
pengajian yang di gelar selama tujuh hari sudah selesai, beberapa kerabat yang beberapa hari menginap juga sudah pulang.
hari ini pengacara Wisnu datang ke rumah untuk menyampaikan surat wasiat yang Wisnu titipkan untuk di berikan saat ia sudah tiada.
"saya akan menyampaikan surat wasiat yang alm bapak Wisnu tulis untuk keluarga..
Harta waris akan di bagi tiga, yaitu untuk Arief, Asiva dan juga ibu Yuni.."
ucap pria itu berhenti sejenak memperhatikan mereka yang mendengar kan nya bicara.
"Arief mendapatkan hak waris sebanyak empat puluh persen dari harta yang di miliki oleh bapak Wisnu, tiga puluh persen untuk Asiva dan tiga puluh persen pak Wisnu berikan untuk istri tercinta...."
ucap pengacara itu lalu menjelaskan semuanya secara rinci.
"kenapa bukan Mami yang mendapat kan lebih banyak, kenapa aku....?"
ucap Arief yang duduk di samping kinara.
"Arief.....!"
ucap Yuni menatap wajah Arief yang sendu.
"selama ini Arief enggak pernah nurut sama papih, Arief bahkan selalu membantah... Arief bukan anak papih yang baik, rasanya enggak pantas kalau Arief dapat lebih banyak...!"
ucap Arief menunduk lalu bersandar pada kinara.
untuk kali ini rasa sakit akan kehilangan sang papih semakin terasa, apa lagi saat mengingat kalau hubungan keduanya tak pernah baik, Arief bahkan lebih memilih tinggal di apartemen karena jengah dengan Wisnu yang selalu mengatur hidupnya.
"bang......!"
ucap kinara mengusap punggung suaminya.
Kinara tahu apa yang Arief rasakan.
"tidak apa-apa Arief Jangan pikirkan sesuatu yang sudah lewat, Papih sangat menyayangi mu.... kamu harapan kami saat ini..!"
tutur Yuni ,ia pun menitikkan air mata nya mengingat sang suami yang sudah meninggal kan nya.
"kamu anak laki laki dan pantas mendapatkan nya... jadi lah pelindung kami!"
ucap Yuni lagi.
"ya Bang, yang sudah lewat jadikan pelajaran saja....!"
"Abang menyesal de karena sudah banyak membantah papih, perihal kamu saja Abang yang bikin Rumit sendiri.....!"
Kinara terdiam mendengar penuturan Arief.
"tidak apa-apa Arief, papih mu juga berpesan untuk mempertahankan perusahaan yang sudah menjadi warisan turun temurun dari keluarga papih mu...."
Arief mengangguk.
Siva sendiri tak banyak bicara, ia lebih memilih untuk kembali ke kamar, Yuni memperhatikan putri bungsu nya yang tampak pucat, beberapa kali Yuni juga mendengar Asiva mual dan muntah, saat Yuni bertanya siva Hanya mengatakan tidak enak badan.
Kinara menghampiri Arief yang berada di depan kolam renang, pengacara juga sudah pulang setelah selesai menyampaikan surat wasiat terakhir dari Wisnu.
"bang .... kamu ke kampus?"
ucap Kinara duduk di samping Arief.
"malas ke kampus de...!"
"kenapa malas, kamu kemarin kan udah absen beberapa hari bang....!"
kinara mengerutkan keningnya saat melihat Arief mendekatkan wajahnya.
"bang ..... nanti ada mami...!"
ucap kinara menahan tubuh Arief.
"de, kalau di kampus ada kamu, Abang pasti semangat...?!"
"HM...!"
Kinara menghela nafas.
"ingat bang perusahaan ada di tangan Abang, papih sudah pesan untuk melanjutkan nya perjuangan keluarga Abang, mungkin besok Kiki ke kantor...!"
"ya sayang.....ya sudah Abang ganti baju dulu!"
ucap Arief menarik tangan Kinara untuk Ikut dengan nya.
terlihat Yuni berada di ruang tamu bersama rita yang berencana untuk tinggal dirumah menemani Yuni Karena beliau juga sama seorang janda yang ditinggal meninggal oleh suami nya, ketiga anak nya sudah berkeluarga.
"kamu mau ke kampus?"
"ya Tante.....!"
ucap Arief Menoleh pada Siva yang duduk di halaman belakang memainkan ponselnya.
"titip Siva ya de....!"
ucap Arief saat ia mengganti pakaian.
namun Kinara tak mendengar dan fokus pada ponsel, kinara tengah berkirim pesan dengan sang Bunda.
