Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Pertarungan (3)



GREP!


Angin berhembus kencang menusuk kulit Chloe, Si gadis masih memejamkan mata. Selama beberapa saat dia tak merasakan apapun yang menghantam punggungnya. Malahan sebaliknya, Dia merasakan dekapan erat dari seseorang ditambah seolah tubuhnya melayang di udara cukup lama.


Tak merasakan sakit apapun, Chloe memutuskan membuka kelopak matanya. Pemandangan pertama kali yang dia lihat adalah wajah Neil meski sebagian wajahnya tertutup topeng. Walau begitu dia masih bisa melihat dengan jelas netra beriris hijau itu menatap dalam. Tunggu rasanya ada yang aneh, Mengapa dirinya seakan lama melayang diudara?


Chloe melirik ke bawah, Benar saja mereka sama sekali tidak menapak tanah. Malahan mereka berhenti di udara, Cahaya ungu tampak menyelimuti mereka sehingga tidak jatuh sama sekali. Rasanya seperti...elemen gravitasi?


Sejenak netranya mengerjap untuk mencerna situasi, Saat ini pun dirinya di gendong ala bridal style oleh Neil. "Apa ini, Kenapa kita melayang?!" Pekik Chloe kaget.


Neil menatap teduh sebelum menjawab pertanyaan Chloe. "Maaf membuatmu kaget, Aku terpaksa mengeluarkan kekuatanku. Tidak perlu cemas, Aku tidak akan menyakitimu,"


Perlahan Neil menurunkan tubuhnya dan kakinya mulai menapak tanah sebelum menurunkan Chloe dari gendongannya. Setelah menapak tanah, Chloe refleks mundur dan langsung menjaga jarak dari Neil dengan tatapan horror. Sadar Chloe menjauhinya membuat Neil tertawa pelan.


"Ada apa kau takut?"


Si gadis lantas menggeleng sambil menunjuk di belakang Neil. "Bukan tapi di belakangmu kak Neil..,"


Neil tentu saja langsung mengikuti arah telunjuk Chloe, Berbalik dan melihat tangan seseorang yang tampak keluar dari tumpukan beton-beton gedung tua yang sudah hancur. Tangan itu menyingkirkan beton yang menghalanginya sebelum menampakkan diri, Memperlihatkan tinggi nya yang mencapai 2 meter dengan surai hitam dan netra merah darah yang berkilat marah.


"Masih hidup juga ternyata setelah jatuh dari ketinggian dan tertimbun reruntuhan," Canda Neil sambil tersenyum yang sebenarnya itu adalah sindiran.


Liam hanya menatap dingin, Cairan silver tiba-tiba saja keluar dari lengannya yang tertutup jubah. Cairan itu membentuk sebuah rantai berukuran sedang sepanjang 2 meter dengan ujungnya yang dilengkapi pisau tajam.


"Jadi begitu, Kau ingin adu senjata ya," Neil menyerigai kecil, Tak mau kalah dua buah belati muncul di kedua tangannya. Bahkan batu-batu berukuran sedang tiba-tiba saja melayang disekitar Neil dengan cahaya ungu muda menyelimuti batu-batu itu.


Tanpa aba-aba dia melesat pergi menyerang Liam, Batu-batu yang melayang itu juga melesat mengikuti pergerakan Neil. Tentu saja ketika kedua nya bertarung kembali, Gelombang ultrasonik muncul lagi membuat hentakan yang sama seperti sebelumnya.


BUM!


Debu-debu beterbangan membuat Chloe harus menutup mata dan menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi kepala. Setelah merasa aman, Dia membuka mata dan memperhatikan pertarungan antara Neil dan Liam. Kini keduanya sama-sama memakai senjata, Suara-suara besi beradu pun tak terelakkan, Benda-benda di sekitar Neil melayang ikut menyerang Liam.


Entah kenapa Chloe merasa tidak terkejut lagi melihat kekuatan sebesar itu yang notabanenya di luar logika, Seolah dirinya sudah terbiasa dengan kekuatan sejenis itu. Angin malam berhembus cukup kencang menerbangkan helai-helai rambut nya.


"Terus aku gunanya disini untuk apa?" Gumamnya bingung hanya bisa melihat pertarungan itu dari jauh.


