
Samar-samar Chloe mendengar suara sedikit berisik di sekitarnya, Si gadis mengernyitkan alis, Ia menggerakkan sedikit tangannya sebelum memutuskan membuka matanya.
Hal pertama yang dia lihat adalah pemandangan ruangan serba putih di sekitarnya dengan aroma obat-obatan, Tidak salah lagi. Ini pasti di rumah sakit, Mata Chloe mengerjap guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Perlahan gadis itu bangun dan mengambil posisi duduk, Sejenak ia memperhatikan selang infus yang terpasang di tangan kiri nya. Si gadis diam sesaat mengingat apa yang terjadi padanya terakhir kali.
Sekelebat ingatan saat dirinya mencoba menahan Ian pun terlintas di pikirannya, Sekarang dia ingat. Gara-gara cekikan Ian yang membuatnya pingsan, Terlebih satu hal yang paling Chloe ingat adalah bola mata si pria yang awalnya putih dalam sekejap mata menjadi hitam kelam. Sepertinya Ian memiliki kekuatan yang sama dengan Livian.
"Siapa yang membawaku ke rumah sakit? Apakah kak Ian?" Pikirnya menduga-duga.
Clek!
Tatapan Chloe beralih pada daun pintu yang terbuka lebar, Memperlihatkan sosok lelaki yang baru saja datang dengan bungkusan hitam di tangannya. Netra si pria bertemu pandang dengan Chloe yang baru siuman, Ekspresi si pria terlihat kaget.
"Eh? Kau baru saja siuman ya?"
Chloe yang mendengarnya hanya mengangguk kecil sebelum melihat laki-laki itu mendekati nya.
"Apa ada yang sakit? Mau kuambilkan sesuatu?" Tanya si pria, Nada suaranya terdengar cemas meski tertutup dengan senyuman sang pria.
"Tidak, Hanya saja kenapa aku ada disini?" Tanya Chloe dengan suara sedikit parau karna habis bangun dari pingsannya.
"Aku tidak sengaja melihatmu pingsan di tepi jalan, Jadi kubawa saja kesini," Jelas si pria masih tersenyum, Lalu dia berdehem pelan menyembunyikan gerak canggungnya. "Ngomong-ngomong, Apa kau masih ingat aku? Kita sudah lama tidak bertemu,"
Chloe mengerjap beberapa saat setelah mendengar pertanyaan itu, Ia memiringkan kepalanya sedikit kesamping. Mencoba mengenali wajah pria di depannya, Hingga tak lama kemudian netra Chloe melebar kaget dan refleks menyebutkan satu nama yang saat ini masih dia ingat sampai sekarang.
"Kak Herry?! Ini benar-benar kau?" Katanya tak percaya.
Herry, Kakak kelas Chloe sewaktu SMP sekaligus orang yang Chloe sukai hanya tersenyum mendengar namanya disebut.
"Yup benar! Ini aku, Setelah beberapa tahun tidak bertemu, Tak kusangka kau masih mengingatku ya Chloe," Kata nya ramah.
Pipi Chloe merona tipis, Gadis itu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Herry. "Bagaimana mau lupa, Dulu kan kak Herry sering bantu aku kalau aku sedang kesusahan. Apalagi waktu Mos, Makanya sampai sekarang aku gak bakal lupa sama kebaikan kak Herry,"
Herry tertawa pelan mendengarnya, Dia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Gak juga kok, Aku murni hanya ingin membantu. Aku senang kalau kita bisa bertemu lagi pada akhirnya,"
"Aku juga...," Cicit Chloe malu.
"Sekarang kamu gimana, Udah lulus belum? Atau sekarang lagi kuliah?"
"Iya, Aku udah lulus SMA. Rencana nya sih mau kuliah tapi ngumpulin uang dulu deh. Kerja setahun dulu buat ngumpulin uang," Chloe tertawa pelan. "Kalau kak Herry gimana sekarang?"
"Sekarang aku udah kuliah sih, Mau lulus juga tinggal buat skripsi nya aja," Herry mendudukkan diri di kursi tepat disamping kasur Chloe.
"Oh iya, Memangnya kak Herry ngambil jurusan apa?"
"Kedokteran, Biar kalau bisa nyembuhin penyakit ayahku,"
"Wah, Keren dong. Aku bakal jadi langganan setia kalau dokternya kak Herry," Canda Chloe sambil tertawa pelan.
"Eh jangan! Nanti kalau kamu sakit terus siapa yang bakal jagain kamu?" Sahut Herry menanggapi candaan Chloe sambil terkekeh.
"Kan ada kak Herry, Tinggal minta di sembuhin aja beres deh,"
Keduanya sama-sama tertawa setelah candaan Chloe berakhir. Herry sampai geleng-geleng kepala mendengarnya walau tawa kecil masih meluncur dari si pria.
"Ada-ada aja deh kamu," Katanya.
