Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Arc Justin dan Victor



Setelah selesai memakai gaunnya, Chloe memandangi wajahnya dari pantulan cermin, Rambut panjangnya tergerai panjang, Hanya tinggal di pasang satu aksessoris maka selesai sudah. Sayangnya Chloe tidak tahu lagi mau mengikat rambutnya seperti apa.


Tok!  Tok!  Tok!


"Chloe, Sudah selesai gantinya?"


Suara Felix yang terdengar dari luar kamarnya sontak membuat Chloe menoleh, Gadis itu bergegas menghampiri pintu dan membukanya untuk Felix.


"Udah kak," Sahut Chloe tersenyum cerah.


Felix balas tersenyum, dia memperhatikan penampilan Chloe dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pria itu mengusap dagunya, Tampak berpikir setelah melihat penampilan Chloe.


"sepertinya belum sepenuhnya selesai," Pandangan Felix beralih pada rambut Chloe yang masih tergerai. "Boleh kubantu menata rambutmu?"


"Boleh, Lagipula aku juga bingung mau menata rambutku seperti apa," Chloe mengangguk kecil, Felix tersenyum tipis mendengarnya.


"Dilihat dari gaunnya, Aku sudah mempunyai bayangan ingin menata rambut mu seperti apa," Felix berjalan mendekati kasur Chloe dan duduk disisi nya.


"Duduk disini," Ucap Felix sambil menepuk tempat kosong disampingnya.


Chloe menutup pintu dan menurut duduk disamping Felix, Felix meminta Chloe membelakanginya. Jadi gadis itu mengikuti apa yang Felix perintahkan.


"Maaf ya, Aku pegang rambutmu,"


"Iya, Gak apa-apa,"


Perlahan Felix mulai menata rambut Chloe, Dia menata seperti apa yang dia bayangkan. Selama kegiatan itu terjadi, Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Chloe yang pada dasarnya kurang suka diam-diaman akhirnya membuka obrolan.


"Kak Felix, Kakak tahu gak alasan pak Justin menyuruhku dandan kayak gini?"


Felix diam sebentar, Memikirkan kata-kata yang tepat agar tak salah bicara. "Hm...Kalau tidak salah kudengar dia mau mengajakmu ke suatu tempat,"


"Kemana?"


"Entahlah, Yang pastinya tempat itu rahasia. Kalau diberitahu bukan rahasia lagi namanya," Kata Felix sambil tersenyum tipis.


"Kak Felix jadi ikutan Pak Justin nih, Rahasia-rahasian segala," Chloe mengerucutkan bibirnya, Felix yang melihat ekspresi Chloe dari pantulan cermin terkekeh kecil.


"Hehehe, Habisnya Justin gak kasih tahu. Jadi kakak juga gak tau kalian mau kemana, Dia bahkan juga tidak memberitahukannya pada Ezra," Felix melanjutkan menata rambut Chloe. Dia menyelipkan ikatan pita di helai-helai rambut Chloe.


"benar-benar tidak bisa ditebak," Sahut Chloe menghela napas.


Felix yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. "Nah selesai, Sekarang tinggal riasannya,"


Chloe memandangi pantulan wajahnya di cermin, Kini rambutnya tampak lebih rapi dengan disanggul dan dihiasi pita kecil terselip di rambutnya. Felix berdiri di depan Chloe, Dia mulai mengambil beberapa make up di meja rias gadis itu. Perlahan mulai mengerjakan tugasnya.


Beberapa menit kemudian...


Felix memandangi wajah Chloe sesaat dan tersenyum puas dengan hasilnya, Tak sia-sia dia belajar merias otodidak. Itu pun karna keinginannya sendiri. Setidaknya hasil kedua mulai bagus ketimbang hasil yang pertama. Kepalanya menoleh ikut memandangi cermin.


"Gimana, suka gak?"


Netra Chloe berbinar senang setelah melihat penampilannya lebih bagus sekarang, Ditambah hasil riasan Felix yang cukup natural. Membuatnya tambah menawan, Si gadis mengangguk senang sembari menunjukkan senyum cerah.


