
[Beberapa jam sebelumnya]
Chloe keluar dari taksi yang ditumpanginya sambil membawa keranjang parcel, Usai membayar dia bergegas memasuki gedung rumah sakit yang julang tinggi. Sesampainya di meja administrasi, Gadis itu langsung menanyakan dimana ruangan tempat ayahnya dirawat. Beberapa menit dirinya menunggu jawaban dari si suster, Setelah dapat dia kembali bergegas menuju ruangan yang dimaksud.
Sang gadis membuka pintu, Melihat bagaimana ruangan itu dipenuhi keluarganya. Mama, Reina, Alvin dan pamannya berada disana. Sedangkan ayah nya terbaring sakit, Seisi ruangan menatapnya.
Chloe bergegas mendekati sisi ranjang,Ia meletakkan keranjang parcel di meja lalu menatap sedih ayah nya yang terbaring lemas. "Ayah..."
Tatapan ayah Chloe melembut, Dia mengusap surai putri nya itu perlahan. Anak pertamanya sekaligus penutan bagi adik-adiknya. "Hei nak, Ayah senang kamu disini. Bagaimana pernikahan mu, Suami mu baik kan sama kamu?"
Chloe menggigit bibir bawahnya setelah mendengar pertanyaan itu, Dia ingin jujur pada ayahnya kalau sebenarnya pernikahan itu hanya pura-pura. Namun ia tukut kalau membuat kondisi ayahnya tambah drop jika mendengar fakta yang sebenarnya. Gadis itu terpaksa memasang senyum palsu.
"Iya, Dia baik kok yah," Bohongnya.
"Syukurlah, Ayah lega kalau kamu baik-baik aja disana,"
Chloe masih mempertahankan senyum palsunya, Hingga sang ayah memandang istrinya.
"Ma, Kayaknya ini udah cukup, Ayah udah mendingan. Ayah mau pulang aja, biaya disini kan mahal,"
Mama Chloe terkejut mendengar kata-kata suaminya. "Gak bisa yah, Ayah masih sakit nginap aja dulu disini sampai sembuh. Urusan biaya biar mama yang urus,"
"Ma, Gak usah. Ayah gak apa-apa,"
"Gak pokoknya ayah istirahat dulu disini, Mama yang bakal tanggung biayanya," Mama Chloe ngotot ingin suaminya tetap istirahat di rumah sakit.
Alvin dan Reina memilih agak mundur karna takut melihat mama mereka mulai ngotot, Sedangkan Chloe terdiam murung mengingat kondisi ekonomi keluarganya begitu menurun. Tak lama kemudian, Gadis itu membuka suara.
"Biar Chloe yang yang nanggung biaya administrasinya, Mama sama ayah gak usah pikirin biayanya lagi," Sela Chloe dengan ekspresi serius.
Ayah dan mama Chloe terkejut mendengarnya, Begitu pun dengan paman Chloe dari pihak ayah.
"Memangnya kamu dapat uang dari mana buat biaya rumah sakit ini?" Tanya Mama Chloe masih terkejut.
"Chloe bakal cari kerja secepatnya, Percaya aja sama Chloe. Chloe bakal nanggung semua biaya nya,"
Walau sebenarnya mama dan ayah Chloe mencemaskan anak pertamanya ini, Namun tak bisa dipungkiri kalau mereka juga merasa butuh bantuan Chloe. Dan akhirnya orang tua Chloe terdiam tak menyahut lagi.
"Aku bakal bantuan kak Chloe juga, Aku bakal cari kerja part time setelah pulang sekolah," Ucap Alvin semangat, Lalu diangguki Reina.
"Bener aku juga bakal bantuin Alvin dan kak Chloe,"Reina ikut menyahut.
Chloe tersenyum geli melihat tingkah kedua adiknya. Tangannya terulur mengacak-acak surai keduanya. "Iya deh, Tapi jangan memaksakan diri ya,"
"Baik kak," Sahut keduanya serempak.
