Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Arc Justin dan Victor (3)



"Nah, Ayo silakan dimakan. Jangan malu-malu," Ajak Margaret sopan sambil menatap Chloe dan Victor dengan senyum ramah.


"Eh, Iya...," Rasa nya cukup canggung ketika berhadapan dengan kakek nenek Victor dan Justin. Meski mereka tampak ramah, Tetap saja Chloe harus bersikap sopan saat makan.


Diam-diam Chloe melirik Victor yang tengah menyantap makanannya, Cara pria itu makan tampak elegan seperti biasa. Orang kaya macam keluarga Justin dan Victor memang beda, Namun disini Chloe sadar kalau Victor tampaknya tidak menikmati makanannya. Pria itu tampak makan lebih sedikit ketimbang saat di asrama, Seolah tidak berselera.


Chloe pun ikut makan ketika melihat kakek dan nenek Victor juga mulai menyantap makanan masing-masing.


"Jadi, Nama kamu siapa nak?" Pertanyaan Margaret, Sedikit mengejutkan Chloe dari makanannya.


"Chloe Watson, Panggil saja Chloe. Nek," Chloe masih tersenyum canggung.


"Oh nak Chloe, Ngomong-ngomong nak Chloe siapa nya Justin?"


Chloe diam sesaat, Dia membuka mulutnya setelah berpikir sejenak namun langsung disela oleh Victor.


"Ini yang ingin kukatakan sejak tadi Kakek Nenek, Dia adalah Istri ku. Kami baru saja menikah 2 hari yang lalu," Kata Victor setelah menyisakan setengah makanannya.


"Apa?!" Hans dan Margaret menatap terkejut, Keduanya tampak tidak percaya dengan perkataan Victor.


"Justin! Mengapa kau melakukan hal itu?! Kakek dan Nenek sudah menjodohkan mu dengan gadis lain dari keluarga terpandang, Mereka bahkan akan datang berkunjung ke sini besok," Hans menatap tegas cucu nya, Namun Victor tampak terlihat tenang.


"Aku sudah menemukan pilihanku sendiri, Jadi tolong batalkan perjodohan itu. Lagipula sekarang dia menjadi istri sah ku," Victor melirik Chloe yang hanya diam.


"Kamu tidak bisa seenaknya menentukan jodohmu nak, Kamu ingin kami dipermalukan di depan keluarga calon tunanganmu itu?!" Hans tetap bersikukuh ingin Victor menerima perjodohan yang mereka buat.


Kini tatapan Victor mendingin, Netra merahnya sedikit menajam. "Ini hidupku, Aku berhak menentukan pilihanku. Tanpa bantuan kalian pun aku bisa mendapatkannya sendiri,"


"Kamu...!" Hans mulai tersulut emosi.


Chloe bergidik melihat pertengkaran antara Kakek dan cucu itu, Ia meneguk seliva nya kasar tanpa sadar.


"Mengapa aku harus terseret ke dalam pertengkaran keluarga ini?" Pikir Chloe meringis dalam hati.


Margaret yang menyadari situasi di meja makan semakin memanas, Mencoba menenangkan suaminya. Sejujurnya dia tidak tega memaksakan perjodohan itu pada cucu nya. Terlebih kini cucu nya sudah mempunyai pilihan sendiri.


"Hans tenanglah, Tidak ada salahnya kita memberi kesempatan pada Justin untuk memilih kehendak nya. Lagipula kita juga terlalu memaksa padanya," Kata Margaret lembut. Hans mulai tenang, Meski pria paruh baya itu memalingkan pandangan.


Kemudian Margaret menatap lembut Victor dan Chloe. "Nenek ucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua, Nenek senang karna Justin sudah menemukan pilihan nya sendiri. Kami akan berusaha membatalkan perjodohan itu,"


"Nenek benarkah?" Victor menatap tak percaya pada neneknya, Meski begitu si pria tetap tersenyum tipis.


"Ya, Lagipula nenek sadar bahwa selama ini kami terlalu memaksa mu. Jadi karna kau sudah menikah, Maka kami tidak akan memaksa lagi," Margaret mengangguk pelan.


"Akhirnya, Aku tidak terikat lagi dengan yang namanya perjodohan," Pikir Victor lega.


Walau Hans masih agak tak terima dengan keputusan Margaret, Pada akhirnya pria paruh baya itu hanya bisa pasrah mengikuti keputusan istri nya. Dia kembali memandang Victor.


"Justin, Apa kamu sudah memberitahu kondisi mu pada nak Chloe?" Tanya Hans kembali dengan raut seriusnya.


"Sudah,"


Awalnya Chloe bingung kondisi apa yang dimaksud, Setelah beberapa saat barulah dirinya paham. Yang dimaksud Victor adalah kondisi nya yang berbagi raga dengan Justin. Baru saja beberapa jam yang lalu pria itu menjelaskan pada nya.