"astaga.....!"
ucap kinara terkaget saat Arief memeluk nya dari belakang.
"kamu lagi ngapain sih?"ucap Arief menciumi leher Kinara.
"geli tahu bang.....!"
ucap kinara terkekeh.."Kiki lagi kirim pesan sama bunda....!"
ucap kinara membalikkan tubuhnya menghadap Arief.
"Kamu bikin Abang malas beranjak, kenapa sih mesti kuliah segala....!"
ucap Arief menciumi hidung istri nya itu.
"enggak boleh malas, chef....!"
"kalau Abang cuma jadi seorang chef, gimana de...!"
"HM..........!"
kinara tak menjawab ia malah Terkekeh lalu memeluk tubuh suaminya itu.
"kenapa malah terkekeh....?
kamu mau Abang seperti ayah kamu ya!"
"enggak juga... tapi kalau Abang enggak mau lanjut kuliah berarti penyesalan Abang yang sudah banyak membantah itu sia sia....
maaf bang.......!
siapa yang akan memegang perusahaan kalau Abang menyerah, Abang juga tahu bagaimana keadaan Siva....!"
ucap kinara senyum mengecup bibir Arief, membalikkan tubuhnya agar Arief kembali memeluk nya dari belakang.
"Terimakasih de...!"
ucap Arief mencium pipi kinara.
"ya sudah Ayo berangkat, semangat untuk keluarga ya!"
Arief tersenyum dan mengangguk.
"Abang berangkat ya... Titip Siva, setelah semua selesai Abang akan ke London untuk mencari laki-laki itu ...!"
"ya, nanti Kiki temani... Abang hati hati ya!"
ucap kinara mencium tangan Arief.
"ya sayang....!"
ucap Arief masuk ke dalam mobil.
beberapa waktu berlalu, Kinara hendak masuk ke dalam kamar dan melihat Rita tergesa menuruni anak tangga.
"Ada apa Tante....?"
"Siva......!"
Kinara Langsung meremang mendengar penuturan rita dengan wajah kekhawatiran nya.
"kenapa Tante.....!"
ucap kinara bergegas masuk ke dalam kamar.
"astagfirullah.....!"
ucap kinara melihat Siva dengan Mulut berbusa, yuni menangis sambil memegang tubuh Siva.
"cepat bawa ke rumah sakit....!"
ucap kinara saat tukang kebun datang dan mengangkat tubuh Siva.
"biar Kiki yang bawa mobil....!"
ucap kinara berlari kecil, ia bahkan tak sempat memberi tahu Arief.
"cepat pak....!
Ayo mi, Tante.....!"
ucap kinara menyalakan mobil.
"tenang Ki......!"
ucap kinara pada dirinya sendiri, ia sendiri panik melihat Siva dalam keadaan seperti itu.
tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit, untung lah jalanan cukup lengang membuat Kinara cepat membawa mobil.
"bang.......!"
ucap kinara memanggil Riko yang berjalan di koridor rumah sakit, kinara mendorong Siva bersama salah satu suster, Yuni sendiri Terus menangis dengan rita yang Terus merangkul bahu nya.
"kenapa Ki....!"
ucap Riko ikut mendorong ranjang itu..
"enggak tahu.......!"
ucap kinara dengan wajah cemas.
"kamu tunggu disini....!"
ucap Riko yang masuk di ikuti beberapa dokter.
kinara menghembuskan nafas melihat pintu IGD tertutup. Menoleh pada Yuni yang masih terisak.
"Ki......!"
panggil Arief yang baru datang, Kinara meminta pembantu rumah untuk memberi tahu Arief soal Siva.
"bagaimana keadaan Siva?"
"belum tahu bang, ada bang Riko di dalam....!"
ucap kinara lalu Yuni menghampiri pintu yang terbuka.
"bagaimana dokter....!"
"Alhamdulillah.. kandungan nya tidak apa-apa,ibu Siva mengkonsumsi obat terlalu banyak hal itu membuat nya oper dosis tapi janin nya cukup kuat.. jadi tidak ada masalah, kami juga sudah memberikan penanganan yang tepat untuk ibu Siva.....?"
"anak saya hamil....?"
ucap Yuni bertanya pada Riko yang tidak mengetahui bahwa Yuni tidak mengetahui hal itu.
"astagfirullah..... Asiva...!"
ucap Yuni terisak kemudian tak sadarkan diri.
"mi........!"
ucap Arief langsung menangkap tubuh Yuni yang langsung tumbang.
bersambung.
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