
[Asrama]
Setelah perjalanan memakan waktu cukup jauh, Keduanya sampai tepat di depan halaman asrama. Victor menghentikan mobil nya di tempat parkir.
Chloe lebih dulu keluar dari mobil, Menjejakkan kakinya di halaman asrama. Tak lama Victor menyusul dan berdiri disampingnya. Melihat raut wajah Victor yang tampak lelah membuat Chloe cemas.
"Pak...Umm apa bapak baik-baik aja?"
Victor hanya mengangguk kecil tanpa menjawab, Tidak ada senyum sedikit pun di wajah pria itu. Dia berjalan lebih dulu, Sedangkan Chloe mengikuti nya dari belakang.
Blam!
Usai memasuki asrama dan menutup pintu, Victor berbalik. Dia sedikit menghembuskan napas. "Aku agak pusing sekarang, Aku duluan ke kamar ya, Kau istirahat lah,"
"Baiklah,"
Tap! Tap! Tap!
Netra merah Chloe terus mengikuti kepergian Victor sampai pria itu hilang dari pandangannya, Dilihat bagaimana pun Victor memang tidak terlihat baik-baik saja saat ini. Terlebih pria itu lebih murung dari sebelum mereka berangkat, Wajah pria itu jadi pucat setelah mereka pulang.
Chloe menghela napas, Sejujurnya dia prihatin dengan kondisi Victor yang seperti itu. Berbagi raga dalam satu tubuh itu bukanlah hal yang mudah, Bahkan konsekuensinya bakal di pandang aneh oleh orang-orang.
Maka dari itu Chloe memutuskan untuk membuat sesuatu untuk Victor, Mungkin bisa menghibur pria itu meski tak seberapa. Terlebih Victor bilang dia sedang merasa pusing sekarang, Semoga saja minuman herbal resep turun-temurun dari keluarga nya yang ia buat bisa mengurangi rasa pusing pria itu.
Chloe bergegas menuju dapur untuk membuat sekaligus mengumpulkan bahan-bahan resep herbal buatannya.
****************
[Kamar Justin]
Victor menutup pintu, Dia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur setelah melepas sepatu sebelumnya. Pria bernetra merah itu, Menarik selimut sampai menutupi kepalanya, Ia meringkuk di dalam sana.
Dia pusing, Dia tidak ingin mengingat kata-kata kakeknya. Kata-kata kakeknya benar-benar menusuk hati Victor dan mungkin juga Justin karna kembarannya bisa mendengarkan obrolan itu tanpa memegang kendali.
Victor merasa lelah, Saking lelahnya pria itu tertidur lelap masuk ke alam mimpi.
**************
[Alam bawah sadar Justin]
Tap! Tap! Tap!
"Terima kasih sudah menggantikanku, Dan maaf malah membuatmu yang jadi menghadapinya,"
Suara Justin bergema di sekitar Victor, Pria bernetra merah yang sedang duduk di sisi danau itu hanya diam memandangi danau di hadapannya. Dia memeluk lututnya sambil menikmati semilir angin yang menerpa mereka.
wwwuuusshh!
Justin berdiri di belakang Victor, Pria bernetra orange itu menghembuskan napas kecil ketika tidak mendapatkan sahutan sama sekali dari kembarannya.
"Victor...Kau marah padaku?" Tanya nya dengan nada ragu.
"Tidak, Hanya saja aku merasa sakit hati karna kakek dan nenek selama bertahun-tahun tidak percaya pada kita. Situasi ini mengingatkan ku pada Ayah dan Ibu, Aku merindukan mereka Justin," Kata Victor dengan pandangan kosong, Dia meletakkan dagu nya di atas lutut.
Justin terdiam sesaat, Perlahan dia duduk disamping Victor. Ikut memandangi danau dihadapan mereka.
"Victor, Kau yang membunuh mereka. Sekarang kau malah merindukan mereka, Aku tidak mengerti kenapa kau begini. Tapi sejujurnya aku juga rindu mereka,"
"Aku tahu, Aku menyesal telah melakukannya. Mereka pasti benci aku, Aku bukanlah anak yang baik bagi mereka. Aku hanya membuat mereka sedih, Tidak seperti kamu yang hebat dimata mereka," Perlahan air mata Victor mulai mengalir, Tubuhnya sedikit gemetar. Ia semakin erat memeluk lututnya.
Justin terpaku memandangi kembarannya yang menangis, Dia menatap sedih. Tanpa sadar setetes air mata nya jatuh, Pria itu menarik Victor dalam pelukannya.
Grep!
"Kamu gak usah membandingkan dirimu denganku, Aku pun juga punya kelemahan. Kita sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Meski dulu ayah dan ibu membandingkan kita, Sekarang sudah gak lagi. Kita setara dan kita saling memiliki," Justin mengusap pelan surai milik kembarannya tanpa melepaskan pelukan.
