Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Ketakutan Chloe



Kini Chloe sudah berada di depan asrama, Keluar dari mobil yang dikendarai oleh Herry. Herry pun ikut keluar dari mobil.


Blam!


Chloe berbalik menghadap Herry yang sudah berada di sampingnya, Gadis itu tersenyum tipis. "Makasih sudah mengantarku kak Herry,"


"Sama-sama, Aku gak mungkin membiarkan seorang gadis jalan-jalan sendirian di malam hari," Kata Herry balik tersenyum, Chloe yang mendengarnya sedikit tersipu dan mengangguk pelan.


"Aku senang bertemu lagi dengan kak Herry, Hanya saja sekarang kita harus berpisah lagi ya,"


"Iya...," Sejenak Herry terdiam, Dia mengusap tengkuknya canggung dengan semburat merah di pipinya. "Btw, Aku pernah dengar dari temanku. Katanya dulu waktu SMP kau suka aku ya. Apa itu benar? Aku bukannya ge-er atau apa, Hanya saja aku cuma ingin memastikan," Kata Herry agak gugup.


Sesaat mata Chloe mengerjap mendengar perkataan Herry, Ia sedikit menundukkan kepalanya. Jujur saja, Dia dulu memang menyukai Herry, Yah bisa dibilang masih cinta monyet lah. Karna Herry dulu kan notabane nya adalah kakak kelas Chloe dan sosok yang sering bantu Chloe di sekolah terlebih lagi pria di depannya ini gentleman.


Tapi setelah beberapa tahun tidak bertemu dan saat itu juga beda SMA, Perasaan Chloe terhadap Herry mulai memudar. Meski tersisa sedikit perasaan yang ada, Tetap saja sekarang Chloe tidak merasakan apapun lagi terhadap Herry. Dia memandang Herry seperti orang pada umumnya, Tidak bisa lagi membuat jantungnya berdetak cepat seperti dulu.


Chloe sadar, Kalau sewaktu SMP dirinya hanya merasakan cinta monyet pada kakak kelas nya itu, Yang akan memudar seiring berjalannya waktu. Hanya sekedar kagum dan suka biasa. Bukan cinta yang benar-benar tulus.


Chloe tersenyum lembut, Menggenggam tali tas selempangnya. "Benar, Dulu aku memang menyukai kak Herry. Tapi aku sadar kalau dulu yang kurasakan itu hanya lah cinta monyet biasa, Hanya sekedar rasa kagum,"


Herry sedikit menunduk, Raut wajah si pria agak kecewa. "Bagaimana dengan sekarang? Apa rasa suka itu masih ada?"


"....Maaf...," Chloe menjeda kata-kata nya sesaat. Berpikir melontarkan kata-kata yang pas agar tidak menyakiti hati Herry. "Sepertinya sekarang perasaan ini mulai memudar, Aku tidak ingin berbohong sebenarnya. Tapi jujur saja masih ada secuil perasaanku yang tersisa untuk kak Herry,"


Herry yang mendengarnya sontak mendongak, Ekspresi nya tampak terlihat lebih senang. "Apa artinya aku masih memiliki kesempatan?" Tanya nya penuh harap.


Chloe kembali terdiam beberapa detik, Sebelum gadis itu tersenyum lembut. "Sepertinya tidak,"


"Mengapa?"


"Aku...Sudah menikah, Aku tidak ingin membuat keluargaku salah paham dan membuat mereka semakin membenciku. Untuk sekarang saja masih ada yang tidak suka padaku,"


Mendadak harapan Herry yang tadinya melambung tinggi seketika dihempaskan begitu saja saat mendengar kalau Chloe sudah menikah, Tatapan pria itu tampak tak percaya.


"K-Kau serius?!"


"Ya, Jadi kak Herry lupakan saja aku. Carilah yang lebih baik dariku," Chloe masih tersenyum lembut.


Herry mencengkeram ujung baju nya, Sesaat ia merasakan jantungnya berdenyut sakit. Kepala si pria sedikit tertunduk.


"Kalau saja, Aku bertemu dengan mu lebih dulu. Kau pasti tidak akan menikah dengan suami mu itu. Apa aku terlambat? Apa kau bisa memberikan kesempatan padaku untuk membuktikannya?" Tanya Herry dengan nada yang sedikit bergetar.


"Maaf, Aku tidak bisa kak Herry," Chloe menggeleng, Dia menatap tegas. "Semuanya sudah terjadi,"


"...." Setelahnya Herry hanya diam dengan kepala tertunduk, Dia tetap berdiri di tempatnya. Chloe tidak bisa melihat ekspresi pria dihadapannnya karna tertutup helai-helai rambut si pria.


