Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Arc Felix Edricson (2)



Felix saat ini memilih berdiam diri diruangannya, Terlihat sibuk berkutat dengan lembaran-lembaran kertas yang mengisi hampir sebagian meja. Meski tangannya terus bekerja tapi tidak dengan pikirannya yang melayang entah kemana.


Dirinya tidak mengerti alasan kenapa Justin memilih Chloe sebagai anggota ke-8 dan pengantin mereka, Padahal yang Felix tahu. Chloe itu manusia dan berbeda dengan mereka, Dia tidak memiliki kekuatan apapun dan terlihat lemah. Meski begitu Felix sedikit melihat sesuatu yang menjadi alasan Justin kenapa tertarik pada Chloe dalam diri si gadis.


Felix pikir seolah ada chemistry yang kuat di dalam diri gadis itu yang Felix sendiri tidak paham. Kebanyakan anggota asrama memiliki kelebihan masing-masing contoh nya Livian yang bisa berubah jadi werewolf atau Aiden yang bisa mengendalikan elemen alam sesuka hatinya, Namun untuk kasus Chloe. Dia tidak melihat apa pun yang dimiliki gadis itu selain cara bicara dan sikap si gadis yang terkesan lugu dan sopan.


Memikirkan hal itu membuat kepala Felix sedikit berdenyut sakit, Ia memegang kepala nya sesaat lalu meminum secangkir kopi yang tersedia di meja nya. Sedikit merasa lega karna sakit kepala nya sudah berkurang.


Walau dulu ia sempat merasa aneh karna ada manusia di asrama, Tapi ia sudah mulai terbiasa. Pikiran Felix melayang ke beberapa jam yang lalu, Dimana waktu itu Chloe menanyakan kenapa Ezra membenci manusia. Jujur saja, Beberapa anggota asrama memiliki konflik dengan manusia. Itulah sebab nya mereka semua dipandang sebagai monster oleh para manusia itu.


Tapi untuk urusan bekerja sama dengan pihak kepolisian, Itu beda lagi ceritanya. Justin dan pihak kepolisian sudah membuat kesepakatan yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Namun sebagai syarat keberadaan mereka tidak boleh di bocorkan oleh pihak kepolisian atau kesepakatan mereka akan berakhir.


Felix tahu betul berbaur dengan manusia itu sulit, Tapi mereka terpaksa melakukan nya agar mereka tetap bisa bertahan hidup. Dibanding dengan dunia mereka yang tidak memiliki satu pun manusia disana untuk dijadikan makanan.


Dia menghela napas, Bagi ras vampir sepertinya. Hidup di lingkungan manusia itu mustahil tapi inilah kenyataannya. Meski para manusia tidak menyadarinya, Felix akan sebisa mungkin bersikap selayaknya manusia.


Asik dengan lamunan nya, Felix tidak sadar kalau ia sudah menyelesaikan pekerjaan nya sejak tadi. Pria itu lantas membereskan lembaran-lembaran kertas yang berantakan, Setelah selesai ia memutuskan keluar ruangan untuk memantau kondisi para barista nya.


*************


Chloe sibuk hilir mudik mencatat dan mengantar pesanan, Sejak tadi para pelanggan terus berdatangan membuat Chloe agak kewalahan melayani mereka. Walau lelah, Ia tetap semangat menjalankan tugas nya sampai waktu istirahat tiba.


Finnian tidak bisa membantu nya saat ini dikarenakan pria itu sibuk mengambil alih pekerjaan memasak, Yang Chloe dengar si koki bagian memasak saat ini sedang libur jadi Finnian lah yang mengambil alih. Membuat hanya tiga barista yang melayani pelanggan termasuk Chloe.


Kkrriinng!


"Anda mau pesan apa?" Chloe mendekati sepasang kekasih yang baru saja memasuki cafe dan duduk di dekat kaca.


"Lemon tea dan cake rasberry," Kata si wanita setelah melihat menu yang tertera.


Chloe segera mencatatnya kemudian beralih pada si pria. "Kalau anda?"


"Sama kan saja," Balas pria itu.


Ia mengangguk pelan dan berjalan pergi menuju Finnian yang sibuk memasak pesanan lain.


"Kak Finni, Lemon tea dan cake rasberry nya dua. Pesanan meja no.4," Kata Chloe menyerahkan catatannya.


"Oke, Kamu layani pelanggan lain nya ya selagi menunggu," Finnian menerima catatan itu.


"Baiklah,"


Si gadis kembali melayani pelanggan lainnya, Sementara Felix terlihat memandang para pelanggan yang ada disana sekaligus mengamati situasi cafe yang tampak ramai. Tatapan nya tertuju pada sepasang kekasih yang duduk di samping kaca cafe, mata nya sedikit menyipit ketika sekilas seperti melihat aura putih yang tampak mengelilingi sepasang kekasih itu.


