
"Hah, Mengapa antrian disini panjang sekali. Padahal aku ingin cepat-cepat menaiki nya," Devian mendongak memandangi wahana rolle coaster dihadapan mereka. Karna antrian yang sangat panjang membuat mereka tak bisa menaikinya secepat mungkin seperti keinginan Devian.
Chloe yang berada disamping pria bersurai coklat kehitaman itu hanya terkekeh kecil lalu menepuk pundaknya.
"Sambil menunggu antriannya berkurang, Bagaimana kalau kita beli cemilan dulu? Kamu pasti lapar kan?" Ajak Chloe.
"Iya sih, Ya udah kita beli makanan dulu," Devian berjalan lebih dulu diikuti Chloe.
Kini mereka sudah berada di taman bemain, Sayang sekali Devian tidak bisa menaiki rolle coaster nya karna antrian untuk ke wahana itu masih panjang. Jadi mereka memutukan untuk mengisi perut terlebih dahulu sembari menunggu antrian rolle coaster nya berkurang.
Chloe menoleh kanan-kiri mencari jajanan yang cocok untuk mereka makan, Tak lama netra merahnya terhenti di sebuah stand berisi berbagai berbagai macam jajanan kue. Sontak Chloe menunjuk ke arah stand itu.
"Devian, Bagaimana kalau jajanan yang itu? Kayak nya enak,"
Devian mengikuti arah telunjuk Chloe, Ia manggut-manggut sesaat. "Boleh juga,"
Mereka menghampiri stand yang menjual berbagai kue tersebut, Ada hotteok, mochi, dango, dorayaki, dan sebagainya. Chloe memilih kue yang menurutnya terlihat enak seperti mochi dan dango. Sedangkan Devian hanya memilih dorayaki. Usai membeli kue, Kedua nya beralih ke stand yang menjual minuman.
Chloe membeli jus anggur sedangkan Devian membeli bubble tea. Kedua nya mencari tempat duduk kosong setelah membeli jajanan yang diperlukan, Chloe yang menemukan bangku kosong terlebih dahulu. Menarik Devian pelan untuk mengikuti nya.
Setelah duduk dengan nyaman barulah mereka makan kue masing-masing sambil memandangi hiruk pikuknya taman bermain itu.
"Kemarin malam, Kami mengintrogasi barista yang dicurigai sebagai dalang kebakaran di sebuah perkampungan. Dia mengaku tapi dia bilang hanya disuruh seseorang," Kata Devian memulai obrolan membuat Chloe menghentikan aktivitas nya sesaat.
"Barista yang ditangkap kak Ian itu? Jadi dia mengaku tapi dia terpaksa melakukannya karna disuruh oleh seseorang. Begitu maksudnya?" Chloe memandangi Devian yang mengangguk kecil.
"Itu artinya dia cuma dijadikan boneka atau pion agar dalang sebenarnya tidak tertangkap. Tapi apa barista itu mengatakan hal lain selain dia mengaku?" Si gadis memasang pose berpikir sembari menghabisian dango di tangannya.
Devian ikut berpikir mengingat obrolan rapat para anggota kemarin malam. "Dia bilang sosok yang menyuruhnya ini adalah sosok yang sangat kuat. Dia terlihat seperti manusia tapi memiliki kekuatan di luar nalar manusia,"
Mendengar penjelasan Devian mendadak Chloe seperti teringat dengan sesuatu, Seolah dirinya pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.
"Seperti manusia tapi bukan manusia dan memiliki kekuatan di luar nalar manusia," Chloe memandang ke arah jus anggur di tangannya, Sesaat mengernyitkan alis.
"Manusia modifikasi! Atau manusia yang rela membuang sisi kemanusiaannya demi kekuatan semata. Bisa jadi dia juga menjadi objek kelinci percobaan para ilmuan," Ucap Chloe tiba-tiba dengan suara pelan, Devian disampingnya tentu masih bisa mendengar perkataan Chloe.
"Kayaknya begitu, Kau tahu soal manusia modifikasi?" Tanya Devian heran. Namun gadis itu menggeleng.
