
Raizel masih terdiam ditempat, menatap siaga. Walau lama-kelamaan lengannya merasa kram karna Neil tak kunjung melepaskan gigitannya. Pria bersurai hitam bercampur coklat itu mendorong wajah Neil.
"Sudah cukup bodoh! Kepalaku mulai pusing!"
"Belum cukup, Aku masih haus,"
"Kau mau membunuhku ya?!"
Neil tak menjawab hingga suara yang familiar bagi mereka terdengar bergema disana.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Ezra...?" Raizel menoleh sesaat lalu kembali memandang Neil. "Tolong lakukan sesuatu, Dia tidak mau melepas gigitannya,"
Ezra yang melihat hal itu menatap marah, Dia bergegas mendekati Neil dan menarik kerah lehernya seketika menjauhkan wajah Neil dari lengan Raizel.
"Apa-apaan ini? Kau mengganggu makan siangku!" Gerutu Neil.
"Setidaknya lakukan di kamarmu bodoh! Bagaimana kalau anggota yang lain melihatnya termasuk anak baru itu? Kau pasti akan dihukum Tuan Justin," Ezra mencengkeram kerah leher Neil, Namun Neil hanya terkekeh seolah tidak ada perasaan bersalah dalam dirinya.
"Hei, Kenapa terlihat takut begitu. Semua anggota di asrama ini sudah tahu rahasia masing-masing satu sama lain.Jadi untuk apa mengkhawatirkan hal itu, Lagipula cepat atau lambat anggota ke-8 juga akan mengetahui semuanya," Neil tersenyum tipis, Melepaskan lengan Raizel.
"Hah~ ya sudahlah, Aku sudah tidak berselera lagi untuk makan. Dah," Dengan santai Neil melenggang pergi sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
Ezra menghembuskan napas gusar sedangkan Raizel mengusap-usap lengannya bekas gigitan Neil.
Pria bernetra hijau emerland itu melirik pada Raizel, Lalu merogoh saku bajunya. Menyodorkan perban strip yang dibawanya untuk berjaga-jaga. "Nih, Obati lukamu itu,"
"Hm...Makasih," Raizel menerimanya. Jarang-jarang Ezra perhatian pada anggota asrama yang lain kecuali Justin, Momen langka sih sebenarnya.
Usai menyerahkan perban, Tanpa berkata apapun Ezra berjalan pergi meninggalkan Raizel sendiri. Raizel hanya menatap kepergian Ezra dalam diam sebelum memasang perban itu ke bekas gigitan Neil. Dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju taman mawar.
****************
[Malam Harinya]
Justin mengutak-atik laptopnya sedangkan Ezra seperti biasa berdiri di belakang Justin, Menatap dalam diam. Selama Justin mengerjakan tugasnya hanya suara dentingan jarum jam yang bergema di ruangan itu. Hingga tak lama handphone si pria berbunyi menampilkan nama dari anggota ke-10. Buru-buru Justin menerima panggilan itu, Menunggu lawan bicaranya membuka suara.
Tut!
"Aku sudah di asrama,"
"Langsung ke ruanganku!"
"Tidak bisakah kau membiarkan ku makan dulu, Aku lapar...," Suara sedikit memelas terdengar di sebrang sana.
"Tidak terima penolakan! Aku sudah memberimu waktu untuk tidur lebih lama. Dalam 15 menit kau sudah harus berada disini!"
Tut!
Usai memberikan perintah Justin menutup panggilan, Dia kembali fokus pada layar laptopnya.
Ezra bergerak pelan menghampiri Justin. "Mau aku buatkan kopi tuan?" tawarnya.
"Boleh, Satu sendok gula saja sudah cukup,"
"Baiklah,"
Justin mendongak setelah mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar, Pria itu menatap dingin lalu menutup laptop nya. "Duduk!"
"Hah~ Apa sih. Aku sudah mendapat infonya, Masa kau bersikap begini," Anggota ke-10 mendesah lelah, dia mengacak-acak surai hitam bercampur silver miliknya. Pria itu duduk berhadapan dengan Justin, Hanya sebuah meja yang membatasi keduanya.
"Lalu kau ingin aku bersikap seperti apa? Tersenyum sambil bilang 'Wah sudah pulang ya? Ayo silakan duduk' begitu? Jangan harap!" Balas Justin dingin.
"Ck! Siapa yang berharap. Aku saja yang mendengarnya sudah jijik. Apalagi jika kau benar-benar melakukannya," Anggota ke-10 menatap malas, Ekspresinya agak berubah jijik.
"Lupakan saja yang tadi, Sekarang mana laporanmu?"
"Nih, Devian bilang ini daftar anggota yang bekerja sama dengan kelompok itu," Anggota ke-10 meletakkan sebuah dokumen di meja Justin sedangkan Justin mulai memeriksa dokumen itu satu persatu.