"Aku tidak tahu lagi harus seperti apa, Di keluarga kita hanya ada kakek dan nenek. Itu pun mereka tidak percaya pada kita," Victor mencengkeram pakaian Justin setelah memeluknya balik, Air matanya masih mengalir.
"Tidak apa-apa, Kau masih punya aku. Kita juga memiliki anggota lain, Kita enggak cuma berdua Victor. Kita satu keluarga di asrama ini," Justin menenangkan Victor, Perlahan tubuh Victor mulai tenang dan tidak gemetar lagi.
Victor memejamkan matanya meski masih menangis. "Aku hanya ingin kita berdua hidup bahagia tanpa paksaan dari kakek dan nenek lagi,"
"Iya, Kita aman disini bersama anggota lainnya. Kita tidak akan dipaksa mereka lagi," Justin ikut memejamkan matanya, Dia bahkan tidak sadar kalau dirinya ikut menangis. Justin terlalu lelah memikirkan hal itu.
Dia hanya ingin ketenangan dan tidur dengan nyaman tanpa memikirkan apapun lagi, Terlebih kini Victor juga sudah tidur di pelukannya.
*****************
Tok! Tok! Tok!
"Pak Justin," Panggil Chloe sambil memegang secangkir minuman herbal di tangannya. Dia tak mendengar sahutan apapun di dalam.
Maka dari itu Chloe memutuskan masuk kedalam dengan hati-hati.
Cklek!
Si gadis menyembulkan kepalanya memperhatikan kondisi kamar Justin, Semuanya tertata rapi disana. Ia melangkah masuk dan menutup pintu. Netra merah nya tertuju pada gumpalan selimut di atas tempat tidur, Terlihat tubuh Justin yang meringkuk di bawah selimut, Seluruh tubuhnya tertutupi hanya menyisakan kepala nya yang menyembul keluar.
Chloe mendekati perlahan, Tangannya sedikit menyingkap selimut itu untuk memastikan Justin tidur atau tidak.
"Permisi pak," Gumam nya pelan, Setelah memastikan tampaknya pria itu sudah tidur. Namun Chloe menyadari mata si pria terlihat sembab, Mungkin kah habis menangis?
"Uh...Siapa?"
Chloe berbalik dan melihat Justin yang sudah bangun, Pria itu menyingkap selimutnya. Sembari mengusap wajah yang tampak mengantuk, Entah yang mengambil kendali Justin atau Victor, Chloe tak tahu.
"Maaf sudah mengganggu tidur bapak, Aku kemari ingin memberi minuman herbal ini. Tadi bapak bilang pusing kan, Jadi aku berinisiatif memberikannya," Chloe menunjuk minuman herbal di nakas.
Si pria memandangi minuman itu sesaat. "Apa kamu yang membuatnya?"
"Iya, Itu minuman herbal resep turun-temurun dari keluarga ku. Semoga saja ampuh mengurangi rasa pusing bapak," Chloe tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku ingin mencobanya,"
Chloe segera mengambil cangkir tadi, Dia duduk disisi kasur dan memberikannya pada si pria. Justin mengambil cangkir itu dan meminum isi nya perlahan. Selama Justin minum, Chloe memanfaatkan kesempatan itu untuk menebak-nebak siapa yang sedang mengambil alih kendali sekarang.
Dilihat dari netra si pria yang berwarna orange, Sudah bisa dipastikan kalau itu Justin. Usai meminum isinya sampai habis, Justin menyerahkan cangkir itu dan langsung diletakkan oleh Chloe ke nakas kembali.
Tanpa di duga tiba-tiba Justin menyandarkan kepalanya ke pundak Chloe, Tentu saja membuat Chloe agak kaget dan canggung.
Justin menggulirkan matanya kebawah menatap lantai. "Maaf tidak memberitahumu sebelumnya tentang kondisi ku, Dan malah Victor yang memberitahukannya padamu. Kau pasti kaget ya?"
"Eh? I-Iya, Soalnya aku kaget waktu mata pak Justin tiba-tiba berubah warna,"
Justin tersenyum sendu. "Waktu itu entah kenapa aku merasa tidak siap menghadapi kakek dan nenek. Makanya aku meminta Victor menggantikanku. Terkadang aku pikir salah satu dari kami harus menghilang saja, Mungkin aku saja yang menghilang. Dengan begitu Victor bisa mengendalikan raga ini sesuka hatinya tanpa berbagi lagi,"
Pria itu mendesah lelah. "Aku tidak masalah jika mengalah sama Victor, Asal dia senang saja sudah cukup bagiku," Tambahnya.
