
Arief dan kahfi berlari kecil menuju kamar kinara, langkah nya terhenti di depan pintu saat melihat gadis itu terbaring tak sadarkan diri tanpa kerudung yang selalu menutupi bagian rambut juga kepalanya.
Dengan baju tidur lengan pendek berwarna merah maroon, menampakkan tangan nya putih dan bersih.
"yah, cepat panggil dokter...!"
ucap Yasmin dan di angguki oleh Kahfi.
Yuni datang dan mengajak Arief untuk melihat kondisi Kinara lebih dekat.
"ya ampun de, sebenarnya kamu kenapa?"
gumam Arief dalam hati menatap gadis itu iba.
tak lama dokter datang..
"Bun... boleh enggak kalau kinara pakai kerudung dulu...!"
ucap Arief saat mendengar suara dokter laki laki berbicara dengan Kahfi menuju kamar.
"ya rief...!"
ucap Yasmin di bantu oleh ayu memakai kan kerudung dan selimut karena memang di dalam menggunakan pendingin udara.
Andai bisa meminta, Arief tak suka jika dokter laki laki yang memeriksa keadaan calon istri nya itu.
namun Kahfi tidak ada pilihan lain karena dokter seza yang biasa datang sedang pergi ke luar kota.
"Kiki demam tinggi....!"
ucap dokter setelah memeriksa keadaan Kinara lalu memasang jarum infus.
"saya akan memberikan nya obat lewat infus agar demam nya cepat turun....!"ucap dokter dan di angguki oleh Yasmin.
"Kenapa setiap kali datang bulan Kinara selalu sakit.... apa tidak apa-apa Dok?"
"tidak apa-apa Bu ...itu karena perubahan hormon, kalau anda ingin tahu secara jelas nanti ajak saja Kinara untuk memeriksa langsung ke rumah Sakit...!"
Yasmin mengangguk.
Arief sendiri hanya diam mendengar penuturan dokter itu, ia tidak bisa Pergi jika kondisi Kinara seperti itu.
setelah dokter pulang, tak lama Kemudian Kinara membuka matanya dan melihat beberapa orang tengah mengerumuni nya.
kepala nya terasa pusing dan tubuh nya lemas.
"Bun.....!"
ucap kinara melihat Arief berada di hadapan nya dengan ekspresi wajah khawatir.
"apa yang kamu rasakan....?"
ucap Yasmin duduk di samping putri nya itu.
kinara terdiam menatap sekitar yang memperhatikan nya termasuk sang ayah yang baru saja Datang.
"gimana keadaan kamu de...?"
ucap Arief yang tampak cemas melihat gadis itu, pucat dan lunglai.
"dokter bilang kamu demam di tambah efek menstruasi, kalau seperti ini ayah enggak bisa melepas kamu ke Rusia lagi.... ayah khawatir sama kamu!"
ucap kahfi yang duduk di sebelah Yasmin.
"ya tapi itu terjadi paling dua hari, Kiki tidak apa-apa yah!
maaf membuat kalian cemas..!"
"ya bunda khawatir sekali sama kamu..!"
ucap Yasmin memeluk putri nya itu.
"bang...maaf seperti nya Kiki enggak bisa Anter Abang ke bandara...!"
"Abang enggak akan pergi....!"
ucap Arief dengan tatapan sayang.
"kenapa....?Kiki tidak apa-apa bang, Kiki baik baik saja!"
ucap Kinara melepaskan pelukannya dari Yasmin.
"ya tapi Abang enggak bisa pergi jika keadaan kamu sakit seperti ini!"
"ya, Kiki sakit tapi udah mendingan.
ada ayah sama bunda juga....!"
"ya, rief tidak apa-apa...kamu jangan khawatir, Kinara ada kami yang merawat..!"
ucap kahfi membuat Arief termangu.
"bang .......!
sebentar lagi pesawat nya berangkat, nanti Abang ketinggalan pesawat... cepat selesai kan kuliah nya,Kiki menuggu Abang pulang...!"
ucap kinara senyum, hal itu ia lakukan agar kekasih nya itu semangat belajar.
"ya udah, Abang berangkat ya de.... kamu harus janji kalau kamu akan baik baik saja...!"
kinara mengangguk kemudian mencium tangan Arief yang terpaksa harus pergi.
"hati hati ya bang.....!"
Arief mengangguk sambil menatap gadis itu penuh arti.
rasanya tak ingin pergi.....
setelah itu Arief pergi setelah berpamitan pada Kahfi dan Yasmin bersama Yuni yang mengantar nya ke bandara.