Chloe masih tertawa pelan hingga akhirnya tawa itu mereda, Si gadis menghela napas beberapa saat, Sementara Herry memandangi bingkai jendela yang mengarah ke pemandangan taman rumah sakit.
"Beberapa hari terakhir, Kadang aku merasa semuanya tidak akan sama lagi semenjak aku lulus SMA," Kata Herry.
"Semenjak aku mengikuti orang itu, Perasaan bersalah selalu menghantui ku. Dia mengajakku ke dalam lingkaran gelapnya dan membuatku menjadi orang yang berbeda," Herry menunduk kecil, Chloe yang masih tidak paham dengan racauan Herry hanya membiarkan pria itu terus bercerita. "Aku yang harusnya membantu masyarakat untuk sembuh malah sebaliknya membuat mereka menderita,"
"Rasanya suara-suara itu bisa membuatku gila kapan saja," Kata nya lirih, Seketika Chloe teringat dengan anggota black shadow.
Hah? Jangan bilang Herry masuk kelompok sejenis black shadow? Atau pria itu masuk kelompok mafia. Wah, Sangat gawat.
"Kak Herry habis bunuh orang?" Chloe menepuk pundak Herry seketika membuat Herry kaget dengan tebakan Chloe.
Pria itu langsung mengalihkan pandangannya dari bingkai jendela, Menatap gadis yang tenga terduduk di kasur ini.
"Bag-Bagimana kau bisa tahu?! Kau cenayang?!" Tanya Herry terbata-bata, Chloe speecheles sesaat.
"Bukan, Habisnya pas kakak bilang. Kakak diajak masuk ke dalam lingkaran gelap seseorang, Pikiranku langsung tertuju pada mafia atau sejenisnya. Aku pikir kemungkinan kakak masuk kelompok kriminal," Jelas Chloe.
Herry tertunduk sambil mencengkeram kerah pakaiannya dimana letak jantungnya berada. "Aku terpaksa melakukan hal itu, Karna mereka menjadikan ayahku sebagai jaminan,"
"Kalau begitu tetaplah di jalan kesesatan," Celetuk Chloe.
"Hah?!" Herry seketika mendongak. Chloe panik dan buru-buru meralat ucapannya.
"Mak-Maksudku tetaplah di jalan kebenaran. Kak Herry harus tegas menolah perintah mereka,"
"Tapi mereka mengancam akan membunuh ayahku kalau aku menolak,"
"Kalau begitu selamatkan ayahmu dulu kak Herry,"
"Bagaimana caranya? Anggota mereka sangat banyak,"
"Aku juga tidak tahu...," Chloe mengusap tengkuknya bingung, Masalah Herry sangat rumit menurutnya. Sedangkan Herry tersenyum kecut mendengar Chloe tidak bisa memberikan ide apapun padanya.
"Hah~...Ya sudahlah, Tidak apa-apa. Mungkin ini sudah takdirku, Yang terpenting kau berhati-hati saja saat keluar malam sendirian," Nasehat Herry dan diangguki oleh Chloe.
"Baiklah,"
"Aku akan mengantarmu pulang,"
Chloe kembali mengangguk, Herry kembali tersenyum. Dia mengusap pelan surai Chloe sesaat, Sebelum pergi mengurus biaya administrasi nya.
*******************
[Disisi lain]
Chloe tidak sadar kalau sejak tadi dirinya di perhatikan oleh seseorang di luar rumah sakit, Hanya melalui jendela kaca maka semua kegiatan pasien di dalam akan terlihat.
Sejak 30 menit yang lalu Ian berdiri di luar rumah sakit tepat menghadap kaca dimana tempat Chloe dirawat, Dia mengetahui keberadaan Chloe melalui aroma gadis itu mulai dari tempat si gadis pingsan dan mengikuti sampai ke rumah sakit.
Melihat interaksi antara Chloe dan Herry membuat Ian mengepalkan tangan, Ekspresi nya tetap tenang dan dingin seperti biasa. Namun sorot netra merahnya menajam seolah bisa menusuk Herry kapan saja.
Ian memang tidak bisa mendengar obrolan antara Herry dan Chloe, Karna posisi nya di luar rumah sakit. Namun dia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Chloe tampak bahagia ketika berbicara dengan Herry.
Apalagi ketika dirinya melihat Herry mengusap rambut istri nya seenak jidat, Dan melihat wajah Chloe yang tampak merona malu. Sebelumnya gadis itu tidak pernah beraksi seperti itu pada Ian maupun anggota lain.
Tangannya semakin mengepal sampai kuku-kuku jarinya sedikit menajam dan melukai telapak tangannya, Ian masih menatap dingin sebelum bergumam pelan.
"Sekarang kau sudah berani selingkuh di belakang kami, Lihat saja nanti saat kau sudah sampai di asrama," Gumam Ian dingin.
Dia berbalik dan melangkah ke sudut rumah sakit yang tidak terkena cahaya lampu, Dalam sekejap dirinya menghilang diantara kegelapan malam dengan hembusan angin disekitarnya.
TBC