
Langit tampak berwarna orange kemerahan, Menandakan sebentar lagi akan berganti malam. Chloe dan Livian yang satu kamar tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing, Chloe memilah beberapa pakaian dalam lemari. Jujur saja dia tak bawa pakaian miliknya, Lantas pakaian siapa yang berada di lemari ini?
"Pak, Aku gak bawa baju ganti. Yang di lemari ini pakaian siapa?" Menyerah karna tidak menemukan pakaian yang cocok untuknya. Chloe memandang Livian yang asyik memainkan handphone di kasur.
"Entahlah, Punya adikku mungkin. Pakai saja yang itu untuk sementara," Balas Livian cuek, Masih tak lepas dari layar handphone nya.
Chloe kembali bingung, Dia memilah pakaian-pakaian itu. Rata-rata semua pakaiannya terbuka, Chloe kurang suka dengan jenis pakaian seperti ini. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah gaun berwarna biru dengan panjang selutut, Meski bagian punggungnya sedikit terbuka. Namun dia pikir ini lebih baik asal bagian depannya tertutup.
Chloe menyamakan ukuran tubuhnya dengan gaun itu, Ia memperhatikan penampilannya di cermin. Tampaknya ukurannya pas. Livian yang memperhatikan gerak-gerik Chloe dari tempat tidur hanya menatap malas.
Dia meranjak dari sana dan mengambil dua lembar handuk.
"Aku mandi duluan,"
Chloe mengangguk kecil, Membiarkan Livian pergi ke kamar mandi. Si gadis masih asyik mencoba gaun tidur yang dipilihnya.
Beberapa menit kemudian....
Livian keluar dari kamar mandi, Hanya berbalut selembar handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil lain, Netra hijau lime nya tertuju pada Chloe yang sedang merapikan tempat tidur, Tak berselang lama, Si gadis segera mengambil pakaian ganti dan selembar handuk.
Chloe menoleh menatap Livian yang masih berdiri di samping lemari. "Bapak udah selesai kan? Kalau begitu pak Livian cepetan pakai baju, Entar masuk angin. Tuh baju nya udah kusiapin disana,"
Chloe menunjuk pakaian Livian yang sudah tersedia di kasur, Setelahnya di gadis langsung berlalu pergi melewati Livian yang memandangnya heran.
Aneh, Biasanya cewek kalau ngeliat cowok gak pakai baju langsung memalingkan pandangan, Terpesona, Mimisan atau pingsan. Tapi anak itu malah tidak beraksi apapun. Apa dia kurang memancarkan pesonanya? Livian mendengus kecil, Entah kenapa rasa nya ia jadi kesal sendiri memikirkan hal itu.
Ia mengambil pakaian yang sudah Chloe siapkan dan memakainya, Livian kembali mengeringkan rambutnya sambil menatap ke luar jendela. Dimana langit sudah hampir gelap.
Dia tertegun memandangi langit gelap di atas sana, Firasat nya mengatakan kalau malam ini akan menjadi malam yang bagus untuk kelompok nya.
"Bulan purnama ya. Tinggal beberapa jam lagi," Gumam Livian yang masih terpaku pada langit gelap itu.
Dia lantas menutup gorden dan menyalakan seklar lampu, Seketika kamar itu menjadi terang. Dia mengambil handphonenya untuk mengabari pada Justin bahwa dia dan Chloe akan menginap.
Beberapa saat setelah mengabari, Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Dua orang pelayan memasuki kamar Livian sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Permisi Tuan. Tuan besar memerintahkan kami untuk membawa makanannya kesini," Kata salah satu pelayan tampak menundukkan kepalanya.
Kedua pelayan itu meletakkan nampannya di nakas, Mereka berdua pun pamit undur diri hadapan Livian. Disaat yang bersamaan, Chloe baru saja selesai mandi.
Cklek!
Chloe melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah, Ia terlihat sudah berpakaian lengkap. Netra merahnya tertuju pada nampan berisi makanan.
"Makanannya sudah ada disini? Apa kita tidak bergabung saja makan bersama keluarga pak Livian?" Tanya Chloe bingung, Mendekati Livian yang berbaring di kasur.
"Si pak tua itu yang menyuruh para pelayan mengantar makanannya ke sini," Livian bangun dari rebahannya, Mengambil sepiring Yakiniku. "Cepat kesini, Kita makan!"
"Baiklah," Setelah merasa rambutnya cukup kering Chloe duduk disamping Livian dan mengambil piring lainnya.
Kedua nya mulai menyantap makanan masing-masing, Disela-sela makan. Livian membuka suara.
"Malam ini kamu jangan berkeliaran di luar mansion,"
"Emang kenapa?" Chloe menelan makanannya, Menatap Livian.
"Daerah rumahku kan masih dikelilingi pepohonan, Jadi masih banyak hewan buas yang kemungkinan berkeliaran di luar sana," Sejujurnya bukan hanya karna hewan buas Livian memperingatkan Chloe.
Tapi juga karena wilayah rumah nya ini adalah tempat perkumpulan kelompok werewolf, Livian hanya merasa jika saja para werewolf tahu ada manusia di sekitar mansion selain ayah dan ibu nya. Bisa-bisa mereka akan membunuh Chloe, Tidak tahu apa yang akan terjadi pada gadis itu.
Terlebih malam ini adalah malam bulan purnama, Dimana para werewolf akan menjadi kuat 5x lipat dari sebelumnya. Kekuatannya pun diatas rata-rata dan bisa membunuh manusia dalam sekejap.
Makanya Livian gak ingin Chloe tahu kalau dia dan keluarganya adalah keturunan werewolf, Ini demi keamanan ras nya dari keberadaan manusia.
"Oh iya, Benar juga. Kalau malam pasti seram juga ya selain karna ada hewan buas,"
"Hm...," Livian menghabiskan suapan terakhirnya sebelum meminum segelas air.
Chloe cuma manggut-manggut, Dia cepat-cepat menghabiskan makanannya. Setelah habis, Ia juga meminum segelas air.
Livian menumpuk piring kosong nya, Meletakkan di atas nakas. Chloe melakukan hal yang sama hingga keduanya sama-sama terdiam larut dalam keheningan.
Chloe memutuskan untuk membereskan beberapa pakaian di lemari sementara Livian langsung tidur duluan karna pria itu sudah ngantuk sejak tadi. Mana mau dia mengikuti kemauan ayahnya, Livian tidak ingin melakukan hal itu. Buat keturunan apa nya? Cih! Dia hanya ingin tidur.
Selesai dengan pekerjaan nya, Barulah Chloe menyusul Livian ke alam mimpi.
TBC