
Tap! Tap! Tap!
Suara derap langkah kaki terus bergema sepanjang lorong, Meski napas mereka mulai memburu, Mereka tak sedikit pun berniat menghentikan pencarian atau pun sekedar mengistirahatkan diri.
Deru napas tak beraturan mulai terdengar dari kakak-beradik itu, Netra merah nya terus menajam memperhatikan sekeliling sembari terus berlari. Hingga langkah itu terhenti di sebuah pintu besi.
Chloe menarik napas dalam, Setelah berlari sampai puncak gedung. Dia menemukan ruangan yang dicarinya. Chloe lantas melemaskan kakinya, Dia langsung melakukan tendangan keras, Engsel pintu bergetar namun masih berdiri kokoh. Dia kembali menendang sampai engsel pintu lepas.
Alvin memasang sikap kuda-kuda sebelum membantu kakaknya, Secara bersamaan kakak-beradik itu menendang pintu. Pintu mulai sedikit reyot dan mereka kembali menendang secara bersamaan.
BRAK!
Usaha mereka tak sia-sia, pintu berhasil dirobohkan membuat suara yang memekakkan telinga. Chloe dan Alvin bergegas masuk, Hingga akhirnya netra keduanya menemukan sosok pria yang duduk membelakangi mereka. Tak jauh dari sosok pria itu, Terdapat Reina yang berteriak berusaha memanggil Chloe dan Alvin.
Kedua tangan si gadis terikat di belakang kursi bahkan kedua kakinya juga diikat dengan mulut yang dilakban. Ruangan itu begitu hampa dan kosong, Hanya terdapat sosok si pria dan Reina disana.
"Sudah datang ya...," Si pria memutar kursinya menghadap Chloe dan Alvin yang masih berdiri diambang pintu. Ia menyerigai dengan netra merahnya yang berkilat. "Aku sudah menunggu kalian berdua, Keponakan ku,"
Napas Chloe seakan tercekat begitu pula dengan Alvin, Pemuda bersurai hitam itu memucat mengetahui bahwa paman mereka lah yang ternyata dalang dibalik penculikkan Reina.
"Paman Fray...Kenapa...?" Chloe tak bisa mengatakan apa-apa lagi saking syoknya, Perasaannya bercampur antara sedih dan marah.
"Kenapa kau bilang?!" Fray mendelik, Tangannya mencengkeram sanggahan kursi yang diduduki nya. "Aku sudah mengatakan padamu Chloe, Bahwa kau akan menyesal suatu saat nanti jika tidak mengikuti keinginanku,"
"Ini urusan kita berdua paman! Kenapa kau malah melibatkan adik-adikku?!" Chloe mengepalkan kedua tangan, Menahan agar emosi nya tidak memuncak.
"Tentu saja kedua adikmu juga terlibat karna aku juga mengasuh mereka, Seharusnya kau diam saja dan jangan ikut campur urusanku dengan Brian. Sekarang kau tahu kan akibatnya telah ikut campur," Fray mengambil sebuah kapak yang berada di meja nya, Mengarahkan benda tajam itu ke leher Reina.
"Aku menyesal telah merawatmu bocah bodoh!" Fray menatap dingin, Sebelum mengayunkan kapaknya.
"Berhenti!"
Seketika sesuai intruksi Chloe, Ayunan kapak itu terhenti sebelum mengenai leher Reina.
"Baiklah, Aku akan menuruti semua keinginanmu tapi lepaskan Reina. Kau boleh meminta apapun padaku, Asal jangan libatkan dan ganggu adik-adikku," Chloe mencoba negoisasi dengan pamannya namun disambut seringaian oleh pria paruh baya itu.
"Ho~, Apa ini? Kau tiba-tiba berubah pikiran. Harusnya sejak dulu kau menurut seperti ini, Aku jadi tidak perlu repot-repot memaksamu. Tapi sayang nya semua nya sudah terlambat nak, Aku sudah tidak membutuhkan mu lagi,"
Netra Chloe melebar mendengar pengakuan pamannya, Alvin yang juga mendengarnya menggeram marah. Lantas berlari menuju Fray untuk menghanjarnya.
