
[Beberapa menit sebelumnya]
Raizel menaiki anak tangga satu-persatu, Sesampainya dihadapan pintu kamar Chloe dia mengetuknya. Menunggu pintu kamar itu terbuka.
Tok! Tok! Tok!
Krreeiit!
Netra ungu muda Raizel memperhatikan gerak-gerak chloe yang baru saja membuka pintu, Sesaat tatapan keduanya bertemu. Gadis itu tersenyum ramah membuat Raizel salah fokus sejenak.
"Kamu anggota asrama ini juga? Aku Chloe Watson. Panggil saja Chloe," Chloe tersenyum ramah.
"Hm...Raizel Freymon, No 6. Terserah panggil apa saja," Raizel menatap dingin sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Felix, Menyuruhku untuk mengajakmu makan siang. Ikuti aku,"
Raizel melangkah lebih dulu, Membiarkan Chloe menyusulnya di belakang. Si gadis bahkan belum mengatakan apapun, Dia hanya mengikuti langkah kaki Raizel.
"Kau tinggal disini sudah berapa tahun?" Tanya Chloe basa-basi, Dia menjajarkan langkahnya dengan Raizel yang berjalan santai.
"2 tahun,"
"Lama juga ya, Btw kenapa kau memilih tinggal disini? Padahal yang kulihat disini suasananya sama seperti rumah biasa pada umumnya," Chloe memandangi sekitar mereka dengan netra merahnya. Menilai seisi mansion.
"Tidak, Disini berbeda...," Lirih Raizel pelan, Sesaat kepalanya tertunduk. "Disini aku bisa meluapkan perasaanku yang tersimpan, Aku bisa melakukan apapun sesuka hatiku,"
Chloe yang tidak mendengar jelas perkataan lirih Raizel, Menolehkan kepalanya. Tatapan bingung dia berikan pada pria bersurai hitam bercampur coklat itu. "Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak!" Raizel kembali menatap lurus ke depan. Ia kembali memasang ekspresi dinginnya. "Aku tidak bisa memberitahu kan alasanku. Setiap anggota yang tinggal disini punya alasan masing-masing. Jangan mencampuri urusan anggota lain," Peringatnya dingin.
"O-Oh, Begitu ya. Aku mengerti," Chloe tersenyum kikuk, Menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk. "Sistem peraturan seperti ini agak aneh menurutku, Tapi aku akan mencoba mengikutinya,"
Meski heran mengapa setiap anggota mempunyai alasan masing-masing untuk tinggal di asrama ini, Chloe memutuskan tak menanyakan perihal itu lagi takutnya membuat Raizel tidak nyaman. Langkah kaki mereka berhenti di sebuah ruangan super luas, Namun diruangan itu tampak berantakan dengan tepung yang bertebaran dimana-mana.
Sekilas Chloe mendengar suara tawa seseorang disusul sebuah pertanyaan.
"Hahaha...Aiden, Kalau kami berdua ikut denganmu. Siapa yang akan masak?"
"Kacau sekali,"
Chloe melirik Raizel lalu mengangguk setuju. "Umm...Kenapa ini?"
Dirinya tiba-tiba maerasakan genggaman tangan seseorang, Si gadis sontak mendongak ketika tangannya di tarik. Sebuah apron berwarna ungu kini tergeletak di tangannya. Gadis itu menatap sosok pria bersurai ungu bercampur hitam di puncak rambutnya yang menarik tangan Chloe.
"Tolong gantikan aku masak. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan mereka dulu,"
"Hah?!" Gadis itu terbengong sembari menggenggam apron di tangannya. Tak lama dalam sekejap mata Neil bersama Felix menghilang disusul menghilangnya pria bersurai ungu tadi.
Kini otak Chloe dipenuhi berbagai pertanyaan dalam pikirannya.
"Sebenarnya mereka itu makhluk apa barusan?!" Tanya Chloe bengong.
"...."
"Tidak perlu kau pikirkan," Justin mendekati kursi bersama Ezra dan Raizel, Lalu duduk di kursi pilihannya. "Aiden, Memintamu untuk masak kan. Jadi tolong masak untuk kami. Terserah menu nya apa saja,"
"Huh, Aku masak sendiri?" Chloe mengernyitkan alisnya mendengar perintah Justin, Dia menatap apron di tangannya sejenak. Gadis itu menghela napas, Dia memakai apron itu lalu mengikat rambutnya agar tak mengganggu nanti.
