Chef Iloveyou

Chef Iloveyou
tulus.



waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Arief baru sampai di rumah setelah tadi meeting di kantor dan langsung meninjau pabrik pembuatan produk tersebut.


Arief membuka pintu, terlihat kinara tertidur menyamping ke arah jendela. Arief masuk perlahan karena tak ingin membangun kan istri nya itu. gegas ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


setelah selesai Arief langsung berpakaian dan naik ke ranjang mendekati Kinara.


"sayang......!"


ucap Arief masuk ke dalam selimut tebal berwarna putih itu.


"HM....."


gerak nya terhenti saat merasa kan tubuh kinara yang hangat, Arief bangun dan langsung duduk.


"sayang, kamu demam?"


ucap Arief menyentuh kening kinara yang terasa panas.


"enggak bang....Kiki baik baik saja..."


ucap kinara mencoba membuka matanya, tersenyum melihat Arief berada di hadapan nya.


"kamu sakit yang...!


baik baik gimana?"


ucap Arief beranjak mengambil obat di kotak obat.


"minum paracetamol dulu, nanti Abang ambil kompres ya ke bawah....!"


"enggak usah bang... Abang capek!"


ucap Kinara menahan tangan Arief.


"maaf ya sayang, Abang pulang malam...!"


ucap Arief memeluk kinara yang mendekap tubuh nya.


"handphone Abang jatuh di kamar mandi..


terjun ke bak, jadi enggak Bisa hubungi kamu"


ucap Arief mengelus rambut kinara yang panjang.


"ya, Kiki rindu....!"


ucap kinara tersenyum.


"kamu sakit kenapa enggak bilang sama mami sih? kalau ada apa-apa gimana?"


ucap Arief memangku wajah istrinya.


"udah minum obat kok, cuma.....!"


"cuma apa? Kamu enggak makan ya de?"


"makan, cuma sedikit. Enggak tahu kenapa cepat kenyang....!"


ucap kinara menatap wajah Arief dengan netra memerah, kinara paham jika Arief mengantuk.


Arief menyentuh tubuh kinara yang masih demam.


"besok kita ke Rumah sakit ya, Abang lupa kita kan berencana untuk cek kesehatan kamu!"


ucap Arief membaringkan tubuh kinara.


"enggak usah bang, Kinara cuma demam. kalau lagi menstruasi memang seperti itu!"


ucap kinara memeluk Arief.


"ya sudah, istirahat...!"


ucap Arief memeluk Kinara.


pagi ...


Arief membuka matanya saat mendengar suara adzan subuh berkumandang, matanya tertuju pada istri nya yang masih terlelap.


semalam Kinara kembali demam hingga ia membuka baju nya membiarkan hawa panas itu berpindah pada tubuh nya.


"HM...."


gumam kinara saat Arief menciumi telinga nya.


"bang......geli...!" ucap kinara membuka mata nya melihat Arief tengah terkekeh.


Kinara terhentak saat Arief memeluk nya dari belakang, sontak kinara langsung mengigit bibirnya saat tubuh keduanya menempel Tanpa terhalang kain.


"bang...Kiki tuh....!"


ucap kinara dengan wajah memerah.


"Apa?


ya gitu kalau enggak mau di kompres air hangat, kita pakai metode skin to skin.."


ucap Arief terkekeh mencium leher Kinara.


"ya tapi kinara tuh lagi datang bulan....!"


"ya, emang kenapa kalau lagi datang bulan, enggak boleh mesra... yang terpenting kan Abang enggak minta yang lebih...."


ucap Arief mencium pipi kinara yang merona.


sementara Kinara hanya diam terpaku dengan perlakuan Arief yang selalu membuat jantung nya berdetak lebih kencang.


"ya sudah Abang mandi dulu, Abang ke masjid ya!"


kinara senyum mengangguk.


bersyukur karena suami nya itu banyak kemajuan, dari Arief yang tak pernah meninggalkan solat lima waktu dan kini ia mau pergi ke masjid.


Kinara beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


setelah selesai kinara keluar dari kamar menghampiri mereka yang berada di dapur, namun langkah nya terhenti saat melihat Siva keluar dari kamar nya.


"Siva.....!"


"kak Kiki....!"


"kak, Siva mau ngobrol sebentar bisa?" tanya Siva.


"ya, bisa... kita ngobrol di belakang saja."


ucap kinara lalu berjalan beriringan menuju pendopo dekat kolam renang.


"kenapa Siva....?"


"kak...menurut kak Kiki, bagaimana dokter Riko!"