"Sialan! Akan kubunuh kau!" Teriak Alvin marah.
Dia mengepalkan tangan, Melayangkan tinju nya pada Fray.
BUAK!
Sayang sebuah tendangan tiba-tiba lebih dulu mengenai Alvin hingga membuat pemuda itu terpental cukup jauh, Menggagalkan tinju Alvin ke Fray.
"Vin!" Chloe tersadar dari syoknya, Lantas berlari mendekati Alvin yang merintih kesakitan.
"Hanya segitu kemampuanmu, Bahkan tidak kena sama sekali,"
Suara asing yang bergema di ruangan itu membuat Chloe menoleh mencari asal suara, Di balik kegelapan samar-samar sebuah siluet bergerak. Semakin dekat hingga wujud aslinya terlihat dengan bantuan cahaya bulan yang menerangi lewat kaca jendela.
Sosok laki-laki bertubuh tinggi mencapai 2 meter mendekat dan berdiri disamping Fray, Surai hitam legamnya tampak berkilat terkena sinar rembulan. Netra merah darahnya menatap rendah Chloe maupun Alvin.
"Terima kasih sudah datang tepat waktu. Liam," Fray terkekeh pelan lalu kembali menoleh pada Chloe. "Mereka berdua memang perlu di kasih sedikit pemahaman ya,"
"Liam? Entah kenapa rasanya nama itu tidak asing," Pikir Chloe menatap lekat Liam. Namun dia segera menepis pemikiran itu karna situasi dihadapannya yang harus diwaspadai.
"Paman, Sudah kubilang aku akan mengikuti semua kemauanmu. Jangan libatkan adik-adikku lagi," Chloe menatap tajam sembari memangku kepala Alvin.
"Cih, Kau sudah mengecewakan paman. Memohon seperti itu tidak ada gunanya lagi. Dari dulu kau harusnya menurut saja, Aku juga tidak punya istri atau pun anak, Suatu saat nanti status kepala keluarga itu pasti juga akan kuterus kan padamu. Kau hanya perlu menunggu!" Fray berjalan perlahan mendekati Chloe, Menenteng kapak di tangannya.
"Tidak, Aku tidak bisa menunggu. Paman pasti akan melakukan cara apapun agar bisa menyingkirkan ayah. Aku tidak mau!" Chloe memeluk kepala Alvin.
Mendengar perkataan itu seketika amarah Fray memuncak, Tanpa aba-aba dia langsung melayangkan tinjunya hingga mengenai pipi Chloe.
BUAK!
"Hhmmmppp....!"
Disisi lain, Reina berteriak histeris dengan mulut yang masih dilakban. Dia memberontak ketika melihat kakaknya maupun kembarannya di pukul. Liam yang melihat hal itu lantas mendekati Reina dan mencengkeram dagu si gadis dengan tatapan setajam silet.
"Diam atau pita suaramu itu kucabut!" Ancamnya dingin, Tak mau kalah Reina juga menatap tajam balik. Meski begitu ancaman Liam sukses membuatnya bungkam.
Kembali ke sisi Chloe, Si gadis masih memandangi pamannya penuh waspada. Deru napas itu masih memburu.
"Masih kuat juga kau berdiri, Ku akui kalau pertahananmu kuat juga. Tapi bagaimana kalau kita mulai bertarung?" Fray tersenyum miring, Mengangkat kapaknya dan mengayunkan ke arah Chloe.
WWUUSSHH!
Chloe langsung berkelit dan melompat mundur sebelum kapak itu mengenainya, Yang bisa Chloe lakukan hanya menghindar selagi otaknya memikirkan cara agar bisa melumpuhkan sang paman.
