
"Tuan Justin...Tuan...Bangun lah!"
Justin perlahan membuka kelopak matanya ketika merasakan tubuhnya sedikit terguncang, Dia mulai bergerak dan menegakkan tubuhnya. Sejenak ia mengerjap menyesuaikan netranya dengan cahaya yang masuk.
Barulah dia melihat Ezra dengan jelas sedang berdiri disampingnya, Ekspresi pria bernetra hijau itu tampak cemas dan khawatir.
"Tuan, Apa kau baik-baik saja? Tiba-tiba kau pingsan saat mengerjakan dokumen. Atau jangan-jangan penyakit mu kambuh lagi?" Tanya Ezra bertubi-tubi, Dia memegangi pundak Justin. Merasa cemas kalau Justin pingsan lagi.
"Tidak, Penyakit ku sudah tidak ada dan Aku baik-baik saja. Oh ya, Jangan terlalu formal padaku saat kita hanya berdua atau saat di asrama. Ingat kau sahabatku," Kata Justin sambil menggeleng pelan, Lalu mengusap wajah nya sesaat sementara Ezra hanya mengangguk mengerti meski masih merasa cemas.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Sebenarnya aku menggunakan kekuatanku untuk bisa masuk ke pikiran Chloe dan alam bawah sadarnya, Aku merasa dia mulai membangkit kan kekuatannya. Maka nya aku sedikit membantu dia," Jelas Justin menggulirkan netra orange nya menatap dokumen.
Ezra mengernyit, Dalam dirinya ia tidak suka kalau Justin mulai mengeluarkan kekuatannya hanya untuk membantu anggota lain. Bukan nya apa, Ezra hanya merasa cemas kalau sewaktu-waktu kekuatan Justin mulai melemas dan berdampak pada tubuhnya.
"Tapi Justin, Apa yang kau lakukan itu sangat beresiko. Kekuatanmu terkuras hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna, Dia bisa membangkitkan kekuatannya sendiri tanpa bantuanmu kok!" Jawab Ezra tak setuju.
"Dan kalau kau banyak mengeluarkan kekuatanmu, Tubuh mu akan...,"
"Aku tahu! Tapi mana mungkin aku membiarkan para anggota ku dalam kesulitan. Aku juga berhak turun tangan Ezra!" Potong Justin tegas, Netra orange nya sedikit menajam. "Aku tahu kau khawatir, Tapi aku bisa memutuskan sendiri yang terbaik untukku. Jangan berlebihan hanya karna aku dulu pernah menjadi manusia dan memiliki penyakit mematikan di tubuhku,"
Ezra bungkam sesaat, Pria itu menghela napas gusar. Sebenarnya dia tidak ingin berdebat dengan Justin.
"Sial! Gara-gara membicarakan anak itu, Aku jadi berdebat dengan Justin," Pikir Ezra jengkel, Kini ekspresi nya berubah muram. Dan pada akhir nya Ezra menghembuskan napas kembali.
"Justin, Aku tidak bermaksud melarangmu. Hanya saja jangan terlalu memanjakan anak itu dan anggota lain. Perhatikan juga kesehatanmu, Aku tidak mau kalau kau kenapa-napa gara-gara ulah mereka yang membebani mu," Kata Ezra dengan pandangan datar.
"Aku permisi," Dia sedikit membungkukkan badan pada Justin sebelum melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari si pemilik ruangan.
Justin hanya memperhatikan kepergian Ezra sejenak sebelum menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Perkataan Ezra terngiang-ngiang di benaknya.
"Aku tidak pernah membeda-bedakan anggotaku, Tapi aku juga tidak pernah mengabaikan saran Ezra," Justin menatap dokumen di meja nya. "Sekarang aku jadi penasaran apa yang terjadi dengan Chloe dan keluarganya,"
*****************
[Di sisi lain]
Tangan Chloe mulai bergerak, Perlahan kelopak mata sang gadis terbuka memperlihatkan netra ruby nya yang indah seperti batu permata. Dia meringis sesaat, Sebelum menatap sekitar dengan pandangan sayu.
Aroma obat-obatan tercium di sekitarnya membuat Chloe sudah bisa menebak dimana diri nya berada sekarang. Dia melirik sofa yang tersedia disana, Tempat itu tampak kosong. Hanya ada dirinya yang terbaring lemah sendirian.
Samar-samar Chloe melihat sebuah bayangan besar berbentuk tangan yang berusaha menggapainya di sudut ruangan, Gadis itu menatap horror sekaligus panik. Dirinya berusaha bangun dari tempat tidur sebisa mungkin. Bisa saja bayangan itu berusaha mencelakainya.
Cklek!
Disaat bersamaan pintu ruangan terbuka, Memperlihatkan sosok pria bersurai hitam dengan netra berwarna merah tengah menenteng sekantong makanan di tangannya.