"Makasih kak Felix, Aku suka dengan hasilnya. Lebih bagus sekarang,"


"Senang mendengarnya," Felix tersenyum lega, Sekarang tugasnya sudah selesai. Namun tiba-tiba saja Chloe memeluknya hingga membuat si pria tersentak kaget. "Chloe..."


"Andai aku punya kakak seperti kak Felix, Sayangnya aku anak pertama," Chloe mendongak memandangi wajah Felix dengan ekspresi meweknya.


Sesaat wajah Felix merona merah, Dimatanya Chloe tampak lebih cantik jika dilihat dari dekat. Dan dia baru menyadarinya sekarang, Untuk menutupi rasa malu nya, Felix tertawa kecil dan memeluk Chloe balik.


"Kamu ngomong apa sih? Jadi kamu menganggapku sebagai kakak begitu, Boleh aja sih,"


"Serius kak?" Chloe kembali berbinar, Dan diangguki oleh Felix dengan senyum lembut.


"Yes, Sekarang aku punya kakak angkat," Chloe melompat girang tanpa melepas pelukannya.


Felix masih tersenyum, Senang kalau melihat Chloe bahagia. Sayangnya hal itu tak bertahan lama, Dia merasakan sensasi aneh di tubuhnya. Melihat wajah girang Chloe yang dimatanya tampak manis, Lalu netra aqua nya tertuju pada leher mulus si gadis.


Aku ingin mendekapnya lebih erat...


Aku ingin klaim dia selamanya....


Felix tertunduk kecil, Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tergoda. Namun apa daya dia tak tahan lagi melihat sosok Chloe yang menggemaskan di matanya. Lantas Felix mendekap Chloe erat seketika menghentikan aksi loncat-loncat si gadis. Felix menenggelamkan wajahnya di leher Chloe, Mengendus aroma manis dari si gadis. Dia menjilat kecil leher si gadis layaknya ice cream, sehingga menciptakan sensasi geli bagi Chloe.


"Kak, Ada apa?" Chloe tentu kebingungan dengan sikap Felix.


Chloe pikir, Apakah ini bentuk kasih sayang seorang kakak pada adiknya? Chloe baru tahu kalau cara Felix mengungkapkan rasa sayangnya berbeda dengan kakak-adik pada umumnya. Chloe saja tidak begitu sama Alvin dan Reina, Sampai harus jilat leher segala.


"Kak!" Chloe yang tak mendapat sahutan apapun dari Felix, Memegang pundak si pria dan sedikit mengguncangkannya. Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Chloe merasakan lehernya digigit. "Aaww!"


"Kak Felix kenapa menggigitku sih?! Aku bukan makanan," Protes Chloe sambil mengusap-usap lehernya yang baru saja digigit Felix.


Wajah pria itu seketika merah padam, Dia sedikit membungkukkan tubuhnya. "Maafkan aku, Aku tidak bermaksud menggigitmu. Tadi itu...," Felix melirik ke arah lain, Berusaha tidak terlihat panik. Rasanya dia kehabisan kata-kata untuk mencari alasan. Refleks Felix mengambil syal merah yang tergantung di lemari pakaian, Dan segera menyodorkan pada si gadis.


"Pakai ini untuk menyembunyikannya. Tanda itu akan hilang sekitar 2-3 hari. Jadi kau tenang saja," Felix berusaha tersenyum lembut sekaligus mengubah topik, Meski dirinya ingin cepat-cepat pergi dari sana. Kalau tidak, Mungkin dirinya akan bertindak lebih jauh lagi.


Chloe menerimanya dengan raut bingung. "kakak yakin tandanya akan hilang sendiri nanti?"


"Iya, Percaya aja sama kakak. Sekarang lebih baik kamu temui Justin, Kakak duluan ya. Dah!" Tanpa menunggu jawaban Chloe, Felix lantas bergegas pergi dari sana.


*************


Tap!  Tap!  Tap!


Selama menuruni anak tangga, Ekspresi Felix menjadi muram meski rona tipis masih menghiasi kedua pipinya. Dia menghela napas kasar, Mengacak kecil surai coklat miliknya.


"Apa sih yang kupikirkan?! Tadi hampir saja...," Felix kembali menghela napas kasar kembali, Sesampainya di lantai dasar. Ia melihat Justin yang sedang menyesap secangkir teh ditemani Ezra di belakang pria bernetra orange itu.


