
Kinara menghampiri Siva yang berada di kamar nya, terlihat Siva tengah melamun sendiri.
"Siva.....!"
ucap kinara senyum mendekati.
"kak Kiki.....!"
Siva Menoleh.
"jangan melamun sendiri karena saat pikiran kita kosong setan Terus merongrong... kalau ada apa-apa kamu bilang ya sama kakak!"
Siva mengangguk.
"ya sudah kak Kiki ke kamar, kamu jangan sungkan sama kakak ya siva....!"
"ya kak, terima kasih....!"
ucap Siva tersenyum.
kinara keluar dari kamar dan melihat Yuni berbicara dengan Rita.
"aku bingung karena saat ini tidak ada Wisnu yang selalu mengurus semua nya, mba..."
"ya aku paham dengan apa yang kamu rasakan...kamu sabar saja, Arief juga sedang berusaha.... syukurlah istri nya baik mau membantu...!"
"ya, tapi kasihan dia kelelahan, apa lagi ia baru sembuh dari sakit...!"
"ya, mudah mudahan dia baik-baik saja....!"
kinara termenung mendengar penuturan ke duanya, kemudian ia melangkah menuju kamar.
rasanya ingin pergi ke kantor untuk membantu Arief, namun kesehatan nya sedikit menurun namun di rumah juga jenuh karena tidak ada kegiatan...di kamar pun ia hanya berbaring, pekerjaan rumah juga sudah di kerjakan oleh pembantu.
kinara mengambil ponsel nya dan menelpon Yasmin...
"halo Bun..... assalamualaikum...!"
ucap kinara saat Yasmin mengangkat telpon nya.
"walaikumsalam sayang, kamu sudah di rumah?"
"ya Bun....Kiki sudah di rumah.!"
"kemana Arief?"
"pergi ke kampus?"
"oh, bagaimana keadaan kamu?"
"baik, Apa ayah ke kantor?"
"ya, tadi pagi ayah bilang mau ke kantor Arief bersama Wildan...!"
"oh gitu ya Bun...!"
"ya sayang, kalau ada apa-apa kamu kasih tahu Bunda ya...!"
"ya Bun, ya sudah Kiki istirahat dulu...!"
ucap kinara kemudian mengakhiri percakapan.
di kampus....
Alina memperhatikan Arief yang baru saja keluar dari kelas, Alina begitu merindukan Arief yang beberapa hari ini tidak masuk kuliah entah kenapa.
"rief...."
ucap Alina memanggil Arief langsung menoleh.
"rief.... pulang bareng ya!"
ucap Alina dengan santai membuat Arief merasa heran dengan tingkah perempuan itu.
"maaf aku ada urusan....!"
ucap Arief melengos pergi namun cepat Alina menahan langkah nya.
Arief membuang nafas, inilah yang membuat nya malas ke kampus. apa harus ia pindah kuliah?
"Maaf Alina, aku banyak urusan... istri ku juga sudah menunggu.!"
"ya, Aku tahu... tapi aku hanya minta Kita pulang sama sama, bukan kah dulu kita teman lantas kenapa sekarang kamu menjaga jarak dengan ku...!"
ucap Alina menatap wajah tampan Arief.
"ya , tapi itu dulu sebelum aku menikah..."
ucap Arief kemudian pergi karena Carles sudah menuggu di depan gerbang kampus.
Arief sudah membicarakan permasalahan yang tengah di hadapi perusahaan nya, bagi Carles itu bukan hal yang sulit. ia mau membantu Arief memulihkan kembali saham perusahaan nya.
"hai.. les, sorry gue enggak jemput Lo di bandara, malah Lo yang jemput gue di kampus?!"
ucap Arief Terkekeh, tadi pagi ia memang membawa mobil namun entah apa yang terjadi mobil tiba-tiba mogok dan langsung masuk ke bengkel untuk di periksa.
"ya , enggak apa-apa...tumben mobil Lo mogok?"
"ya mobil papih gue, mungkin lama belum servis..."
"oh gitu...!"
"ya ......!"
ucap Arief lalu membicarakan tentang perusahaan nya.
"ya sudah, kita langsung ke kantor Lo?"
"ya les kita langsung ke kantor saja, siang ini ada meeting....!"
"oh gitu....oke...!"
ucap Carles meminta supir melaju kan mobil nya menuju kantor.
**
sore......
Kinara memperhatikan ponsel nya yang sejak tadi diam, tak biasanya Arief tak menghubungi nya, apa ia sibuk....?
kinara mencoba menghubungi Arief namun tidak di angkat.
