
[Keesokan harinya]
"Rai...!"
"Raizel!"
Raizel melenguh kecil ketika dirinya merasakan tepukan di pipi nya, Dia membuka mata menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Sebelum benar-benar sadar sedang berada di mana sekarang, Ia melihat Aiden yang sedang duduk di sisi kasur sambil menatapnya.
"Cepat bangun dan segera sarapan!" Kata Aiden to the point, Menatap datar Raizel yang tampak masih mengumpulkan nyawa.
"Apa yang terjadi denganku? Aku tidak ingat apapun selain terakhir kali menyelesaikan misi," Raizel memegangi kepalanya yang agak sakit, Mencoba mengingat sesuatu.
"Neil bilang kau pingsan saat pulang dari misi, Entah apa yang terjadi denganmu sebelumnya," Aiden meranjak, Dan berjalan keluar kamar meninggalkan Raizel disana.
Sementara Raizel masih betah berdiam diri di kasurnya, Dia mencoba mengingat kejadian yang mengakibatkan dirinya pingsan. Setelah ingatannya kembali, Wajah Raizel sontak merah padam. Dia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan.
"Ah, Malam itu...! Di-Dia...Benar-benar melakukannya!" Ucap Raizel malu, Saking malunya dia bahkan sampai guling-guling di kasur.
"Tidak kusangka ciuman malam itu bisa sampai membuatku begini," Raizel memegangi jantungnya yang berdegup kencang, Wajah nya masih merah padam dengan pikiran yang melayang ke beberapa jam yang lalu.
"Apa yang kau lakukan? Tampaknya setelah pulang dari misi tingkahmu jadi aneh,"
Suara seseorang yang mengintrupsi kegiatan Raizel dari arah ambang pintu membuat perhatian Raizel teralihkan, Dia melihat Ezra yang menatapnya aneh, Pria itu terlihat menyandarkan tubuh di ambang pintu sambil bersidekap.
"Apa pedulimu? Biasanya kau langsung ke kamar Justin," Balas Raizel jengkel karna rasa senangnya terganggu dengan kehadiran Ezra.
"Kebetulan saja aku lewat dan melihat tingkah anehmu," Sahut Ezra datar.
Raizel diam sejenak, Lalu secepat kilat meranjak dari tempat tidurnya. Dia mendekati Ezra dan mencengkeram kedua pundak si pria.
"Ezra, Aku ingin tahu. Bagaimana rasanya jatuh cinta?" Tanya Raizel tiba-tiba dengan pandangan serius.
Sontak saja tindakkan Raizel membuat Ezra agak kaget, Terlebih kedua pundak nya dicengkeram oleh pria bersurai hitam campur coklat itu.
Ezra mengernyitkan alisnya. "Kau ini kenapa sih?"
"Jawab saja pertanyaanku!"
"Ya mana aku tahu, Aku gak pernah merasakannya selama ini!"
"Tapi kau dan Justin...," Raizel menjeda kata-katanya sesaat, Mengingat bagaimana kedekatan antara Ezra dan Justin selama di asrama.
Sontak saja rona tipis menghiasi kedua pipi Ezra, Dia lantas menepis tangan Raizel yang mencengkeram pundaknya.
Plak!
"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Kami berdua itu beda! Seharusnya kau tanya pada dirimu sendiri. Kan kau pernah pacaran, Masa sama sekali tidak merasakan apapun pada mantan pacarmu!" Ezra menunjuk-nunjuk wajah Raizel kesal, Berusaha menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya.
"Oh, Benar juga," Raizel bersidekap sambil berpikir. "Tapi selama pacaran, Kurasa aku tidak merasakan apapun pada Lea. Tapi kalau sama dia (Chloe) kok beda ya?"
"Sebenarnya siapa yang kau maksud?" Ezra kembali menyandarkan tubuhnya ke tembok. Menatap Raizel serius.
"Dia...," Raizel diam sejenak, Kalau ia katakan orang yang dia maksud adalah Chloe. Bisa-bisa Ezra akan marah karna dia masih berhubungan baik dengan Chloe apalagi setelah mereka cerai. Padahal Ezra termasuk salah satu yang menentang ada nya cewek di asrama mereka.
"Seharusnya aku tidak perlu ngasih tau Ezra soal hal ini. Dia pasti tidak akan senang mendengarnya," Pikir Raizel.
"Bukan siapa-siapa," Pada akhirnya Raizel memilih menyembunyikan soal ingatan lama nya dan soal Chloe pada Ezra.
"Hm...Pasti kau masih dalam pengaruh mimpi," Ezra memberikan tatapan datar karna Raizel tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Iya, Sepertinya begitu. Aku masih agak ngantuk makanya masih berhalusinasi," Bohong Raizel, Sambil mengusap wajahnya.
"Hah~, Ya sudah ayo ke dapur," Ezra menghembuskan napas pelan lalu berjalan pergi dari kamar Raizel.
*******************
[Dapur]
"Aku ingin kita semua menyelesaikan kasus yang terjadi di desa itu secepatnya!" Kata Justin bersidekap.
Disaat yang bersamaan Raizel dan Ezra baru saja datang, Mereka langsung duduk di kursi masing-masing.
