
Selama perjalanan, Keheningan mengisi mereka. Dan Livian bukanlah tipe orang yang suka memulai pembicaraan lebih dulu. Alasan nya mengajak Chloe untuk mempertemukan gadis itu pada keluarganya, Dengan begitu dirinya tidak didesak lagi untuk segera mencari istri, Semua sudah terencana dengan baik. Hanya saja, Dia penasaran kenapa sejak tadi aroma gadis disampingnya semakin kuat dibanding sebelumnya?
Ah, Sudahlah. Livian merasa dia tak perlu memikirkan hal tidak berguna seperti itu. Namun sebagai gantinya nya, Pikirannya melayang beberapa saat ke masa lalu. Dimana dirinya waktu itu masih kecil.
*******************
[Memory Livian]
Livian Pov
"ANAK GAK TAU DIRI! HANYA BISA TIDUR AJA KERJAANNYA! HARUSNYA KAMU GAK PERNAH LAHIR KE DUNIA INI!"
Kenapa...
Kenapa hanya aku yang gak beruntung?
Salah ya kalau aku lahir ke dunia?
Ayah mengapa kau membenciku? Aku ini anakmu.
"ASAL KAU TAHU SAJA YA, KAU ITU CUMA ANAK HARAM DAN GAK GUNA!"
Gak guna? Anak haram?
Ah, Gak salah juga sih. Memang aku gak berguna dari dulu. Aku hanya anak yang lahir dari hubungan gelap ayahku, Aku bahkan tidak tahu siapa ibu kandungku.
Heh! Kerjaan ku bahkan hanya berkelahi dan membuat masalah.
Gak guna sekali kan?
BUAK!
Kadang aku juga sering menerima pukulan seperti itu, Aku tidak peduli dengan rasa sakitnya. Karna aku sudah kebal untuk menerimanya.
Tapi ya...Kadang aku juga butuh teman.
Teman yang bisa memahami penderitaanku...Teman yang bisa berbagi kehangatan denganku. Aku butuh sosok teman yang seperti itu.
Tapi memangnya....Ada yang mau berteman denganku?
Livian Pov End
***************
"Pak Livian! Awas didepan!"
Seruan Chloe seketika membuyarkan lamunan Livian, Pria itu sontak menatap ke depan. Dia refleks menginjak pedal rem saat mereka hampir menabrak mobil di depan mereka, Mobil seketika mendadak berhenti.
Duk!
"Aww!" Kening Chloe sedikit mengenai dashboard mobil, Untungnya tidak terlalu kencang dan hanya menimbulkan rasa nyeri di keningnya. Dia juga sudah memakai seatbelt sebelumnya, Jadi seharusnya tidak berdampak besar.
Napas Livian memburu setelah mereka berhenti mendadak, Keringat dingin mengalir di keningnya. Wajahnya sedikit memucat.
Tin! Tin!
Livian memutuskan menepikan mobil mereka setelah mendengar klakson mobil lain dibelakang. Usai menepi, Dia langsung mengusap wajahnya kasar. Nasib sial, Livian jadi tidak fokus menyetir karna teringat kenangan masa kecilnya kan!
Chloe mengusap-usap keningnya, Tidak sampai gegar otak kan? Netra merahnya beralih memandang Livian yang tampak gusar. Agak cemas juga saat melihat ekspresi pria itu tampak pucat.
"Pak, Gak apa-apa?"
Livian hanya mengangguk lesu, Meski begitu ia tak mengatakan apapun.
"Um...Kalau bapak merasa gak enak badan atau lelah, Kita bisa mampir ke toko dulu buat istirahat. Gimana?" Tawar Chloe, Jujur aja dia gak mau nanti hampir nabrak lagi.
Livian menggeleng pelan, Dia mengambil sebotol air mineral disampingnya. Menegak perlahan sebelum menjawab pertanyaan Chloe.
"Gak usah, Tinggal beberapa meter lagi kita sampai," Livian menutup botol nya sebelum menjalankan mobilnya kembali.
Chloe menghela napas, Ya sudahlah kalau Livian inginnya begitu, Chloe gak akan maksa. Si gadis menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
"Kalau sudah sampai, Bangunkan aku ya pak,"
"Hm...,"
Chloe agak sedikit lelah, Mata nya tertutup perlahan. Mulai masuk ke alam mimpi.
