Chef Iloveyou

Chef Iloveyou
fosesif.



mereka berempat akhirnya pergi Nonton bersama, sejak tadi Wildan Terus memperhatikan Kinara yang sesekali tertawa bersama Arief karena mereka tengah menonton film komedi romantis.


Anisa sendiri lebih banyak diam karena Wildan juga tidak mengajak nya bicara seperti biasa nya, Anisa tidak suka melihat Wildan terus memperhatikan Kinara, bukan kah hubungan mereka hanya sebatas saudara lalu kenapa justru Wildan seakan tak rela melihat Kinara bersama Arief.


"suka sama cowok romantis?"


tanya Arief disela obrolan mereka berdua.


"suka tapi itu cuma setingan, jarang yang seperti itu!"


ucap kinara Terkekeh.


"ada kok seperti itu, aku juga bisa seperti itu kalau kamu mau?"


Kinara malah tertawa kecil mendengar penuturan Arief yang baginya sangat lucu, masa sih Arief bisa seromantis seperti film yang sedang mereka tonton.


"malah ketawa....?"


ucap Arief mengacak kerudung segitiga milik kinara.


Wildan yang melihat nya merasa tak suka dengan hal itu, kenapa mereka berdua begitu dekat.


setelah selesai menonton Wildan menghampiri Kinara yang berjalan bersama Arief.


"Ki, pulang sama aku?"


ucap Wildan menghentikan langkah kedua nya.


"tapi Om?"


"aku lapor ayah mu, mau?"


ucap Wildan membuat kinara dan Arief tertegun.kinara tak mengerti mengapa Wildan bersikap seperti itu padahal ada Anisa di samping nya.


"ya udah, Tidak apa apa!


kamu pulang sama om kamu aja, aku juga mau ke restoran lagi...!"


ucap Arief senyum pada kekasih nya itu.


"ya, udah... kamu hati hati ya bang!"


"ya... kamu juga!"


ucap Arief hendak menyentuh pipi Kinara namun Wildan menarik tangan kinara, membuat gadis itu menganga.


"aku enggak suka ya kamu pegang pegang keponakan ku!"


ucap Wildan menatap tajam ke arah Arief.


"oke....!


ya udah, aku duluan ya!"


ucap Arief kemudian pergi dengan gemeretak gigi nya.


ia benar benar kesal dengan sikap Wildan yang terkesan fosesif sejak saat pertama mereka bertemu, apa mungkin Wildan menaruh hati pada gadis itu.


Kinara Berjalan lebih dulu di depan mereka berdua, rasanya tak ingin banyak bicara karena saat ini ada Anisa di antara mereka, Anisa juga tampak bingung dengan sikap Wildan terhadap Kinara.


Kinara membuka pintu mobil dan duduk di belakang, sementara kedua nya duduk di depan.


Tak ada yang bicara, hanya suara AC yang sedikit terdengar mendinginkan keadaan dalam mobil itu.


"aku antar kamu pulang dulu ya nis, Nanti Abang hubungi kamu!"


ucap Wildan melajukan mobilnya menuju rumah Anisa.


sementara Kinara lebih fokus memainkan ponselnya dan tak menghiraukan kedua nya.


*


"bang.. maaf ya!"


isi pesan Kinara pada Arief.


"tidak apa-apa de, seperti nya Om kamu itu cemburu melihat kita berdua.."


Jawab Arief yang sudah sampai di restoran.


"bukan Bang, dia memang seperti itu.... maaf ya.."


saat hendak membalas pesan dari kinara tiba tiba seseorang menelpon nya.


"halo..... Tasya.."


"Rief , Tolong aku... dirumah tidak ada siapa siapa rief, aku butuh bantuan kamu untuk pergi ke rumah sakit..."


ucap Tasya sambil terisak, hasil pemeriksaan kemarin menunjukkan bahwa kondisi nya semakin drop dan kanker nya sudah stadium lanjut.


"aku ke rumah sekarang!"


ucap Arief yang langsung pergi ke luar, ia bahkan lupa membalas pesan dari kinara.


**


Kinara memperhatikan ponsel nya yang tampak sepi, Arief tak membalas pesan dari nya.


"ki....."


ucap Wildan Menoleh ke belakang, saat ini hanya tinggal mereka berdua, Anisa sudah sampai di rumah nya.


"apa....!?"


ucap kinara tanpa menoleh pada Wildan.


"kamu marah?"


"Menurut Om? kenapa sih kamu bersikap seperti itu sama bang Arief, apa Om enggak mikirin perasaan Anisa..!?"


