Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Bencana



Tap! Tap! Tap!


BRAK!


Chloe menendang pintu di depannya sampai hancur, Dia bergegas masuk ke dalam tanpa memperdulikan serpihan-serpihan kayu yang bertebaran di mana-mana.


Kini dia berada di sebuah pelabuhan dan terdapat sebuah rumah kayu yang dimana menjadi tempat persembunyian Fray. Netra merahnya memandang sekeliling dengan liar mencari keberadaan sang paman.


Ruangan itu tampak sunyi seolah tak berpenghuni, Chloe memutuskan memeriksa berbagai sudut ruangan memastikan apakah ada petunjuk atau tidak disana.


Selama beberapa menit dia berada disana namun nihil, Chloe tidak menemukan petunjuk satu pun. Si gadis lantas menghubungi sang paman tapi teleponnya sama sekali tidak diangkat.


"Apa ini jebakan? Tempatnya sangat sunyi," Pikir Chloe menatap sekitarnya waspada.


Duk! Duk! Duk!


Samar-samar pendengarannya menangkap suara gedoran pintu dari luar, Ia bergegas pergi dari rumah itu menuju asal suara.


Dia mendekati sebuah container yang menjadi asal sumber suara itu, Dengan cepat dirinya membuka pintu container dan menemukan sesosok gadis bersurai hitam yang tergeletak lemas di dalamnya dengan tangan dan kaki yang diikat.


Chloe mengenali dengan jelas sosok di depannya, Itu adalah adik perempuannya, Reina Watson. Sontak saja si gadis langsung membangunkan tubuh sang adik.


"Reina! Reina kamu kenapa?!" Chloe panik segera melepaskan ikatan di kaki dan tangan Reina serta melepas lakban yang menempel di mulut sang adik.


Reina hanya menggeleng lemas tanpa suara, Chloe berinisiatif mengambil sebotol mineral dari tas selempangnya dan meminumkannya ke Reina.


Usai mendapat pertolongan dan air dari Chloe, Barulah Reina membuka suara meski dengan nada pelan.


"Ayah...Mama...Alvin...M-Mereka disiksa paman...Paman Fray yang melakukannya...," Kata Reina pelan dengan napas pendek karna seluruh tubuhnya serasa lemas.


Netra Chloe membulat terkejut mendengarnya, Dia memegangi pundak adiknya. "Dimana mereka berada sekarang?!" Tanya nya panik.


"Rumah...Di rumah kita...Pria itu...Pria yang bersama paman tempo hari...Dia menggunakan kekuatannya agar orang-orang tidak melihat keberadaan mereka...,"


"Tampaknya itu semacam ilusi agar orang lain tidak menyadari kehadiran mereka atau bisa juga dia menggunakan pelindung tidak terlihat. Kalau begitu Ayah, Mama, dan Alvin dalam bahaya sekarang," Pikir Chloe sambil memandang Reina yang masih terengah-engah.


"Kakak...Tolong selamatkan Ayah, Mama, dan Alvin. Aku takut kalau paman semakin menjadi-jadi," Reina menatap sedih Chloe sambil mencengkeram jaket milik kakaknya itu.


"Kakak ingin menyelamatkan mereka tapi kamu bagaimana?"


"Aku disini saja, Kakak pergilah. Aku akan baik-baik saja," Reina mendorong pelan pundak Chloe, Mengkode agar kakak nya itu segera pergi.


"Gak! Kakak akan telpon ambulan dulu. Setelah itu baru kakak akan pergi,"


"Kakak...," Reina menatap memelas namun Chloe mengalihkan pandangan.


Dia segera menelpon ambulan dan meminta pihak ambulan agar datang lebih cepat. Usai menelpon ambulan Chloe berusaha melakukan berbagai cara agar adiknya tetap sadar selagi menunggu pihak ambulan datang.


Beberapa menit kemudian mobil ambulan datang ke tempat kejadian, Reina segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Sementara Chloe memilih tinggal membiarkan pihak ambulan membawa adik nya itu ke rumah sakit.


Walau sedih karna tidak bisa menemani sang adik tapi Chloe harus melakukan sesuatu yang lebih penting, Ini menyangkut hidup keluarganya. Dia bergegas pergi menuju rumah dimana tempat orang tua nya berada.


*******************


"Fray! Hentikan! Kenapa kamu melakukan ini?!" Teriak Brian marah, Dengan penuh emosi berusaha melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan dan kakinya.


Fray tampak duduk tenang di sofa sambil bersidekap, Disampingnya tampak Liam yang berdiri di belakang Fray. Memasang ekspresi datar andalannya.


"Kakak, Aku merasa kita sudah tidak sejalan lagi. Kau benar-benar membuat ku muak, Kau bisa mendapatkan segalanya dari ayah dan ibu bahkan penyandang status kepala keluarga Watson. Sedangkan aku...Apa yang kudapat?! Hanya kehampaan dan rasa dendam!" Fray menggebrak meja di depannya marah.


"Kamu sudah dikuasai oleh kekuasaan dan ke egoisan mu Fray, Makanya kakak memilih untuk tidak sejalan lagi denganmu. Jalan yang kau ambil itu salah, Kau telah mengorbankan semuanya demi kepuasanmu sendiri termasuk Ayah dan ibu!" Balas Brian tak kalah sengit.