Kinara keluar dari kamar dan mendengar suara seseorang yang ia kenal, mencoba menengok ke bawah, kinara tersenyum mendapati Riko yang baru saja datang.
"Kinara..."
panggil Yuni di dekat tangga membuat Kinara Menoleh seketika.
"ya mi..."
ucap Yuni merasa ragu.
"oh gitu, tapi Kiki rasa Siva mau ketemu bang Riko deh mi..."
"oh gitu, ya sudah mami coba suruh dia keluar..."
"ya ,Kiki turun ke bawah...."
ucap kinara beranjak.
"bang....."
Kinara tersebut menghampiri Riko.
"Ki.... kamu sakit...?"
ucap Riko Menilik wajah Kinara.
"enggak bang, mungkin hanya Lelah...."
"makanya jangan sampai pagi....!"
ucap Riko Terkekeh.
"apaan yang sampai pagi...!"
"bergadang....!"
"emang, kan di rumah Sakit..."
ucap Kinara senyum saat Siva turun bersama Yuni.
"hai siva ..."
ucap Riko melihat Siva sudah jauh lebih baik.
"ya Bang, duduk...!"
ucap Siva senyum sambil duduk dekat Kinara, sementara Yuni pergi ke belakang meminta pembantu menyiapkan minuman untuk Riko.
Siva tidak menyangka jika Riko benar benar datang kerumah, teringat ucapan nya saat berada di jembatan penyeberangan.
benar kah dokter tampan itu mengajaknya menikah.
"bang Arief kemana kak?"
"belum kembali, seperti nya masih di kantor?"
ucap kinara senyum.
"ya sudah, kakak ke belakang dulu.. kalian ngobrol saja berdua.!"
ucap Kinara lalu beranjak ke belakang rumah, terdapat sebuah pendopo kecil menghadap kolam renang.
mengecek ponselnya mungkin saja Arief menghubungi nya namun tidak, benda pipih itu tak bersuara Sama sekali.
"Siva....!
Abang serius dengan penuturan Abang waktu itu, Abang rasa kamu juga tidak lupa!"
ucap Arief membuat Siva tertegun.
"ya siva ingat...tapi apakah dokter Riko tidak keliru mau menikah dengan perempuan seperti saya....!"
ucap Siva dengan tatapan sendu.
"bahkan saya tengah hamil....!"
ucap siva menuduk, tak ingin riko melihat air matanya.
dari belakang kinara mendengar kan percakapan mereka berdua.
"saya tidak keliru, saya serius dan tidak pernah main main mengambil keputusan...."
"karena anda kasihan pada saya...!"
ucap Siva yang berani menatap wajah Riko.
"Siva, apa kamu ingat pertama kali kita bertemu?"
ucap Riko membuat Siva tertegun.
sore itu Siva baru saja sampai di rumah Sakit, ia berjalan di koridor rumah sakit sambil memainkan ponselnya, Siva terhenyak karena bertabrakan dengan Riko di belokan.
"ah .....!"
ucap Siva hendak jatuh namun tertahan oleh tangan Riko yang menahan tubuh nya.
keduanya sama sama menatap, Siva membulat kan matanya saat menyadari Riko menahan pinggang nya.
"astaga....!"
ucap Siva langsung beranjak dengan wajah memerah.
"maaf saya tidak sengaja....!"
ucap Siva menuduk.
Riko tersenyum memandang Siva dengan wajah memerahnya.
"tidak apa-apa... lain kali kamu harus memperhatikan jalan agar kamu tidak terjatuh."
ucap Riko senyum lalu pergi meninggalkan Siva yang mematung sendiri.
sejak saat itu Riko tidak bisa melupakan gadis itu, tak biasa nya ia seperti itu hingga ke esokan hari nya ia memeriksa keadaan Wisnu, ia kembali bertemu dengan Siva yang ternyata adik perempuan Arief.
"jujur saja setelah hari itu aku tak bisa tidur..."
ucap Riko membuat Siva terheran.
"kenapa?"
"aku juga tidak tahu, hanya aku tak bisa melupakan gadis yang hampir jatuh karena menabrak ku..."
ucap Riko membuat Siva membeku.
"aku siap menerima apapun keadaan Kamu, apa kamu mau menikah dengan ku.."
ucap Riko kembali menyampaikan lamaran nya.
kinara tersenyum di balik pintu mendengar Riko yang melamar Siva, semoga Siva mau menerima Riko.
bersambung.
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍😍