
Brak!
"Kalian...!"
Chloe muncul dari balik pintu dapur, Suara Chloe menarik perhatian para anggota.
"Mengapa kau langsung masuk ke sini tanpa permisi?" Devian mengernyitkan alis menyadari kehadiran Chloe disana.
Chloe mengabaikan pertanyaan Devian, Sejenak dia menoleh ke ruang tamu seolah sedang memastikan sesuatu. Merasa aman, Dia bergegas menutup rapat pintu dapur agar orang tuanya tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Abaikan saja kenapa aku langsung kesini. Ada hal yang lebih gawat yang perlu kalian tahu!" Kata Chloe serius, Mendekati meja makan di mana para anggota berada.
Semuanya memilih diam menunggu perkataan Chloe selanjutnya.
"Aku butuh bantuan kalian, Ini menyangkut masalah pernikahan palsu kita. Aku ingin salah satu dari kalian menjelaskan pada orang tua ku tentang kejadian sebenarnya," Chloe menggenggam erat tas selempangnya, Masih berekspresi serius.
"Ayah ku marah saat tahu kalau pernikahan ini palsu, Mereka berpikir kalian mempermainkan pernikahan ini,"
Semua anggota yang disana mendengarkan semua perkataan Chloe dan tujuan si gadis berada disana.
"Sudah kuduga akan menjadi seperti ini," Neil mengusap dagunya sambil bersidekap.
"Jangan khawatir, Livian akan menjelaskannya pada orang tua mu," Kata Justin tenang.
Livian yang merasa terpanggil hanya mendesah pasrah, Dia tahu cepat atau lambat dia yang pasti akan ditunjuk oleh Justin sebagai perwakilan mereka.
Chloe menoleh pada Livian dengan tatapan penuh harap. "Benarkah itu pak Livian?"
"Ya, Dan kau juga berakting lah kalau semua yang kukatakan benar agar mereka percaya,"
"Aku mengerti, Kuharap bapak tidak memakai kekuatan pengendali pikiran lagi untuk memanipulasi mereka. Aku takut jika bapak menggunakannya lagi, Bisa-bisa akan memberikan efek buruk pada orang tuaku," Kata Chloe cemas.
"Aku tidak bisa janji,Tapi akan kuusahakan," Sebelum pergi, Livian memakan makan malamnya sebentar. "Bisakah kau meminta mereka untuk menungguku sebentar lagi? Aku makan dulu sebentar,"
"Baiklah,"
Chloe berbalik ingin membuka gagang pintu, Namun Aiden memanggilnya dari meja makan.
"Chloe!"
"Ya?" Niat Chloe terhenti, Dia berbalik memandang Aiden yang meranjak dari duduknya.
"Bisa bantu aku buat minuman sebentar untuk orang tuamu," Aiden memberi isyarat dengan tangannya, Mengajak Chloe untuk mengikutinya.
"Tentu," Chloe tersenyum ceria, Berjalan mengikuti langkah Aiden menuju rak piring. Dia membantu Aiden membuat minuman.
Sementara anggota lain melanjutkan makan mereka, Sembari makan Felix memandangi Chloe.
"Apakah tidak apa-apa kau membiarkan orang tua mu di ruang tamu? Mereka pasti bingung karna kau tidak kunjung kembali," Kata Felix sesekali mengunyah makanannya.
"Tidak apa, Lagian ayah dan mama pasti sedang melihat-lihat ruang tamu. Mungkin saja kan," Balas Chloe tanpa menoleh, Dia selesai menyiapkan minuman dan tinggal meletakkan di nampan.
"Aku selesai," Livian meranjak dan segera keluar dapur untuk menemui orang tua Chloe.
Aiden mengambil nampan usai Chloe meletakkan minumannya. "Biar aku yang mengantar minumannya, Kau susul saja Livian,"
Chloe mengangguk kecil, Sejenak ia memandangi anggota lain yang masih makan, Tatapannya tertuju pada Ezra. Sedangkan si pria yang mendapat tatapan dari Chloe sibuk dengan makanannya sendiri. Merasa diperhatikan, Netra hijau emerlandnya melirik ke arah Chloe sebelum memusatkan perhatian sepenuhnya pada si gadis.
Chloe memberikan senyum manis, Sayangnya senyum itu hanya dibalas tatapan datar oleh Ezra. Si gadis yang merasa mustahil mendapatkan senyum dari Ezra, Memutuskan pergi dari ruang dapur untuk menyusul Livian.
Aiden ikut menyusul setelah membiarkan Chloe pergi lebih dulu, Meninggalkan anggota yang tersisa disana.