"Maaf, Pergilah. Kurasa kak Herry hanya akan menderita jika terus menungguku," Chloe berbalik dan berjalan pergi menuju pintu utama asrama.


"Aku akan kembali lagi nanti!"


Suara Herry menghentikan langkah Chloe sejenak, Gadis itu tidak menoleh dan terus melanjutkan langkahnya memasuki asrama.


*****************


Blam!


Chloe menyandarkan punggungnya ke daun pintu, Berusaha menjernihkan pikirannya yang kacau karna ucapan Herry.


"Dia bilang akan kembali lagi kesini, Duh. Aku harus menjelaskan bagaimana pada pak Justin dan anggota lain?" Pikir Chloe kalut. "Kak Herry seolah tidak peduli aku punya suami atau tidak,"


Chloe menghela napas kembali, Dia mencoba menjernihkan pikirannya beberapa saat. Barulah setelah tenang, Chloe melangkah menuju kamarnya. Walau pun dia sadar, Suasana asrama itu terlihat sepi seperti biasa.


Tap! Tap! Tap!


Cklek!


Dia membuka pintu hingga menimbulkan suara berderit, Saat Chloe memandang ke depan. Suasana kamar begitu gelap gulita, Chloe baru ingat dia tidak menyalakan lampu saat pergi meninggalkan kamarnya tadi.


Perlahan Chloe menutup pintu dan meraba-raba dinding untuk mencari seklar lampu, Benar-benar gelap disana. Hanya cahaya sinar rembulan yang sedikit menyinari dari balik gorden jendela.


Di tengah pencarian nya, Tiba-tiba Chloe merasa dirinya di tarik oleh sesuatu dan tubuhnya terhempas ke tempat tidur. Si gadis meringis, Dia panik dan mencoba bangun dari posisi nya.


Belum sempat pergi dari sana, Dia merasakan pergerakan di atas tubuhnya, Seakan ada beban berat yang menindih.


"Si-Siapa? Menjauh dariku!" Chloe memberontak, Berusaha melepaskan kukungan yang menahan kedua tangannya. Dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di atas tubuhnya karna kamar itu sangat gelap.


"Tolong–hmpph..." Netra Chloe membelalak kaget, Belum sempat dirinya berteriak minta tolong. Sebuah ciuman mendarat begitu saja di bibirnya, Ciuman yang begitu kasar.


Si gadis mengatup mulutnya rapat-rapat, Dia tidak ingin membiarkan lidah itu menerobos masuk. Saat ini Chloe begitu ketakutan, Tubuhnya gemetar hebat.


Sampai akhirnya ciuman itu berakhir, Chloe menarik napas sebanyak-banyaknya. Mengisi oksigen nya yang hampir menipis, Tak lama ia mendengar suara bisikan dengan nada rendah di samping kupingnya.


"Kau telah salah mempermainkan kami, Seharusnya kau mengerti aturan di kontrak itu. Bersiap-siap lah sekarang!" Itu lah suara penuh penekanan yang Chloe dengar.


Gadis itu meneguk seliva nya susah payah, Dia tak ingin membiarkan diri nya pasrah begitu saja. Usai bisikan itu menjauh dari nya, Tanpa membuang-buang waktu Chloe menendang sosok di atasnya dengan kaki nya yang bebas dari kukungan.


Duak!


Dengan tendangan yang sangat kencang, Usaha Chloe tidak sia-sia. Kukungan itu terlepas. Si gadis dengan gerakan secepat kilat langsung berlari pergi dari sana, Tanpa menoleh lagi dia membuka pintu kasar.


Brak!


Chloe berlari tak tentu arah dari kamarnya, Tidak peduli kemana yang penting ia berlindung di tempat yang aman.


Satu-satu nya tempat yang terlintas di benak Chloe hanyalah kamar Ezra, Entah bagaimana ia bisa berpikir begitu. Namun mengikuti instingnya, Gadis itu berlari dan mengetuk pintu kamar si pria.


Tok! Tok! Tok!


"Pak Ezra! Pak Ezra!" Panggil Chloe berulang kali dengan panik.


Beberapa detik tidak ada sahutan di dalam nya, Namun tak lama pintu itu terbuka menampakkan si pemilik kamar yang tampak baru saja selesai mandi. Ekspresi nya berubah muram dan dingin ketika tahu ternyata Chloe lah yang mengetuk pintu.


"Cih! Ngapain kau–"


Grep!


Belum sempat Ezra menyelesaikan kalimatnya, Chloe langsung menerjang dan memeluk pria itu dengan tubuh gemetar.


"To-Tolong...Tolong aku pak...," Kata Chloe dengan nada gemetar.


"...."


TBC