Selama Chloe mengalihkan perhatian Fray, Alvin segera berdiri dan membantu kakaknya. Dia langsung melayangkan tendangan tepat mengenai punggung Fray.
BUAK!
Fray terpental namun kapak di tangannya masih digenggam. Liam yang mendengar suara pertarungan sontak menoleh, Dalam persekian detik dia tiba-tiba muncul tepat dihadapan Alvin. Membuat pria bernetra orange itu kaget, Tanpa mengatakan apapun. Liam meninju perut dan dagu Alvin sekuatnya hingga terhuyung hampir tumbang.
Melihat kesempatan itu, Chloe segera berlari menuju adiknya Reina. Selagi Fray berusaha bangun kembali, Wajar pria itu sudah tua jadi pergerakannya agak lambat. Beruntung Chloe bisa mengambil kesempatan yang tepat.
Sesampainya dihadapan Reina, Chloe berusaha melepaskan talinya. Dia melepaskan lakban dan mengkode adiknya untuk diam. Untung saja Reina penurut, Jadi dia langsung paham mendapat kode dari sang kakak. Meski membutuhkan waktu agak lama, Namun Chloe berhasil melepaskan ikatan itu.
Serta merta Reina langsung memeluknya dengan air mata yang sedikit mengalir dan sesegukan.
"Kakak...hiks...,"
"Udah udah, Kakak disini. Kamu aman kok sama kakak," Chloe berusaha menenangkan Reina, Memeluk balik sambil mengusap rambut adiknya.
"Sudah selesai reunian nya?"
Suara berat dan serak itu seketika mengagetkan si kakak-beradik, Reina sontak melepaskan pelukannya dan langsung bersembunyi di belakang Chloe. Begitu pun Chloe yang langsung berinisiatif melindungi adiknya. Ia menatap tajam Fray dan Liam yang mendekat sambil menyeret tubuh Alvin yang babak belur.
"Anak ini terlalu lemah, Dia tidak selevel denganku," Liam melempar tubuh Alvin kehadapan Chloe, Si gadis sontak menangkap tubuh adik lelaki nya sebelum menghantam lantai.
BRUK!
GREP!
Alvin hanya bisa mengerang kesakitan, Seluruh tubuhnya sakit seakan hampir remuk. Dia sudah tak kuat lagi melawan Liam maupun Fray, Untuk berdiri saja rasanya tak sanggup.
Chloe mendekap tubuh Alvin dan menjadikan tubuhnya sebagai temeng Reina, Kini mereka terpojok oleh Fray dan Liam tanpa bisa kemana-mana lagi. Jalan satu-satu nya hanyalah melewati dua orang itu jika ingin menuju pintu keluar.
"Karena kalian sudah berkumpul, Aku akan melenyapkan kalian saja sekaligus. Kalian sudah tidak berguna untukku, Aku tidak peduli bagaimana perasaan Brian dan Elina setelah mengetahui kalau kalian mati ditanganku. Jadi ada pesan terakhir?" Fray menyerigai, Mengangkat kapaknya bersiap membunuh Chloe dan adik-adiknya.
Chloe menarik napas dalam, Jantungnya sudah berdegup kencang sejak tadi. Perasaannya bercampur tak karuan antara takut, cemas, marah, dan pasrah. Dia lelah terus diterror oleh pamannya, Lelah karna terus berurusan dengan pria itu.
"Hanya satu kalimat. Aku prihatin padamu paman," Chloe menatap nanar, Seketika Fray tersenyum sinis mendengarnya.
"Kau tumbuh menjadi gadis yang kurang ajar sekarang ya keponakan ku, Inilah kenapa aku harus mendidik sikapmu itu. Orang tua mu seperti tidak mengajarkan sopan santun padamu. Tapi baiklah, Jika hanya itu pesan terakhirnya,"
Fray maju bersamaan dengan Liam, Dan keduanya bersiap melancarkan serangan masing-masing.
"Sayonara~"
TBC
Bonus:
[Nama: Devian Orlindo
Age: 20 tahun]