Kinara terdiam mendengar penuturan Siva.


keadaan Siva sudah jauh lebih tenang karena dukungan dari keluarga terutama mami nya, ia tak ingin Terus terpuruk memikirkan seseorang yang sudah menyakiti nya.


tentang bayi yang berada di dalam kandungan nya, ia bertekad akan mempertahankan nya meski tanpa Reno di samping nya.


***


Siva terdiam mendengar penuturan Riko yang terang terangan mengungkapkan perasaan nya.


"Siva....."


"Siva butuh waktu untuk memikirkan semua itu dokter Riko, Siva juga ragu dengan keluarga dokter Riko, apa Mau menerima Siva yang seperti ini, sementara di luar sana banyak perempuan baik yang masih suci..."


ucap siva merasa insecure.


"ya, memang banyak tapi Abang mau kamu"


ucap Riko tetap pada pendiriannya.


"Abang kasih kamu waktu untuk berpikir, kalau soal keluarga itu hanya masalah waktu kamu tidak perlu khawatir.. kita akan melalui proses nya bersama..."


Siva terdiam mendengar penuturan Riko, ia memang butuh Riko, tapi apa tidak terkesan egois jika ia menerima lamaran dokter tampan itu hanya untuk menutup aibnya.


pria sebaik itu tak seharusnya mendapatkan perempuan seperti dirinya.


"dokter Riko, Siva merasa tidak pantas untuk dokter Riko, Siva...!"


ucap siva menunduk.


"kenapa Siva?


apa kamu masih mengharapkan Reno?"


"bukan, Tapi......!"


"ya saya mengerti.. tidak apa-apa, boleh saya minta jawaban nya besok?"


Siva mengangguk.


**


"Siva... yang bertanggung jawab atas kebahagiaan diri kita adalah kita sendiri, bahagia, sedih. itu Kita yang menciptakan nya sendiri.


kalau kamu masih mengharapkan Reno, kakak rasa salah. maaf kamu tahu Reno bukan hanya mencampakkan kamu tapi juga mengkhianati kamu dengan nindi, setelah ia di keluarkan dari kampus. bukan nya dia sadar akan kesalahannya tapi justru ia semakin gila.


sementara ada seseorang yang siap menjaga jaga kamu, seseorang yang tulus tidak datang dua kali....bang Riko itu pria yang baik, dia sama seperti kamu di tinggalkan oleh seorang yang ia cintai... jika kalian bersama kalian bisa sama sama menjaga hati untuk tidak lagi tersakiti..."


Arief yang baru sampai di rumah tertegun mendengar penuturan Kinara.


"Siva harus bagaimana kak?"


ucap Siva.


"ikut kata hati mu saja, kakak tidak mau memaksa..."


ucap Kinara senyum.


"bang Riko Minta jawaban nya hari ini!"


"ya sudah kamu Jawab atas kesiapan hati kamu!"


ucap kinara senyum melihat Arief menghampiri nya.


"assalamualaikum....!"


"walaikumsalam....!"


ucap kinara sambil mencium tangan Arief.


"sudah sembuh?"


ucap Arief menyentuh kening kinara.


"emang kakak sakit?"


"Hanya demam biasa...!"


ucap kinara senyum.


"ya sudah kamu di sini sama Siva, nanti aku buatkan bubur ya!"


ucap Arief lalu beranjak pergi.


"biarkan saja kak!"


ucap Siva menahan gerak Kinara yang hendak menyusul Arief.


"bang Arief memang seperti itu kalau dirumah, selalu memasak untuk kita... hanya dulu saat ada papih kak Arief enggan memasak karena papih selalu menuturkan hal hal yang membuat kak Arief kecewa, papih tak pernah mendukung karirnya, hingga suatu saat kak Arief pindah ke apartemen dan merintis usaha sendiri hingga di Terima baik oleh papih..."


"oh gitu.....!"


ucap kinara mengangguk.


"ya, sebenarnya Siva dulu juga ingin jadi dokter.. tapi papih bilang siapa yang akan mengurus perusahaan kalau kita kedua anaknya tak ingin menjadi pebisnis... seperti hal nya kak Arief yang senang dengan dunia kuliner.."


tak lama kemudian Arief datang membawa tiga mangkuk bubur untuk mereka bertiga.


"ayo sarapan... setelah selesai sarapan kita ke rumah sakit ya!"


ucap Arief membuat Kinara tertegun.


bersambung...


terimakasih yang sudah mampir.


jangan lupa like dan komentar 😍😍😍😍