"Bagus, Kita bisa memakai info ini sebagai senjata jika mereka macam-macam," Justin tersenyum puas, Melihat beberapa foto anggota yang tersimpan disana. Setelah merasa cukup, Dia menyingkirkan dokumen itu kesamping dan menatap serius anggota ke-10.
"Livian, Sekarang kita bicara serius soal akar permasalahan dari semua ini,"
Livian, Anggota ke-10. Dia seketika menegakkan tubuhnya saat tatapan Justin berubah serius. Ekspresi ngantuknya tadi hilang entah kemana tergantikan eksprise heran.
"Aku sudah dengar semua dari anak itu dan surat ini," Justin meletakkan surat di tangannya. "Aku memang menyuruhmu mencari anggota ke-8 yang hilang, Tapi aku tidak pernah bilang padamu untuk menikahinya juga! Kalau begini caranya kau harus tanggung jawab karna sudah memberi kesepakatan itu pada keluarganya,"
"Oh, Jadi anggota ke-8 sudah disini ya," Livian menopang dagunya, Menatap malas. "Kau bilang ciri-ciri anggota black shadow itu punya tanda langka yang hanya bisa dilihat para anggota black shadow lain di bagian tubuhnya. Anak itu punya tanda dibagian lehernya, Ya sudah langsung aku buat kesepakatan dengan keluarganya. Gak ada yang salah kan, Dia juga sudah berada di asrama ini jadi aku gak salah dong!"
Justin memijit kening, Anggotanya yang satu ini pura-pura bodoh atau beneran bodoh? Justin tak habis pikir apa yang direncanakan Livian sebenarnya.
"Rencanaku keluar jalur," Pikir Justin pusing, Namun rasa pusingnya seketika mendadak hilang ketika Livian kembali membuka suara.
"Aku memang memberi kesepakatan dengan keluarganya, Tapi aku tidak benar-benar menikahi anak itu. Mudah saja menghipnotis manusia, Tinggal menghipnotis mereka maka mereka akan percaya," Livian menjentikkan jarinya, Dia bersidekap tampak tersenyum puas.
Netra orange Justin melebar sesaat, Terkejut mengetahui ternyata Livian tidak benar-benar menikahi Chloe. "Jadi kau hanya pura-pura dengan tambahan menghipnotis keluarganya?!"
"Benar sekali, Tinggal tambahkan cincin maka pernikahan itu seolah-olah terlihat nyata. Hanya Ayah dan Ibu nya yang menyaksikan pernikahan pura-pura kami, Lagian saat itu dia juga koma. Dan lagipula aku tidak suka manusia, Jadi untuk apa aku benar-benar menikahinya. Berurusan dengan manusia itu memuakkan," Livian berdecih sinis, Memalingkan pandangannya.
Justin speechless dengan jawaban Livian, Benar juga. Saat Justin bertemu Livian pertama kali pun. Pria itu bilang dia tidak suka manusia, Katanya manusia itu makhluk rendahan yang kerjanya hanya memetingkan keegoisan sendiri. Bahkan dia bilang hubungan antara dirinya dan keluarganya juga kacau gara-gara manusia. Hal itu yang menyebabkan Livian membenci manusia.
"Lantas kenapa kau menerima tawaranku saat itu kalau kau bilang manusia memuakkan?" Justin menatap dingin.
"Kau itu beda, Dan aku merasa saat itu tidak tercium aroma yang mengancam darimu. Terlebih aroma mu itu tertutupi aroma Aiden. Makanya aku langsung terima,"
"Pantas saja,"
"Dan setelah tinggal disini, Aku merasa yakin kalau disini lebih aman karna ada beberapa ras yang sama denganku sejenisnya lah,"
"Hah~ Ya sudah, Intinya urusanmu dengan anak itu bagaimana? Tanggung jawab karna kau bilang sudah menikahinya meski hanya pura-pura. Tapi dia sudah terlanjur percaya,"
"Bilang saja kalau kita cuma menikah pura-pura, Gak sah. Jadi statusnya masih single, Dan bilang kalau kesepakatan yang sebenarnya cuma biar dia bisa tinggal di asrama. Gampang kok," Sesaat Livian menguap kecil, Sudah merasa ngantuk karna obrolan mereka yang cukup panjang. "Lagipula sepertinya anak itu juga terlihat tidak ingin menikah muda,"
"Gak bisa, Kamu yang memulai maka kamu juga yang harus menjelaskannya," Tolak Justin menatap tajam.
Livian mendengus kesal. "Bisa gak nanti aja? Besok mungkin, Ini udah malem dan aku juga ngantuk,"
"Gak! Harus sekarang! Aku gak akan biarkan kau kabur lagi dan menunda-nunda waktu,"
Usai dengan perdebatan antara dirinya dan Livian. Justin menelpon Raizel dan meminta si pria untuk memanggilkan Chloe ke ruangannya. Selagi menunggu ke datangan sang gadis, Justin kembali mengerjakan tugasnya sedangkan Livian terpaksa menunggu sambil memainkan handphonenya.
TBC