
[Disisi lain]
Gemerlap bintang menghiasi langit malam, Hawa dingin berhembus pelan menusuk kulit, Di tengah kesunyian malam hanya terdengar suara hewan-hewan malam yang saling bersahutan.
Di sebuah gazebo terdapat sosok pria bersurai silver yang tengah bersantai sambil menutup mata, Menikmati alunan melody dari earphone yang dipakainya. Sepasang mata tajam itu terbuka memperlihatkan netra nya yang berwarna hijau muda.
Sejenak tatapannya terpaku pada halaman asrama yang begitu sunyi, Setelah kepulangan keluarga Watson beberapa jam yang lalu. Kini asrama kembali sunyi seperti biasa.
Rion menghembuskan napas pelan, Dia meranjak dan berjalan santai memasuki dalam asrama. Tak lupa melepas earphone yang dipakai sebelumnya.
*****************
Ketika dia melewati sebuah ruangan, Rion mendengar suara alunan melody dari dalam sana. Dengan rasa penasaran, Dia membuka pintu perlahan dan mengintip dari luar.
Cklek!
Dengan hati-hati Rion melangkah masuk tak lupa menutup pintunya kembali, Hal pertama kali yang dilihatnya adalah punggung tegap seorang pria bersurai hitam yang sedang memainkan piano disana.
Suara itu mengeluarkan melody indah hingga Rion terdiam sesaat, Ikut mendengarkan alunan musik itu. Sampai akhirnya musik itu berhenti, Rion masih tetap disana.
Menunggu si pemilik ruangan untuk menyadari kehadirannya.
Maniknya memperhatikan pergerakan dari si pria hingga tatapan keduanya bertemu. Sorot datar dengan tatapan tajam, Netra hijau emerland itu menatap penuh intimidasi sesaat. Sebelum membuka suara.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harusnya berjaga di luar?" Ezra berbalik menghadap Rion tanpa meranjak dari tempat duduknya. Tatapan itu masih tajam tanpa melepaskan pandangannya dari Rion.
Rion menggeleng sejenak, Dia mendekati Ezra lalu menunjuk piano yang barusan di mainkan oleh Ezra. Seolah mempertanyakan mengapa pria itu memainkan piano di tengah malam.
Pandangan Ezra mengikuti arah telunjuk Rion. "Aku hanya ingin memainkannya saja, Lagian ruangan ini kedap suara. Akhir-akhir ini banyak hal yang membuatku depresi, Jadi aku butuh sesuatu untuk menenangkan diri,"
"Aku sudah menjawab rasa penasaranmu, Sekarang jawab pertanyaanku yang barusan!" Pandangan Ezra kembali beralih ke Rion.
Rion mengambil handphonenya, Mengetik sesuatu disana lalu menunjukkan pada Ezra.
["Sebenarnya tadi aku ingin berkeliling asrama untuk memantau situasi, Tapi karna kebetulan aku melewati ruangan ini dan mendengar suara piano. Jadi aku masuk saja kesini"]
["Btw, Permainan piano mu terdengar bagus. Tidak kusangka kau pandai bermain musik"]
Ezra menatap datar kalimat yang tertera di handphone Rion. "Kedengarannya seperti bukan pujian,"
Rion hanya tersenyum sebelum mengetik kalimat lain disana.
["Seperti biasa, Kau selalu tidak senang ketika dipuji orang lain selain Justin"].
"Tidak perlu sok tahu!" Ezra memalingkan pandangannya, Ia meranjak dari duduknya.
Rion menepuk pundak Ezra, Mengembalikan pendangan pria dihadapannya. Dia kembali menunjukkan layar handphone pada Ezra.
["Ngomong-ngomong, Apa menurutmu keberadaan Chloe sangat menggangu disini? Aku beberapa kali melihatmu memarahinya sebelum dia pergi dari asrama"]
Kening Ezra mengernyit setelah membaca kalimat Rion, Dia bersidekap sinis. "Huh! Untuk apa membahas si tengil itu?! Kau tidak lihat bagaimana tingkahnya selama diasrama? Jelas-jelas dia sangat mengganggu disini. Rea saja juga tidak suka dengan dia!"
["Iya sih, Aku bukannya bermaksud membela dia tapi kurasa dia tidak terlalu buruk. Maksudku dia agak berguna disini, Contohnya saat Aiden sibuk dengan urusan dapur, dia terkadang ikut membantu"].
"Kalau cuma itu anggota lain juga bisa," Ezra kembali memalingkan pandangan. "Ras seperti kita tidak bisa tinggal satu atap dengan manusia, Keberadaan mereka hanya akan menjadi ancaman bagi kita,"
["Tapi kalau cuma satu manusia harusnya tidak masalah kan?"].
"Tetap saja tidak bisa, Aku sudah pastikan setelah dia keluar dari asrama ini. Dia tidak akan membocorkan identitas kita,"
["Apa yang kau lakukan padanya hingga kau begitu yakin kalau dia tidak akan membocorkan keberadaan kita?"]