**
"maaf ya ki, ayah enggak bisa menahan Arief pergi.... ini juga untuk masa depan kalian, karena hidup bukan hanya mengandalkan cinta walau bagaimanapun materi juga mendukung kebahagiaan kalian meski kebahagiaan tak bisa di ukur oleh materi, tapi tetap saja itu perlu...
dan tugas seorang suami adalah mencukupi kebutuhan keluarga nya lahir dan batin....
ya kan Bun..."
ucap Kahfi yang berbicara pada putri juga istri nya.
meski Arief sudah memiliki usaha sendiri tapi Kahfi juga memikirkan Wisnu yang sering mengeluh kan tetap masa depan keluarga nya, jika ia sudah tua siapa yang akan mengurus perusahaan nya jika Arief tetap pada bidang tersebut karena adiknya perempuan dan tak bisa seterusnya mengurus perusahaan karena tugas seorang istri tetap lah di rumah mengurus suami dan anak nya, seperti halnya Yasmin yang bersyukur memiliki Wildan yang bisa membantu nya mengurus perusahaan sang Ayah.
"ya, yah....."
ucap Yasmin senyum..
"sekarang istirahat saja......"
ucap kahfi dan di angguki oleh kinara.
"Ki, aku pamit ya....!"
ucap ayu yang sudah membereskan barang barang nya.
"ya yu... makasih ya yu, udah temenin aku"
ucap kinara memegang tangan sahabat nya itu.
"ya...aku kan sahabat Kamu ki, makasih udah bikin aku panik....!"
Kinara terkekeh mendengar penuturan sahabat nya itu.
"maaf ya...aku tuh enggak tahu kalau bakal pingsan..."
"ya yalah.... kalau tahu pasti teriak minta tolong!"
ucap ayu Terkekeh kemudian memeluk kinara.
"cepat sembuh ya ki....!"
"terimakasih ya yu...!"
"sip... balik ya!"
ucap ayu kemudian pergi meninggalkan Kinara dengan tangan yang terpasang infus.
Kinara terdiam menatap kaca jendela, sinar matahari menembus kaca, sedikit memberikan kehangatan.
teringat pria yang kini harus kembali untuk mengejar keinginan sang ayah, chef tampan itu rela menekuni suatu bidang yang tidak ia sukai demi meraih cinta nya, kinara menatap cincin yang melingkar di tangan nya.
"aku akan menuggu mu pulang bang...."
ucap Kinara sendiri sambil merebahkan tubuh di ranjang, memejamkan matanya yang mengantuk efek obat tersebut agar ia bisa beristirahat.
beberapa jam kemudian, akhirnya Arief sampai di Amrik bergegas ia menuju Apartemen setelah perjalanan yang memakan waktu cukup lama.
raga nya mungkin berada di Amrik tapi pikiran nya berada di kediaman gadis itu, ia ingin segera sampai agar bisa menghubungi gadis itu.
beberapa kali mencoba menghubungi Kinara di dalam taksi namun tak ada jawaban, mungkin Kinara tengah beristirahat.
"nanti saja lah kalau sudah sampai di Apartemen..."
ucap Arief menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
melihat ke sekeliling jalan yang ramai pejalan kaki, hampir saja ia tidak bisa menahan diri untuk membawa Kinara untuk ikut dengan nya karena jujur saja ia tidak bisa meninggalkan kinara dalam keadaan seperti itu, namun seperti yang Wisnu bilang.
"sabar rief.... papih mau kamu menyelesaikan semester pertama setelah itu kamu boleh lanjut di Indonesian.... tidak apa-apa.. untuk sementara waktu lanjutkan studi mu di Amrik..."
ucap Wisnu saat Arief mengatakan bahwa Ia gak ingin kembali ke Amrik.
Arief merebahkan dirinya di ranjang sambil memainkan ponselnya, beberapa kali menghubungi Kinara namun tidak ada jawaban, akhirnya ia menghubungi Wisnu untuk meminta nomor Kahfi.
*
"makan bubur nya dulu...."
ucap Yasmin pagi itu membantu Kinara untuk bangun.
"Ki...kok badan kamu panas lagi sih sayang....."
ucap Yasmin bertepatan dengan Kahfi yang masuk ke dalam kamar dengan ponsel yang terhubung dengan Arief, dan tentu saja Arief mendengar penuturan Yasmin.
"ada apa yah ......"
ucap Yasmin menatap wajah kahfi yang tampak kaku.
"ini Arief telpon....."
ucap kahfi memberikan ponsel nya pada kInara yang terpaku.
"mudah mudahan bang Arief tidak mendengar ucapan bunda tadi..."
tutur Kinara sendiri, kemudian mengambil ponsel dari tangan kahfi.
bersambung.
terimakasih yang sudah mampir.
keadaan sudah kembali kondusif...
lanjut berkarya setelah beberapa hari off karena suatu hal yang membuat author tak bisa menulis...
jangan lupa like dan komentar ya..
😍😍😍😍