
[Keesokan paginya]
Hari yang cerah membuat Chloe bangun sepagi mungkin, Gadis itu merenggangkan badannya beberapa saat. Dengan penuh semangat dia membuka gorden, Membiarkan cahaya mentari memasuki kamarnya, Selesai merapikan selimut dan kasur, Chloe pun memasuki kamar mandi melakukan ritual paginya seperti biasa.
Beberapa saat kemudian....
Usai memakai pakaian kasual dengan rambut yang diikat twin tail, Chloe bergegas menuruni anak tangga menuju dapur. Sesampainya disana, Dirinya melihat beberapa anggota sudah berkumpul. Tinggal menunggu makanan disajikan oleh Aiden. Chloe memutuskan untuk membantu meski tidak perintah, Dia mendekati Aiden lalu mengambil dua piring.
"Kubantu kak," Tanpa menunggu jawaban Aiden, Chloe kembali berjalan mendekati meja makan dan meletakkan nya disana. Sedangkan Aiden menatap datar, Kembali fokus dengan pekerjaannya.
Kini meja makan sudah tertata rapi dengan berbagai lauk disana, Dan disaat yang tepat Justin bersama Ezra datang, Mereka menuju kursi masing-masing. Begitu pun dengan Chloe dan Aiden. Si gadis mengambil piring bagiannya, Dengan senyum lebar ia menangkup kedua tangannya sebelum makan.
"Selamat makan!" Kata nya dengan nada pelan sebelum melahap makanannya.
Tingkahnya hanya dilirik beberapa anggota, Ezra mendengus sinis, Justin hanya tersenyum tipis, Felix tertawa kecil. Devian malah ikut-ikutan.
"Selamat makan!" Kata Devian ikut melahap makanannya.
Mereka mulai menyantap makanan masing-masing, Disela-sela makan, Livian membuka suara.
"Justin, Apa tidak ada misi lagi sekarang?"
Justin yang mendengarnya langsung menelan makanannya sebelum menjawab. "Ada khusus untuk Devian, Rion, Dan Raizel. Akhir-akhir ini belum ada job misi untuk yang lain,"
Livian mendesah lelah sambil menusuk-nusuk makanannya. "Aku bosan,"
"Kenapa kau tidak lakukan kegiatan yang berguna saja? Berkebun misalnya, Dari pada tidur mulu," Cibir Rea.
"Huh! Berkebun tidak menarik. Aku lebih suka bekerja di perusahaan," Livian berdecak kecil.
"Perusahaanku sedang tidak menerima karyawan sekarang," sela Justin cepat.
"Ngomong-ngomong soal karyawan, Kebetulan sekali aku sedang mencari satu karyawan untuk bekerja di cafe ku. Ada yang berminat?" Tanya Felix tersenyum, Memandangi satu-persatu anggota lainnya disana.
Bekerja?! Tentu saja Chloe yang pengangguran ini ingin bekerja. Dia harus mengumpulkan uang agar bisa kuliah, Dia tak ingin menyia-nyia kan kesempatan ini. Sontak Chloe mengancungkan tangannya. "Aku Kak Felix, Aku ingin bekerja di cafe kakak," Ucapnya antusias.
Semua pasang mata memandangnya seketika saat Chloe mengajukan diri. Justin sampai mengernyitkan alis kebingungan.
"Bukannya aku sudah memberimu uang perbulan sesuai janjiku?" Tanya Justin heran.
"Yang kontrak itu uang nya untuk keluargaku, Sedangkan kalau aku bekerja di cafe kak Felix. Uang nya untuk diriku sendiri sekaligus aku mau nabung biar bisa kuliah," Jelas Chloe dengan senyum lebar.
"Jadi begitu ya isi perjanjian diantara kalian berdua, Pantas saja mau nikah kontrak," Kata Rea sinis, Dia memalingkan pandangannya.
Chloe menghela napas mendengar cibiran Rea. "Aku melakukannya demi keluargaku, Mau bagaimana pun ayahku mulai sakit-sakitan dan aku sebagai anak pertama maka akan membantu ayahku menjadi tulang punggung keluarga. Maka nya aku ingin berusaha membuat mereka bangga,"
Mereka yang mendengar nya terdiam, Sejujurnya terselip rasa iri di hati masing-masing. Mereka iri karna Chloe lah satu-satunya memiliki keluarga lengkap dan harmonis selain keluarga Ezra. Sedangkan mereka yang tinggal di asrama rata-rata memiliki masa lalu yang kelam.
"Enak ya kalau memiliki keluarga yang harmonis, Apalagi kalau kakak nya sangat sayang pada adik-adiknya," Kata Neil sambil tersenyum palsu, bermaksudnya menyindir Chloe.
Atmosfer ruang makan mendadak dingin, Chloe terdiam setelahnya. Sadar kalau ekspresi masing-masing anggota asrama tampak muram dan mencekam. Kecuali Ezra yang menatapnya dengan tatapan menusuk, Seolah memberikan peringatan tajam.
"Sepertinya aku salah bicara," Pikir si gadis berkeringat dingin, Untuk mencairkan suasana yang tidak nyaman itu. Chloe menangkupkan kedua tangannya sambil tersenyum.
Pluk!
"Jaa, Bagaimana kalau kalian berkunjung ke rumahku? Kami selalu menerima tamu dengan senang hati, Teserah kapan waktu berkunjungnya. Ayah dan Mama pasti senang jika bertemu menantunya," Kata Chloe masih dengan nada ceria nya.
