Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Rutinitas



[Keesokan harinya]


Devian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sembari menonton tv, Dengan ekspresi tanpa minat dia menekan tombol remot terus-menerus berusaha mencari tontonan yang menarik baginya. Selang beberapa menit, Raizel yang tampaknya baru bangun tidur langsung duduk di samping Devian.


Rambut pria bersurai hitam campur coklat itu terlihat berantakan, Namun ia sudah mencuci wajah sebelumnya. Dengan santai Raizel merebut remot yang berada di tangan Devian, Membuat Devian mengernyit kesal.


"Pagi-pagi sekali kau sudah nonton tv, Tapi tidak ada acara yang menarik disini," Kata Raizel menekan-nekan tombol remot.


"Suka-suka aku dong! Lagian baru juga bangun kau sudah ngajak ribut aja," Balas Devian sedikit kesal.


Raizel hanya memberikan lirikan kecil sebagai tanda bahwa dirinya tak ingin berdebat di pagi buta begini, Jadi dia mengacuhkan Devian dan kembali melanjutkan fokus pada layar tv di depannya yang sedang menampilkan acara berita.


Suara derap langkah terdengar tak jauh dari posisi mereka, Sosok Aiden yang baru saja muncul dengan tatapan datar miliknya. Dia menuruni tangga satu persatu lalu tatapannya terhenti pada Devian dan Raizel sesaat.


Ini masih jam 5 pagi, Tapi dua pria yang Aiden ketahui sering bangun telat kini sudah duduk enteng depan tv. Entah karena mereka sudah tak sabar ingin sarapan atau memang kebetulan saja hari ini ingin bangun pagi. Entahlah, Aiden tak ingin ambil pusing.


Dirinya lebih mementingkan tugasnya saja saat ini daripada memikirkan hal yang tidak perlu, Dia memang anggota pertama yang sering tepat waktu bangun pagi, Karena tugasnya menyiapkan makanan untuk anggota lain. Tidak perlu berlama-lama baginya berada disana karna kini Aiden melangkah pergi menuju dapur.


*****************


Semua anggota sudah berkumpul di kursi masing-masing, Menunggu sarapan mereka datang. Terkadang suara Devian terdengar untuk mencairkan suasana mereka dan yang lebih sering menanggapi candaan Devian adalah Raizel dan Neil.


Aiden tentu saja mendengar canda tawa di belakangnya, Tapi dia acuhkan karna fokus dengan tugasnya. Tak berapa lama, Dia mendengar suara langkah kaki mendekat, Ketika ia menoleh Ezra sudah berada disampingnya dengan ekspresi kalem seperti biasa.


"Boleh kubantu? Sekalian aku ingin membuatkan bekal untukku dan Justin,"


Ini pertama kalinya Aiden melihat Ezra menawarkan diri untuk membantunya menyiapkan makanan. Biasanya pria itu hanya duduk diam di meja makan tanpa ada niat membantu sama sekali.


"Tidak seperti biasanya?" Aiden melirik datar.


"Aku hanya buat bekal untuk Justin dan diriku sendiri, Kalau bekal buat anggota lain kau buat sendiri," Balas Ezra masih menunggu jawaban dari Aiden.


"Terserah, Tapi kau harus membantuku lebih dulu,"


Ezra hanya mengangguk, Aiden sudah mengizinkannya. Jadi balasannya ia akan membantu Aiden. Dengan cekatan ia menuangkan sarapan yang sudah jadi ke beberapa piring lalu membantu Aiden membuat minuman untuk mereka semua.


Beres dengan sarapan mereka, Ia dan Aiden segera meletakkan sarapan masing-masing di hadapan para anggota lain. Dan mereka mulai menyantapnya dalam diam.


****************


[Di Cafe]


Chloe mengelap beberapa meja secepat mungkin karna beberapa menit lagi cafe akan dibuka, Sesekali fokus nya teralihkan dengan antrian pelanggan yang sudah berjejer rapi diluar.


