Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Semuanya akan baik-baik saja



Plak!


"Ukh...," Chloe sedikit meringis ketika merasakan pipi nya berdenyut sakit, Kesadaran kembali.


Livian bersimpuh disamping Chloe, Mengguncang pundak gadis itu sambil sesekali menepuk-nepuk pipi sang gadis. Sementara Ian bertarung dengan Liam.


"Tetap sadar! Jangan sampai kau tidur," Ucap Livian berusaha mengajak Chloe bicara agar gadis itu tidak memejamkan mata. Dia tahu Chloe saat ini sedang sekarat, Tapi dia tidak bisa membiarkan gadis itu tidur karna bisa saja nyawa nya tidak selamat.


"Pak Livian...Aku mengantuk...," Kata Chloe lirih, Menatap wajah Livian yang terlihat serius meski raut cemas sedikit terlihat dari wajah sang pria.


"Jaga kesadaranmu!" Livian menggendong Chloe ala bridel style, Membawa si gadis keluar ruangan.


Dia membaringkan tubuh Chloe di sofa, Mengambil perban dari jaketnya. Livian berusaha mengobati luka-luka Chloe meski tidak sepenuhnya terobati.


Usai mengobati Chloe, Dia menelpon Rea untuk mengirimkan ambulan ke rumah si gadis.


BRAK!


Livian memutuskan panggilannya dengan Rea ketika melihat tubuh Ian yang terlempar ke dinding. Tapi Ian segera bangkit dan kembali melawan Liam. Livian ingin membantu Ian tapi dirinya tidak bisa meninggalkan Chloe yang dalam keadaan sekarat, Apalagi kesadaran gadis itu beberapa kali hampir 'goyah'.


Prang!


Ian menggunakan tendangannya untuk menghalau serangan Liam, Dan tanpa sengaja menjatuhkan vas yang ada disana.


Crraas!


Buak!


Liam terhempas jauh saat mendapat pukulan dari Ian, Disaat yang bersamaan tubuhnya tertancap pecahan vas. Dengan tubuh yang penuh luka, Liam langsung menghilang menyisakan kelopak-kelopak bunga lily yang dia tinggalkan.


"Dia kabur...," Gumam Ian, Menatap kosong kelopak bunga lily yang ditinggalkan Liam. "Uhuk...!"


Dia menutup mulutnya saat sempat terbatuk, Ketika melihat telapak tangannya. Terdapat noda darah disana, Ian menghela napas. Serangan Liam cukup fatal hingga membuatnya batuk darah begini.


Ian mengabaikan tubuhnya yang penuh luka lecet dan berjalan pergi menghampiri Brian, Elina, dan Alvin. Dia mengecek suhu dan denyut nadi 3 orang itu, Setelah memastikan kalau ke-3 nya masih bernapas walau pingsan.


Ian berjalan menghampiri Livian yang masih menjaga Chloe, Tampak berusaha membuat sang gadis agar tidak tidur.


Livian yang menyadari kehadiran Ian lantas menoleh. "Bagaimana?"


"Dia kabur, Aku belum sempat menghajarnya lagi," Ian bersidekap sambil mendudukkan dirinya di sofa lain.


Livian memperhatikan penampilan Ian yang penuh luka lecet. "Setidaknya obati dulu luka mu itu, Penuh begitu. Dan aku juga sudah panggil ambulan,"


"Hm...Hanya luka kecil, Tidak masalah bagiku,"


Ian melirik Chloe yang terbaring di sofa, Pandangan gadis itu tampak kosong menatap langit-lagit ruangan. Dia meranjak dan menghampiri si gadis, Ian berjongkok menyamakan tinggi dengan sofa.


"Jangan tidur, Belum waktunya kau 'pergi'," Kata Ian dingin sambil mencubit pipi Chloe, Menjaga kesadaran sang gadis tetap terjaga.


Chloe menghembuskan napas lemah, Pandangannya tampak sayu. "Apa aku gagal? Begaimana dengan keluargaku?"


"Tidak perlu khawatir, Mereka masih bernapas hanya saja mereka mengalami luka yang cukup parah. Ambulan sebentar lagi datang, Bersabar lah," Kata Ian mengusap surai milik Chloe perlahan.