Perkataan Chloe sukses membuat atmosfer yang tadinya dingin menjadi tenang kembali. Tentu saja diantara mereka masih ada yang belum bergeming. Hingga Devian membuka suara nya setelah menghabiskan sarapannya.
"Bukankah akan aneh kalau kita datang berkunjung secara bersamaan?" Celetuknya datar.
"Lebih baik satu-persatu," Usul Neil.
"Tidak mungkin, Malah makin aneh kalau satu-persatu," Tambah Felix mengusap bibirnya dengan tisu.
"Kalian bisa datang bersamaan, Akan kuperkenalkan kalian sebagai keluarga angkatku pada Ayah dan Mama. Dengan begitu mereka tidak akan curiga," Usul Chloe masih tersenyum ceria.
Mendadak seisi ruangan menjadi hening, Hingga Ezra melempar kain yang digunakannya untuk mengeringkan tangan pada Chloe dan mendarat tepat di puncak kepala sang gadis hingga menutupi wajahnya.
"Ternyata kau lebih bodoh dibanding yang terlihat," Cibirnya menyesap teh yang belum habis.
"Aduh, Apa salahku? Aku kan cuma memberi usulan," Chloe cemberut sambil menyingkirkan kain yang menempel di atas kepalanya.
Justin hanya terkekeh kecil, Dia menumpuk piring kosong dihadapannya. "Akan kami pikirkan lagi, Nanti ada saat nya kami berkunjung ke rumahmu,"
"Baiklah, Senyaman nya kalian saja," Chloe yang sudah menghabiskan makanannya langsung menumpuk beberapa piring kotor. Dia menoleh pada Aiden. "Kak Aiden, Biar aku yang cuci piringnya,"
Aiden hanya mengangguk, Si gadis bergegas menuju wastafel dan mencuci piring disana. Sedangkan anggota lain satu-persatu pergi meninggalkan ruang makan termasuk Aiden.
***************
Setelah selesai dengan kegiatannya, Barulah kini Chloe berjalan-jalan di sekitar asrama. Dia membawa sekeranjang anggur yang baru dipetiknya, Chloe berniat ke rooftop asrama untuk makan disana.
Cklek!
Semilir angin langsung menyambut Chloe ketika ia menjejakkan kakinya disana, Si gadis menghirup udara segar beberapa saat. Dia tersenyum riang dan duduk di kursi yang sudah tersedia, Di sekeliling rooftop itu di batasi oleh pagar agar aman.
Chloe duduk senyaman mungkin sebelum memakan satu anggur, Tanpa menyadari kehadiran sosok pria bernetra merah disampingnya yang sejak tadi berada di sana. Si Pria hanya memandang datar, Kemudian acuh mengalihkan pandangannya kembali pada buku novelnya.
Yah, Ian tidak peduli siapa yang berada di dekatnya. Asal tidak mengganggunya membaca novel, Maka pria itu akan tetap diam. Sampai mendadak ia merasa gatal di bagian hidungnya.
Haachuu!
"Uhuk...!" Chloe tersedak seketika saat mendengar suara bersin disampingnya, Ia menepuk-nepuk dada menenangkan diri, Barulah kepalanya menoleh mencari pemilik asal suara itu.
"K-Kak Ian, Sejak kapan disini?" Kata Chloe kaget, Dia sedikit menjauhkan tubuhnya.
Ian hanya diam mengacuhkan suara Chloe, Netra merahnya hanya terfokus pada buku novel yang dipegangnya. Merasa diacuhkan, Chloe mencoba melihat judul novel yang sedang di baca Ian.
Vampire Knight
Itulah judul novel yang Chloe baca, Ternyata Ian juga suka baca novel yang seperti itu. Karna itulah Chloe menawarkan anggur yang dibawanya, Sebagai teman makan. "Kak Ian mau?"
Ian melirik kecil sebelum mengambil anggur itu dari tangan Chloe, Dia memakannya sembari membaca kalimat-kalimat yang tertera disana. Chloe ikut makan sambil memandangi langit cerah di atas mereka.
"Kak Ian, Waktu pernikahan kontrak itu. Kenapa kakak minum darahku?"
"Kau tidak perlu tahu!" Balasnya dingin tanpa memandang Chloe sama sekali.
"Yah, Aku hanya bertanya. Ngomong-ngomong kak Ian suka baca novel genre apa? Action, Drama, Fantasy, Oh atau romantis?" Ucap Chloe dengan antusias, Dia bahkan menurunkan novel yang Ian baca hingga tatapan Ian terfokus padanya.
Kening Ian berkedut kesal karna Chloe terus mengganggu nya dengan berbagai pertanyaan unfaedah, Karna itu dia langsung menempelkan buku novelnya tepat diwajah si gadis.
Brak!
"Baca sendiri sana! Dasar pengganggu!" Serunya kesal.
Ian meranjak dan langsung pergi dari sana, Mood nya menjadi hancur karna keberadaan Chloe.
BLAM!
Usai kepergian Ian, Chloe menjauhkan novel itu dari wajahnya. Ia mengusap-usap hidungnya sambil meringis, Dan menggerutu kecil.
"Huh, Padahal cuma bertanya. Menyebalkan sekali," Gerutu nya sambil membolak-balikan novel tersebut. Karena penasaran, Chloe membacanya dan tanpa sadar keterusan sampai menjelang sore.
TBC
Bonus:
Trio Kalem