Hari sabtu dan minggu memang menjadi hari yang sibuk bagi para barista karna biasa nya hari-hari itulah yang paling ramai.


Suara lonceng kecil berbunyi ketika satu-persatu pelanggan mulai masuk, Dalam sekejap cafe dipenuhi dengan lautan manusia yang sudah mengantri sejak tadi. Tampaknya sudah waktunya cafe buka.


Chloe memasuki dapur lalu mencuci lap yang dia pakai tadi, Menjemur di luar. Setelahnya kembali menemui para pelanggan untuk mencatat pesanan mereka.


Menit demi menit berlalu, Para barista hilir mudik melayani para pelanggan yang kelaparan. Sejak tadi Chloe tidak melihat tanda-tanda keberadaan Felix disana selain Finnian dan barista lain. Mungkin kah kakak angkatnya itu sedang ada urusan hingga tidak masuk kerja hari ini?


Tapi dirinya tidak memikirkan hal itu berlama-lama dan memilih fokus dengan pekerjaannya sekarang.


Waktu terus berjalan, Tak terasa sudah waktu nya bagi mereka untuk beristirahat. Chloe yang sudah menyelesaikan pekerjaannya langsung menuju ruang staff, Dia mendudukkan diri di salah satu kursi lalu memakan sebuah roti di temani secangkir teh yang sudah ia buat sebelumnya.


Hening dan senyap, dia cukup menikmati kesendiriannya namun juga merasa kesepian seolah-olah ada yang kurang dari dirinya. Gadis itu tertunduk sembari menghabiskan roti di tangannya.


Selain itu dia juga merasa aneh, Akhir-akhir ini tidak ada lagi gangguan dari pamannya setelah kejadian terakhir kali di rumahnya. Tampaknya gangguan itu sudah hilang tapi dia tak bisa mempercayainya begitu saja, Dia harus tetap waspada selama pamannya belum dikalahkan.


Tok! Tok! Tok!


Chloe mendongak ketika suara ketukan membuyarkan lamunannya, Dia lantas berdiri usai menghabiskan teh nya lalu membuka pintu tersebut. Dihadapannya Finnian berdiri sambil memegang sekotak kue warna-warni yang tampak menggiurkan.


Pria itu menyodorkan kue nya pada Chloe sambil tersenyum riang. "Chloe, Ini aku lagi bagi-bagi kue buatanku. Beberapa hari terakhir aku belajar membuat kue berbekal resep dari Felix. Kuharap sih rasanya gak buruk-buruk amat, Mau mencobanya?"


"Oh, Kak Finni rencana nya mau jadi bagian dapur ya biar bisa bikin dessert makanya coba-coba buat kue?" Tebak Chloe asal sambil mengulum senyum.


"Yup benar, Aku juga ingin jadi koki kalau bisa dan kalau Felix memperbolehkan. Makanya aku belajar dulu," Finnian masih mempertahankan senyumnya.


Chloe manggut-manggut mendengar ucapan Finni lalu mengambil satu kue dan melahapnya.


"Lumayan, Cuma kurang sedikit gula,"


Netra Finni berbinar senang. "Wah makasih udah cobain, Akan kuperbaiki lagi,"


"Iya, Makasih juga kak udah bagi-bagi kue nya," Chloe mengangguk kecil.


"Oke, Btw tadi aku dapat pesan dari Felix. Katanya Kamu disuruh temui dia di belakang gedung salon, Gak jauh kok dari cafe. Udah ku kirim juga alamatnya,"


"Baiklah,"


Setelahnya Finnian pergi menuju rekan barista nya yang lain, Lanjut membagikan kue nya. Sementara Chloe menatap penuh heran, Mengapa Felix harus meminta Finnian menyampaikan pesan, Kan bisa beritahu Chloe langsung?


Dia penasaran, Dengan bergegas si gadis langsung menutup pintu staff kembali lalu mengganti pakaian seragamnya.


Dia buru-buru izin pada Finnian setelahnya keluar dari cafe untuk menemui Felix di lokasi yang sudah dikirimkan.


TBC