Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Kemarahan Justin



Aiden baru saja selesai mengerjakan misinya, Dan ia baru saja pulang ke asrama. Aiden mendapat informasi dari Livian kalau anggota asrama diminta oleh Justin untuk berkumpul di ruang rapat. Meski terkadang dia tak bisa menebak apa yang Justin rencanakan.


Tap! Tap! Tap!


Cklek!


Aiden membuka pintu di depannya, Beberapa anggota tampaknya sudah hadir disana. Ada satu hal yang menarik perhatiannya, Sesosok pria berpakaian barista terlihat duduk di sebuah sofa. Tangan serta kaki nya diikat, Hanya menyisakan mulutnya yang tidak dilakban.


Disamping sang pria terdapat Felix dan Devian, Berjaga-jaga kalau pria barista yang sedang pingsan itu mencoba kabur.


"Apa yang terjadi?" Aiden menatap datar sembari duduk di salah satu sofa tepat disamping Raizel.


"Dia dicurigai sebagai dalangnya kebakaran itu," Jelas Neil, Memutar-mutar belati di tangannya.


"Hei, Ian. Apa kau yakin dia orangnya? Terlihat tidak meyakinkan," Rea meneliti wajah barista itu, Sementara Ian yang ditanya hanya mendengus.


"Ya," Jawab nya singkat.


"Sesuai ingatan yang dia miliki, Bisakah kita melihatnya langsung?" Kata Raizel.


"Nanti, Kita tunggu Justin dan Ezra dulu," Balas Felix. Rion disamping Neil hanya manggut-manggut.


"Benar-benar melelahkan, Aku baru saja menyelesaikan misiku. Tapi harus membahas soal orang ini," Devian menghembuskan napas kecil, Dia berdecak kesal.


"Hooam....Aku juga, Sangat melelahkan," Livian melipat tangannya dan menyembunyikan wajah diantara lipatan tangan.


"Tidur terus!" Cibir Rea, Namun diacuhkan Livian.


BRAK!


Usai obrolan itu berakhir, Mereka dikejutkan dengan kedatangan Justin yang tiba-tiba. Pria itu membuka pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara gebrakan yang memekakkan telinga. Sementara Ezra hanya mengikuti dari belakang.


Brak!


"Siapa diantara kalian yang membunuh para manusia itu saat terjadi insiden kebakaran di sana! Jawab aku!" Bentak Justin penuh amarah, Dia menggebrak meja dan melemparkan lembaran foto-foto mayat yang terdapat bekas gigitan di lehernya.


Semua anggota terdiam, Livian sampai terbangun karna gebrakan itu. Mereka semua memandangi foto-foto tersebut, Tidak ada yang membuka suara sama sekali meskipun mereka sudah melihat foto-foto nya.


"Jawab! Jangan hanya diam saja! Kalau salah satu diantara kalian bersalah, Seharusnya mengaku!" Nada Justin masih membantak, Karena tidak ada yang membuka suara. Aiden lah yang menjawab.


"Aku tidak pernah menggigit manusia di luar asrama, Hanya anggota asrama yang kugigit," Jelas Aiden, Mengingat dalam satu tahun terakhir. Hanya dirinya lah yang jarang terlihat di luar asrama, Kecuali ada hal penting baginya atau karna mengerjakan misi.


"Aku juga, Aku memang beberapa kali mencari mangsa. Tapi aku selalu menyembunyikannya di tempat yang sepi," Ian berkomentar, Dia tidak tahu menahu soal mayat yang ada di pemukiman itu.


"Mangsa ku bukan manusia kelas rendahan seperti warga desa ini, Jadi mana mungkin aku menggigitnya," Rea bersidekap, Ia meletakkan foto itu dengan angkuh. Bagi Rea, Darah gadis muda bangsawan atau berdarah biru lebih enak menurutnya dari pada warga biasa.


"Hm...Kalau aku sih, Rasanya tidak pernah menggigit gadis ini. Ini pun baru pertama kali aku melihat wajahnya, Dan kalau pun aku sedang mencari mangsa, Pasti sudah kulakukan di tempat yang sepi," Celetuk Neil.


"Livian?!" Justin menoleh pada Livian karna para anggota dari ras vampir tidak ada satu pun yang mengaku menggigit mayat itu secara terang-terangan.


Livian yang merasa terpanggil mengangkat satu alisnya heran. "Kau pikir aku bisa minum darah seperti mereka? Ingat! Aku ini werewolf dan makanan kesukaanku adalah daging bukan darah! Kalau pun aku menggigit wanita itu, Dia pasti sekarang berada dalam perutku dan bukan menjadi mayat,"


Justin mulai pusing, Dia memijit keningnya sesaat. Lalu menatap Devian dengan penuh tanda tanya, Paham Justin menatapnya, Devian mendengus kecil.


"Aku gak bunuh dia, Kalau kubunuh pasti dilehernya itu ada bekas sayatan dan bukan gigitan. Lagipula gak ada gunanya juga kalau aku bunuh dia," Balas Devian acuh.