"Menyelesaikan nya bukan hal yang mudah Justin, Apalagi para Fallen Angel itu sudah mulai ikut campur," Kata Rea serius.
"Bagaimana pun caranya aku tidak peduli, Meski para Fallen angel itu sudah bergerak. Kita harus lebih dulu menangkap orang yang sudah membuat kekacauan di desa itu," Sahut Justin tegas.
"Soal pelaku pembakaran desa, Aku menemukan potongan rantai yang sama seperti potongan rantai yang ditemukan Ezra," Ian mengambil potongan rantai di saku celana nya dan memperlihatkan pada Justin.
"Aku menemukan rantai ini di rumah Chloe saat melawan orang itu," Tambah Ian.
Justin memperhatikan potongan rantai tersebut lalu menyerahkan pada Rea. "Rea, Kau periksa rantai ini. Aku tunggu hasilnya besok,"
Rea menerimanya lalu memperhatikan rantai tersebut dengan seksama. "Aku merasakan elemen logam dari rantai ini, Aura nya juga beda. Ezra, Berikan potongan rantai yang kau temukan,"
Ezra memberikan rantai yang ditemukannya di bekas reruntuhan bangunan desa, Rea langsung memeriksanya.
"Benar! Aura dan elemennya sama. Ini artinya yang melukakan perbuatan itu adalah orang yang sama. Ian apa kau ingat ciri-ciri orang yang kau lawan?" Pandangan Rea tertuju pada Ian, Bahkan anggota lainnya juga melakukan hal yang sama kecuali Aiden.
"Yang kuingat dia memakai topeng dan armor hitam dengan penutup kepala. Saat itu dia mengeluarkan beberapa rantai dari balik punggungnya, Bukan hanya elemen logam tapi dia juga memiliki elemen api," Jelas Ian mengingat-ngingat musuh yang dia lawan saat di rumah Chloe.
"Yang paling mencolok adalah keperawakannya sangat mirip dengan Aiden," Tambah Ian dengan pandangan datar.
"Sangat mirip dengan Aiden? Kalau Aiden tidak memiliki elemen logam atau api. Ini sangat aneh," Ucap Neil tampak berpikir sambil bersidekap.
Tak!
"Kalau dia sangat mirip denganku, Kemungkinan dia adalah mantan object percobaan di organisasi yang sama sepertiku dulu. Aku ingat semua object percobaan disana memiliki bentuk tubuh dan perawakan yang sama," Kata Aiden sambil meletakkan makanan.
"Kalau begitu kau pasti masih punya koneksi dengan organisasi itu kan?" Tanya Livian namun di balas gelengan oleh Aiden.
"Sudah tidak lagi sekarang, Tempat itu sudah lama musnah. Aku sendiri yang membakarnya agar tidak ada lagi yang menyalah gunakan tempat itu," Sahut Aiden mendudukkan diri di kursinya.
"Jadi apa sekarang? Kita menemukan jalan buntu?" Devian mendesah lelah, Dia perlahan mengambil sarapan bagiannya.
"Belum tentu," Justin mengambil kembali potongan rantai itu dari Rea, Lalu memberikannya pada Aiden. "Bagaimana denganmu Aiden? Mungkin kau ingat dengan object percobaan yang menggunakan elemen api dan logam semasa kau tinggal disana dulu,"
Aiden menerimanya, Sesaat dia mengendus rantai itu lalu memejamkan mata.
"Yang kuingat object percobaan M-16 dan M-19 saja yang punya kekuatan elemen semacam ini, Salah satu dari mereka termasuk object percobaan yang mendekati kata sempurna. Sayangnya M-16 mati saat menjalankan misi, Yang tersisa hanyalah M-19 yang saat ini keberadaannya tidak kuketahui,"
"Sudah dipastikan kalau kemungkinan pelaku itu adalah M-19 yang saat ini menghilang, Kau yakin tidak melihatnya saat membakar organisasi itu?" Tanya Raizel.
"Ya, Aku sangat ingat. Dia menghilang setelah aku membakar tempat itu, Sayangnya aku tidak ingat siapa nama aslinya. Dulu kami lebih sering dipanggil dengan nomor," Aiden mengangguk kecil, Dia perlahan memakan sarapannya.
"Karna orang yang Ian lawan saat itu ada di rumah Chloe, Satu-satu nya cara untuk mencari informasi ini adalah bertanya pada Chloe," Celetuk Felix.
"Oh iya benar! Aku juga pernah bertarung dengannya saat mengawasi Chloe, Kalau tidak salah waktu gadis itu pergi ke gedung tua untuk menyelamatkan adiknya," Kata Neil dengan semangat.
"Sepertinya kita mulai menemukan titik terang," Justin tersenyum tipis lalu menoleh pada Felix. "Felix, Misi mu sekarang adalah cari informasi apapun tentang orang itu dari Chloe. Aku yakin dia ada hubungannya dengan masalah ini,"
"Aku mengerti," Felix mengangguk kecil setuju.
Mereka menyudahi diskusi itu dan mulai menyantap sarapan masing-masing.
TBC