Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Arc Livian Gevariel (4)



Wajah Livian semakin dekat, Bagi si gadis ini adalah hal yang sangat tidak nyaman menurutnya. Sontak Chloe langsung menepuk kedua pipi Livian agar menyadarkan pria itu.


Plak!


"Pak Livian, Sadar pak! Ini bukan seperti pak Livian yang aku kenal!" Kata Chloe tegas.


Livian terdiam, Tak lama pria itu tersentak dan refleks menjauhkan wajah nya dari Chloe. Dari ekspresi si pria yang tampak linglung, Chloe menebak kalau Livian tidak sadar hampir melakukannya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Livian bingung, Dia mengacak surainya penuh tanda tanya. "Kenapa aku disini?"


Chloe menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada pria itu, Dimulai saat dirinya bangun dan tidak menemukan keberadaan Livian di kasur sampai berada di dalam hutan. Livian yang mendengar penjelasan Chloe, Memijit keningnya.


"Seharusnya aku sudah bisa menduga ini," Ucapnya sembari menghela napas. "Memang setiap bulan purnama, Sisi werewolf ku akan mengambil alih kendali tubuhku. Hal itu terjadi setiap tahun,"


Livian buru-buru mengalihkan topik. "Tapi kau tidak apa-apa kan? Aku tidak sampai melakukan hal buruk padamu kan?"


"Enggak sih pak, Aku baik-baik aja. Cuma...," Chloe mengusap lengannya, Jujur saja awalnya dia takut dengan wujud Livian saat mode werewolf tapi setelah memeluk pria itu dan merasakan bulu-bulu lembutnya, Rasanya Chloe ingin memeluk lagi, Seperti memeluk boneka.


"Boleh aku lihat wujud pak Livian saat mode werewolf? Soalnya aku masih ingin memeluk bapak dalam mode itu," Chloe nyengir yang membuat Livian menatap nya aneh.


"Kau...Tidak takut padaku?" Tanya nya ragu, Mengingat raut wajah Chloe yang awalnya terlihat takut saat ia mendekatinya tadi.


Chloe menggeleng pelan. "Tadinya aku memang takut tapi setelah memeluk bapak dalam mode werewolf, Aku jadi ingin memeluk bapak lagi. Soalnya suhu tubuh bapak hangat sih terus imut juga kalau dalam mode itu," Chloe tersenyum ceria.


"Imut...?" Pipi Livian merona tipis mendengar Chloe mengatakan ia imut, Dia tak habis pikir mengapa Chloe bilang begitu padanya, Namun tanpa mengatakan sepatah kata pun Livian menuruti keinginan Chloe.


Dia kembali berubah ke dalam mode werewolf, Kali ini dia sadar secara jelas memegang kendali. Livian mendekati Chloe, Tentu saja si gadis sontak memeluknya sambil mengusap-usap pipinya.


"Tuh kan, Apa kubilang. Pak Livian imut kalau mode begini," Seru Chloe masih asyik mengusel-uselkan pipinya ke pipi Livian. Si gadis tampak senang, Sesekali tangannya mengusap bulu-bulu si werewolf. Livian yang dalam mode werewolf hanya bisa pasrah.


Dia memilih merapatkan tubuhnya pada si gadis, Menenggelamkan wajahya dan sesekali menjilat leher Chloe. Benar, Gadis ini tidak seburuk yang ia kira. Manusia yang pada dasar nya ia benci kini dia sedikit merubah sudut pandangnya, Mungkin tidak semua manusia jahat. Ada juga yang baik, Contoh nya gadis ini. Chloe watson, Istri sekaligus pendampingnya.


Sepertinya Livian mulai mengerti, Dia telah menemukan sosok teman yang dia inginkan. Sosok teman yang bisa mengerti perasaannya, Karna dirinya sudah menemukan sosok teman yang dia cari, Livian tidak akan melepaskannya dengan mudah. Tentu saja tidak, Setelah perhatian gadis itu yang mampu meluluhkan ego nya dan sudut pandangnya terhadap manusia.


Livian merubah kembali wujudnya semula, Menjadi manusia. Dia merasakan kepala Chloe yang bersandar pada pundaknya, Mata gadis itu terpejam dan terdengar suara dengkuran halus dari si gadis. Sepertinya Chloe sudah sangat lelah makanya tertidur begitu saja di pundak Livian.