Chloe mendekati kulkas, Melihat isi nya untuk menentukan menu yang akan dia buat. Dia mengambil sebuah bawang yang baru bersama sayur lainnya. Memotong bawang dan sayurnya setelah di cuci.
"Siang-siang begini kayaknya cocok kalau aku buat Yakisoba. Semoga suka aja sih mereka," Pikir Chloe sambil menyiapkan kembali bahan-bahan yang dia perlukan.
Selama Chloe memasak, Justin dan yang lainnya sibuk mengutak-atik handphone masing-masing. Terutama Justin yang sedang menghubungi anggota ke-10, Setelah panggilannya di terima. Pria bernetra orange itu meranjak dan menjauhkan diri dari anggota yang lain. Memastikan mereka tidak mendengar obrolannya.
Tut!
"....Halo, Ada apa?" Suara dengan nada malas dan mengantuk itu lah yang pertama kali Justin dengar. Kedengarannya seperti baru bangun tidur.
"Kau dimana? Tugasmu sudah selesai, Seharusnya kau sudah pulang sekarang,"
"Disuatu tempat...Yang tinggi,"
"Jangan meracau! Katakan saja kau dimana!"
"Hoaamm...Ya ya ya, Aku sedang menginap di hotel sekarang. Kau menyuruhku menyelidiki kasus yang diperbuat oleh Devian, Sepanjang malam aku terus mencari informasinya. Sekarang sudah dapat,"
"Kalau begitu cepat pulang, Waktumu sudah habis,"
"Tidak...Aku masih ingin tidur, Mungkin aku akan pulang nanti malam. Hoaamm...Sampai nanti,"
Tut!
Panggilan itu terputus secara sepihak, Justin menatap layar handphonenya sejenak sambil mendesah lelah. Dia kembali melangkah menuju kursinya, Disaat yang bersamaan Chloe menghidangkan makanan yang dia buat. Gadis itu ikut duduk setelah menuangkan air mineral sebelumnya.
Satu-persatu dari mereka mulai menyantap makanan masing-masing. Chloe yang menyadari ketidak hadiran Aiden, Neil, Felix. Memandang Raizel di dekatnya.
"Mungkin sedang menjalankan hukuman," Balas Raizel cuek, Hanya terfokus pada makanannya.
Chloe manggut-manggut, Menyuap kembali makanannya.
"Untuk ukuran anggota baru, Masakanmu lumayan juga," Komentar Justin setelah mencoba sedikit masakkan Chloe. Dia menatap dengan netra orange nya yang dibalas tatapan Chloe.
"Umm...Benarkah? Baguslah kalau begitu, Kuharap rasa nya tidak mengecewakan," Chloe tersenyum kikuk, Merasa agak malu karna ini pertama kalinya ada orang asing yang memuji masakannya.
"Tentu tidak, Rasa masakkanmu hampir setara dengan Aiden," Justin tersenyum tipis, Chloe tersenyum ceria mendengarnya. Merasa senang karna masakkannya cukup disukai salah satu anggota sarama.
Ezra tentu saja diam-diam mendengar kan interaksi antara Justin dan Chloe. Dia berdecak kecil memandangi bagaimana Justin dibuat tersenyum oleh gadis bersurai hitam itu. Tentu dia tidak senang melihat interaksi itu, Terlebih makanan yang dimakannya di buat oleh Chloe. Gadis yang sejak awal kehadirannya tidak diterima oleh Ezra, apalagi setelah tuannya Justin tampak menikmati obrolan bersama Chloe.
"Cih! Caper," Gumam Ezra sinis, Memalingkan pandangan dan memutuskan tidak menghabiskan makanannya. Meski baru mencicipi sedikit, Dia sudah tidak berselera lagi menghabiskannya.
Sedangkan Raizel, Pria itu memilih fokus menghabiskan makanannya. Tidak ikut campur bagaimana Chloe dan Justin asyik ngobrol, Lalu Ezra dengan aura suramnya karna diabaikan Justin. Dibanding memperhatikan tiga orang itu, Dia meranjak dan meletakkan piring kosongnya di wastafel.
"Aku selesai,"
Dengan langkah santai Raizel berjalan keluar dari ruangan dapur.
