
Yang Chloe sadari selanjutnya, Dia sudah berada di asrama. Ian mengetuk pintu dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya masih menopang tubuhnya. Pintu segera di buka oleh seseorang, Kebetulan yang membuka pintu adalah Felix. Tentu saja pria bersurai coklat itu lantas terkejut mendapati kedua temannya basah kuyub.
Tanpa mengucapkan apapun Felix langsung menyingkir membiarkan Ian masuk, Lantai menjadi basah karna mereka berdua basah. Neil dan Ezra yang juga berada disana (Karna sedang menonton TV) Ikut memandang heran karna kondisi Ian dan Chloe.
"Hei Ian, Chloe kenapa?" Tanya Neil.
"Jangan banyak tanya, Ambilkan saja payung dan bahan makanan yang tertinggal di luar," Balas Ian dingin, Mengacuhkan tatapan heran dari anggota lain. Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar Chloe.
Chloe pun juga tidak ambil pusing, Dia hanya ingin fokus berbaring di tempat tidurnya. Meski separuh logikanya berseru ia tidak bisa berbaring dalam keadaan basah kuyub.
Namun, Ian sudah membawa ke kamarnya, Chloe segera mendudukkan diri di lantai sambil menyandarkan tubuhnya ke sisi tempat tidur. Tak lama kemudian Ian muncul lagi dan membawa sebuah handuk.
"Kamu butuh obat?" Tanya Ian dengan tatapan datarnya seperti biasa. Chloe mengeringkan tubuhnya dengan asal, yang penting cukup kering. Meski pakaiannya sangat basah seperti baru dicuci.
"Obat penghilang rasa sakit, Tapi aku gak punya. Biasanya cuma dikasih air hangat sama mama dengan tambahan madu di dalamnya," Jelas Chloe. Tanpa berkata apapun Ian pergi lagi.
Chloe memanfaatkan kesempatan itu untuk merangkak ke lemari dan mengambil baju ganti. Susah payah dirinya mengganti pakaian dan akhirnya ia bernapas lega bisa membaringkan diri di tempat tidur. Tak lupa memakai pembalut sebelumnya.
Chloe meringkuk menahan sakit dalam hati dia terus berdoa agar sakitnya segera pergi. Meski sering mengalami hampir setiap bulan, Tetap saja Chloe kesakitan. Padahal ia tahan dengan suntik, Luka sobek, Jatuh, dan semacamnya. Tapi untuk yang satu ini mampu membuatnya bertekuk lutut.
**********
[Di sisi Ian]
Ian menuruni tangga ketika netra merahnya menangkap keberadaan Felix, Neil, dan Ezra yang masih berada di ruang tamu. Dia mendekati ketiga orang itu.
"Kalian punya obat penghilang rasa sakit?" Tanya nya tanpa intonasi.
"Dikamarku sih gak ada," Jawab Neil sambil menggeleng. Ezra hanya diam dan tidak ikut campur dalam obrolan itu.
"Aku juga, Coba tanya Aiden. Mungkin dia punya," Felix menyodorkan handuk kecil pada Ian. "Nih, Keringkan dulu. Nanti lantainya makin banyak yang basah,"
"Thanks," Ian menerimanya, Dia mengeringkan secara asal sebelum kembali berjalan pergi untuk mencari keberadaan Aiden.
Langkah kakinya membawanya menuju dapur, Disana ia melihat Aiden. Sedang memilah-milah bahan pangan yang Chloe beli, Banyak dari bahan-bahan itu tampaknya basah karna terkena air hujan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bahan-bahan ini semuanya basah," Aiden tampaknya menyadari kehadiran Ian. Lantas Ian mendekati pria bersurai ungu itu.
"Nanti saja kuceritakan, Yang terpenting apa kau punya obat penghilang rasa sakit?"
Aiden diam sejenak mencoba mengingat obat yang dimaksud Ian, Lalu dia menggeleng dengan ekspresi temboknya seperti biasa. "Aku tidak punya. Memangnya untuk apa?"
"Chloe, Dia sakit perut,"
"Hanya sakit perut biasa kan, Beberapa jam mungkin akan sembuh," Balas Aiden datar, Dia kembali memilah sayuran yang sedikit layu karna kebasahan. Lalu ia mencuci nya di wastafel.