Livian memandangi wajah cantik itu beberapa saat, Di bawah sinar rembulan. Wajah Chloe tampak lebih bersinar dari sebelumnya, Livian cukup terpukau. Dia tersenyum tipis memandangi wajah Chloe, Si pria mengecup pelan kening si gadis.


"Good night," Bisiknya sebelum menggendong Chloe ala bridal style dan melesat begitu saja di tengah kegelapan hutan.


******************


[Keesokan harinya]


Cip! Cip! Cip!


Chloe membuka mata, Hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan seorang pria yang tampak tertidur pulas, Sinar mentari terlihat sedikit menyinari wajah si pria, Namun tampaknya pria itu tak terganggu sama sekali.



Chloe diam mencoba mencerna situasi yang sedang dihadapinya ini. Seingatnya kemarin malam dia masih berada di luar mansion tapi kini dia malah sudah berada di tempat tidur bersama Livian.


Jujur saja kejadian itu masih seperti mimpi baginya, Tapi sekarang Chloe sudah benar-benar percaya. Si gadis tanpa sadar tersenyum lembut, Dia menempelkan telapak tangannya ke pipi Livian. Setidaknya semua sudah berakhir, Chloe selamat dan tidak jadi santapan serigala lain karna Livian menyelamatkannya.


Sesaat Chloe melamun memikirkan para anggota yang berada di asrama, Tak lama dirinya merasakan pergerakan dari Livian. Pria itu tampak melenguh sebelum membuka mata, Memperlihatkan netra hijau lime miliknya.


Chloe bisa melihat dengan jelas senyum tipis dari Livian. "Selamat pagi, Chloe,"


"Oh, Pagi pak. Maaf menyentuh pipi mu tanpa izin," Chloe sedikit gelagapan, Dia lantas menarik tangannya dengan senyum gugup. Namun Livian menarik tangannya kembali, Dan malah makin merapatkan tubuhnya dengan Chloe.


"Gak apa-apa, Lagian aku juga masih ingin bersama mu lebih lama," Livian mencium aroma rambut Chloe, Wangi mawar. Rasanya menjadi candu baginya.


Deg!


Wajah Chloe sedikit merona, Ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan Livian. Rasanya canggung sekaligus nyaman, Chloe bisa mencium dengan jelas aroma khas dari pakaian Livian. Aroma pohon pinus, Sungguh membuatnya tenang.


Tapi netra merah Chloe tak sengaja tertuju pada jam dinding disudut ruangan, Jam itu menunjukkan pukul 8 pagi. ia seketika menggeliat kecil berusaha melepaskan pelukan Livian. Meski wajahnya hampir tenggelam di dada sang pria.


"Pak, Ini sudah pukul 8 lho. Nanti keluarga bapak nunggu kita,"


Bukannya lepas, Livian semakin mengeratkan pelukannya. Ia mendengus kecil. "Biarin aja, Pak tua itu kan yang nyuruh kita. Jadi biar saja mereka menunggu lama, Jadi mereka akan berpikir kita sudah melakukannya,"


Chloe mendongak menatap netra hijau itu, Dengan raut bingung di wajahnya. "Melakukan apa?"


Livian hanya tersenyum tipis, Dia menempelkan keningnya ke kening Chloe. Seketika mempertemukan netra keduanya.


"Menurutmu? Apa perlu kuperjelas lagi? Kalau ku contoh kan nanti aku tidak bisa berhenti lho,"


"Sebenarnya aku tidak paham apa yang bapak maksud,"


Si pria berdecak kesal. "Gak usah tau, Kau masih kecil jadi gak bakalan paham. Nanti kalau umur mu sudah 25 atau 26 tahun, Kau pasti akan mengerti,"


Chloe diam tanpa berkata-kata, Dirinya hanya bisa mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Sekaligus cemberut karna dibilang masih kecil. Livian lantas menjauhkan tubuh dan bangun dari rebahannya.


"Aku mandi duluan, Kamu siapin aja dulu yang mau di bawa pulang. Kita kembali ke asrama hari ini," Kata Livian sambil meranjak dan mengambil selembar handuk sebelum menuju kamar mandi.


"Siap pak!"


TBC