Usai melepas rindu dengan keluarganya karna hari juga mulai siang, Chloe pamit undur diri dan pergi dari ruangan itu. Takutnya Justin marahin dia gara-gara pulang kemaleman. Chloe menelusuri koridor rumah sakit melewati beberapa pasien dan suster yang hilir mudik.
Tap! Tap! Tap!
Hingga Chloe merasa seperti ada langkah kaki yang mengikutinya dari belakang, Sesaat si gadis melirik ke belakang, Mempercepat langkah sampai tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak Chloe. Dia agak terpekik kaget, Saat tahu bahwa paman nya lah yang mengikutinya sedari tadi.
"Paman?"
Paman Chloe hanya memberikan pandangan dingin lalu menarik lengan gadis itu kuat. "Ikut paman!"
"Kita mau kemana paman?"
Paman Chloe tak menjawab, Hanya terus fokus ke tempat tujuannya. Beberapa menit Chloe mengikuti langkah pamannya itu meski seakan ditarik secara paksa, Mereka akhirnya berhenti di sebuah taman. Taman rumah sakit yang sepi pengunjung maupun pasien.
Chloe menarik lengannya setelah dilepas sang paman, Sejenak gadis itu mengusap-usap lengannya yang agak membiru karna cengkeraman sang paman begitu kuat.
"Paman kenapa bawa Chloe kesini?"
"Paman mau bicara empat mata sama kamu!" Paman Chloe masih menatap dingin. Chloe hanya diam mendengarkan lanjutan dari perkataan pamannya.
"Paman dengar kamu sudah menikah dengan pria asing saat kamu koma. Apa benar?"
"Umm..Iya benar," Jawab Chloe ragu, Pasalnya pernikahan itu hanya pura-pura. Namun ia rasa dia masih harus menyimpan rahasia itu dan belum berani memberitahukan fakta pada keluarganya.
Wajah paman Chloe tampak merah padam menahan amarah setelah mendengar langsung kebenarannya. Dia mulai meninggikan nada suaranya, Membentak Chloe setelah melihat gadis itu terdiam.
"Kamu tidak seharusnya menuruti keinginan orang tua mu, Tidak seharusnya kamu menikah dengan pria itu, Kamu seharusnya ikuti kemauan paman saja!"
"Maksud paman apa? Paman ingin aku mengekang perintah orang tuaku? Memangnya paman siapa? Paman memang keluargaku tapi keinginan orang tua ku lah lebih yang penting,"
"Apa kamu lupa, Paman juga yang mengasuh kamu sewaktu kecil," Paman Chloe tampak marah begitu juga dengan Chloe yang ikut tersulut emosi.
"Aku tahu tujuan paman mengasuhku cuma mau agar warisan ayah dan mama jatuh ke tangan paman kan?! Jadi ketika mereka tiada, Warisan itu jatuh ke tangan paman dan paman bakal menjadi kepala keluarga menggantikan ayah. Itu kan sebenarnya tujuan paman?!" Chloe mengepalkan tangannya mendelik marah.
Ekspresi paman Chloe tampak terkejut, Tak lama kemudian tangannya terangkat melayangkan sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi gadis itu.
PLAK!
Chloe diam membisu setelah merasa kebas di bagian pipi kirinya, Rasa sakit berdenyut disana. Dan ia hanya menatap tajam balik pada pamannya.
"Sudah berani kamu bicara begitu sama paman!" Paman Chloe geram. Wajahnya memerah mengeluarkan emosi yang meluap-luap. "Ingat saja, Kamu bakal menyesalinya karna sudah berlaku begini sama paman!"
Paman Chloe pun pergi meninggalkan Chloe sendirian disana, Dan si gadis hanya bisa memegangi pipinya yang memerah bekas tamparan.
