
"Apa?! Reina?"
Pandangan Chloe berubah gusar, Dia berdiri dan lantas menjauh dari ruang tamu menuju teras rumah.
"Kamu yang benar Alvin,"
"Serius, Aku gak bercanda kak. Mereka membawa Reina, Aku tidak sempat mengejar karna mereka membiusku,"
"Cepat kasih tahu kamu dimana?!"
Alvin memberikan alamat tempatnya menunggu, Setelah dapat. Chloe langsung mematikan telponnya dan bergegas menulis surat untuk orang tuanya sebelum berlari pergi membawa paper spray dan syal merah kesayangannya.
**************
[Beberapa jam sebelumnya]
Krriingg!
Bel berbunyi keras menandakan jam sekolah sudah usai, Reina yang duduk sebangku dengan kembarannya langsung menyikut.
"Vin,"
"Hm..." Alvin, Pemuda dengan surai hitam dan netra orange itu menoleh setelah membereskan bukunya. "Apa?"
"Setelah ini kita ke kedai makan yuk, Cari yakiniku," Ajak Reina dengan antusias, Sedangkan Alvin menatap malas.
"Minta dibuatin sama kakak atau mama juga bisa, Gak usah beli segala. Tinggal beli bahan-bahannya doang kok,"
"Tapi aku pengen makan di kedai, Ayolah Vin," Reina menarik-narik lengan seragam Alvin, Mulai merengek.
"Ya udah deh, Tapi kali ini aja ya. Soalnya kita juga harus hemat uang jajan," Alvin pasrah setelah berkali-kali Reina merengek padanya.
"Oke deh, Belinya gak yang mahal juga kok,"
Reina mengambil ranselnya setelah membereskan peralatan tulis, Beberapa teman sekelas mereka kini sudah banyak yang pulang. Mereka berdua segera keluar kelas menuju lantai dasar. Tentu saja selama perjalanan menuju gerbang sekolah, Mereka bercanda ria seperti saudara pada umumnya.
Hingga tak lama seseorang memanggil Alvin dari belakang. "Kak Alvin,"
Sontak Alvin dan Reina menoleh dan menemukan seorang gadis yang berlari mendekati mereka, Gadis manis dengan senyum ceria yang tersungging di bibirnya. Yang Alvin tebak adalah adik kelasnya, Mengingat dirinya dan Reina sudah masuk tahun ke-3 di SMA.
"Ada apa ya?" Alvin menatap bingung ketika adik kelasnya itu sudah berada dihadapannya.
"Ano kak...," Wajah gadis itu memerah malu, Dia tampak memilin ujung seragamnya, Terlihat sekali kalau gadis itu sedang gugup. "Bisa ikut aku sebentar gak kak? Soalnya ada yang mau aku katakan,"
"Bilang aja disini, Gak apa-apa kok,"
"E-Eh...Tapi...," Gadis itu melirik gugup Reina, Dia menunduk malu.
Reina yang paham menepuk pundak kembarannya. "Aku tunggu di dekat gerbang aja ya, Silakan lanjutkan lagi,"
"Oke," Alvin mengangguk kecil membiarkan Reina berjalan lebih dulu meninggalkannya bersama si adik kelas.
"Jadi kamu mau bilang apa?"
Gadis manis itu menatap malu-malu lalu mengambil sesuatu dari saku roknya. Sebuah bungkusan berisi kue kering dengan bentuk hati, Bungkusan itu sudah dihiasi sebuah pita.
"Kak Alvin, Aku sudah suka sama kakak sejak MOS hari itu. Kak Alvin terus muncul dipikiranku, Makanya aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku," Si gadis menyodorkan bungkusan itu dengan wajah memerah. "Aku benar-benar suka sama kakak, Kak Alvin jadilah pacarku!"
Netra orange Alvin melebar kaget, Jantungnya berdegup kencang seketika. Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang mengungkapkan perasaan padanya, Dia salah tingkah. Pipinya merona tipis, Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk.
"Umm..Gimana ya, Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa. Tapi aku gak mau pacaran, Apalagi aku belum mengenalmu. Maaf ya, Mungkin nanti kamu menemukan cowok yang lebih baik dari aku," Alvin tersenyum kikuk.
Adik kelas Alvin yang mendengarnya menunduk sedih. "Begitu, Aku juga minta maaf kak karna tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku kesannya kayak buru-buru ya,"
"Iya,"
"Maaf kak,"
"Gak apa-apa, Aku juga memang lagi gak ingin pacaran,"
"Iya, Kalau begitu aku pergi dulu kak,"
"Hati-hati dijalan," Alvin tersenyum simpul sembari mengangguk, Adik kelas Alvin pun pergi setelah melambaikan tangan.
Alvin berbalik ingin menyusul Reina namun langkahnya terhenti ketika melihat kembarannya itu di bekap oleh dua orang yang tidak dikenal, Terlebih Reina dibuat pingsan oleh mereka.
"Woi! Lepasin Reina!" Teriak Alvin lantas berlari ke arah satu orang yang ikut menculik kembarannya.
BUAK!
Tanpa menunggu lama Alvin langsung melayangkan tinjunya. Seketika mengenai orang itu.
BRUK!
"Reina...."
BRUK!