Chloe yang mendengar hal itu merasa kesal, Tak habis pikir dengan perkataan si pria yang memutuskan mengalah untuk kembarannya. Lantas Chloe menangkup kedua pipi Justin membuat si pria mendongak padanya.
"Tidak ada yang menghilang diantara kalian berdua! Pak Justin dan Pak Victor itu sama, Kalian saling memiliki. Dan pak Victor bilang kalian sudah 17 tahun berobat tapi tidak kunjung sembuh juga kan. Makanya aku percaya kalau pak Justin itu gak sakit, Jadi tidak ada yang perlu menghilang diantara kalian berdua!" Kata Chloe dengan tatapan serius.
Seketika netra orange Justin terbelalak mendengarnya, Dia terdiam namun kini tatapannya tampak sedikit berbinar tidak seperti tadi.
Tatapan Chloe melembut. "Kalian berdua sudah bertahan sampai sekarang, Bahkan bertahan dari ketidak percayaan kakek dan nenek kalian. Salah satu dari kalian tidak perlu menghilang, Aku akan menerima kalian berdua apa adanya. Jadi tidak perlu bersedih lagi ya pak," Chloe tersenyum lebar.
Dia paham, Yang Justin dan Victor butuhkan selama ini hanyalah kepercayaan dan orang-orang yang menerima kondisi mereka. Maka dari itu Chloe akan menerimanya tanpa membanding-bandingkan Justin maupun Victor karna keduanya memiliki kelebihannya masing-masing.
"Ternyata kau lebih berbeda dari yang ku duga," Perlahan sudut bibir Justin tertarik membentuk senyum lembut, Senyum itu hanya untuk Chloe seorang. "Makasih sudah percaya padaku dan Victor,"
Dia menarik Chloe ke dalam pelukannya, Membuat si gadis kaget dan wajahnya terbenam ke dada si pria. Seketika Chloe jadi bingung, Canggung, Plus salting. Juga panik, Tak tahu harus beraksi apa.
"I-Iya, Ano...Bisa lepasin pelukannya gak pak? Aku gak bisa bernapas," Kata Chloe gugup, Suaranya malah jadi terendam karna pelukan Justin.
"Sebentar lagi...," Justin menenggelamkan wajahnya di leher Chloe, Mengendus aroma sang gadis.
"Aroma mawar, Aku menyukainya...," Pikir Justin masih asyik dengan kegiatannya.
Dia sedikit melonggarkan syal yang melingkar di leher Chloe, Tanpa sengaja melihat tanda kiss mark di leher si gadis. Tentu saja Justin menyadarinya, Dia tersenyum tipis.
"Begitu, Pasti terjadi sesuatu di kamar nya sebelum berangkat tadi. Ulah Felix ya...," Pikir nya masih tersenyum.
"Chloe,"
"Iya pak?" Chloe sedikit menjauhkan wajahnya dari dada Justin, Sumpah gak bisa napas.
"Tanda dilehermu...Apa itu ulah Felix?"
"Tanda?" Chloe gugup, Sadar kalau Justin mulai menyadarinya. Dia bergerak sedikit gelisah.
"Jujur aja gak apa-apa, Aku gak marah kok,"
"Iya pak. J-Jangan marahin kak Felix, Dia pasti cuma gak sengaja," Kata Chloe khawatir kalau Felix nanti bakal dimarahin.
"Oh gak sengaja ya, Gak kok. Aku gak bakalan marahin dia," Justin mendekati leher Chloe dari sisi lain dan menggigitnya membuat tanda kiss mark lain disana, Sukses membuat Chloe mundur sambil memegangi leher.
"Aduh! Pak Justin kenapa ikutan gigit sih?! Sudah dibilang aku bukan makanan," Chloe kesal menatap protes pada Justin yang terkekeh kecil.
"Siapa bilang? Aku gak gigit, Tadi ada nyamuk di leher mu makanya ku tiup biar pergi,"
"Beneran? Tapi kok sakit ya?" Gadis itu memiringkan sedikit kepalanya dengan pandangan bingung.
"Sudahlah, Kau kembali ke kamarmu saja. Atau mau tidur disini?" tawar Justin sambil merebahkan dirinya kembali, Memandang Chloe sambil tersenyum.
"Gak ah, Aku mau ke kamarku aja. Selamat malam pak Justin," Chloe meranjak dari sana dan mengambil cangkir kosong di nakas. Dia berjalan pelan keluar kamar Justin.
"Selamat malam,"
Blam!
Setelah Chloe pergi, Justin mematikan lampu. Dia kembali bergelung nyaman di bawah selimut sampai terlelap ke alam mimpi.
...Arc Justin dan Victor Complite...
TBC
Bonus:
Trio Nano-nano