************
"Oi!"
Chloe merasakan pundaknya diguncang, Dia membuka matanya memperlihatkan netra merahnya. Sesaat Chloe mengusap wajahnya, Mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Apa kita sudah sampai pak?"
"Iya, Cepatlah keluar,"
Chloe mengusap matanya, Perlahan keluar dari mobil. Ia mendongak ketika melihat rumah super megah tepat dihadapannya. Mendadak Chloe merasa seperti berada di dunia lain, Terlebih tempat itu begitu asing baginya. Di sekitar rumah itu lebih banyak pepohonan rindang layaknya hutan.
Si gadis mendadak melongo, Ini memang rata-rata anggota asrama anak orang kaya atau gimana? Dari Justin yang rumahnya pernah Chloe kunjungi pun juga megah apalagi rumah Livian.
"Ngapain masih berdiri disana? Cepetan!" Livian yang baru keluar dari mobilnya, Mendelik saat melihat Chloe yang hanya diam mematung ditempat.
"Eh, I-Iya pak," Chloe agak tersentak, Ia buru-buru menyusul Livian yang sudah berjalan lebih dulu.
Tanpa memencet bel, Pintu utama lebih dulu terbuka dan tampak puluhan pelayan berdiri berjejer di sisi kanan-kiri pintu. Mereka semua menunduk hormat ketika Livian berjalan masuk, Chloe yang mengikuti Livian hanya menatap bingung.
"Selamat datang Tuan Muda!" Kata para pelayan itu serempak. Livian hanya mengacuhkan.
Langkah Livian terhenti ketika salah satu pelayan menghadang mereka. "Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu anda Tuan muda. Mari saya antarkan,"
Pelayan itu pergi ke suatu tempat, Menjadi petunjuk jalan bagi mereka. Livian dengan santai mengikutinya termasuk Chloe. Selama perjalanan, Chloe memperhatikan setiap sudut ruangan. Semua barang-barang disana tampaknya dihiasi berbagai merek barang ternama seperti vas bunga dan hiasan lainnya.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan, Terlihat sosok pria paruh baya dan sosok wanita paruh baya disana. Si pria paruh baya tampak sedang menikmati secangkir kopi dan si wanita sedang membaca sebuah majalah. Sementara si pelayan lantas undur diri sebelum melangkah pergi dari sana.
Livian berdehem kecil, Mengalihkan atensi keduanya dari aktivitas masing-masing. Si pria paruh baya meletakkan cangkirnya, Wajahnya tampak dingin.
"Duduklah!"
Livian duduk berhadapan dengan mereka, Chloe mengikuti Livian. Dia tersenyum tipis ketika bertemu pandang dengan si wanita. Namun wanita itu hanya mengacuhkannya.
"Siapa gadis disampingmu?" Tanya pria paruh baya itu tegas.
"Chloe Watson, Dia istri ku," Kata Livian.
"Istri? Seorang manusia? Livian jangan bohong sama ayah!" Nada pria itu mulai meninggi.
"John, Mungkin Livian sudah terlalu depresi sendiri makanya dia memilih seorang manusia untuk dijadikan sebagai istri nya," Kata si wanita tersenyum angkuh.
Kening Chloe mengernyit mendengar kata-kata si wanita yang seolah terselip nada mengejek disana.
"Apa dia benar-benar ibu nya pak Livian? Kenapa kesannya seperti ibu-ibu antagonis yang sering kulihat di tv ya?" Pikir Chloe.
Livian masih bersikap tenang, Tak tersulut emosi dengan kalimat si wanita yang terselip nada mengejek.
"Aku serius, Dia benar-benar istriku. Jadi lebih baik kalian berhenti menjodoh-jodohkan ku dengan wanita lain," Sahut Livian tenang.
"Cih! Livian! Bergunalah untuk keluarga kita sekali saja! Jangan mengecewakan ayah! Kali ini saja kau menurut sama ayah, Cerai kan dia!" Bentak John mulai tersulut emosi.
Netra merah Chloe membulat ketika mendengar kata 'Cerai'. Dia terpaku syok, Itu artinya Ayah Livian tidak menyetujui pernikahan mereka. Meski hanya pura-pura tapi tetap saja Chloe kaget.