Ian menghembuskan napas, Dia mendekati Aiden dan membisikkan sesuatu di kuping pria bersurai ungu itu. Seketika aktivitas Aiden terhenti setelah mendengar alasan Ian mencari obat penghilang rasa sakit.
Aiden meletakkan sayuran yang sudah di cucinya ke dalam kulkas, Lalu mengambil gelas dan botol madu disana. "Akan kubuatkan sebentar, Semoga saja ini memang ampuh mengurangi rasa sakitnya,"
"Hm...Sekalian makan malamnya, Dia belum makan tadi,"
Aiden hanya mengangguk sedangkan Ian mendudukkan diri di kursi, Selagi menunggu dia kembali mengeringkan badannya dengan selembar handuk pemberian Felix. Pakaiannya benar-benar basah, Sepertinya dia harus mandi lagi kali ini.
Tak lama Aiden selesai membuatkan minuman yang Ian minta, Dia lantas menyerahkan pada Ian. "Bawa ini dulu, Makanannya nyusul,"
"Hm...," Tanpa menunggu lama, Ian meranjak dari sana sambil membawa minuman itu menuju kamar Chloe.
******************
Sesampainya di kamar Chloe, Ian melihat gadis itu tampak meringkuk. Dia segera mendekatinya dan menyerahkan segelas air hangat yang sudah dicampur madu.
"Ini diminum,"
Chloe melihatnya belum berganti pakaian, Tapi sudah cukup kering dengan handuk yang menggantung di pundaknya.
Chloe menurut, Meraih gelas itu dan meminumnya hingga setengah. Rasa hangat seketika menyebar di lambungnya. Dia kembali berbaring setelah meletakkan gelas di nakas.
Ian kembali pergi dari kamarnya sementara Chloe terus meringkuk di tempat tidurnya.
Sekarang dia sudah berbaring di tempat tidur yang nyaman, Sudah kering juga, Dan tidak lupa meminum herbal yang diterapkan mama nya setiap dirinya merasa nyeri. Chloe merasa jauh lebih baik, Perutnya masih melilit seperti diperas tapi sekarang dia bisa berpikir jernih.
Tapi yang membuatnya bertanya-tanya adalah bagaimana Ian bisa tahu Chloe di gang itu? Hebat sekali bisa menemukan Chloe dalam sekejap.
Oh iya, Kalau dipikir-pikir Chloe baru ingat bagaimana cemasnya ekspresi Felix tadi saat melihat kondisi nya dan Ian yang basah kuyub. Rasanya tak enak juga sih, Bikin anggota lain khawatir tapi mau bagaimana lagi itulah yang Chloe alami.
Soal Ian, Dia memberi handuk dan air minum. Untuk Chloe yang beberapa hari ini mendapat perlakuan dingin dari Ian (Meski Chloe tahu sifat Ian memang begitu) Rasanya dia jadi agak senang.
Setidaknya Ian peduli padanya, Cukup peduli dan mau mengurusnya yang sedang sakit.
Cklek!
Aiden mendekatinya lalu menyodorkan makanan itu, Semangkuk sup miso. "Makanlah, Kau belum makan tadi,"
Chloe bangun, Mengambil posisi duduk dan menerima mangkuk tersebut.
"Kamu butuh sesuatu lagi?" Tanya Ian. Chloe menggeleng, Ini sudah cukup nyaman buatnya, Lagipula rasa sakitnya mulai berkurang.
"Makan lah yang banyak setelah ini istirahat," Kata Aiden, Chloe mengangguk patuh.
"Kak Ian, Kak Aiden. Terima kasih ya...," Chloe tersenyum lembut.
Ian mendengus kecil. "Lain kali hati-hati, Bikin susah saja,"
Khas Ian, Namun Chloe tidak peduli. Dia tidak perlu mendengarkan perkataan ketus Ian. Karna Perbuatannya 'bicara' lebih banyak. Begitu juga dengan Aiden, Chloe cukup senang karna Aiden juga peduli padanya. Meski selalu tanpa ekspresi, Namun perbuatannya juga 'bicara' lebih banyak.
