Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Penyelidikan Justin dan Ezra



"Merepotkan," Ian menatap datar, Ia masih bersikap tenang di tempat meski pistol itu tertuju ke arahnya.


"Disaat nyawa mu sedang terancam, Kau masih bersikap tenang ya," Barista itu menyerigai. "Menarik,"


"Dimata ku kau hanya seogok sampah rendahan yang banyak omong," Balas Ian dingin.


Seketika amarah si barista langsung memuncak mendengarnya. "Apa?! Akan kubungkam mulut kotor mu itu!"


Tanpa menunggu lama si barista menembakkan pistolnya, Ian refleks bergerak cepat, Dia menghindar dengan gesit tanpa terkena tembakkan itu sama sekali.


Buak!


Ian melakukan tendangan memutar, Tepat mengenai kepala si barista. Seketika barista itu terjatuh tanpa perlawanan dan pingsan dalam sekejap. Tentu saja Ian tanpa menyia-nyiakan waktu langsung menarik kerah si barista.


Dia berniat menusuk jantung barista itu dengan tangan kosong, Namun belum sempat dilakukan, Disaat yang sama suara Chloe terdengar mendekat.


"Kak Ian! Hentikan!" Teriak Chloe dari jauh.


Ian menoleh memandang arah Chloe, Tatapannya tampak kosong seakan tak memiliki emosi hanya ekspresi dingin yang pria itu berikan.


Tap! Tap! Tap!


Set!


"Kak Ian, Cukup! Kakak bisa menahannya tapi jangan membunuh, Sama saja kak Ian melakukan tindakan kriminal kalau membunuh dia!" Kata Chloe tegas, Dia menahan tangan Ian yang menarik kerah barista itu.


"Jangan ikut campur, Ini misiku!" Pandangan Ian semakin dingin. "Minggir! Sebelum kau kubunuh!"


"Gak! Aku gak akan membiarkan kak Ian menyakiti manusia!" Chloe menolak tegas.


Wuush!


Tak berselang lama dalam sekejap Chloe merasakan lehernya dicekik, Gadis itu tersentak ketika merasa ia tak bisa mengeluarkan pita suaranya, Saat netra Chloe menatap Ian. Bola mata pria itu yang tadinya putih kini berubah hitam gelap seperti iblis. Dia tidak berekspresi apapun.



"Ka-Kak Ian...," Susah payah Chloe mengeluarkan pita suaranya, Dia memegang tangan Ian yang mencekiknya. "Kenapa...,"


"Kau sangat menjengkelkan manusia! Aku heran mengapa kau sangat melindungi manusia sampah seperti ini," Ian melirik barista yang pingsan di tangan satunya. "Entah karna hatimu terlalu baik atau kau memang sejak awal tidak ingin hidup lagi,"


"Ugh...!" Chloe berusaha melepaskan tangan Ian dari lehernya, Wajah gadis itu mulai membiru karna kekurangan oksigen. Dia bahkan hampir tidak bisa lagi membuka suara.


"Selama ini aku hidup dalam kekosongan. Sekarang aku harus bertemu dengan gadis menjengkelkan sepertimu," Ian sedikit mendekatkan wajahnya, Tanpa berekspresi apapun. "Kalau begitu jelaskan padaku, Apa arti dari kebaikan dan kepercayaan?"


Mulut Chloe hanya bisa terbuka tanpa bisa menjawab pertanyaan Ian, Pandangannya memburam. Wajah Ian sekarang hanya menjadi bayang-bayang di pandangan Chloe.


"Kau tidak bisa jawab kan, Jadi tidak ada gunanya kau mengehentikan ku,"


BRUK!


Tubuh Chloe terjatuh setelah Ian melepaskan cekikannya, Samar-samar pendengaran Chloe menangkap kata-kata terakhir Ian sebelum kegelapan menguasainya.


"Go home useless girl,"


*****************


Justin bersama Ezra kini sedang menjalani misi penyelidikan di sebuah perkampungan bekas kebakaran yang menewaskan beberapa penduduk, Mereka bersama beberapa pihak polisi sedang mencari barang-barang bukti tentang dalang di balik kebakaran tersebut.


Meski Justin mencurigai barista di sebuah cafe sebagai dalangnya, Namun ia masih belum banyak menemukan bukti untuk menuduh barista itu ke pihak polisi. Jadi hanya anggota black shadow yang tahu, Maka nya dirinya menyuruh Ian untuk menangkap si barista.


