
Arief Menilik wajah istrinya yang masih terlelap, samar samar terdengar suara adzan subuh berkumandang dari kejauhan.
subuh pertama bagi keduanya bersama, Arief memperhatikan kinara yang tak sedikit pun merasa kedinginan padahal pendingin ruangan cukup besar namun ia menolak selimut tebal yang Arief berikan dan lebih memilih memeluk tubuh nya yang Hangat.
"kinara sayang....!"
desis Arief di telinga istri nya itu.
"HM....!" ucap kinara perlahan membuka matanya dan tersenyum menatap wajah tampan suaminya itu.
"apa masih sakit?"
ucap Arief Terkekeh kecil memeluk tubuh istrinya itu.
kinara memberangus mendengar pertanyaan Arief yang langsung mengingat kan nya pada kejadian semalam yang juga membuat nya malu, terlihat wajah nya memerah namun semua terasa begitu...
'indah......'
"aku mencintaimu Ki, aku sangat mencintaimu..."
ucap Arief mengecup kening Kinara.
"love you to....!"
ucap kinara senyum, kemudian Arief mencium bibir nya.
"seperti ini saja rasanya candu....!"
ucap Arief kembali mengecup bibir kinara.
"kenapa diam?"
"harus bagaimana?"
ujar kinara mengigit bibirnya membiarkan Arief kembali mencumbu nya.
"bang...kita sholat subuh dulu ya"
ucap kinara tahu bahwa Arief kembali menginginkan hal itu tapi mereka akan kesiangan jika terus di ranjang.
Arief Menoleh pada jam yang seakan cepat berjalan.
"ya...!"
ucap Arief kemudian mengangkat tubuh kinara untuk mandi bersama.
setelah selesai mandi lalu keduanya melaksanakan shalat subuh berjamaah, Kinara merasa bahagia karena ia kini sudah memiliki imam sendiri, sebelum nya sang ayah yang selalu menjadi imam nya.
setelah selesai berdoa, Arief menoleh pada kinara yang berada di belakang nya, Kinara meraih tangan Arief lalu menciumnya sementara Arief mencium kening istrinya itu.
"terimakasih....!"
"untuk....?"
tanya kinara menatap wajah Tampan suami nya.
"semuanya.....!"
ucap Arief memeluk Kinara.
"terimakasih sudah mau menerima Abang yang sempat membuat kamu kecewa.."
"jangan bahas itu lagi....Kiki sudah melupakan.."
"terimakasih....."
Kinara mengangguk.
"rencana Abang selanjutnya apa?"
"Abang tidak akan kembali ke Amrik.. kuliah di Indonesia saja de, dan untuk sekarang tolong bantu Abang....!"
"ya, tentu saja!
jangan bicara seperti itu, tanpa diminta Kiki pasti bantu!"
ucap kinara menilik netra milik Arief yang menyimpan kepiluan perihal sang papih yang masih belum sadarkan diri.
"kamu jangan sedih,kita selesaikan masalah ini bersama.....!"
ucap kinara dan di angguki oleh Arief.
"ya sudah, kita buat sarapan saja, setelah sarapan kita siap siap untuk berangkat ke kantor...!"
ucap kinara namun terhenti saat Arief memeluk nya dari belakang.
semalam terlewati dengan indah, meski keduanya bercinta dalam durasi cepat karena Arief yang tak tega melihat kinara kesakitan.
di tambah Arief juga khawatir dengan kondisi kesehatan kinara jika ia kelelahan hingga malam itu keduanya bermain singkat namun berakhir indah, keduanya sama sama merasakan sesuatu yang begitu menakjubkan.
"Abang semakin enggak bisa jauh dari kamu Ki, kamu seperti candu...."
kinara hanya senyum menanggapi ucapan Arief, menyadarkan tubuh nya pada pria itu.membiarkan Arief memeluk nya hangat.
"kamu di sini saja, biarkan Abang yang buat sarapan untuk kita....!"
"Kenapa seperti itu?"
"tidak apa-apa... Abang khawatir kamu masih lelah. kamu tunggu saja sebentar...!"
"tidak, Kiki mau ikut ke dapur!"
ucap kinara ikut beranjak.
"ya sudah,tapi cukup diam...!"
Kinara mengangguk kemudian berjalan bersama Arief.
Kinara memperhatikan ruangan besar itu tampak sepi..
ucap kinara duduk di pantry.
"mungkin di belakang... mereka memang tidak membuat sarapan untuk kita Karena Mereka tahu kalau Abang dari dulu selalu membuat sarapan sendiri....!"