"Tidak, Tapi entah kenapa aku refleks mengucapkan kalimat-kalimat itu. Padahal sebelumnya aku tidak pernah tahu apa itu manusia modifikasi, Aku seolah pernah mengetahui hal-hal itu disuatu tempat tapi aku tidak ingat tepat nya dimana," Chloe menerawang memandangi langit cerah di atas mereka.
Sedetik kemudian Devian menatap Chloe yang diam dan terlihat tenang, Pria bersurai coklat kehitaman itu menyipitkan mata. "Melihat dari ekspresimu, Sepertinya kau sudah tidak kaget lagi saat tahu sebagian anggota bukan manusia. Jadi rahasia kan hal ini dari manusia lain, Oke?"
"Yah, Baiklah. Setelah tahu kalau kalian bukan manusia, Jujur saja awalnya aku kaget sih. Terlebih setelah kejadian kak Ian mencekikku dan menunjukkan sedikit perubahan wujud nya. Pak Livian apa lagi, Dia bisa merubah wujud nya jadi werewolf," Chloe memegang gelas jus nya.
"Tapi setelah kulihat lagi, Aku kagum dengan kekuatan kalian yang berbeda-beda meski hanya kekuatan kak Ian dan pak Livian yang baru kulihat, Aku jadi penasaran bagaimana dengan kekuatan anggota lain," Ia tersenyum kecil sedikit meminum jus itu.
Devian menghela napas kecil, Menghabiskan dorayaki terakhirnya. "Kami tidak bisa menunjukkan kekuatan kami sembarangan termasuk di depan manusia, Tujuan kami tinggal di asrama pun karna kami ingin bersembunyi bukan untuk menjadi pusat perhatian cuma gara-gara berbeda dibanding manusia lain,"
"Oh, Iya juga ya. Bisa bahaya kalau sampai ada manusia yang tahu," Chloe manggut-manggut, Namun sedetik kemudian dia baru menyadari sesuatu. "Eh? Tapi aku...?" Tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Kak Chloe itu kan meski ras manusia tapi bagian dari anggota asrama, Jadi untuk kak Chloe pengecualian. Asal kak Chloe jangan ngasih tau siapa pun soal rahasia kami,"
"Oke, Tapi kalau aku kasih tahu sama orang lain gimana?"
Devian mengusap dagu nya dengan tampang berpikir. "Kalau hal itu sampai terjadi, Kak Chloe tinggal pilih mati nya mau kayak gimana? Mau dimakan sama Livian karna secara teknis Livian itu werewolf pemakan daging, Darah nya dihisap sampai habis sama Aiden, Ian, Rea, atau Neil. Dibunuh bruntal sama Victor, Oh atau dijadikan objek percobaan sama Felix?"
Devian tersenyum miring. "Nah, Kak Chloe tinggal pilih aja tuh mau mati kayak gimana. Aku yakin mereka dengan senang hati melakukannya,"
Chloe menatap horror dan menjauhkan sedikit tubuhnya dari Devian. "Sepertinya seram ya, Hahaha...Aku lebih baik tutup mulut soal rahasia kalian," Katanya tertawa terpaksa.
Si pria tersenyum lebar. "Pilihan yang bagus,"
"Aku masih sayang nyawa, Jadi aku pilih opsi aman saja. Dan aku baru sadar kalau aku menikahi para pria yang otak nya agak err...Yah begitulah...Psikopat mungkin," Pikir Chloe merinding dan bergidik ngeri saat membayangkannya.
Devian yang sudah menghabiskan makanannya, Langsung menatap ke antrian rolle coaster. Dia menyunggingkan senyum tipis.
"Kak Chloe, Antriannya sudah berkurang. Ayo kita juga antri biar kebagian," Kata Devian setelah membuang sampahnya ke tempat sampah.
"Oke, Bentar ya," Chloe menghabiskan minumannya. Setelah habis, Barulah ia membuangnya.
Devian bersama Chloe langsung pergi menuju antrian rolle coaster, Sebelum itu Chloe sudah menyiapkan sapu tangan dan minyak angin. Berjaga-jaga kalau nanti setelah permainan selesai, Ia bisa mual.
Situasi yang pernah dia coba sebelumnya namun dengan orang yang berbeda, Lagi-lagi perasaan deva ju itu muncul. Namun Chloe memilih menepisnya dan menikmati permainan.
TBC