Pandangan Hans beralih pada Chloe dengan sedikit senyum. "Nak Chloe, Yang Justin bilang kalau dirinya punya kembaran dalam satu tubuh itu jangan percaya ya, Dan kalau dia bertingkah aneh jangan takut. Dia hanya sakit dan mungkin saat itu penyakitnya kambuh lagi,"


"Justin, Kalau kamu merasa tubuhmu mulai aneh. Segera ke dokter ya," Ucap Hans kembali memandang cucunya.


Aura Victor mulai muram, Pria itu sedikit menunduk. Hatinya sakit mendengar kakek dan nenek nya selama bertahun-tahun tidak percaya padanya kalau dia tidak sakit.


"Oh iya, Justin rutin gak minum obatnya Chloe?" Tanya Margaret menyela perkataan Hans.


Obat? Sesaat Chloe memandang bingung. Selama dirinya tinggal di asrama, Dia sama sekali tidak pernah melihat Justin atau pun Victor minum obat. Chloe ingin mengatakan sejujurnya kalau dirinya tidak pernah melihat Justin meminum obat yang dimaksud, Namun Chloe tiba-tiba merasakan senggolan di kakinya, Seolah menyuruhnya untuk berbohong.


Si gadis melirik kecil pada Victor disampingnya, Pria itu sedikit membuka mulut seolah sedang mengkode nya. Pandangan Chloe kembali fokus pada Margaret.


"Iya, Kak Justin rutin kok minum obatnya," Pada akhirnya Chloe mengikuti keinginan Victor. Dia sengaja memanggil Victor dengan sebutan 'kak' agar tidak membuat kakek dan nenek Victor bingung.


"Baguslah, Minggu depan Justin ke dokter lagi ya. Chloe bisa ikut kok buat menemani," Usul Margaret ramah.


Chloe kembali melirik Victor, Dilihat dari ekspresi pria itu yang tampak muram dan enggan, Sudah dipastikan kalau Victor tak setuju. Namun Chloe memilih diam tidak ikut campur.


"Janganlah, Gak usah Chloe ikut. Dia pasti sibuk mengurus kerjaan rumah, Biar Justin sendiri saja," Kata Hans sambil menyesap teh nya setelah menghabiskan makanan.


"Benar juga,"


Victor meranjak dari duduknya. "Kakek Nenek, Aku ke toilet dulu,"


Mereka mengangguk mendengarnya, Victor lantas berjalan pergi meninggalkan Chloe dan Hans serta Margaret. Setelah kepergian Victor, Margaret mulai menanyakan banyak hal pada Chloe.


"Nak Chloe, Nenek bersyukur banget kamu mau sama Justin. Dulu sudah banyak gadis yang dijodohkan ke dia, Tapi semuanya kabur sebelum hari pertunangan karna kondisi nya itu. Nenek harap kamu tahan ya sama kondisi Justin yang seperti itu,"


"Ah, I-Iya," Sejujurnya Chloe merasa sedih karna tampaknya kakek dan nenek Victor tidak percaya dengan kondisi cucu nya.


"Kalau dia menunjukan gejala aneh, Langsung saja bawa dia ke dokter. Kamu gak perlu cemas, Suatu saat nanti pasti dia akan sembuh," Kata Hans meyakinkan, Dan Chloe hanya bisa mengangguk sambil tersenyum canggung.


"Ngomong-ngomong, Bagaimana pertemuan kalian sampai kalian bisa menikah?"


Chloe keringat dingin mendengarnya, Dia tak punya alasan yang bagus ketika mendapat pertanyaan seperti ini. Untunglah sebelum Chloe menjawab, Victor lebih dulu datang dan mengintrupsi obrolan itu.


Victor memegang pundak Chloe. "Kakek Nenek, Ini sudah hampir malam. Kami harus pulang sekarang,"


"Ah, Padahal nenek masih ingin ngobrol banyak dengan nak Chloe," Margaret menatap tak setuju.


"Maaf nek, Tapi Chloe pasti sudah lelah. Dan juga masih banyak laporan-laporan yang belum selesai kukerjakan di rumah," Victor menepuk pelan pundak Chloe, Mengkode si gadis.


Chloe lantas mengangguk cepat ketika mendapat tepukan itu.


"Pekerjaan itu kan bisa dikerjakan nanti, Lagipula besok libur. Menginap saja lah dulu disini," Margaret tetap bersikukuh agar cucunya tak pergi.


"Sudahlah Margaret, Benar apa yang dikatakan Justin. Chloe pasti lelah, Ayah juga butuh laporan-laporan itu untuk diperiksa. Nanti kerjaan Justin tidak selesai," Kata Hans menepuk pundak istrinya.


Margaret menghela napas pasrah. "Ya sudah, Tapi sering-sering berkunjung ke sini ya nanti,"


Victor hanya tersenyum menanggapinya, Bisa dipastikan hal itu tidak akan pernah terjadi. Chloe lantas segera meranjak, Dia dan Victor pun pamit. Setelahnya mereka berdua pergi dari rumah itu.


TBC


Bonus:


[Nama: Reandra Winters


Age: 27 tahun]