Saat ini ia berjalan melewati beberapa rumah yang sudah porak poranda, Banyak diantara rumah-rumah itu hangus terbakar dan hanya menyisakan kayu-kayu reot yang tak utuh lagi.


Justin memelankan langkahnya saat netra orange itu menemukan sesuatu yang menarik dari balik tumpukan kayu. Ia mendekati lalu mengambil benda tersebut setelah menyingkirkan beberapa tumpukan kayu.


Sebuah potongan rantai cukup besar seukuran telapak tangan, Dari semua benda yang hangus terbakar. Hanya rantai itu yang tidak terlihat terbakar sama sekali.


"Potongan rantai ini...Sungguh berbeda, Disaaat benda-benda lain hangus terbakar, Cuma rantai ini yang tidak berbekas sama sekali," Pikir Justin curiga.


"Tuan Justin!"


Justin menoleh saat pendengarannya menangkap suara langkah kaki mendekat.


"Tuan, Aku menemukan satu mayat yang tertibun di tumpukan kayu disana," Kata Ezra menunjuk posisi mayat yang dia temukan tak jauh dari mereka.


Justin bergegas pergi mengikuti Ezra, Sesampainya di tempat mayat itu. Dia dan Ezra lantas menyingkirkan beberapa tumpukan kayu yang hangus. Setelah dilihat lebih jelas, Sosok mayat itu adalah seorang gadis muda dengan kulit yang pucat, Terdapat bekas cakaran di bagian pundaknya sampai menjalar ke lengan kanan, Terdapat juga dua buah lubang kecil seperti jarum suntik di leher mayat si gadis seolah gadis itu seperti di gigit hewan buas.


Justin berjongkok menyadari kejanggalan yang ada, Dia menyentuh leher mayat tersebut yang terdapat bekas gigitan. Tangannya beralih ke bekas cakaran di pundak sang gadis.


"Dia seperti habis diterkam hewan buas," Ezra meneliti lebih detail mayat di depan mereka.


Justin menggeleng pelan, Sepertinya dia tak sependapat dengan Ezra. "Memang ada bekas cakaran di pundaknya, Tapi coba lihat lebih jelas di bagian leher. Kalau hewan buas pasti lehernya sudah robek, Tapi yang ini hanya seperti bekas gigitan. Juga kulitnya sangat pucat dan tubuhnya juga sangat kurus. Menurutku sepertinya bukan hewan buas yang melakukan ini,"


Ezra mengangguk kecil, Dia mulai paham apa yang Justin maksud. "Sepertinya memang bukan hewan buas, Di bagian lehernya gigitan itu terlihat berbeda. Apa jangan-jangan ini ulah salah satu anggota asrama?"


"Masalahnya hanya beberapa anggota asrama yang bisa melakukan ini," Tambah Ezra merendahkan nada suara nya agar pihak polisi tidak mendengar suara mereka.


Pemilik asrama itu diam beberapa saat, Benar juga. Sejauh ini yang Justin tahu hanya anggota asrama yang memiliki gigitan seperti ini, Hal itu dikarenakan sebagian mereka adalah ras vampir dan memiliki taring runcing yang tajam seperti jarum suntik.


Tatapan Justin menjadi suram dan dingin, Sekarang dia mencurigai salah satu anggota nya sebagai pelaku. Apakah ia marah? Tentu saja Justin sangat marah, Dia tidak melarang anggota nya untuk mencari mangsa tapi tidak secara terang-terangan begini sampai melibatkan pihak polisi.


Kalau seperti ini rahasia mereka akan terbongkar, Bisa-bisa pihak polisi malah menganggap keberadaan black shadow sebagai ancaman di dunia manusia. Belum lagi kalau sebenarnya semua anggota black shadow bukan manusia (Kecuali Chloe).


Tanpa menunggu lama Justin menekan jam arlojinya, Seketika panggilan itu terhubung pada Livian.


"Apa?"


"Suruh semua anggota berkumpul di ruang rapat sekarang!"


"Oke,"


Panggilan itu terputus secara sepihak, Justin menggenggam rantai di tangannya dengan erat antara marah dan geram. Lalu dia berbalik dan berjalan mendahului Ezra.


"Kita pulang ke asrama sekarang!"


"Baik!"


Ezra bergegas mengikuti tuannya, Untuk kali ini Ezra tidak berani bertanya karna dia tahu Justin sedang marah besar saat ini.


TBC