"Sial! Bagaimana anak itu bisa tahu rencanaku. Kupikir rencana ku akan berjalan mulus jika ikut mengasuhnya," Pikir paman Chloe geram. Setelah menjauh beberapa langkah dari sana dan pergi.
Chloe memandangi kepergian pamannya, Dia masih mengusap-usap pipinya kemudian menghembuskan napas pelan.
"Kupikir paman tulus mengasuhku dan kedua adikku, Tapi ternyata ada rencana lain dibaliknya," Lirih Chloe, Tawa sedih meluncur dari bibirnya. "Mulai sekarang aku tidak bisa mempercayai paman lagi,"
Dia menendang kecil kerikil di bawahnya, Lalu berjalan pergi keluar dari area rumah sakit.
**************
[Asrama, sore hari]
Blam!
"Aku pulang," Seru Chloe mengganti sepatunya dengan sandal asrama. Dia menenteng sekantong cemilan di tangannya setelah sempat mampir ke toko perbelanjaan.
Netra merahnya menatap liar seisi ruangan. Sangat sepi dan begitu sunyi, Tidak ada yang menyahut perkataannya sama sekali. Yah, Apa yang mau diharapkan olehnya, Anggota asrama lain pasti sibuk dengan urusan masing-masing.
Sang gadis menghela napas gusar, Dia mendekati sofa dan menghempaskan diri disana. Meletakkan sekantong cemilan di meja. Tubuhnya begitu lelah, Lelah mental juga fisik. Rasa sakit dari memar di lengan serta pipinya masih dia rasakan. Chloe kembali menghembuskan napas untuk kesekian kalinya.
"Kenapa tidak minta pekerjaan pada Justin saja?"
Mendengar suara familiar yang tiba-tiba menyahut keluhannya, sontak Chloe mencari asal suara.
"Kak Felix?!"
Felix tersenyum balas menatap Chloe, Pria itu kini berdiri tepat dihadapan sang gadis. Dia mendekati Chloe dan duduk disamping gadis itu. Melihat ekspresi wajah Chloe yang tampak lelah membuat Felix cemas.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ah, Ya aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah," Gadis itu tersenyum palsu menutupi raut lelahnya. Felix tahu kalau Chloe berbohong padanya, Namun pria itu memutuskan mengikuti nya saja.
"Apa terjadi sesuatu disana?"
"Tidak,"
"Bagaimana keadaan ayahmu?"
"Ayah bilang sudah merasa lebih baik,"
"Syukurlah,"
"umm...Kak Felix, Apa benar pak Justin bisa memberikan pekerjaan seperti yang kak Felix bilang tadi?"
"Oh memang benar, Dia memberikan anggota di sini pekerjaan jadi diantara kami tidak ada satu pun yang nganggur. Kenapa kau menanyakan hal itu, Kau butuh uang?"
Chloe menunduk malu dan mengangguk. "Iya, Buat biaya pengobatan ayahku di rumah sakit,"
Felix masih tersenyum lalu menepuk pelan pundak Chloe. "Kau bisa tanya Justin soal pekerjaan, Aku yakin dia pasti akan memberikannya,"
"Terima kasih kak Felix atas sarannya," Chloe mendongak, Senyum sumringah terlihat di bibirnya. Felix hanya mengangguk menanggapinya.
Netra aqua pria itu memperhatikan wajah Chloe hingga tatapannya terhenti pada bekas memar yang terlihat di pipi sang gadis, Tanpa sadar tangannya terulur menyentuh pipi Chloe.
"Pipi mu...Kenapa?"
Chloe tersentak saat tangan itu menyentuh pipinya, Mendadak Chloe merasa gugup saat tatapan insten Felix tertuju padanya.
"I-Ini bekas gak sengaja nabrak tiang listrik kok, Aku gak apa-apa kak. Nanti juga hilang bekasnya," Chloe tersenyum kikuk.