Chloe menyunggingkan senyum tipis. "Makasih pak Livian, Kak Ian. Kalian berdua datang tepat waktu, Aku sungguh berterima kasih soal itu,"


Ian yang juga melihat nya langsung berdiri. "Livian, Sambut mereka. Aku akan ke ruangan itu untuk membersihkan sisa darahnya agar mereka tidak curiga,"


"Baiklah,"


Ian segera menuju ruangan di mana orang tua Chloe berada, Sementara Livian langsung ke luar rumah untuk menyambut para petugas ambulan.


*******************


Chloe Pov


Gelap, Sunyi, dan senyap. Aku bisa merasakan tubuhku ringan seperti bulu, Hanya saja aku tidak bisa melihat apa pun disini.


Sejenak aku merenung dalam diam, Memikirkan nasib keluargaku. Bagaimana keadaan orang tua ku ya, Apa mereka selamat dan baik-baik saja?


Aku merasa sedih karna tidak bisa menolong mereka tepat waktu, Akibatnya mereka terluka parah dan aku sendiri juga tidak berguna. Tidak bisa membantu bahkan sekedar mengobati.


Aku selalu saja dilindungi anggota lain, Hanya bisa berdiri di belakang mereka dan meminta bantuan. Aku bahkan tidak bisa membantu kak Ian dan pak Livian, Aku sama sekali tidak berguna.


Aku memeluk lutut ku erat meratapi kondisi ku, Bisakah aku memiliki kekuatan juga seperti anggota asrama yang lain? Aku juga ingin berjuang bersama mereka, Tidak ingin merepotkan mereka lagi.


"Aku...Hanya pembuat masalah ya...," Kata ku sedih, Ku peluk lutut ku semakin erat.


Kurasakan tanda berbentuk diamond di leher ku tiba-tiba memanas, Tanda itu seolah mengeluarkan cahaya keunguan.


Tak lama cahaya menyilaukan muncul di depanku, Membuatku terpaksa menutup mata demi menghindari cahaya silau itu.


Setelah cahaya itu meredup, Barulah ku buka mataku dan melihat sosok pria bertubuh tinggi kini berdiri tepat di depanku dengan jarak 2 meter.


Pria itu tersenyum tipis, Rambut hitamnya tampak berkilau dengan netra orange yang bersinar di antara kegelapan. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya ke arahku.


"Tekad dalam hatimu yang membawaku kesini, Meski jarak kita sangat jauh. Tapi aku bisa menemui mu lewat mimpi dan pikiran. Chloe, Aku tahu kalau kau tidak akan membiarkan dirimu lemah seperti dulu," Kata nya sambil menyentuh pipi ku dengan tangan kanannya.


Suhu tubuhnya yang dingin membuat ku sedikit kedinginan, Namun aku menepis rasa itu. Aku sadar siapa yang saat ini berdiri di depanku, Dia adalah Justin Garfield. Tanpa pikir panjang aku memeluknya erat.


Grep!


"Pak, Apa aku ini sebenarnya tidak berguna? Apa aku hanya merepotkan kalian? Aku...Aku juga ingin melindungi asrama, Aku ingin melindungi keluargaku!" Tangis ku pecah, Aku mengungkap kan kekesalan sekaligus keinginan ku padanya.


Kurasakan Justin memelukku balik, Suara nya terdengar sangat jelas di samping kupingku.


"Tidak, Kau sudah cukup membantu. Meski kau manusia kau sama sekali tidak merepotkan kami. Aku menghargai keinginan mu untuk melindungi asrama, Karna aku merasa kekuatan itu bangkit dari dalam dirimu sendiri. Keinginan itu yang mendorong kekuatanmu untuk bangkit,"


Dia melepas pelukannya dan menatap wajahku yang kacau karna air mata, Aku hanya bisa sesegukan menatapnya. Kulihat dia tersenyum lembut.


"Aku akan sedikit membantumu untuk membangkitkan kekuatan itu, Sekarang kau bukan lagi manusia biasa yang bisa dipandang rendah oleh orang lain," Dia menangkup wajahku dengan telapak tangannya.


"Chloe, Kau gadis terkuat yang pernah kukenal," Justin mempertemukan keningnya dengan keningku, Senyum lembut tak lepas dari bibirnya. "Kau istri kami dan akan selamanya tetap begitu. Ingatlah apa yang pernah kita lalui bersama sejak dulu,"


Aku tertegun mendengar ucapannya, Aku sama sekali tidak bisa memikirkan apapun seolah pikiranku mendadak kosong. Kulihat dia mengulurkan tangannya menyentuh tanda di leherku, Dan rasa panas kembali muncul sebelum cahaya menyilaukan menyinari kami berdua.


Chloe Pov End


TBC