Elina hanya bisa terisak menatap adik iparnya, Sementara Alvin terlihat sedang tergeletak pingsan di lantai setelah berusaha melawan Liam sebelumnya.


"Tidak bisakah kau membiarkan ku menang sakali saja! Selalu saja kau yang mendapat perhatian lebih dari orang-orang! Memuakkan!"


CTAR! CTAR!


Fray mencambuk Brian dengan cambuk listrik yang diberikan Liam, Sontak saja Brian kesakitan dan meronta usai mendapat cambukan itu sedangkan Elina berteriak histeris melihat suami nya di cambuk.


"Brian!"


Brian terduduk lemas, Meski begitu dia berusaha mendongak memandang netra Fray.


"Tidak akan...! Aku tidak akan membiarkanmu menang Fray...Kau sudah salah mengambil langkah...Aku tidak akan membiarkan kejadian itu terulang lagi...," Kata Brian dengan napas terputus-putus, Dia mulai batuk darah.


"Fray, Kumohon hentikan. Apa kau tidak kasihan sama sekali pada kakak mu hah?!" Bela Elina dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, Memohon pada adik iparnya itu untuk melepaskan mereka.


"Tidak ada belas kasihan pada kalian, Kita sudah tidak sejalan lagi. Jika kalian tidak menyerahkannya secara baik-baik maka akan kurebut dengan paksa. Aku tidak peduli kalau kalian mati sekali pun," Balas Fray dingin dan kembali mengayunkan cambuknya.


CTAR!


"Aarrgghh...!" Elina berteriak kesakitan setelah terkena cambukan Fray, Dia meringkuk sambil memeluk tubuhnya yang seolah tersengat puluhan listrik.


Brian tak bisa membantu apa-apa karna tubuhnya menjadi kaku akibat aliran listrik di tubuhnya. Semua keluarga Watson sekarat, Sementara Fray hanya menyerigai puas.


BRAK!


Pintu rumah tiba-tiba saja terbuka lebar, Membuat Liam dan Fray memusatkan perhatian mereka pada pintu utama. Disana Chloe berdiri dengan napas tersegal-segal.


Netra merah miliknya menatap nyalang Liam dan Fray yang berdiri di dekat sofa, Sedetik kemudian pandangannya beralih pada keluarganya yang sedang sekarat menahan sakit. Mereka semua tergeletak tak berdaya di lantai.


Melihat pemandangan itu tentu saja membuat tubuh Chloe terpaku beberapa detik, Perasaan amarah, cemas, sedih, dan marah bercampur dalam dirinya.


"Akhirnya kau datang juga, Kau terlambat beberapa menit tapi pestanya masih belum usai jadi kau masih punya waktu untuk menikmatinya," Fray tersenyum miring, Menatap keponakannya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kenapa hanya diam disana? Ayo masuklah," Ajak Fray.


Chloe mengacuhkan kata-kata Fray, Dirinya masih diam terpaku hingga secepat kilat dia mengambil tongkat besi yang berada di dekat pintu dan langsung berlari menerjang Fray.


"Aku tidak akan pernah memaafkan mu!" Teriak Chloe marah, Mengayunkan tongkat besi nya pada Fray.


BRAK!


Dalam hitungan detik Liam sudah berada di hadapan Fray dan menahan tongkat besi yang Chloe ayunkan tanpa merasa sakit sedikit pun. Chloe menggertakkan giginya, Dia berusaha menarik tongkat besi itu dari cengkeraman Liam.


KRAK!


Wuuussshh!


BRAK!


Tiba-tiba tongkat besi itu hancur lebur dalam sekejap dan meleleh layaknya es krim setelah Liam memegangnya, Dalam sekali pukulan Liam melempar Chloe ke sembarangan arah hingga punggung gadis itu menabrak dinding sangat keras.


Fray tersenyum penuh kemenangan, Dia kembali bersidekap sambil menatap keponakannya yang terbatuk-batuk.


"Butuh 20 tahun lagi untukmu melawanku, Chloe Watson. Dengan tubuh kecilmu itu, Kau mana mungkin bisa mengalahkan ku," Ejek Fray.


Chloe menahan sakit di punggungnya, Susah payah dia berdiri dan memandang Fray.


"Hah...Hah...Aku...Tidak akan kalah...," Kata Chloe dengan napas terputus-putus, Tubuhnya sedikit limbung namun ia berhasil menjaga keseimbangannya.


"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan saja, Kau juga sudah terlihat lemah seperti itu. Bicara dengan ayahmu percuma saja, Lagipula aku datang kesini cuma menginginkan dokumen itu," Fray mengibaskan tangannya seolah mengejek. "Berikan dokumen itu, Dan Aku tidak akan mengganggu keluarga mu lagi. Bagaimana?"


Chloe tidak menyahut, Malahan dia langsung melakukan tendangan memutar untuk mengenai Fray. Tapi lagi-lagi niat itu digagalkan Liam yang menangkis tendangan Chloe.


"Heh! Ternyata itu pilihanmu. Baiklah...," Fray berbalik. "Liam, Habisi mereka. Jangan ada satu pun keluarga Watson yang tersisa. Aku akan mencari sendiri dokumen itu,"


"Baik,"


Fray berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut, Liam kembali melayangkan pukulan dan menghempaskan tubuh Chloe ke lantai.


TBC