"Apa tidak masalah membiarkan Livian menjelaskan sendiri?" Tanya Felix khawatir. "Bisakah dia membuat orang tua Chloe percaya?"
"Aku yakin dia bisa, Aku juga sudah menjelaskan berulang kali padanya," Justin menunduk memandangi piring kosong di depannya. "Jika mereka meminta kompensasi maka aku yang akan bertanggung jawab soal itu,"
"Kau menanggung semuanya sendiri?" Rea mengangkat satu alisnya heran dan diangguki oleh Justin.
"Kan aku yang sejak awal memberikan kesepakatan itu, Meski semua itu bukan salahku sepenuhnya. Tapi aku merasa ikut andil dalam masalah ini, Makanya aku tidak akan lari dari tanggung jawab," Jawab Justin serius.
Mendengar jawaban Justin, Semua anggota menatapnya. Ian menggenggam erat sendok yang dia pegang, Sebelum netra merah itu menatap Justin dalam.
"Meski aku masih belum bisa sepenuhnya memaafkan Victor, Tapi aku merasa kau juga berusaha membuat Victor dimaafkan oleh kami. Aku paham kau berusaha membantunya untuk mendapat kepercayaan kami, Seperti kami percaya padamu Justin,"
Ian meranjak yang mendapat tatapan bingung dari Justin.
"Victor, Dia memang bersalah di masa lalu. Tapi aku rasa dia benar-benar merasa menyesal atas perbuatannya. Memaafkannya memang sulit, Tapi kuharap kalian benar-benar bisa mempercayainya," Justin menunduk, Sedikit mencengkeram celananya.
Devian tampaknya masih belum bisa memaafkan Victor, Begitu juga dengan Rion yang langsung memalingkan pandangan. Ezra mendengus marah sambil bersidekap dan menatap ke arah lain. Felix memilih diam tak menjawab, Sementara Raizel dan Ian mulai sedikit memaafkan Victor meski belum sepenuhnya.
"Aku selesai,"
Dia berjalan pergi dari sana, Berniat keluar asrama untuk menjernihkan pikirannya.
******************
[Ruang tamu]
"Kami tidak terima karna kau memperlakukan anak kami seperti ini!" Kata Brian berusaha tenang namun dalam dirinya ingin meledak-ledak karna menahan amarah.
"Ya, Saya sudah menjelaskan kalau kami cerai karna tidak merasa cocok satu sama lain. Saya baru menyadarinya setelah menikah," Livian menatap tenang, Ia paham saat ini ayah Chloe sedang menahan diri untuk tidak marah-marah di depannya.
"Kalau tidak merasa cocok kenapa kamu melamar anak saya waktu itu?! Kamu mau buat alasan ya biar saya tidak menuntut ke pihak berwajib karna masalah ini!" Kini nada suara Brian sedikit meninggi.
Elina memilih diam membiarkan suaminya yang mengintrogasi Livian, Sementara Chloe sudah berkeringat dingin sejak tadi. Dia merasa ketar-ketir, Takut nanti ayahnya hilang kendali dan malah memukul Livian.
"Saya sudah bilang yang sejujurnya, Kalau tidak percaya tanya saja anak anda. Chloe juga setuju untuk bercerai dengan saya, Jadi kami bercerai atas keputusan bersama," Livian dengan santai menatap Chloe, Mengkode agar membenarkan semua perkataannya agar masalah mereka tidak semakin berlanjut.
Chloe yang ditatap tersentak beberapa detik sebelum menggangguk cepat membenarkan perkataan Livian.
"Y-Ya, Pak Livian benar. Kami bercerai karna merasa tidak cocok satu sama lain, Jadi kami tidak ada yang merasa dirugikan. Ini murni karna keputusan bersama," Chloe tersenyum tipis menutupi kegugupannya, Tentu saja alasan bercerai karena merasa tidak cocok satu sama lain adalah alibi semata untuk menutupi alasan yang sebenarnya.
Justru yang sebenarnya terjadi, Mereka bercerai karna beberapa anggota masih ada yang tidak suka dengan keberadaannya di asrama. Chloe juga tidak masalah soal itu jika mereka memang tidak menyukai kehadirannya, Dia hanya bisa mendukung keputusan mereka.
"Kalau begitu sebelum kalian bercerai, Pasti kau pernah menyentuh anak saya atau paling tidak menciumnya. Ngaku saja!" Tuding Brian masih belum percaya sepenuhnya dengan perkataan Livian maupun Chloe.