Felix yang awalnya tersenyum kini menjadi serius. "Nabrak tiang listrik seharusnya gak sampai memar begini,"
Chloe diam tak berkutik, Dia seketika bungkam. Namun Felix menunjukkan senyum lembutnya.
"Chloe, Kamu jujur aja. Gak apa-apa, Aku gak bakalan bilang sama yang lain,"
Sang gadis memandangi netra aqua di depannya, Mencari kejujuran disana. Setelah merasa yakin tidak ada tanda-tanda kebohongan. Gadis itu mulai menceritakan kejadian sebenarnya sewaktu dirinya di rumah sakit.
Felix mendengarkan cerita Chloe dengan sabar, Sesekali ekspresi nya berubah prihatin. Meski Felix sudah tahu kejadian itu hasil melihat dari vidio yang Neil berikan. Tapi dia lebih prihatin ketika Chloe sendiri lah yang menceritakannya.
Usai bercerita, Chloe menghela napas pelan. Netra merahnya bergulir memandangi lantai.
"Itu sebabnya kenapa pipi dan lenganku sampai memar begini,"
Felix menepuk pelan punggung Chloe, Berusaha menenangkan sang gadis. "Tidak apa-apa, Selama kau tinggal disini. Dia pasti tidak akan bisa menyakitimu seujung jari pun,"
Chloe tersenyum mendengar kata-kata penghibur Felix lalu mengangguk kecil, Dia juga teringat dengan tawaran Justin. Dan berniat pergi ke ruangan si pria.
"Kak Felix, Aku pergi dulu ya,"
"Tunggu, Kamu obatin dulu memarmu. Sini kakak bantu," Felix menahan pundak Chloe.
Belum sempat Chloe mengucapkan sepatah kata pun, Felix sudah meranjak dari sana dan mengambil peralatan obat di lemari kaca. Tak lama pria itu kembali duduk disamping Chloe, Kini dengan kain yang sudah diisi es batu sebelumnya.
"Gak usah kak, Aku bisa sendiri," Si gadis agak gelagapan saat jarak wajah Felix hanya tersisa sejengkal dari wajahnya.
Pria itu hanya tersenyum dia tak menjawab dan hanya menempelkan kain itu ke pipi Chloe.
"Permisi,"
Chloe sedikit meringis saat benda dingin itu menempel di pipinya. Chloe baru menyadari kalau wajah Felix sangat dekat, Jadi gadis itu berusaha sedikit mundur.
Felix tersenyum geli memandang reaksi Chloe. Sadar Chloe merasa tak nyaman, Dia ikut menjauhkan sedikit wajahnya.
"Maaf, Kalau membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya berusaha mengobati memar nya,"
"Iya kak,"
"Sakit?"
"Sedikit,"
Merasa cukup, Felix memindahkan kainnya ke bagian lengan Chloe yang juga terdapat memar.
"Apa kak Felix dulunya seorang dokter? Kakak mengobatiku begitu telaten," Tanya Chloe bingung.
"Bukan, Hanya saja sejak kecil aku sering terluka karna sering bermain di luar. Makanya ayahku mengajariku mengobati luka sendiri, Kalau-kalau aku terluka lagi. Jadi aku cukup terbiasa dalam hal mengobati," Jelas Felix masih tersenyum dan Chloe yang cuma manggut-manggut mendengarnya.
Usai mengobati memar si gadis, Felix kembali memandangi Chloe.
"Bagaimana, Apa masih sakit?"
"Sudah mendingan kak, Terima kasih,"
"Sama-sama,"
"Oh iya, Aku juga beli cemilan untuk semua anggota asrama," Chloe menyodorkan sekantung cemilan yang baru dibelinya.
"Terima kasih ya, Nanti dibagi-bagi,"
"Iya, Kalau begitu aku pergi dulu kak,"
Felix mengangguk kecil, Sedangkan Chloe langsung pergi setelah pamit pada Felix.
TBC