"Gak!" Pandangan Livian menjadi dingin. "Aku bukan boneka mu! Bahkan aku tidak sudi memanggilmu ayah!"
"Livian!"
Livian tersenyum miring, Melihat wajah John yang memerah karna tersulut emosi. "Kau bilang aku anak haram, Kenapa kau tidak menjodohkan Xiao saja? Anak pertama yang kau bangga-banggakan itu,"
"Livian! Beraninya kau bicara begitu pada ayahmu sendiri!" Cathrine, Istri pertama John sekaligus ibu tiri Livian menatap marah.
John menghembuskan napas kasar setelah menenangkan diri beberapa saat. Dia mengangkat satu tangannya, Seketika Cathrine terdiam.
"Baiklah Livian, Jika kau serius ingin berhubungan dengan manusia. Maka malam ini menginaplah disini. Buktikan padaku kau bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini,"
Livian mendelik tajam mendengarnya, Sementara Chloe menatap heran.
"Apa sih? Dari tadi kok mereka bilang manusia terus?! Memangnya mereka bukan manusia?" Pikir Chloe kesal karna dirinya terus disebut manusia. Hei! Dia juga punya nama tau!
"Hah?! Kenapa harus aku?! Suruh saja Xiao agar cepat-cepat menikah! Dia kan lebih unggul. Kenapa juga aku harus melakukannya?!" Sahut Livian tidak terima.
Brak!
Prang!
John memukul meja kaca didepannya seketika tak sengaja membuat kaca itu sampai pecah. Chloe dan Cathrine menatap horror sekaligus ngeri.
"Jika kau tidak mengikuti perintah ayah, Kalian tidak akan bisa kembali dari sini. Mobil yang kau bawa Livian, Ayah akan menyitanya. Jadi jika kau tidak melakukannya maka kau tidak bisa kembali!" Bentak John kini dengan suasana mencekam.
Livian menggeram kesal, Dia mengepalkan kedua tangannya. Bahkan tanpa sadar kuku-kuku nya menajam, Hampir saja menjadi sangat panjang kalau saja Livian tidak menahan diri untuk tidak menghajar pria paruh baya dihadapannya.
Chloe yang merasa suasana nya semakin mencekam dan melihat Livian yang mungkin sebentar lagi akan hilang kendali. Si gadis memutuskan menyetujui perkataan John.
"Baiklah, Kami akan melakukannya paman. Tapi jangan marahin pak Livian lagi," Kata Chloe berusaha membela Livian.
Livian yang mendengarnya menatap tajam, Namun diacuhkan oleh Chloe. John tersenyum puas, Dia pun memanggil pelayan untuk mengantar Livian dan Chloe ke kamar tamu.
Kesal karna permintaan ayahnya, Livian berbalik dan mengikuti pelayan yang akan mengantar mereka. Setelah merasa sedikit jauh, Dia mencengkeram pundak Chloe disampingnya.
"Apa yang kau lakukan! Kau ingin mati hah?!" Desis Livian, Mengecilkan volume suaranya agar pelayan di depan mereka tidak mendengar obrolan itu.
"Ini demi keselamatan kita berdua pak, Untuk sementara ikuti kemauan ayah pak Livian dulu. Lagipula maksud ayah pak Livian kan cuma tidur bersama, Kata mama ku sih begitu," Jelas Chloe enteng, Menahan cengkeraman Livian di pundaknya.
Seketika Livian mengusap wajahnya kesal. "Astaga! Buat keturunan itu bukan sekedar tidur bersama. Kau ini bodoh atau bego sih?!"
"Heh? Maksudnya gimana pak? Kata mama ku itu cuma tidur bersama," Chloe tetap dengan pendiriannya yang membuat Livian semakin jengkel.
Pria itu memutuskan untuk tidak melanjutkan obrolan mereka lagi, Ia berdecih kesal. "Cih! Lihat saja nanti! Kau akan menyesal karna sudah menerimanya. Aku tidak akan menahan diri lagi!"
Dia mempercepat langkah yang membuat Chloe sedikit tertinggal di belakang. Lantas si gadis berlari kecil agar bisa berjalan sejajar dengan Livian.
"Pak Livian tunggu aku!"
TBC