Aiden terdiam sejenak lalu menepuk pelan surai milik Chloe. "Berhati-hatilah lain kali, Disaat kau begini. Aroma mu tercium lebih harum,"
Chloe mengangkat sebelah alisnya heran, Namun Aiden tidak menjelaskan maksud perkataannya. Pria itu langsung pergi begitu pun Ian.
Chloe sedikit kecewa karna Aiden dan Ian pergi, sejujurnya ia minta ditemani oleh salah satu dari mereka berdua. Tapi ia sadar kalau itu adalah keinginan bodoh, Dasar hormon labil!
Dia memakan sup nya, Walau sedikit tak berselera tapi ini membuat tubuhnya hangat.
Tanpa diduga-duga Ian kembali dengan sebuah light novel di tangannya. Dia duduk di sisi kasur dan mulai membaca kalimat demi kalimat di novel itu.
Awalnya Chloe bingung, Sebenarnya ia ingin bertanya, Untuk apa Ian ada disini, Tapi ia mengurungkan niatnya. Chloe rasa jika dirinya banyak bertanya Ian akan pergi. Lagipula seperti yang ia bilang tadi, Perbuatan Ian 'bicara' lebih banyak.
Jelas Ian sedang menemani Chloe.
Chloe tersenyum kecil, Dia mempercepat kunyahannya dan menghabiskan sup itu. Menit demi menit berlalu, Chloe fokus berusaha menahan sakitnya. Setelah menghabiskan makanan dia menghabiskan minumannya setelah itu meletakkan di nakas.
Akhirnya, Penderitaan berakhir saat sakit perut Chloe berlahan menghilang, Ia masih agak pusing tapi setidaknya tidak kesakitan lagi.
"Kak Ian...Aku sudah sembuh, Enggak apa-apa..,"
Ian mengalihkan pandangannya dari novel dan menatap tajam Chloe.
"Hm,"
"Makasih ya,"
"Sekali aja cukup,"
Chloe menahan senyum mendengarnya.
"Kalau sudah sembuh, Kamu mandi dulu sana. Nanti masuk angin," Tambah Ian.
Chloe mengangguk patuh, Dia meranjak namun baru saja ingin berdiri Chloe hampir oleng karna masih pusing. Sebelum jatuh, Ian sudah menangkap tubuhnya.
"Lupakan yang tadi, Mending kamu langsung tidur aja," Ian mengernyit, Merasa kalau Chloe belum baik-baik saja.
Chloe tersenyum tipis, Dia mengangguk kecil. Si gadis dibantu berbaring ke tempat tidur dan Ian menarik selimut untuk menyelimutinya.
"Tidur!"
Chloe masih tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Sebelum mengucapkan sesuatu, Ian lebih dulu menyelanya.
"Udah kubilang 'Terima kasih nya' sekali aja,"
Chloe tertawa pelan, Membuat Ian memalingkan pandangannya. Sejujurnya pria itu merasa sedikit terpana ketika melihat senyum Chloe.
"Aku senang..," gumam Chloe. Membuat Ian menatapnya. "Ternyata kak Ian gak benci aku,"
Ian mendengus kecil. "Aku dari dulu memang enggak pandai berhadapan dengan orang lain," Itu adalah sebuah jawaban. Chloe sudah tahu kalau Ian susah bersosialisasi bahkan sejak pertama kali bertemu. Tapi itu adalah sebuah pengakuan.
Chloe mengangguk paham. Dan Ian menatapnya tajam.
"Lain kali, Jangan bikin yang lain khawatir lagi,"
Entah kenapa terdengar di telinga Chloe 'Jangan bikin aku khawatir juga'.
Dan Ian keluar dari kamarnya, Chloe masih tersenyum sesaat. Ternyata di hari pertama ia datang bulan menjadi hari yang agak spesial. Rasanya ia mulai bisa berteman dengan Ian sekarang. Dan Chloe terlelap dengan mudah.
Oh tunggu! Sepertinya ada yang terlupakan. Oh iya belanjaannya! Chloe mendengus. Ya sudahlah, biarkan saja.
...Arc Ian Salvatore Complite...
TBC