mu demi cinta yang hanya membuat mu menjadi bodoh... istighfar Siva...!"
ucap Riko berjalan semakin dekat.
"Siva...!"
ucap Yasmin menutup mulutnya sendiri, melihat kondisi siva yang begitu memprihatinkan.
"Siva,turun...!"
ucap Riko namun Siva malah menggeleng dengan derai air mata.
"menikahlah denganku Siva, aku yang akan menjaga mu!"
ucap Riko membuat Kahfi dan Yasmin tertegun begitu juga dengan Siva yang masih berpegang pada pagar.
"ah.....!"
ucap siva berteriak saat kaki nya terpeleset hingga Membuat nya terhempas namun cepat riko menangkap tangan nya, Kahfi berlari menghampiri lalu membantu Riko menarik tubuh Siva ke atas.
Yasmin terdiam memperhatikan kejadian itu, hingga mengingatkan nya pada kejadian silam yang juga menimpa diri nya.
"astagfirullah....!"
ucap Yasmin menghapus air matanya.
bersambung...
terimakasih sudah mampir 😍😍😍