
Kinara menunggu Siva sampai tersadar, Wisnu sendiri sudah selesai di mandi kan dan sekarang tengah di sholat kan yang kemudian akan segera di makamkan.
"Siva..apa kamu mau ikut ke pemakaman?"
ucap kinara menatap Siva yang sejak tadi menangis.
"kakak tahu apa yang kamu rasakan, Kamu sabar ya!
Kita hadapi masalah ini bersama, kamu harus Kuat dan yakin bahwa Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan kita..."
ucap kinara semakin membuat Siva terisak.
"kamu harus sabar....!"
ucap kinara memeluk adik ipar nya itu.
tak lama pintu terbuka dan Yuni masuk ke dalam kamar menghampiri mereka berdua.
"sayang.....!"
ucap Yuni memeluk siva.
"apa kamu mau ikut ke pemakaman? papih sudah selesai di sholat kan...!"
ucap Yuni menghapus air mata Siva.
"maafkan Siva mi...?"
"kamu tidak salah.....ini sudah takdir tuhan!"
ucap Yuni yang tak tahu menahu tentang permasalahan yang tengah di hadapi oleh siva.
"sayang.....!"
ucap Arief masuk ke dalam kamar.
"ayo, Kita ke pemakaman?!"
"ayo ,mi, siva....!"
ucap kinara lalu beranjak membantu siva turun dari ranjang.
"kita satu Mobil saja....!"
ucap Arief menggandeng tangan kinara, kinara memicingkan matanya saat melihat Alina berada di halaman rumah bersama seorang temannya.
"dia datang bang?"
"ya, Abang juga enggak tahu dia tahu dari siapa, tapi kamu jangan khawatir karena Abang hanya menghargai dia yang datang untuk melayat."
ucap Arief dan di angguki oleh Kinara.
suasana pemakaman tampak sendu, gerimis mengiringi pemakaman Wisnu, Siva tak berhenti menangis dalam pelukan Yuni.
Arief turun ke bawah mengangkat tubuh Wisnu ke bawah liang lahat.
Kinara memperhatikan Arief yang tampak tegar setelah tadi puas menangis pada nya, masalah yang datang bertubi-tubi tak lantas membuat suaminya itu mengeluh, Arief justru terus meminta dukungan pada sang istri agar bisa menyelesaikan segala permasalahan dengan tenang.
Arief naik ke atas saat sedikit demi sedikit tanah merah itu menutup liang lahat, berdiri kemudian menghampiri kinara yang tak jauh dari tempat itu, membiarkan tanah menutupi jenazah sang Papih.
menyadarkan kepala kinara pada dada nya,, kinara tahu Arief tak sekuat itu, dengan nafas tersengal menahan kesedihannya.
setelah usai berdoa, satu persatu orang orang meninggal kan gundukan merah yang di penuhi oleh bunga, Kahfi menghampiri kinara dan Arief yang berjongkok menatap gundukan tanah merah itu.
"ki.....!"
ucap kahfi mendekati, di ikuti Yasmin dan Wildan yang ikut hadir. Rama dan Marisa sendiri tidak ikut ke pemakaman karena suatu hal.
"ya yah....!"
ucap kinara berdiri di ikuti oleh Arief.
"ayah dan bunda pulang ya....!
kamu yang tabah ya rief!"
"ya terima kasih yah...!"
ucap Arief sambil mengangguk, terlihat Yuni dan Siva sudah menunggu dekat mobil.
"kita juga sudah mau pulang....!"
ucap kinara lalu mencium tangan Yasmin dan kahfi sang ayah.
"ya sudah....ayah duluan ya!"
ucap Kahfi lalu pergi bersama Yasmin juga Wildan.
"bang...ayo kita pulang, kasihan mami dan Siva nuggu kita..."
ucap kinara dan di angguki oleh Arief.
Adzan Maghrib berkumandang saat mereka sampai di rumah, kerabat yang lain nya sudah mempersiapkan untuk acara pengajian dan tahlil untuk Wisnu.
Arief masuk ke dalam kamar bersama kinara, duduk di sofa sambil bersandar.
"mandi dulu, setelah itu kita Sholat.
waktu Maghrib itu sebentar bang!"
ucap kinara mengambil handuk.
Arief memperhatikan kinara yang berjalan di hadapan nya, menyimpan sepatu dan sendal ke dalam rak.