*************************
[Disisi lain]
Suara langkah kaki bergema sepanjang lorong asrama, Raizel melewati beberapa kamar di lantai 2 menuju taman mawar. Dirinya berniat santai sejenak disana, Berusaha menghilangkan rasa stres yang dipendamnya selama beberapa hari.
"Aku lupa bawa gunting," Gumamnya sadar bahwa dia melupakan benda kesayangan itu, Yah dia berniat memetik beberapa tangkai mawar untuk hiasan di kamarnya.
Raizel berpapasan dengan Neil yang entah datang dari mana, Membuat langkah pria bersurai hitam bercampur coklat itu terhenti. Pandangan netra ungu mudanya mengamati gerak-gerik Neil yang tampak berjalan sempoyongan, Tak tentu arah. Beberapa bercak darah tampak melekat di pakaian Neil dan yang lebih mencolok adalah dibagian kerah lehernya.
Pandangan pria bersurai ungu magenta itu terlihat sayu dan lemah, Dia mendongak ketika menyadari kehadiran Raizel di dekatnya. Neil mengulurkan tangan berusaha meraih Raizel.
"Rai...,"
BRUK!
"Oi, Neil!" Raizel sigap menangkap tubuh Neil yang hampir jatuh, Membuat Neil akhirnya bisa menopang tubuhnya pada Raizel. "Kau kenapa? Apa jangan-jangan Aiden...,"
"Ukh...Dia melampiaskan semuanya padaku dan Felix, Kami harus menahan rasa sakit selama 1 jam dan dia melakukannya dengan bruntal," Kata Neil frustasi, Beberapa kali Raizel melihat ekspresi Neil tampak menahan sakit. "Kau lihatkan bekas gigitannya di leherku?! Dia bahkan mengambil setengah liter dari darahku,"
"Oh, Mungkin karna mengerjakan misi dia tidak minum darah sampai misinya selesai. Itu kan memang hukuman yang pantas buat kalian," Balas Raizel datar.
"Pantas apanya?! Dia melakukannya dengan bruntal! Dengan bruntal kau tahu!" Neil menekan kata-katanya, Menatap kesal.
"Aku tahu itu, Lalu dimana Felix?"
"Dia masih di kamar Aiden, Setelah Aiden menghisap darahnya dia jatuh sakit. Bukankah terdengar kejam?" Neil mengubah ekspresinya seolah-olah sedang merasa sedih.
Raizel hanya merotasikan matanya, Dia tak ingin mengurusi Felix dan Neil. Raizel melepas pegangannya namun langsung ditahan Neil sebelum Raizel pergi menjauh.
"Kau mau kemana?"
"Taman mawar,"
"Tapi aku haus,"
Netra ungu mudanya melirik kecil pada Neil yang memasang ekspresi memelas seperti anak kucing.
"Kau bisa ambil sendiri kan di dapur, Pakai teleport juga bisa," Balas Raizel acuh, Berusaha melepaskan tangan Neil dari lengannya.
"Bukan itu maksudku! Aku membutuhkanmu tau!"
"Jangan sekarang, Aku sibuk. Minta sama yang lain sana!" Raizel mendengus kesal karna Neil terus menahannya.
Neil tersenyum lemah. "Aku butuhnya sekarang Rai...Tubuhku sudah sangat lemah,"
Tanpa membuang waktu Neil menggigit lengan Raizel membuat pemiliknya kaget, Tak lama Raizel merasakan darahnya tersedot keluar. Pria bernetra ungu muda itu melotot marah.
"Sudah kubilang jangan sekarang! Anggota lain nanti akan melihatnya!" Raizel berusaha menarik lengannya dari gigitan Neil, Namun Neil tak ingin melepas nya bagitu saja. Dia semakin memperdalam gigitannya membuat Raizel mendesis kesakitan.
"Sialan! Taringnya sangat tajam," Raizel berdecak kesal, Pada akhirnya dia mengalah dan membiarkan Neil menghisap darahnya.
Duk!
Neil dan Raizel mendengar suara asing membuat Raizel menoleh berbeda dengan Neil yang mengacuhkan suara itu dan memilih fokus dengan aktivitasnya.
"Ck! Ada yang kesini disaat yang tidak tepat," Raizel berdecak kesal. Menunggu siapa yang akan menghampiri mereka.
TBC