"Menyentuhnya? Pfftt...!" Mendengar hal itu sontak Livian menahan tawa, Seketika mendapat tatapan bingung dari Brian dan Elina. "Menyentuhnya saja saya tidak pernah, Bagaimana dengan ciuman,"
Pria itu meredakan tawanya yang sedikit keluar, Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Kalau pun saya benar-benar melakukan dua hal itu, Memangnya apa yang ingin paman dan bibi lakukan pada saya? Membunuh saya karna telah menyentuh anak kalian?"
Brian mengepalkan tangannya, Melihat senyum dingin Livian membuat Brian rasanya ingin sekali menghajar pria itu.
Livian masih tersenyum dingin, Sorot matanya yang biasanya menatap malas itu kini menajam bak elang. "Bukan kah hal itu wajar diantara suami istri, Jika saya menyentuhnya pun saya tidak akan bercerai dan lari dari tanggung jawab!"
"Tapi karna saya sama sekali tidak melakukan apapun padanya, Inilah keputusan kami berdua, Sebuah perceraian," Tambah Livian masih dengan sorot mata tajam.
Brian mulai melunak, Dia memperhatikan wajah tegang Chloe sesaat sebelum kembali menatap Livian.
"Jadi kamu benar-benar tidak melakukan apapun terhadap anak saya," Nada Brian mulai tenang, Dia bisa mengontrol kembali emosinya.
"Ya," Livian terdiam sejenak, Dengan ekspresi tenang dia kembali membuka suara. "Apakah paman dan bibi berharap saya benar-benar melakukannya agar bisa secepatnya mendapatkan cucu dari anak anda?" Tanya nya tanpa rasa malu sedikit pun, Livian murni menanyakan secara frontal. Tanpa ada maksud tersembunyi di dalamnya.
Pertanyaan Livian sontak saja membuat Chloe menjerit dalam hati dengan tatapan horror.
"Aaaaaa...! Pak Livian kenapa kamu menanyakan nya secara frontal sih? Tanpa merasa malu dan di depan orang tua ku pula!" Pekik Chloe dalam hati, Rasanya dia ingin menangis malu saat itu juga.
Sementara Elina wajahnya sudah memerah bagai tomat matang, Dalam lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya dia ingin sekali memiliki cucu secepatnya, Namun mengingat Chloe masih labil meski usia gadis itu sudah 21 tahun membuat Elina merasa kasihan jika menyuruh Chloe untuk cepat-cepat punya anak, Dia akan bersabar menunggu usia anaknya itu paling tidak 25 atau 26 tahun. Bagaimana pun di mata Elina, Chloe tetap seperti anak berusia 17 tahun.
Kalau Brian, Dia langsung terdiam malu usai mendengar pertanyaan frontal Livian.
"Tidak juga...," Brian memalingkan pandangannya, Menyembunyikan wajahnya yang memerah malu. Walau sebenarnya dia ingin punya cucu juga sih.
Tapi dia lebih kasihan dengan Chloe nanti, Anak nya itu belum mencapai impiannya. Bahkan belum kuliah juga, Brian tak ingin memaksa anaknya untuk cepat-cepat menikah lagi.
"Kalau begitu keputusan kami tidak salah kan? Artinya masalah ini sudah selesai dan disetujui kedua belah pihak," Livian kembali dengan ekspresi tenangnya.
Brian dan Elina mengangguk pasrah, Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk mengintrogasi Livian lebih dalam, Dan Chloe tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu.
Jadi ketiga nya meranjak berniat pergi dari asrama.
"Karna masalahnya sudah selesai. kami pamit pulang, Maaf kalau kedatangan kami sangat mendadak tanpa memberitahu sebelumnya," Kata Elina mewakili Brian dan Chloe.
Livian ikut berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya. "Tidak masalah, Setidaknya selama anak anda tinggal disini. Dia baik-baik saja,"
"Baiklah, Kami permisi dulu," Brian ikut sedikit membungkuk sebelum melangkah ingin pulang.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok Ian berdiri disamping vas bunga, Wajah pria bernetra merah itu tampak dingin seperti biasa.
Brian terpaku, Begitu terkejut ketika melihat sosok Ian. Netra merah dengan rambut hitam itu membuat Brian teringat dengan seseorang yang familiar.
Elina terdiam ikut terkejut karna dirinya seolah pernah merasa familiar dengan sosok Ian, sesosok wanita yang mirip dengan pria itu.
Chloe yang melihat kedua orang tuanya terdiam, Menatap heran. Dia bersitatap dengan Livian yang tampaknya juga heran. Hingga suara Brian menyadarkan semuanya yang berada di ruangan itu.
"Kamu...!"
TBC