Rion diam sejenak, Dia menghela napas beberapa saat. "Kalau diancam bukankah hanya akan membuatnya semakin takut ya?" pikirnya.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, Aku pergi,"
Ezra berbalik berniat keluar dari ruangan itu namun Rion yang sadar langsung mencegatnya, Menghadang jalan si pria.
"Apa lagi?" Ezra menatap jengah, Menunggu pertanyaan dari Rion.
["Tidak bisakah kita beri 1 kesempatan lagi untuk Chloe?"]
Rion paham betul kalau persetujuan Justin terkadang mengikuti persetujuan para anggota, Jadi jika ada anggota yang lain tidak setuju makan dia ikut tidak setuju. Makanya Rion meminta izin dulu pada anggota lain sebelum membahas perihal ini pada Justin, Apakah bisa memberi kesempatan 1 kali lagi pada Chloe atau tidak.
"Tidak, Dan tidak akan pernah!" Jawab Ezra tegas tanpa ekspresi, Memberitahu kalau keputusannya sudah bulat tanpa bisa diubah.
Wajah Rion berubah murung, Namun Ezra tidak memperdulikan hal itu. Dia berjalan pergi melewati Rion, Keluar dari ruangan itu.
Sementara Rion yang ditinggal hanya mendesah lelah, Satu-satunya anggota di asrama ini yang paling sulit di bujuk hanyalah Ezra dan Rea. Dua pria yang sama-sama memiliki sifat emosian serta pemarah, Jika membujuk anggota yang lain mungkin masih bisa mempertimbangkan namun untuk kedua anggota yang disebutkan tadi. Rion rasa hal itu mustahil terjadi, Sekali Ezra dan Rea mengatakan tidak, Maka mereka tetap akan berkata tidak.
"Mereka bahkan lebih susah ketimbang membujuk Devian," Pikir Rion kembali menghela napas.
Dirinya lantas memutuskan pergi dari sana, Kembali melanjutkan patroli yang sempat tertunda.
*************
Sepanjang jalan Ezra terus menggerutu, Bagaimana mungkin Rion memintanya untuk memberikan 1 kesempatan lagi untuk si tengil itu?! Melihat wajahnya setiap hari saja sudah membuat Ezra muak, Apalagi dia dari ras manusia. Mana mungkin Ezra akan menarik kembali keputusannya, Yang benar saja. Sebagai laki-laki dia tidak akan pernah menarik kembali apa yang dia ucapkan!
Bagaimana pun cara Rion untuk membujuknya, Dia tidak akan pernah berubah pikiran untuk memberikan 1 kesempatan lagi pada si tengil itu!
"Memangnya dia siapa?! Tanpa si tengil itu di asrama ini juga akan baik-baik saja. Memangnya siapa yang butuh gadis lemah seperti itu?!" Gerutu Ezra sembari mengernyitkan alisnya.
Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu ruangan Justin usai puas menggerutu, Dia mengetuk pintu memastikan orang yang dia cari berada di dalam.
"Masuk!"
Mendengar jawaban dari dalam sana, Ezra membuka pintu lalu memasuki ruangan Justin. Dia menutup pintunya kembali setelah menjejakkan kaki disana.
Ezra menatap lekat Justin yang sedang fokus mengerjakan dokumennya, Dirinya tertegun sejenak dengan netra yang sedikit berbinar memuja melihat penampilan Justin saat ini.
"Ah, Bahkan disaat Justin sedang serius. Dia malah terlihat sangat keren, benar-benar sosok idaman," Pikir Ezra masih dengan tatapan memuja nya.
"Ada apa?" Justin mengalihkan pandangannya pada Ezra usai menyelesaikan satu dokumen.
Ezra tersadar lalu menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Aku kesini hanya untuk memeriksa kondisi mu. Hari ini tampaknya banyak yang akan kau kerjakan,"
Dia mendekati Justin sambil melirik tumpukan dokumen yang berada di meja si pria bernetra orange itu.
Justin mengikuti arah lirikan Ezra lalu tersenyum kecut. "Ya begitulah, 2 hari ini pemasukan perusahaan kita meningkat drastis. Jadi aku harus memeriksa laporannya,"
"Akan kubantu menyelesaikannya, Tapi sebelum itu apa kau ingin makan sesuatu sambil mengerjakannya?" Tawar Ezra dengan senyum tipis.
"Aku jadi ingin makan makanan favoritku. Sudah lama aku tidak mencicipinya,"
"Baiklah, Tunggu sebentar akan kubuatkan,"
Ezra sudah bertahun-tahun mengabdi pada Justin, Jadi dia sangat tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh tuannya itu. Tanpa berlama-lama dia bergegas pergi menuju dapur untuk membuatkan makanan kesukaan Justin.
TBC