Menyadari kehadiran Felix, Justin segera meletakkan cangkirnya. Memandangi pria bersurai coklat itu.


"Gimana Fel, Udah selesai?" Tanya Justin bersidekap.


"Udah, Bentar lagi dia kesini," Felix mengambil jaket coklatnya yang tergantung di samping pintu utama. "Tugasku udah beres kan? Kalau begitu aku ke cafe dulu,"


"Iya,"


Justin memandangi kepergian Felix yang sudah keluar asrama, Sedangkan Ezra hanya melirik datar. Tak lama Chloe pun datang menyusul, Gadis itu terlihat merapikan syal merahnya yang melingkar di leher.


Sejenak Justin memperhatikan penampilan Chloe, Dia tersenyum puas. Berpikir, Tak sia-sia dirinya menunjuk Felix untuk membantu Chloe bersiap.


"Kenapa kau memakai syal? Ini kan bukan musim dingin," Komentar Justin menyadari syal merah yang melingkar di leher Chloe.


"Hehehe, Bukan apa-apa pak. Aku cuma mau makai aja kok. Soalnya ini syal kesayanganku yang dibuat oleh mama, Rasanya aku merasa sedih jika meninggalkannya," Chloe terkekeh kecil, Setidaknya ia punya alasan agar Justin tidak curiga.


"Oh, Ya udah. Ayo berangkat," Justin meranjak dan mengambil kunci mobil dari Ezra. Ezra hanya menatap muram ketika Justin sama sekali tidak menatapnya.


"Tunggu tuan! Bisakah aku bicara dulu dengan anak ini," Ezra langsung mencekal lengan Chloe sebelum gadis itu melangkah pergi. Sampai-sampai membuat Chloe agak terkejut.


"Baiklah, Tapi jangan lama-lama,"


Ezra mengangguk setelah Justin mengizinkan nya, Tanpa berkata apapun lagi. Dia lantas menyeret Chloe untuk mengikutinya.


**************


Untungnya saat ini dapur sedang kosong, Tidak ada siapa pun disana. Tanpa basa-basi Ezra langsung mencengkeram kedua pundak Chloe dan Menatap tajam.


"Dengar ya tengil! Jaga Tuan Justin dengan nyawa mu selama kalian pergi, Kalau sampai kulihat dia pulang dengan keadaan luka atau lecet sedikit pun. Akan kubunuh kau kalau hal itu sampai terjadi!" Ancam Ezra sambil mengeratkan cengkeramannya, Dan lagi-lagi Chloe hanya bisa diam seribu bahasa mendapat ancaman seperti itu.


"Tapi pak Ezra, Pak Justin itu bukan anak kecil. Jadi pak Justin pasti-"


"Diam dan jangan ngebantah! Lakukan saja yang kubilang!" Sela Ezra sebelum Chloe menyelesaikan kalimatnya.


Pada akhirnya Chloe menghela napas pasrah, Lalu hormat ala tentara. "Siap pak,"


"Kayak habis dimarahin komandan njirr," Batin Chloe yang hanya bisa meringis dalam hati.


"Baguslah kalau kau paham, Cepat kembali sana!" Ezra membalikkan tubuh Chloe menghadap pintu dan mendorong si gadis keluar dapur. Hampir saja Chloe jatuh akibat dorongan Ezra kalau saja dia tidak menjaga keseimbangannya.


Gadis itu menoleh kembali sambil mendengus. "Aku tahu pak, Gak usah pake di dorong segala," Protesnya.


"Apa? Ngebantah lagi?!" Ezra bersidekap dengan pandangan tajam nya.


"Enggak pak," Chloe keringat dingin sebelum buru-buru pergi dari sana, Kembali ke tempat Justin. "Hiii! Serem kayak singa,"


Sesampainya di ruang tamu, Chloe memandangi Justin yang tampak menunggu, Sesekali pria itu menatap jam arloji nya.


"Sudah pak," Suara Chloe membuat Justin mendongak, Pria itu mengangguk kecil sebelum meranjak dan berjalan pergi.


"Ya sudah, Ayo,"


Chloe pun mengikuti Justin, Entah mereka akan kemana.


TBC


[Nama: Neil Gracia


Age: 23 tahun]