"de....!"
"HM.....!"
ucap kinara menoleh.
"Abang laper....!"
"astagfirullah....maaf ya, Kiki lupa nawarin makan karena Kiki juga belum makan..."
ucap kinara memperhatikan wajah Arief yang Lelah.
"ya udah, Abang duluan ke kamar mandi!"
ucap Arief senyum membuat kinara tertegun dengan wajah memerah.
"Abang janji hanya akan mandi...!"
ucap Arief membuat kinara tersenyum.
setelah Selesai mandi bergegas keduanya melaksanakan shalat Maghrib, di depan rumah terdengar beberapa orang sudah datang untuk mengikuti pengajian.
"bang, duluan saja keluar, nanti Kiki bawa makanan untuk kamu!"
Arief mengangguk dengan lesu, rasa lelah membuat nya ingin sekali merebah tapi di depan banyak sekali tamu yang datang untuk ikut pengajian atau pun yang datang ikut berbela sungkawa.
"de, nanti saja makan nya selesai pengajian karena banyak tamu papih yang datang...!"
Kinara mengangguk.
terlihat Kahfi dan Yasmin juga Riko yang ikut untuk mengikuti pengajian, Riko memperhatikan seorang perempuan yang diam dengan pandangan kosong, wajah nya pucat juga sembab.
"bang, kamu ikut ayah sama bunda!"
"ya, Ki... Tadi siang Abang langsung operasi jadi enggak bisa ikut pemakaman..!"
"enggak apa-apa bang...!"
ucap kinara lalu duduk bersama Yuni juga Siva.
Siva bersandar pada kinara, ia pun kembali terisak.
Arief Menatap Siva yang menangis bersandar pada istri nya, hanya mereka bertiga yang tahu mengapa Siva tak berhenti menangis.
Riko terus memperhatikan seseorang yang menangis terisak di Pelukan Kinara, Riko baru ingat kalau gadis itu adik Arief yang beberapa hari sempat ia lihat di rumah sakit.
beberapa waktu kemudian, Acara pengajian pun selesai beberapa kerabat pamit pulang.
"besok kami akan datang untuk mengikuti pengajian lagi...!"
ucap kahfi dan Yasmin pamit untuk pulang.
"ya terima kasih Bun...!"
ucap Arief.
"kamu yang sabar ya!"
Arief mengangguk, menerima pelukan dari kahfi.
keduanya masuk ke dalam rumah setelah Yasmin dan kahfi juga Riko pulang, terlihat Yuni dan Rita tengah berada di ruang keluarga.
"rief, makan dulu ajak Kinara...!"
ucap rita dan di angguki oleh Arief yang berjalan menuju ruang makan.
"bang, Siva di dalam?"
Arief mengangguk.
"coba lihat bang, Kiki khawatir...!"
"ya sudah... sebentar!"
"ya,biar Kiki yang bawa makanan ke kamar kalau Abang mau kita makan di dalam..."
ucap kinara.
"ya udah, Abang lihat Siva dulu....!"
ucap Arief beranjak.
Kinara menaiki tangga dengan membawa satu piring untuk makan berdua, terlihat Arief keluar dari kamar Siva.
"gimana bang...?"
"sudah tidur...!"
ucap Arief mengambil alih piring tersebut.
keduanya duduk di sofa menghadap makanan, Arief Menoleh pada kinara yang tengah menatap nya.
"maaf ya de...?"
"Kenapa Bang..?"
"kita baru saja menikah tapi Abang sudah membuat kamu repot..."
ucap Arief menatap netra indah milik istri nya.
"Kiki tidak merasa repot..."
ucap kinara menyuapi Arief.
"Kiki senang bisa berada di samping kamu di saat seperti ini bang..."
ucap kinara senyum sambil mengunyah makanan.
"entah lah kalau tidak ada kamu de.."
"jangan bicara seperti itu, di balik ujian Allah pasti titipkan kekuatan agar kita bisa menghadapi nya.."
ucap kinara yang terus menyuapi Arief hingga makanan tandas.
"kamu kok makan nya sedikit de...?"
"ya, Kiki udah kenyang...!"
"tapi kamu makan sedikit loh de...!"
"ya enggak apa-apa bang, yang terpenting kenyang!"
ucap kinara senyum kemudian merengkuh tubuh Arief.
bersambung.
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