"aku enggak suka dia sentuh kamu...aku yakin kalau ayah mu tahu soal ini, dia pasti akan mempercepat perjodohan kamu dengan teman kakak...!"


Kinara membuang nafas mendengar hal itu, ia juga mendengar dari Yasmin sang bunda jika Weekend yang akan datang Wildan akan bertunangan dengan Anisa.


lalu kenapa justru Wildan bersikap seperti itu pada nya, harus nya Wildan lebih peka dan memikirkan perasaan Anisa.


"bukan nya kamu ada masalah sama pria itu, lantas kenapa justru dia mengaku calon suami kamu?"


"aku dan dia saling suka...aku tidak akan menerima perjodohan yang sudah ayah rencana kan.


ini hidup ku,dan aku berhak memilih teman hidup ku sendiri!"


ucap kinara tanpa menoleh pada Wildan.


"sekarang antar aku pulang, dan satu hal lagi Om, harus nya om Juga Lebih memikirkan Anisa yang sebentar lagi akan menjadi tunangan om, apa om tidak berpikir dengan om bersikap fosesif pada Kiki, tak membuat Anisa cemburu!"


ucap kinara kemudian memalingkan wajahnya menatap kaca jendela mobil.


Wildan terdiam mendengar penuturan Kinara yang seakan mengingat nya pada ucapan sang Ayah.


"Kiki itu keponakan kamu, Wil !


jadi ayah harap kamu bisa membatasi kedekatan kalian, entah itu perasaan atau yang lainnya karena terkadang hal itu terjadi tanpa kita sadari...!"


ucap Rama yang paham dengan keadaan putra bungsu nya itu.


"ayah akan segera mengurus pertunangan kamu dengan Anisa..!"


ucap nya lagi kemudian pergi meninggalkan Wildan yang sedang berenang sendirian, biasa'nya mereka akan berenang berempat bersama si kembar, namun akhir-akhir ini si kembar juga sibuk dengan ujian Nasional.


"maaf ya Ki, Om cuma enggak suka lihat cowok lain pegang pegang kamu, itu aja!"


ucap Wildan kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Kahfi.


Kinara hanya diam tak menjawab penuturan Wildan, untuk pertama kalinya mereka berada dalam kondisi seperti ini.


**


"Tasya...."


ucap Arief masuk ke dalam kamar sahabat nya itu.


"rief...."


ucap Tasya dengan darah yang berceceran di lantai,, sejak tadi ia tak berhenti mimisan.


"astaga...kamu kenapa!?"


ucap Arief yang kemudian mengangkat tubuh Tasya kemudian membawa nya menuju mobil karena Tasya langsung tak sadarkan diri.


"bi, tolong bantu saya!"


ucap Arief yang menyuruh pembantu untuk ikut dengan nya ke rumah sakit, kedua orang tua Tasya sedang ada keperluan mendesak di luar kota.tak tahu jika Tasya kembali mengalami keadaan seperti itu.


"Tasya sakit apa sih Bi...!?"


ucap Arief sambil fokus menyetir.


"bibi juga kurang tahu, tapi kondisi seperti ini sering terjadi den.."


ucap pembantu itu membuat Arief Menoleh pada perempuan yang kini tak sadarkan diri, wajah nya pucat pasi.


saat sampai di rumah Sakit bergegas Arief meminta bantuan para suster dan membawanya ke IGD.


"rief....!"


ucap Tasya memegang tangan Arief.


"ya, kamu sabar ya"


ucap Arief kemudian melepaskan tangan Tasya dan membiarkan nya masuk ke ruang pemeriksaan, terlihat Riko lah yang memeriksa keadaan Tasya.


beberapa menit kemudian Riko keluar bersama suster dan dokter yang lain nya.


"bagaimana keadaan Tasya?"


ucap Arief menghampiri Riko.


"keadaan semakin drop,kanker nya sudah stadium lanjut, banyak berdoa saja!


semoga ada keajaiban"


ucap Riko menepuk pundak Arief.


"kanker apa?"


ucap Arief yang tak mengetahui perihal itu.


"apa Tasya tidak pernah bercerita jika ia kena leukemia..?"


ucap Riko membuat Arief tertegun.


"yang bernama Arief?"


panggil suster dari dalam.


"ya,saya...!"


ucap Arief mendekati pintu.


"pasien ingin bertemu dengan anda!"


ucap Suster kemudian membuka pintu.


bersambung.