*****************
Perlahan Alvin membuka matanya, Dia mengerjap sambil berusaha bangun. Sebelum itu netra orange nya memandangi sekitar. Sepi dan sunyi, Alvin terbangun di sebuah gang buntu, entah sudah berapa lama dia pingsan. Ia memegangi kepala nya yang sakit kemudian berjalan pelan keluar gang.
"Reina...Apa yang mereka inginkan dari Reina?" Pikir Alvin, Dia merintih ketika merasa sakit di pergelangan tangannya.
Sesampainya di luar gang, Alvin kembali menatap sekitar. Oh, Dia ingat jalan ini. Jalan menuju pasar swalayan, Alvin menebak pasti para penculik itu bersembunyi tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Dia lantas merogoh saku seragamnya, Mencari alat komunikasinya. Untung semua barang-barang berharga termasuk handphonenya tidak dicuri. Alvin lantas menelpon orang terdekatnya alias Chloe Watson si kakak.
Tut!
"Kak, Maafin Alvin,"
"....."
"Reina...Reina diculik kak,"
"...."
"Serius, Aku gak bercanda kak. Mereka membawa Reina, Aku tidak sempat mengejar karna mereka membiusku,"
"...."
"Di jalan xxx dekat pasar swalayan,"
Tut!
Sambungan itu langsung terputus setelahnya, Alvin paham kakaknya pasti sangat khawatir makanya langsung dimatikan begitu saja setelah ia memberitahu lokasinya. Alvin menyimpan handphonenya kembali, Dia memutuskan duduk sambil menyandarkan tubuhnya di tembok. Harapan satu-satunya hanya kakaknya, Alvin tak berani menghubungi orang tua mereka, Dia takut kalau kabar itu hanya akan membuat penyakit ayahnya kambuh lagi. Telebih mama mereka juga punya penyakit yang juga bisa sewaktu-waktu akan kambuh juga.
Sebagai laki-laki tentu saja Alvin merasa kecewa pada dirinya sendiri karna tidak bisa melindungi kembarannya Reina, Dia mendesah kecewa lalu memukul tembok di belakangnya melampiaskan kekesalan.
"Sial!" Alvin hanya bisa menutup wajahnya.
Sinar mentari semakin meredup menandakan hari sebentar lagi akan berganti malam. Alvin semakin meringkuk, Dia tak berani pulang, Dia tak berani menemui orang tuanya tanpa Reina, Alvin takut dia akan dimarahi meski selama ini orang tuanya tidak pernah marah padanya, Hanya menegur saja tidak lebih.
"Alvin!"
Alvin mendengar suara derap langkah mendekatinya, Dia mendongak dan menemukan kakak nya berlari mendekat. Sesampainya dihadapan Alvin, Chloe lantas memegangi pundak adiknya itu dan memeriksa kondisinya.
"Vin, Apa ada yang sakit? Dimana?" Tanya Chloe bertubi-tubi, Ekspresi wajahnya tercetak jelas kekhawatiran yang kentara.
"Aku gak apa-apa kak, Cuma sedikit sakit. Yang lebih dikhawatirkan itu Reina. Aku gak tahu mereka membawa Reina kemana," Alvin menatap sendu, Chloe ikut merasa sedih.
Dia membantu Alvin berdiri. "Kakak tahu, Maka dari itu kakak juga mengkhawatirkan Reina,"
Setelah membantu Alvin, Chloe menyodorkan handphone nya. "Saat diperjalan menuju kesini, Kakak mendapat pesan misterius. Dia menyuruh kakak untuk datang ke gedung tua di ujung jalan sana. Dia bilang menyekap Reina disana,"
Alvin membaca pesan itu, Dia melihat nama yang tertera disana penuh teliti.
From: Unknown
To: Chloe Watson
...Datanglah ke gedung tua di ujung jalan dekat pasar swalayan jika ingin adikmu Reina Watson selamat....
"Bagaimana dia tahu nomor kakak? Ini mencurigakan," Ucap Alvin setelah membaca pesan itu.
"Kakak juga berpikir begitu, Dia orang asing tapi bisa dapat nomor kakak secepat ini. Kakak curiga kemungkinan besar pelakunya adalah orang terdekat kita," Jelas Chloe kemudian dia mengalihkan pandangannya pada gadung tua di ujung jalan.
"Tapi mau bagaimana pun itu, Kita harus secepatnya kesana. Alvin, Kamu lebih baik pulang. Biar kakak yang jemput Reina,"
"Apa?! Mana mungkin aku membiarkan kakak sendirian kesana, Bagaimana kalau mereka berbahaya? Aku akan ikut," Alvin sedikit menundukkan wajahnya sedih sembari mengusap satu lengannya. "Lagipula aku tidak mungkin pulang tanpa Reina, Ayah dan mama pasti marah padaku karna tidak menjaganya dengan baik,"
Chloe menghela napas, Ia menatap iba pada adiknya itu. Perlahan Chloe mengusap surai milik Alvin. "Baiklah kau bisa ikut, Tidak perlu cemas. Kita pasti berhasil menyelamatkan Reina,"
Alvin mendongak lalu mengangguk pelan. "Iya, Reina pasti selamat,"
Chloe dan Alvin kembali memandang gedung tua di ujung jalan, Mereka segera berlari ke sana. Meski tanpa senjata tapi Chloe sudah menyiapkan paper spray untuk jaga-jaga.
TBC
[Nama: Ian Salvatore
Age: 22 tahun]