Dia menatap dingin Chloe yang barusaha bangun dari tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan? Kau baru saja siuman, Jangan aneh-aneh," Kata Ian dingin sambil mendekati sisi tempat tidur Chloe.
"Kak Ian! Disana! Disudut ruangan itu ada bayangan besar berbentuk tangan. Tangan itu ingin menggapai ku!" Chloe menunjuk sudut ruangan dimana dia melihat bayangan tersebut, Dengan panik sekaligus takut Chloe menarik selimut berusaha menutupi pandangannya.
"Gak usah dilihat, Pejamkan saja mata mu dan bayangkan kalau makhluk itu tidak ada," Kata Ian yang langsung di ikuti oleh Chloe.
Si gadis memejamkan matanya ketika Ian menutupi pandangannya, Barulah setelah itu dia membuka mata dan benar saja, Bayangan tersebut sudah hilang dalam sekejap seolah tidak pernah ada.
Dengan penuh keheranan, Chloe memandang Ian meminta penjelasan. Namun tampaknya Ian enggan menjelaskan hal tersebut dan mengalihkan topik. Dia menyodorkan sekantong makanan pada Chloe.
"Nih, Aku belikan takoyaki kesukaanmu. Aku tidak ingin nanti kau mati konyol hanya gara-gara kelaparan," Ian sedikit berdecih sebelum membuka bungkusan itu, Lalu meletakkannya di nakas.
"Kak Ian tahu makanan favoritku darimana?" Chloe menatap bungkusan yang menyelimuti makanan kesukaannya itu.
"Makan saja! Jangan banyak tanya!" Ian melirik tajam, Tanpa mengatakan apapun lagi dia mengambil light novel yang dia bawa dan mulai membacanya dalam diam.
Chloe mengerjap sesaat, Dia memperhatikan Ian lalu mengambil posisi duduk dan mulai menyantap takoyaki itu perlahan.
Disela-sela makannya, Chloe membuka obrolan agar mencairkan suasana yang agak canggung itu.
"Terima kasih kak Ian, Kau membantuku dan membelikan ku makanan. Andai kau dan pak Livian tidak tepat waktu, Aku tidak akan tahu apa yang terjadi pada keluargaku selanjutnya," Chloe sedikit tertunduk, Dia merasa sedih karna membuat keluarganya sempat terluka.
"Sekali lagi makasih...," Dia kembali menyantap makanannya, Menunggu Ian menjawab.
Namun setelah makanannya habis pun, Tidak ada jawaban sama sekali dari Ian. Chloe hanya bisa tersenyum kecut, Ya sudahlah. Setidaknya Chloe sudah merasa lega karna mengeluarkan curhatannya sekaligus berterima kasih. Walau pun rasanya seperti bicara dengan tembok.
Sang gadis mengambil minum, Melegakan kerongkongannya yang agak kering.
"Aku sudah memastikannya, Dokter bilang kalau keluargamu baik-baik saja. Luka mereka memang parah tapi setidaknya mereka semua masih hidup," Sahut Ian menutup light novel nya.
Chloe menatap Ian sebelum senyum lega terbit di bibir nya, Mulutnya kembali terbuka ingin mengucapkan terima kasih lagi namun langsung di sela oleh Ian.
"Cukup sekali saja!" Potongnya cepat. Kemudian tatapan Ian berubah dingin dan serius.
"Sekarang aku ingin kita bicara serius. Laki-laki yang bernama Herry itu, Apakah kau masih menyukainya sampai sekarang?"
"Kak Herry?" Chloe mengerjap bingung, Merasa heran mengapa Ian tampaknya ingin tahu soal Herry. Namun Chloe tetap menjawab.
"Tidak, Sekarang tidak lagi. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya," Chloe menggeleng pelan. "Kak Ian...Apa kau tidak suka kalau aku berteman dengannya?"
Ian memejamkan mata sejenak, Sekelebat ingatan obrolan antara Chloe dan Herry saat itu terlintak di benaknya. Dia kembali membuka mata, Menatap tepat di netra Chloe.
"Aku tidak melarangmu berteman dengan siapa pun, Tapi khusus untuk dia. Jaga jarak saja dengannya, Jangan berteman terlalu dekat," Ian meranjak dari duduknya.
"Kenapa? Ada yang salah ya sama kak Herry?" Tanya Chloe masih bingung.
"....,"
Dengan netra merahnya yang menajam, Ian sedikit menundukkan wajah lalu mendekatkan wajah nya dengan Chloe. Berbisik pelan tepat di samping kuping sang gadis.
"Karena kau hanya milik kami, Milik Asrama. Camkan itu!"
Ian menjauhkan wajah, Lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Chloe yang diam tertegun di tempat tanpa sepatah kata pun.
TBC