"Bagaimana dengan Felix, Rion, dan Raizel?" Justin memandang tiga anggota yang dia sebutkan namanya, Namun serempak ketiganya menggeleng.


"Aku tidak ada kaitan nya denga insiden atau pun mayat itu, Karna saat terjadi nya kebakaran. Aku sedang mengerjakan misi," Jelas Raizel.


"Aku juga, Hari itu aku pergi ke kota sebelah untuk mengurus perusahaan ayahku. Dan mempercayakan cafe ku pada Finni," Felix ikut menyahut.


Ting!


[Saat kejadian itu, Aku sedang menjaga asrama. Dan lagipula aku tidak pernah menjejakkan kaki kesana].


"Jadi tidak ada salah satu diantara kalian yang berada disana?" Semua anggota mengangguk serempak membenarkan perkataan Justin.


Ezra menghela napas, Mereka tidak menemukan bukti apapun selain foto-foto mayat itu dan potongan rantai.


"Kalau ingin tahu lebih jelasnya, Bagaimana kalau tanya dia saja?" Neil menendang kaki barista disampingnya, Mencoba menyadarkan barista itu.


Tentu saja usaha itu berhasil, Si barista tersentak dan terbangun dari pingsannya dengan wajah linglung. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah raut wajah masing-masing para anggota yang berbeda.


Si barista sontak saja ketakutan menyadari dirinya di tempat asing dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Kalian..."


"Oi, Kau dalang di balik insiden kebakaran di pemukiman warga di desa selatan bukan?" Kata Devian to the point.


"Enggak–"


"Jangan coba-coba berbohong! Kami akan tahu kalau kau berbohong!" Ucap Rea tajam. Memotong perkataan si barista.


Barista itu gemetar takut, Dia menunduk dalam-dalam. "I-Iya, Tapi saya cuma disuruh. Tolong jangan hukum saya," Mohon nya ketakutan.


"Siapa yang menyuruh mu?"


"Dia tidak menyebutkan nama nya, Yang pastinya dia mengiming-imingi saya dengan uang 125.000$ dengan syarat saya harus membakar pemukiman itu. Setelahnya dia melakukan sisa nya," Jelas si barista penuh ketakutan.


Justin dan yang lain menarik kesimpulan, Dan tentu saja Justian memikirkan rencana selanjutnya. Kalau bukan salah satu anggotanya yang membuat kekacauan, Justin curiga jangan-jangan ada vampir lain yang berkeliaran di luar asrama.


Benar! Secara logika beberapa makhluk supernatural seperti vampir, Werewolf dan sebagainya hidup berdampingan dengan manusia agar mereka bisa bertahan hidup. Justin yakin sekali pasti ada vampir liar yang tidak bisa dia temukan, Karna mereka bisa saja bersembunyi di suatu tempat yang benar tertutup dan menunggu manusia lengah.


Jika kecurigaan nya ini terbukti benar, Maka mau tak mau mereka harus mencari vampir liar itu. Sejenak Justin memandang si barista dengan tatapan penuh selidik.


"Meski kau mengatakan sejujurnya, Aku tetap tidak punya pilihan lain selain membawamu ke kantor polisi. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu,"


"Tidak! Jangan! Aku melakukan ini demi keluargaku. Demi istri dan anak-anak ku, Kami hanya keluarga kecil yang mencari sesuap nasi," Barista itu mulai berkaca-kaca.


Istri? Seketika Justin terdiam mematung, Benar juga dia baru menyadari kalau Chloe tidak ada di ruangan yang sama dengan mereka. Anak itu menghilang lagi.


"Dimana Chloe?!" Tatapan Justin menajam membuat semua anggota kembali diam. Sesaat beberapa dari mereka saling pandang kecuali Ian yang tetap tenang di tempat.


"Entahlah, Mungkin pergi ke suatu tempat lagi dan lupa pulang," Balas Rea acuh, Ezra di belakang Justin cuma mengangguk setuju.


"Atau mungkin ke tempat keluarganya?" Tebak Felix ragu.


"Jangan bilang salah satu dari kalian berbuat ulah lagi dan sengaja membuatnya selalu menghilang?!" Justin menatap marah, Dia menggebrak meja di depannya.


Brak!


"Siapa yang bertemu dengannya terakhir kali?" Neil memandang yang lain penuh kebingungan.


"Aku," Ian melirik ke arah lain, Membuat semua pasang mata memandangnya.


"Cari anak itu sampai ketemu! Kau tidak akan mendapat jatah darah kalau sampai tidak menemukannya Ian! Aku tidak peduli bagaimana pun caranya," Ucap Justin tegas.


Ian mendengar hal itu mendelik tajam, Tapi dia tidak mengatakan apapun atau membalas perkataan Justin. Pria bersurai hitam dengan netra merah itu hanya berdecih sebelum melangkah pergi dari ruangan tersebut.


TBC