"Apakah ini hanya perasaanku atau memang mereka memiliki aura yang tidak biasa? Aura putih itu seperti milik kelompok Fallen Angel," Pikir Felix masih memandangi sepasang kekasih tersebut.


Tak lama pandangan nya tak sengaja bertemu dengan si pria, Mungkin dia merasa Felix terus memandangi mereka makanya pria itu menoleh, Felix sedikit terkejut ketika si pria balik menatapnya. Namun tatapan pria itu tampak tajam.


"Tidak salah lagi, Mereka adalah anggota Fallen Angel. Kalau aku terlalu lama disini, Mereka pasti akan menyadari kehadiranku," Felix bergegas kembali memasuki ruangannya, Hanya tempat itulah yang paling aman menurutnya.


Fallen Angel pasti tidak akan menghampiri Felix, Karna Felix yakin mereka tidak akan menyerang di tempat yang penuh dengan manusia dan membuat keributan. Sepertinya untuk sementara waktu Felix akan bersembunyi di ruangan nya sampai sepasang kekasih itu pergi.


********************


Chloe kembali dengan nampan di tangannya, Ia meletakkan pesanan sepasang kekasih itu dengan hati-hati. Sebelum membungkuk dan berlalu pergi dari sana.


Suasana cafe mulai lenggang, Waktu nya para barista sedikit bersantai. Chloe memilih duduk di dekat jendela sembari mengusap wajah nya yang sedikit berkeringat dengan tisu. Ia perlahan memakan roti yang dibawa nya.


"Hari ini ramai juga, Aku tidak menyangka akan melayani pelanggan sebanyak ini," Pikir Chloe sambil menatap langit-langit dapur. Dan mengunyah roti nya.


Mendadak disaat asik-asiknya bersantai, Finnian menghampiri nya sambil membawa segelas jus jeruk. Pria itu memutuskan mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Chloe.


"Dek, Gimana kesan pertama mu kerja disini. Senang gak?" Kata Finnian ceria.


"Senang sih kak, Tapi capek juga ya. Aku belum pernah melayani pelanggan sebanyak ini, Kita hampir 5 jam kerja non-stop lho. Untung aja sekarang kita bisa sedikit bersantai," Sahut Chloe meminum air mineral nya.


"Yah, Begitulah kalau kerja disini. Capek sih tapi tenang aja, Felix itu kalau ngasih gaji lumayan besar lho. Jadi sepadan dengan kerjaan kita yang hampir non-stop disini," Finnian sedikit memelankan suara nya sembari tersenyum senang, Menurutnya biar lah capek yang penting gaji nya besar.


"Eh, Iya juga ya. Semoga saja apa yang kak Finni bilang benar,"


"Hehehe, Percaya aja sama aku. Aku udah lumayan lama kerja disini jadi tau kisaran gaji nya. Btw, Kenapa kamu memutuskan buat kerja? Padahal yang kulihat kayak nya kalau seusia mu masih banyak deh yang mutusin buat kuliah dibanding kerja," Celetuk Finnian sambil mengunyah roti nya.


"Umm...Jujur aja awalnya aku pengen kayak gitu sih, Fokus kuliah dulu tapi karna masalah biaya jadi aku memutuskan untuk mengumpulkan uang dulu selama setahun baru kuliah kalau sudah terkumpul,"


"Oh karna masalah biaya toh, Sama dong berarti kayak kakak. Dulu kakak juga begitu, Sekarang mah udah lulus. Jadi nostalgia perjuangan buat kuliah dulu," Finnian terkekeh kecil sambil meminum jus nya.


Chloe tersenyum tipis mendengarnya. "Kuharap aku juga bisa seperti kak Finni, Cerita kak Finni membuatku bersemangat untuk mengumpulkan uang lebih banyak lagi,"


"Senang mendengarnya," Finnian ikut tersenyum. "Btw, Tadi aku nyari Felix ke sekitar cafe termasuk ruangan nya tapi gak ketemu. Kamu lihat dia gak?"


"Enggak tuh, Mungkin kak Felix lagi keluar,"


"Masa? Aku masih ingat terakhir kali dia masuk ke ruangan nya terus gak keluar lagi. Gak mungkin dia tiba-tiba ngilang,"


Chloe diam sejenak sebelum menghabiskan makanan nya dan minumannya lalu meranjak dari sana.


"Kalau begitu aku cari kak Felix dulu ya, Aku baru ingat ada yang ingin kubicarakan dengan kak Felix. Sampai nanti kak Finni," Chloe melambai kan tangannya dan keluar dari cafe melalui pintu belakang. Bahkan Finnian belum sempat mengatakan apapun.


Pria itu hanya bisa melihat kepergian Chloe dalam diam dan penuh kebingungan. Chloe pergi untuk mencari Felix, Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Mana mungkin pria itu menghilang begitu saja tanpa memberitahu pada Chloe atau barista lain sebelum pergi.


TBC