Seketika Chloe teringat dengan adik-adiknya, Rasa cemas pun melanda gadis itu mengingat adik-adiknya lebih dulu keluar dari gedung. Apa mereka selamat?


Ia segera berlari mencari keberadaan adik-adiknya memutari reruntuhan gedung tersebut. Netra merahnya menatap liar sekitar, Mencari keberadaan mereka yang mungkin saja ada disana. Sayangnya disekitar reruntuhan gedung, Chloe sama sekali tidak menemukan keberadaan mereka, Sontak ia dilanda rasa panik.


"Alvin, Reina!" Teriak Chloe. Dia terus melangkah.


"Kak!"


Mendengar suara panggilan tidak jauh dari tempatnya membuat Chloe menoleh, Dia tersenyum lega saat melihat kedua adik kembarnya melambaikan tangan. Segera langkah kaki itu berjalan cepat menuju adik-adiknya.


"Bagaimana keadaan kalian? Apakah masih ada yang sakit?" Tanya Chloe cemas, Sesampainya dihadapan mereka.


"Sudah mendingan kak," Jawab Alvin mengusap lengannya yang sudah tidak sakit lagi.


"Aku baik-baik saja, Tidak ada yang lecet sedikit pun," Sahut Reina sembari mengangguk.


"Syukurlah,"


Alvin memandangi Neil dan Liam yang masih beradu kekuatan, Rasanya dia tak bisa berkata-kata lagi saking takjubnya sekaligus ngeri.


"Kakak, Kau kenal dengan pria bersurai magenta itu?" Tanya Alvin yang sontak membuat Chloe keringat dingin.


"Eh?...Umm...," Lidah Chloe seakan kelu untuk menjawabnya, Dia tak ingin memberitahukan sekarang. Sungguh sulit ketika melihat tatapan penasaran dari kedua adik kembarnya.


BUM!


WWUUSSHH!


Suara tersebut sontak membuat tiga bersaudara itu kaget, Tubuh seseorang tampak melayang di udara dan dia terlihat terhempas. Sayangnya arah hempasan itu tertuju pada Chloe, Alvin refleks menarik kakaknya untuk menghindar.


"Kak! Awas!"


WWUUSSHH!


"Pelindung Gravitasi!"


PRANG!


Dalam hitungan detik, Neil sudah di depan Chloe. Sebuah dinding transparan sedikit mengeluarkan cahaya ungu muda muncul di depan mereka, Ketika tubuh Liam menghantam dinding itu seketika langsung pecah membuat tubuh Neil limbung terkena dampak gelombang yang dia hasilkan.


GREP!


"Ya, Hanya tergores sedikit," Katanya tersenyum tipis, Menyingkirkan tangan Chloe dari pundaknya.


Liam memegangi perutnya yang terluka cukup parah setelah mendapat tusukan dari Neil, Dia menggertakkan gigi menatap Neil tajam sebelum berdiri. Tak lama kelopak-kelopak bunga lily bermunculan, Dalam hitungan detik pria itu menghilang meninggalkan kelopak bunga lily yang mengelilinginya tadi.


"Dasar pengecut! Dia malah kabur," Neil mendengus sembari menyeka keringatnya, Deru napas tak beraturan terdengar dari si pria.


Mendadak keheningan menyelimuti mereka, Hanya terdengar suara hembusan angin yang menerbangkan helai-helai rambut mereka. Alvin dan Reina saling pandang, Kemudian menatap reruntuhan gedung di depan mereka.


Begitu pun dengan Chloe, Secara tidak langsung Neil telah merusak fasilitas umum. Dia menarik pelan lengan baju Neil dan menunjuk reruntuhan di depan mereka. "Jadi bagaimana dengan gedung ini kak Neil?"


"...." Neil terdiam sejenak, Dia menggidikkan pundaknya. "Entahlah, Sejak awal gedung ini memang sudah tua kan. Jadi kurasa mereka bisa merenovasinya ulang. Lagipula nanti ada yang mengurusnya,"


"Kedengarannya seperti tidak bertanggung jawab," Sahut Chloe sweetdrop.