"ya Kiki ngerti, percuma kalau masak takut nya enggak di makan sama Abang..."
ucap kinara membuat Arief Terkekeh lalu menghampiri.
berdiri di depan istri nya tanpa jarak hingga terasa hembusan nafasnya, menatap netra indah milik kinara membuat nya teduh.
"bang... ini tuh di dapur, kalau pembantu masuk gimana?"
ucap kinara menahan bibir Arief yang hendak mencium nya lagi.
"tidak akan ada yang berani masuk ke ruangan ini jika ada aku dirumah...!"
ucap Arief mencium bibir istrinya lembut.
kinara menggigit bibir saat Arief melepaskan bibirnya dan menyatukan kening mereka.
"aku suka dengan ruangan ini, di tempat ini aku bisa berekspresi.. memasak makanan apapun yang aku suka dengan cinta, aku juga berangan-angan bisa bercinta dengan kekasih ku di sini...."
ucap Arief membuat kinara meremang.
"dari kecil Abang memang dekat dengan Mami yang juga seorang chef hebat...!"
"benar kah?"
ucap kinara tak menyangka jika mertua nya itu seorang chef.
"ya, saat usia ku tujuh tahun Mami sudah mengajarkan aku memasak, dan kamu tahu saat aku bisa menciptakan makanan yang enak dan membuat penikmat nya senang, ada sebuah kebanggaan tersendiri untuk ku hingga waktu membawa ku pada keinginan untuk menjadi seorang chef hebat seperti Mami, namun papih tidak setuju dan kecewa saat mengetahui bahwa selama ini Mami yang mengajarkan aku memasak....itu karena papih ingin aku jadi pebisnis seperti dirinya, tapi aku bersikukuh dengan keinginan ku, hingga mau tidak mau papih membiarkan aku menempuh pendidikan culinary art dengan syarat aku harus mau di jodohkan dengan anak dari teman papih, yaitu kamu!"
ucap Arief mencium hidung kinara.
"tapi saat ini aku merasa tidak berguna karena aku tidak bisa memimpin perusahaan..."
ucap Arief menunduk.
"tuhan membuat keadaan seperti ini karena tahu Ada aku yang akan melengkapi keluarga kamu Bang, jangan bicara seperti itu!
kamu juga kan sedang berusaha....!"
ucap kinara memangku wajah Arief yang tampak sendu.
"kalau sejak awal aku tahu itu kamu, aku akan minta pernikahan ini di percepat...!"
ucap Arief membuat kinara Terkekeh kecil karena Arief langsung mengecup bibir nya singkat.
"apa dulu mami bekerja di sebuah restoran?"
tanya kinara membiarkan Arief menjauh mendekati lemari es untuk mengambil bahan makanan.
"kerja, tapi berhenti karena papih ingin mami fokus pada keluarga...!"
Kinara mengangguk sambil mendekap Arief dari belakang.
"kalau seperti ini kita kembali ke ranjang saja de...!"
ucap Arief membalikkan tubuhnya.
"laper bang,Kiki mau bubur ikan salmon...bunda selalu buat itu karena ayah sangat suka ikan..!"
ucap kinara duduk di kursi samping Arief.
"oke, Abang juga bisa kalau cuma bikin bubur...apa kamu juga suka ikan?"
tanya Arief Menoleh sedikit.
"suka, ikan, daging, ayam dan yang lainnya..."
ucap kinara memperhatikan suami nya memasak.
kagum, bagi Kinara pria memasak itu sesuatu yang mengagumkan, seperti hal nya sang ayah meski bukan seorang chef tapi Kahfi juga bisa memasak meski tak sepandai Arief karena memang ia khusus kuliah culinary art.
"sudah siap...? ayo kita sarapan!"
ucap Arief menarik kursi untuk Kinara,
wangi, terlihat asap mengepul dari mangkuk yang berisi bubur yang dicampur ikan salmon serta sayuran.
"gimana enak enggak?"
"enak...kalah deh ayah juga... enggak pakai penyedap rasa tapi tetap enak,Kok bisa..?"
ujar kinara senyum membuat Arief Terkekeh kecil lalu menyuapi istri nya itu.
"kalau memasak saat perasaan senang ya hasilnya juga akan enak dan memuaskan, Abang tambahkan bumbu cinta supaya rasanya lezat seperti.....!"
ucap Arief menaikkan alisnya.
"apa sih bang, kamu tuh!"
ucap kinara Terkekeh kecil dengan wajah memerah.
"mulai sekarang, harus jaga pola makan sehat, enggak boleh makan makanan pedas dulu sampai kondisi lambung kamu membaik, Abang yang akan atur makanan kamu....
paham?"
"siap bos...!"
ucap kinara senyum, merasa senang karena Arief memberikan nya perhatian penuh.
bersambung....
terimakasih yang sudah mampir 😍😍