Neil hanya terkekeh pelan, Netra hijaunya beralih pada Alvin dan Reina. "Baiklah, Jadi mereka berdua adalah adikmu?"


"Iya, Yang itu Alvin dan ini Reina," sahut Chloe memperkenalkan kedua adiknya.


"Senang bertemu dengan kalian adik ipar. Namaku Neil Gracia," Katanya sedikit membungkuk sambil tersenyum, Dia meletakkan tangan kanannya di dada kiri seperti sikap pangeran.


"Adik ipar? Oh, Jadi kamu suami kakak ku," Ucap Reina dengan tatapan berbinar setelah Neil memperkenalkan dirinya.


"Yup benar," Neil masih mempertahankan senyumnya.


"Lebih tepatnya suami pura-pura," Batin Chloe tersenyum kecut mendengarnya.


Alvin terdiam sejenak raut wajahnya seketika memucat teringat dengan kakuatan Neil yang dilihatnya, Dia sedikit gemetar menatap Neil dan menjaga jarak. "Ka-Kau pasti Monster! Iya pasti mahkluk itu, Manusia mana mungkin memiliki kekuatan! Dasar monster, Kau seharusnya menjauh dari kakakku!"


Alvin berteriak marah, Dia menarik Chloe menjauhi Neil. Reina juga merapat ke arah Alvin. Neil yang mendengar sebutan monster yang ditujukan padanya seketika senyum yang terpatri di bibirnya memudar, Wajahnya menggelap dengan kepalan di kedua tangannya. Tidak ada senyum lagi di yang terpatri di wajah pria itu.


"Kalian tahu, Aku paling benci mendengar kata itu. Berani sekali manusia rendahan macam kalian menyebut kata-kata sakral bagi ras kami, Akan kutunjukkan sosok monster yang sesungguhnya,"


Neil mendongak memperlihatkan netra yang tadinya hijau berubah menjadi ungu gelap, Kuku-kuku di tangannya menajam. Tampak menatap liar tiga bersaudara dihadapannya seolah predator yang baru saja menemukan mangsa. Auranya begitu mencekam, Ia melangkah mendekati Chloe dan adik-adiknya.


Netra Chloe membulat ketika melihat sosok perubahan Neil yang begitu cepat, Dia menjadikan tubuhnya sebagai temeng Reina dan Alvin, Mereka mundur teratur ketika Neil berjalan semakin dekat.


"Ka-Kak Neil, Tunggu dulu. Maafkan adikku, Dia tidak bermaksud begitu," Chloe tergagap, Berusaha menyadarkan Neil agar berubah pikiran.


Namun seakan tak mendengarkan, Neil terus berjalan mendekat. Gelombang ultrasonik kembali muncul sehingga menghempaskan ketiga bersaudara itu berlawanan arah.


BRUK!


"Aaww!" Chloe meringis ketika punggungnya menabrak reruntuhan gedung cukup kencang.


Dia melihat Neil mendekati kedua adiknya yang juga merintih, Buru-buru Chloe memaksakan tubuhnya berdiri, Dia berlari dan berusaha menghentikan Neil.


"Kak Neil jangan!" Serunya panik.


"Maaf, Pertemuan kita sampai disini saja adik ipar. Kalian akan melupakan kejadian hari ini besok," Kata Neil menggerakkan tangannya yang berselimut cahaya ungu pudar pada Reina dan Alvin.


WUSH!


Seketika Alvin dan Reina pingsan dalam sekejap, Pandangan Neil beralih pada Chloe yang menghampirinya. Pria itu juga mengarahkan tangannya pada si gadis.


"Mimpi yang indah Watson,"


NGGIIINGG!


Langkah Chloe berlahan memelan, Kepala nya mendadak pusing. Tubuhnya mulai limbung tak karuan.


"Ugh...Kenapa kepalaku mendadak sakit?" Chloe menghentikan langkahnya, Ia memegangi kepala sebelum tubuhnya ambruk menghantam tanah.


Yang Chloe lihat terakhir kali adalah Neil yang berjalan menghampirinya sebelum kesadaran gadis itu ditarik kegelapan.


TBC


Bonus:


[Nama: Raizel Fraymon


Age: 22 tahun]